Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 26


__ADS_3

Lira duduk di kasur dengan koper yang sudah dia isi baju – bajunya. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi karna sampai kapanpun Radith tak akan berubah. Lelaki itu akan selalu bersikap seenaknya dan meremehkan orang lain. Sesuatu yang sangat Lira benci, apalagi gadis itu sudah memberi Radith waktu untuk berubah, namun semua hanya sia – sia belaka.


"Kamu udah beresin semua baju kamu kah Lex? Kita harus pergi diam – diam. Mbak juga bakal tinggalin ponsel Mbak di sini karna mbak tahu dia pasti ngelacak ponsel Mbak. Kita balik ke kampung lagi aja, nanti kamu sekolah di sana," ujar Lira pada adiknya yang juga sudah merapikan semua bajunya.


"Iya mbak, kalau kau lebih suka hidup kita di kampung. Kita kan juga punya rumah dari Bapak sama Ibu, dari awal juga mbak yang minta aku buat ikut mbak ke kota. Aku mah senang – senang aja kalau bali kdan sekolah lagi di sana," ujar adik Lira yang membuat gadis itu mengangguk.


"Ya udah, mbak yang salah. Mbak minta maaf, yang penting kamu mau buat pindah lagi ke kampung. Kita berangkat sekarang aja, mbak udah beli tiketnya. Kalau kita pergi siang – siang pasti nanti ketangkap sama bos mbak, kita malah gak bisa pergi kemana – mana lagi," ujar Lira dengan wajah serius. Dia melihat ruang kamarnya sekali lagi, tempat ini sangat nyaman, namun Lira juga merasa tak aman di tempat ini.


"Kenapa kita harus sembunyi – sembunyi sih mbak? Kita gak maling kan? Mbak juga gak bunuh orang kan? Kenapa bos mbak gak bisa lepasin mbak gitu aja?" tanya Alex yang merasa Lira sedang ditindas, dia merasa tak nyaman melihat Lira yang selalu ketakutan jika membahas soal bosnya.


"Kamu lupa siapa yang bikin kamu tetaap bisa sekolah? kamu lupa siapa yang kasih apartemen ini? dan satu lagi, sekolah gratis buat anak – anak di kontrakan kita dulu, semua itu bos mbak yang kasih. Tapi sebagai gantinya, mbak harus kerja untuk dia," ujar Lira dengan lesu.


"Tapi mbak kerjanya masih benr kan mbak? Mbak gak disuruh yang aneh – aneh kan mbak?" tanya adik Lira dengan nada panik. Lira tersenyum dan mengangguk, tentu saja dia tahu untuk menjaga dirinya, mana mungkin dia rela menjual dirinya hanya untuk segelintir harta itu?


"Ya udah, yang penting sekarang kita pergi, kita mulai hidup baru di kampung. Nanti mbak bisa cari kerja apapun untuk mencicil semua yang udah bos mbak kasih buat mbak," ujar Lira yang diangguki oleh Alex. Mereka segera pergi dari apartemen itu dan menuju terminal dengan taksi online melalui ponsel adiknya. Lira mampir ke konter yang cukup besar dan menjual ponsel miliknya.


"Kalau mbak pikir – pikir, sayang ponselnya ditinggal di sana. Mending mbak jual, nanti buat modal kita di kampung sama buat beli ponsel yang baru lagi. Untung masih mulus ponsel mbak, jadi bisa dijual mahal," ujar Lira tersenyum lebar denagn uang yang dia simpan ke dalam tas.


Mereka menaiki bus yang akan membawa mereka ke sebuah provinsi di pulau yang sama, kampung halaman Lira di kota S. Untungnya dia tak pernah menjual rumahnya yang ada di sana. Dia berharap Radith tak mencarinya sampai ke sana meski dia tahu akan mudah bagi Radith untuk mencarinya.

__ADS_1


*


*


*


Keesokan harinya. Radith yang sudah berada di kantornya mengirim pesan ke PC milik Lira karna dia harus menghadiri rapat untuk nanti siang. Namun Lira tak kunjung datang ke ruangannya, akhirnya dia mendatangi ruangan gadis itu. dia sudah bersiap untuk mengomel dengan smeua sumpah serapahnya, namun ternyata ruangan itu kosong.


"Dia pikir ini perusahaan nenek moyangnya apa? Enak banget jam segini belom datang, emang cari mati tuh anak," ujar Radith pada dirinya dan langsung menelpon ponsel Lira. Namun ternyata ponsel gadis itu tidak aktif dan bahkan ponselnya sudah tidak bisa dilacak lagi, Radith langsung memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Lira.


"Gila nih anak. Jangan sampai dia berani ada pikiran buat kabur dari Gue. Gue harus ke rumahnya sekarang," ujar Radith dengan panik dan langsung keluar dari ruangan itu. namun baru beberapa langkah, dia langsung tersadar akan suatu hal.


"Ngapain juga Gu nyariin tuh anak? Kayak yang penting – penting banget. Kalau dia butuh duit juga nanti datang sendiri kan Lo," ujar Radith yang masuk ke dalam ruangannya, namun dia merasa tak tenang. Apalagi beberapa hari lalu seseorang mengikuti Lira. Bagaimana jika ternyata gadis itu diculik dan dicelakai oleh orang – orang itu? Dia yang akhrinya akan bertanggung jawab.


"Gue bukan suka sama Dia atau pun peduli. Tapi Gue yang bakal keseret dan disalahkan kalau sampai dia mati. Gue harus pastikan dia baik – baik aja. Iya, dia harus baik – baik aja," ujar Radith pada dirinya sendiri. Tanpa sadar lelaki itu menyetir mobilnya dengan sangat cepat, bahakn terkesan ugal – ugalan.


Sesampainya di apartemen Lira. Dia langsung masuk karna dia memiliki akses bebas ke apartemen itu. namun yang dia dapati hanyalah ruangan tak bertuan, dia berjalan ke arah lemari dan ternyata kosong. Gadis itu benar – benar hanya membawa barangnya dan meninggalkan semua barang di sini, termasuk barang yang berharga.


" Jadi Lo beneran kabur dari Gue? Lo takut sama Gue? Lo tahu kan gue bisa temukan Lo dengan mudah? Lo bakal menyesal karna udah mainin Gue kayak gini, Lo bakal menyesal Lira." Lelaki itu hendak berjalan pergi, namun dia menemukan sebuah kertas terlipat di meja. Dia mengambil kertas itu dan membacanya.

__ADS_1


'Radith, Gue pergi. Gue butuh waktu buat sendiri Gue mohon, lepasin Gue. Gue tertekan, Gue gak bahagia sama sekali. Gue bakal bayar semua hutang Gue, tapi jangan pernah muncul di hadapan Gue. Gue mau hidup dengan tenang. Ini permintaan terakhir Gue. Liora.'


"Apa Lo gak bisa maafin Gue Ra? Lo milih buat pergi di saat kondisi Gue kayak gini? Emang Gue siksa Lo yang kayak gimana? Gue kasih Lo semua yang Lo butuh, rumah, kekayaan, hidup nyaman, gaji besar. Kenapa Lo malah gak tahu terima kasih kayak gini?" tanya Radith pelan. Lelaki itu menyimpan kertas yang dituli oleh Lira dan pergi dari sana.


"Cari keberadaan Liora asisten pribadi saya. Jika sudah ketemu, kirim orang untuk pantau dia dan pastikan dia selalu baik – baik saja. Bantu dia jika kesulitan, tapi lakukan semua itu dengan sembunyi – sembunyi," ujar Radith saat menelpon seseorang. Dia memasukkan ponsel ke dalam kantongnya dan pergi dari apartemen itu.


"Apa Gue udah keterlaluan sama dia ya? Apa dia benar – benar marah karna di resepsi Luna Gue ngehina dia? Tapi kan itu gak parah, masak Gue harus datang ke dia dan minta maaf? Ya kalik ,emang ia pikir dia siapa. Udah ah, Gue gak butuh sama dia. Toh Luna udah benar – benar gak bisa jadi punya Gue kan? Buat apa Gue peduli sama cewek lagi."


*


*


*


Lima bulan berlalu. Seorang pria duduk di sebuah meja bar dan dua orang perempuan di kiri dan kanannya. Dua perempuan itu menuang minuman untuk sang Pria dan mereka betiga tertawa bersama. Yah, inilah kehidupan barunya sejak gadis yang dicintainya memiliki kehidupan baru dan gadis yang selalu ada di sampingnya pergi tanpa pamit padanya.


Radith sudah berhenti mencari tahu keberadaan gadis itu, dia mempercayakan keselamatan gadis itu pada orang yang dia suruh. Dia memilih untuk melakukan semua hal yang dia inginkan, tak peduli bahkan jika hal itu akan membunuhnya.


"Kamu itu tiap malam ke sini. Apa gak ada yang marah? Gimana kalau kita pindah ke tempat yang lebih sepi dan bersenang – senang bersama? Hmm, aku ingin tahu seberapa kuat dirimu," ujar wanita itu yang mempermainkan kerah kemeja lelaki itu. lelaki itu langsung memicingkan matanya dan menatap wanita itu.

__ADS_1


"Kau pikir dirimu cukup layak untukku? Kamu Cuma penghibur yang bahkan tak berhak menyentuhku jika aku tak memintamu. Pergi dari sini atau aku akan membuat kau ta bisa melihat matahari pagi."


Saat ini Radith sudah memutuskan. Dia akan menjadi pria yang dingin dan tak memiliki hati. Mempermainkan semua wanita yang dia temui, dan menghempaskan mereka saat tak diinginkan lagi. Perempuan yang ada pada di hidupnya selalu melakukan itu bukan?


__ADS_2