
Karna insiden tak penting di rumah Radith, mereka harus menginap di hotel malam ini karna orang orangnya membutuhkan waktu untuk membersihkan tempat itu dan memastikan semuanya aman barulah Radith bisa kembali ke rumah itu. Di kamar hotel, tampak sekali raut wajah lelaki itu yang kesal, dan tak menyangka hal seperti ini terus berulang di hidupnya, seolah takdir tak pernah membiarkan dia hidup damai.
"Kamu gak usah pikirin itu lagi Dith, udah terjadi juga dan kita gak apa apa kan? Mereka juga gak ada niat untuk mencelakai kita deh Dith, tuh mereka cuma iseng aja kasih begituan buat kita, gak usah khawatir."
Entah sudah berapa kali Lira mengatakan hal itu untuk menghinur Radith, namun lelaki itu masih tetap heran dengan apa yang orang itu lakukan. Pekerjaannya sangat rapi dan bahkan tahu cara membobol rumah Radith tanpa semua pengawal itu tahu apa yang terjadi.
"Orang itu gak lewat pintu depat, dia keren banget bisa tahu kalau aku punya pintu pribadi dan rahasia di belakang rumah, dia menjebol pintu itu dan masuk begitu aja, mudah banget bagi mereka membobol rumah kita hanya untuk kasih teror anjing mati," ujar Radith yang membuat Lira merasa kasihan pada lelaki itu, dia harus memikul banyak beban sendiri.
"Kamu tenang dulu, bisa jadi gak seburuk itu, udah, kamu tenang, kita makan dan tidur dengan tenang, barulah nanti kita pikirkan baiknya gimana. Kalau dia memang mau menghancurkan kamu, gak cukup sama teror gak berkelas gini. Dan Greselyn sudah tewas, tidak mungkin dia melakukan itu untuk mengambil keuntungan dari kamu, pasti ada faktor lain."
"Maksud kamu? Ini bukan karna incar harta aku gitu?" Tanya Radith yang diangguki oleh Lira. Jika mereka mengincar harta, tak mungkin mereka hanya memasukkan bangkai hewan itu ke tiap kamar, padahal jika mereka bisa membongkar pintu kamar Radith, mereka juga bisa membuka brangkas yang ada di kamar itu, di dalam brangkas itu terdapat banyak uang dan emas batangan yang digunakan Radith sebagai tabungan. Mereka tidak menyentuh itu smaa sekali.
"Aku akan gak peduli kalau itu rampok Ra. Tapi kalau itu ada hubungannya sama balas dendam, penculikan atau ingin mencelakai keluarga kita. Aku takut, jujur aku takut. Kalau mereka mau sakitin aku, aku gak papa, aku lawan mereka. Tapi kalau mereka mau nyakitin keluarga aku, nyakitin kalian, aku gak bisa, aku gak bisa lihat kalian terluka lagi dan lagi," lirih Radith merasa bersalah meski Lira tak pernah menyalahkannya.
"Sean dan Zia masih kecil, tapi mereka harus mengalami banyak kejadian traumatik karna aku, aku bahkan gak bisa jadi ayah yang baik buat calon anak kita karna harus melibatkan dia sejak ada di perut kamu. Dia pasti disitu udah marah marah karna aku gak bisa jagain kamu Ra, aku merasa bersalah untuk semua hal ini," ujar Radith yang membuat Lira menghela napasnya. Dia tahu akan berat bagi mereka semua dalam menghadapi ini.
"Kita tunggu dulu yah hasilnya gimana. Belum tentu seburuk yang kita bayangkan. Sekarang, mending kamu main sama Sean sama Zia deh, kasihan mereka kalau harus selalu ingat sama hal ini, mending kan mereka ingat akan hal lain juga. Gak usah ingat ingat masalah ini, ini biar jadi masalah kamu sama aku," ujar Lira yang diangguki lesu oleh Radith, lelaki itu tampak tak berdaya dan sangat lemas karna kelelahan fisik dan pikirannya.
"Aku mau tidur aja kalik ya, kau gak mau ketemu anak anak dalam keadaan begini, aku juga gak berani menghadapi mereka dan menjawab kalau mereka tanya tentang hal ini Ra, aku gak mau ah," tolak Radith yang tentu membuat Lira menghela napas panjang.
"Katanya gak pengen anak anak trauma. Ini sih kamu juga bikin mereka trauma dengan wajah yang lesu begitu. Yang cerah dong wajahnya jangan gitu, sana kamu ajak main mereka apa gitu terserah," ujar Lira yang membuat Radith mengatur ekspresi wajahnya dan segera berjalan ke kamar satunya, tempat Zia dan Sean tidur. Dia ingin memeriksa keadaan Sean dan Zia.
"Loh, kalian kok belum tidur? Eh eh eh? Itu Zia mau ngapain? Kenapa buka buka baju Sean begitu?" Tanya Radith saat melihat Sean sudah menaikkan bajunya karna ditarik oleh Zia. Mereka sudah dalan posisi tiduran di kasur. Zia menunjukkan tangannya seolah dia sedang memegang stetoskop. Ternyata mereka sedang bermain dokter dokteran karna bosan tab Sean sudah kehabisan baterai. Namun karna tidak ada alatnya, mereka menggunakan alat yang ada di imajinasi mereka.
__ADS_1
"Wah, Sean skait pilek. Ini kamu minum obat dulu, dari kulit jambu obatnya," ujar Zia yang tentu saja ngawur. Radith memilih untuk bergabung namun hanya menonton dari dekat, membiarkan Zia melakukan tugasnya sebagai dokter pada Sean. Sean seperti langsung kesakitan saat Zia mengatakan dia sakit pilek. Acting Sean cukup baik untuk anak kelas 1 SD, mungkin anak itu memiliki bakat yang terpendam.
"Uhuk uhuk uhuk, aduh dokter. Ini gak sembuh, saya masih sakit," ujar Sean yang membuat Zia khawatir. Yah tentu saja semua ini masih bagian dari acting keduanya yang cukup memukau Radith. Zia mengacungkan telunjuknya dan langsung berpura pura menyuntik Sean dengan itu. Sean memekik kesakitan seolah ada jarum yang benar benar menusuk ke kulitnya.
"Auuu dokter, ini sangat sakit, sepertinya jantung saya sakit, ayo tolong saya," ujar Sean yang diangguki oleh Zia. Dia membuka kedua telapak tangan dan mulai menghitung satu sampai tiga lalu menempelkan kedua tangannya ke dada Sean yang sudah telanjang. Sean bereaksi dengan menaikkan punggungnya, lalu kembali ke posisi semula.
Astaga, saat ini tangan Zia sudah menjadi alat kejut jantung. Radith tak bisa menahan senyumnya melihat kedua anaknya tumbuh dengan lucu dan sangat kreatif. Melihat hal ini saja sudah sangat membantu bagi Radith untuk berpikir jernih dan bahagia. Seolah semua masalahnya sudah lenyap dan dia hanya perlu melihat kedua anaknya bermain seperti ini, sangat lucu dan imut bagi Radith.
"Dokter Zia, apakah dokter mau membantu saya juga. Saya merasa sesak napas," ujar Radith yang menelentangkan tubuhnya. Zia dan Sean tertawa, namun mereka segera berganti profesi. Sean saat ini menjadi dokter dan Zia sebagai perawat yang baginya hanya bertugas untuk menyuntik. Sean dan Zia tampak serius melihat Radith yang seperti orang sesak sungguhan, meski lelaki itu hanya berpura pura dan mereka sudah tahu akan hal itu juga.
"Tarik napas, hembuskan, tarik napas, hembuskan," ujar Sean saat memegang "stetoskop" yang ditempelkan ke dada sebelah kiri Radith. Lelaki itu tertawa, namun juga melakukan apa yang Sean minta. Mereka bermain dengan senang, bahkan Radith menurut saat diminta untuk mengangkat bajunya agar mereka bisa memeriksa lebih jauh lagi.
"Ih, kok ada bulunya?" Tanya Sean saat melihat itu Radith yang berbulu, bukan itu yang itu, tapi yang itu, iya, yang ada di atas, dua buah, namun tidak membengkak saja karna dia pria. Rasanya wajar saja jika sampai berbulu karna dia seorang pria. Apakah perempuan juga begitu? Entahlah, dia juga tidak begitu memperhatikan milik Lira.
Baru saja mereka selesai operasi, pintu kamar terbuka dan memperlihatkan Lira yang sudah berdiri dengan mulut terbuka. Radith tertawa melihat kebingungan istrinya dan meminta Lira untuk mendekat, lalu memberi tahu apa yang sedang mereka lakukan. Lira mengerti akan hal itu dan memilih untuk bergabung dengan mereka.
"Ah, itu Papa Radith habis kecelakaan kan, punggungnya sakit, kalian harus mengobati punggungnya dengan teknik injak injak, jadi kalian berjalan bolak balik ke punggung papa Radith untuk mengobatinya. Apakah pak dokter dan bu suster bisa menyembuhkan Papa Radith?" Tanya Lira yang membuat Radith tersenyum puas, istrinya saat tahu bagaimana permainan ini akan mengenakkan dirinya dan menyenangkan bagi anak anak.
"Baiklah! Dokter Sean dan suster Zia akan menyelamatkan Uncle ayah," ujar Sean yang sejenak lupa jika dia sudah memanggil Radith dengan sebutan Papa, untung saja Radith tak mempermasalahkannya karna pikirannya terfokus pada pijakan kaki kaki kecil anaknya yang sangat enak di punggungnya.
"Ya, seperti itu, naik lagi dikit, Zia ke atas, Sean le bawah," ujar Radith memberi intruksi agar mereka tak ada di posisi yang sama karna akan membuat Radith berat dan sesak.
Mereka melakukan kegiatan itu selama 10 menit, badan Radith yang kaku sudah mulai rileks. Mereka turun karna lelah, laku berbaring di sebelah Radith yang sudah hendak memejamkan matanya. Namun Zia dan Sean tidak mau Radith tidur di sana, jadi mereka terus mendorong dorong agar papa mereka bangun dan tidur di kamarnya sendiri.
__ADS_1
"Haih, ya sudah iyaa. Terima kasih untuk perawatannya dokter Sean dan dokter Zia. Kalian adalah dokter terbaik di Indonesia, kalian akan menjadi dokter terkenal di dunia, semangat," ujar Radith yang diangguki oleh mereka. Karna mulai mengantuk, Lira bertugas untuk menidurkan mereka sementara Radith kembali ke kamar mereka untuk melanjutkan istirahat.
Setelah memastikan Sean dan Zia tidur nyenyak aman, Lira segera keluar, mengunci pintu otomatis dan langsung masuk ke kamarnya. Dia sudah melihat Radith yang tidur dengan nyenyak, Lira pelan pelan tidur di sebelah Radith dan menarik selimut pelan agar lelaki itu tak bangun. Baru saja dia hendak memejamkan mata, Radith sudah memeluknya dari samping.
Lira merasakan kehangatan dan kenyamanan dipeluk seperti itu. Lira dan Radith mulai memejamlan matanya, namun tangan Radith tak bisa diam, dia mengusap usap perut Lira dengan lembut dan penuh kasih sayang, namun tentu saja hal itu membuat Lira merasakan geli karna rasanya seperti sedang dikelitik.
Wanita itu tahu jika Radith hanya ingin mencurahkan rasa sayang pada janinnya, sehingga dia menahan rasa geli itu dan memilih untuk tetap memejamkan matanya. Namun ternyata Radith tak berhenti sampai di situ, tangan lelaki itu mulai naik dan memberi pijatan di tempat yang tak seharusnya.
Meski Radith sudah punya wewenang yang sah untuk melakukan itu, Lira tetap tak bisa membiarkannya karna dia juga lelah dan ingin tidur. Namun apa yang dilakukan Radith makin intens, bahkan dia juga memelintir ujung sesuatu yang dia pijat itu, membuat Lira merasakan sensasi geli yang berbeda, dan karna dia lelah, dia mencoba mengabaikannya saja.
"Ra, main dokter dokteran kayak Zia sama Sean tadi yuk. Aku jadi dokternya, kamu jadi pasiennya," ujar Radith berbisik di telinga Lira. Lira tahu bisikan itu tak biasa. Namun dia tentu tak bisa melakukannya. Dia sudah lelah, begitupun Radith, lelaki itu seharusnya sudah tepar dan beristirahat, bagaimana bisa masih memikirkan hal ini? Sangat ajaib.
"Ayo Ra, nah, kalau kamu pasiennya, kamu harus kayak aku tadi pas diperiksa sama Sean. Kamu mau sendiri atau aku bantu?" Tanya Radith yang tak berhenti menggoda Lira. Membuat Lira tak sabar dan memukul Radith dengan guling yang ada di pojok untuk menjaga tidurnya agar tidak jatuh dan menjadi fatal terutama karna dia sedang hamil.
"Gak usah aneh aneh sih, udah, tidur. Aku tahu kamu mau kemana dan maksud kamu apa. Aku gak bakal marah, aku bakal coba maklum, tapi udah, gak usah dilanjut. Inget dong, ada anak kamu di badan aku nih, kalau dia kenapa napa gimana? Kamu mau anak kamu kenapa napa cuma karna kamu iseng aja?" Tanya Lira yang membuat Radith akhirnya menyerah.
Lelaki itu meringkuk sedih di belakang punggung Lira. Seperti anak anak yang sedang dimarahi oleh Ibunya. Membuat Lira merasa luluh dan kasihan pada lelaki itu, meski dia juga tak bisa melakukan apa yang Radith minta untuk saat ini.
"Sayang, bukannya aku gak mau nurut sama kamu, bukannya aku gak mau kasih apa yang kamu mau, tapi ini kan buat anak kita juga. Aku mau anak kita kuat, sehat dan utuh lahir batinnya. Mental fisiknya. Jadi tahan ya, gak lama, cuma 8 bulan lagi," ujar Lira yang sudah berbalik dan memeluk Radith yang sudah tak berani memeluknya.
Radith mendengar itu jadi tersenyum, dia mengangguk dan memeluk Lira juga, sehingga mereka saling berpelukan untuk waktu yang lama. Radith mendengar suara napas Lira yang sudah teratur, sepertinya istrinya sudah tidur. Entah kenapa dia ingin melakukan hal yang iseng.
Radith menenggelamkan kepalanya ke benda empuk di sana. Mendusel duselkan wajahnya di sana. Lira yang sebenarnya sudah tidur jadi terganggu lagi. Namun dia tahu, Radith hanya ingin melampiaskan hasrat yang dia pendam. Lira mencoba mengerti dan mengabaikan apa yang dilakukan oleh Radith.
__ADS_1
"Tantrumnya bayi gede emang ngeri dah," batin Lira yang akhirnya memaksa untuk tidur.