Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 41


__ADS_3

Radith menggendong Sean yang sudah tertidur, baru kali ini dia bisa merasakan kehangatan dan peran seorang ayah pada umumnya, dia merasa bersalah karna tidak bisa menemani Sean dari bayi, dia bertekad untuk menukar semua waktu yang terbuang dengan kasih sayang yang lebih, dia ingin Sean merasakan kebahagiaan yang semestinya setelah ini hingga anak itu dewasa.


"Udahan digendongnya, itu udah tidur, apa lo gak pegal gendong dia gitu, berat juga kan?" Tanya Lira yang datang dari belakang dan hendak mengambil alih Sean. Namun Radith menahan tangan gadis itu dan menggendong Sean untuk masuk ke dalam rumah. Dia ingin menidurkan Sean, dia ingin melakukan semua hal yang belum sempat dia lakukan.


"Ra, gue gak pernah nyangka Gue akan daoat kesempatan buat gendong anak gue sendiri, dan gue gak nyangka kalau ini anak gue sama lo Ra. Gue bahagia, akhirnya semua penderitaan gue berakhir dan gue bisa hidup dengan cinta sama kalian berdua," ujar Radith tulus yang lagi lagi membuat Lira meleleh, namun dia berusaha bersikap mahal.


"Lo jangan terlalu sering bilang kata kata manis. Sesuatu akan menjadi romantis jika hanya dilakukan saat spesial. Namun itu akan menjadi biasa saja saat kau terlalu sering melakukannya. Jangan terlalu sering gombal, karna kata cinta akan terdengar gampangan pada akhirnya," sahut Lira dengan pedas luar biasa.


"Wah, gue gak nyangka Lo pagi ini sarapan cabe. Oke baik, gue gak akan ngomong hal yang begitu lagi, gue akan simpan semua kata romantis sampai kita menikah, tua dan meninggal, sehari satu. Jadi paling gue punya 1000 macam gombalan buat Lo," ujar Radith dengan percaya dirinya.


Lira mengerutkan kening, lalu hendak bertanya pada Radith, namun sepertinya Radith tahu dia hendak menanyakan hal itu sehingga Radith memberi isyarat Lira untuk diam dan Lira pun langsung menurut. Radith meminta Lira untuk mendekat, dan wanita itu sungguh mendekat ke arah Radith. Sangat polos dan penurut.


"Karna, setelah 1000 kan bisa gue ulang dari 1, lo juga gak ingat kan pasti gombalan gue yang pertama apa? Nah kalau udah gak luci ya gue ulang aja 1 - 999," ujar Radith yang membuat Lira kembali heran, namun dia enggan bertanya karna malas meladeni Radith, dia lelah, dan kini semakin lelah karna tingkah konyol Radith keluar.


"Nah, jagoan aku udah tidur nih, sekarang kamu mau jagoin kamu," ujar Radith yang mengangkat kedua alisnya. Lira bergidik ngeri melihat tatapan itu, dia langsung berjalan cepat ke kamarnya dan mengunci pintu kamar dari dalam, Radith yang memang hanya bergurau tentu saja tertawa melihat respon Lira yang lucu.


"Dia ibu anak satu, tapi kenapa imutnya kayak anak SMP coba, astaga, gue gak doyan loli please, sadar Radith, Lo udah tua, jangan ngebayangin yang loli loli," ujar Radith pada dirinya sendiri. Radith mengecek kondisi Sean sekali lagi dan kembali ke kamarnya untuk tidur.


Meski Radith dan Lira tinggal serumah, Lira masih merasa tak nyaman dengan kehadirannya, gadis itu masih perlu waktu sehingga Radith mengalah dan memutuskan mereka pisah kamar, setidaknya mereka masih hidup bersama dan Lira merasa nyaman karna mereka berjarak, semua pun senang. Yah, walau sebenarnya Radith mengharap hal lebih sih.


Keesokan harinya, Lira bangun dengan malas, pakaiannya cukup berantakan dan rambutnya dia gulung asal. Wanita itu hendak memasak sesuatu untuk anak dan (calon) suaminya, dia ingin mereka hidup seperti keluarga pada umumnya sehingga dia menolak saat Radith menawarkan asisten lengkap untuk rumah ini. Lira tidak boleh bekerja, setidaknya dia punya kesibukan di rumah ini.


Belum selesai author menuliskan isi pikiran Lira saat berjalan, wanita itu sudah sampai di dapur dan melihat Radith yang sudah mencuci alat bekas masak dan di meja makan sudah tertata banyak makanan yang tampak lezat. Apakah lelaki itu pandai memasak? Sepertinya dia tipe pekerja kantoran yang tidak jago memasak.


"Gak usah mikir yang aneh aneh deh, dicoba aja dulu, baru komen atau mikir," ujar Radith yang seolah tahu isi pikiran Lira. Lira terkekeh dan berjalan keluar dapur untuk membangunkan Sean karna sudah waktunya mereka sarapan. Sean yang masih mengantuk pun hanya merengek dan meminta Lira menggendongnya.


"Loh nak, kenapa kamu minta gendong ke Mami kamu? Kasihan mami kamu nanti capek loh, mami kamu itu udah kecil, makin pendek kalau gendong kamu. Sini digendong sama Ayah aja ya," ujar Radith dengan hangat, dia langsung mengambil alih Sean dan membuat Sean nyaman di lengannya yang besar dan kekar.


"Ayah kamu tuh kayak 5 tahun gak ketemu kamu Se, pengen jadi super papa ke kamu," ujar Lira yang lupa jika Radith memang tidak bertemu dengan anaknya selama 5 tahun, bahkan Radith tidak pernah tahu kondisi mereka atas permintaan Lira kala itu, namun kedatangan Radith membuat Lira melupakan semua fakta itu.

__ADS_1


"Mami, you looked so mess, why don't you wash your face or take a bath before we Breakfast?" Tanya Sean sambil mengucek matanya. Radith menahan tawa mendengar anaknya mengatakan hal itu, bahkan Radith tak berani mengatakannya pada Lira, namun Lira lebih tak berani memarahi Sean karna hal ini, Lira pun menghela napas untuk mencari kesabarannya.


"Should I bring you a mirror, darling? You look messy too, how about we take a bath together? Kita udah lama kan gak mandi bareng?" Tanya Lira yang membuat Sean tertarik. Dulu memang Lira sering mandi bersama Sean, karna anak itu masih kecil, jadi Lira tidak khawatir.


"Count me In, count me In, Want to join with you guys," ujar Radith bersemangat sambil menghentak hentakkan kaki hingga Sean ikut terhentak, tentu saja Sean tidak keberatan mandi bersama Radith. Sean malah merencanakan apa yang akan mereka lakukan saat mandi bersama nanti, sementara Lira hanya melongo melihat dua lelaki di hadapannya.


"Kalian, silakan lanjutkan saja. Mami mau makan dulu aja, mami lapar," ujar Lira yang duduk di meja makan dan mengambil piring untuk dirinya. Radith dan Sean memutuskan untuk makan terlebih dahulu agar makanan ini tidak terlalu dingin juga. Mereka bisa mandi setelah sarapan dan mengantar Sean sekolah (di ruang tamu karna anak itu sekarang memiliki guru pribadi)


"It's not bad actually, Lo pasti order makanan terus Lo taruh di sini kan? Hayo ngaku? Ini enak loh, masak lo bisa masak? Sejak kapan?" Tanya Lira penasaran. Radith memutar bola matanya dengan kesal, apakah Lira masih mengigau? Atau gadis itu mabuk tadi malam?


"Gimana ceritanya gue beli? Ini masih jam 6 pagi, toko mana yang udah buka? Terus tadi malam lo tidur jam berapa? Jam 11 malam, toko mana yang masih buka? Dih, lo mah, bego gratis jangan diambil semua, bagi kek ke gue dikit," ujar Radith yang membuat Lira merengut. Dia hanya tidak menyangka Radith bisa masak, namun lelaki itu malah mengatainya.


"Maaf, keceplosan. Biasanya Lo biasa aja loh kalau gue katain, kok sekarang marah? Baper? Atau lo udah ngerasa jadi istri gue ya? Jadi gak bisa kalau dengar bentakan atau ejekan dari suami sendiri?" Tanya Nathan sambil menggoda Lira.


"A... Apaan sih Lo, udah ah yang bener, ada Sean tuh, dia gak bisa lancar bahasa Indonesia juga ngerti apa yang Lo omongin, jangan sampai anak gue tercemar," ujar Lira galak, meski sebenarnya hanya ingin menutupi rasa gugupnya dan ingin mengalihkan pembicaraan tentang suami istri ini.


"Kalau Sean setuju kita menikah, Lo bakal ngalah dan nikah sama gue kan Ra? Atau lo tetap nikah sama Gue walau Sean gak setuju? Padahal Sean kan anak kandung gue juga," ujar Radith yang mencoba mencurangi kesepakatan yang dia buat sendiri.


"Berani aja," ujar Radith santai. Yah, Lira baru ingat, yang dia hadapi adalah Radith, pria gila yang melakukan segala cara untuk merebut apa yang jadi miliknya. Namun Lira penasaran bagaimana Radith akan meminta restu.


"Sean, do you want to see Mami and Ayah getting married? You can eat delicious food there, and you'll be a Prince too," bujuk Radith yang tentu membuat Sean terkesan. Dia tidak mengerti apa itu "married" karna Lira tidak pernah mengajarinya, namun dia suka saat Radith menawarinya makanan enak, siapa di dunia ini yang akan menolak makanan enak?


"Ya! Ya! You should married my Mami. You should bring me the most delicious food in this world," ujar Sean dengan semangat sementara Lira sudah menepuk jidatnya, heran karna ajaran Radith mudah sekali merasuki pikiran Sean, atau memang sebenarnya Sean adalah hasil cetak Radith dengan sifat yang sama.


"Dear, you don't know what is married means, kenapa kamu mau mama married? Kalau ternyata mama harus berpisah dari kamu gimana?" Tanya Lira yang tidak membuat Sean takut, lelaki kecil itu bahkan mengeluarkan cengiran penuh percaya diri dan menunjuk ke arah Radith, membuat Lira tak mengerti.


"Karna uncle ayah yang bilang, jadi dia pasti be honest, Sean mau makan delicious food Mami, please Marry Uncle ayah," ujar Sean yang membuat Lira terkekeh. Meski sudah berulang kali diajari, Sean tetap sering memanggil Radith dengan uncle ayah karna dia menganggap Radith adalah uncle dan bukan papanya.


Namun tentu berbeda dengan Radith yang merasa sedikit kesal, julukan uncle membuat Radith merasa jauh dari Sean dan tidak ingin ada jarak di antara mereka sehingga dia ingin memaksa Sean untuk memanggilnya Ayah atau Papa, namun dia harus menggunakan cara sabar, atau Sean malah akan menganggapnya orang yang jahat dan tidak memberikan restunya.

__ADS_1


"Ra, habis ini nyari gaun sama cincin yuk, sama nyiapin segala hal buat resepsi, biar kita cepat nikah, cepat bisa punya adik buat Sean," ujar Radith yang mendapat lirikan tajam dari Lira. Sepertinya Radith salah bicara sampai membuat Lira sekesal itu padanya. Radith tidak mengerti dimana kesalahannya, jadi dia diam saja.


"Lo pikir perempuan itu cuma mesin penghasil anak? Kenapa sih semua orang nikah itu mikirnya ke anak dulu? Padahal bukan itu tujuan menikah loh, kalau tujuan Lo biar gue menghasilkan keturunan, Ya lo mending jajan sana, gak usah nikah sama gue lah," ujar Lira sewot dan langsung pergi dari meja makan, meninggalkan piring yang masih penuh makanan.


"Mami kenapa? Apa Ayah melakukan hal yang salah Se?" Tanya Radith pada Sean. Sean menggelengkan kepala sambil memakan cakar ayam dengan tangannya yang mungil. Dia tidak tahu apa apa, dan dia tentu tidak mau terlibat juga. Radith pun hendak berdiri menyusul Lira, namun saat dia melihat ke kursi yang diduduki Lira, dia pun paham.


"Astaga, ternyata dia lagi kedatangan tamu penting yang hobi bikin emosi, pantesan aja tiba tiba kayak macan betina. Mending gue gak dekat dekat deh daripada jadi Radith guling," ujar pada dirinya sendiri dan mengambil tissue untuk mengelap kursi putih itu dan bertindak seolah tidak terjadi apapun.


Lelaki itu membuang tissue ke dalam toulet agar larut lalu mengambil hand sanitizer untuk mensterilkan area kursi karna dia tidak tahu apa yang terkandung dari cairan merah yang dia lap itu. Radith kembali makan dengan tenang lalu membantu Sean untuk turun dari kursi tingginya.


Radith menggandeng Sean untuk masuk ke kamarnya dan mengajak lelaki kecil itu untuk mandi. Mereka benar benar mandi bersama dalam keadaan telanjang total. Radith menggosok semua bagian tubuh Sean dengan sabun sampai bersih. Untung saja Sean memakai shampo sekaligus sabun ditambah tidak perih di mata, sehingga Radith bisa tenang dalam memandikannya.


Tak lama berselang, mereka sudah selesai mandi dan Radith memakai baju tanpa celana, dia ingin pergi ke kamar anaknya untuk mengambil baju, dia harus bergegas sebelum Sean masuk angin dan malah sakit, dia lagi yang akan diterkam Lira jika sampai itu terjadi, membayangkannya saja sudah menyeramkan.


Radith mengambil pakaian dalam dan baju formal milik Sean karna sebentar lagi gurunya datang. Meski dia home schooling dan gurunya tidak masalah mengenai seragam, Radith ingin Swan tumbuh menjadi anak yang mengerti tata krama berpakaian, sehingga lelaki itu tidak mudah salah kostum saat dewasa nanti, dia harus menerapkan kebiasaan baik sedini mungkin.


Belum sempat masuk ke dalam kamarnya, Radith melihat seseorang di sofa yang ada di ruang tamu, dia menatap Radith dengan mulut terbuka. Dia tidak menyangka melihat tuan Rumah hanya memakai handuk saat pertama kali bertemu dengannya. Tentu saja pikiran guru itu kemana mana dan Radith ingin menjelaskan, namun dia tahu waktunya tidak tepat.


"RADITH!!" Bentak suara yang berasal dari dapur. Radith segera menengok dan handuk yang menutup aset pribadinya terlepas, menunjukkan adiknya yang bangun pada Lira yang membawa gelas. Dia juga menunjukkan dua apel istimewa miliknya pada guru privat Sean. Lira melongo untuk beberapa saat sebelum akhirnya tersadar.


"RADITTHHH!!!!" Teriak Lira dengan gemas dan kesal.


*


*


*


Mau Cek sound berapa banyak yang masih baca cerita ini whehehehe

__ADS_1


I'M BACK!!! SETELAH LAMA MERENUNG, AKHIRNYA AKU AKAN MENCOBA UNTUK MENYELESAIKAN KISAH INI DENGAN SEMESTINYA, NOVEL LAIN JUGA AKAN KUSELESAIKAN SATU PERSATU. SO STAY TUNE!!!


__ADS_2