
Radith ikut dalam prosesi menguburkan jenazah Roy, Nesya masih harus menangis untuk beberapa waktu ini untuk menyatakan dia benar-benar kehilangan Roy, meski dia sudah sangat lelah, dia harus terus memeras air matanya agar tuan WIlkinson percaya dan simpati padanya, menyebalkan, namun dia tidak punya pilihan lain untuk saat ini, dibanding dengan suaminya yang harus mati karena papanya.
“Papa tahu ini akan menghancurkan hidupmu, namun itu hanya sementraa, papa yakin kau akan hidup jauh lebih baik setelah ini. Kau bisa tinggal di sini, jika kau ingin tinggal di tempat lain, papa akan membuatkanmu rumah, kamu mau tinggal dimana?” tanya tuan Wilkinson yang membuat Nesya terdiam untuk sesaat, namun dia akhirnya mendapat ide yang bagus, dia tidak bisa tinggal di dekat papanya.
“Jika boleh, Danesya ingin tinggal di Bali. Nesya ingin mengenang Hawaii, mereka sedikit mirip, Nesya ingin tinggal di dekat pantai, jadi Nesya bisa nyaman, itu jika papa mengijinkan. Nesya akan merasa stres jika harus hidup di tengah kota seperti ini,” ujar Nesya yang kali ini membuat Radith menoleh. Dia sudah enggan berurusan dengan keluarga Wilkinson, pilihan Nesya akan membuatnya kembali terjebak.
“Baik, jika kau ingin tinggal di Bali. Papa akan menyiapkan rumah yang akan kau tinggali, jika nanti kau ingin rumah lain, papa bisa mengusahakannya. Jika kau perlu sesuatu, bantuan apapun, papa akan segera memberikan bantuan. Papa ingin kau hidup nyaman dan bahagia, jadi kau harus hidup dengan nyaman dan bahagia, kau mengerti?” tanya tuan Wilkinson yang langsung diangguki oleh Nesya.
“Kau gila! Kenapa kau memilih Bali? Kau bisa memilih yang lebih ke timur jika memang ingin hidup tenang, kau bisa ke Raja Ampat atau Lombok, kenapa kau memilih Bali? Jika kau tinggal di sana, papamu akan terus memintaku untuk mengawasimu, jadi aku tidak akan pernah terbebas, kau, maksudmu apa melakukan itu?” tanya Radith dengan marah. Nesya menghela napasnya panjang.
“Maaf, gue harus tinggal di sana dan memang harus tinggal di dekat lo. Lo tahu kita ada misi yang belum selesai. Lo yang mulai semua ini, lo mau lepas tangan gitu aja? Terus nasib gue dan keluarga gue gimana? Gue gak akan merepotkan, gue janji, gue hanya perlu bantuan lo dikit, masalah sama bokap, lo yang lebih paham dibanding siapapun, gue butuh informasi,” ujar Nesya pelan.
“Tetap aja, kenapa lo? Ah astaga, gak tahu lagi gue, gak tahu lagi. Gue gak peduli lagi, kalian cuma keluarga egois yang mau menang sendiri,” ujar Radith dengan kesal dan frustasi lalu meninggalkan Nesya begitu saja. Nesya tentu saja mengejar Radith, menyamakan langkah dan menarik pundak pria itu untuk menghentikannya. Dia merasa bersalah jika Radith merasa seperti itu.
“Bali itu luas, dan gue gak akan mengusik hidup lo seterusnya, gak akan. Sesuai janji, lo akan hidup bebas mulai saat ini, dan gue juga akan hidup menurut yang gue mau. Gue cuma minta tolong sedikit lagi, sedikit lagi aja karena gak akan selamanya gue pisah sama dia kan? Gue takut kalau pengawal papa tahu dan melaporkan, gue gak mau Dith,” ujar Nesya yang membuat Radith merasa kalah kali ini.
“tetap aja, lo gak bisa kayak gitu dong. Astaga, ya udah lah dipikir besok lagi. Gue mau balik dulu ke Bali. Udah lama banget gue gak ketemu anak bini gue. Gue balik, lo baik-baik di sini,” ujar Radith mengakhiri percakapan dan bersama anak buahnya dia pergi dari rumah keluarga WIlkinson untuk menemui istrinya yang ada di Bali. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa menjelaskan semuanya pada Lira.
Sementara itu, Nesya tidak bisa langsung pergi dari sana. Dia harus tinggal di rumah keluarga Wilkinson untuk sementara waktu selagi orang di rumahnya mengurus semua keperluannya sekaligus berkas surat kepindahan agar saat dia sampai, semua sudah beres. Nesya masuk ke sebuah kamar yang ada di sana. Kamar yang didominasi dengan warna pink dan banyak boneka di dalamnya.
“Gue langsung tahu ini kamar siapa. Gimana rasanya jadi dia? Pasti enak banget hidup dekat sama keluarga, keperluannya semua tercukupi, ah gue juga sih kalau itu. Gue mau iri sama dia, tapi gue bingung apa yang mau gue irikan. Gue cuma benci sama dia karena gue yang dibuang dan dia tetap tinggal di Indonesia untuk waktu yang lama. Gak adil,” lirih Nesya menatap foto yang ada di sana.
__ADS_1
Nesya berdiri dan mulai berjalan untuk melihat ada apa saja di kamar ini. Dia membuka laci yang ada di sana. Masih lengkap dengan buku-buku dan perlengkapan sekolah Lunetta selama menuntut ilmu di SMK Taruna. Di sana juga terdapat album foto kegiatan yang mereka ambil saat ada event event tertentu. Lunetta sangat cantik, yah wajar saja jika semua orang menyukainya.
“Wow, harta karun,” ujar Nesya dengan kaget karena saat dia membuka lembaran foto dalam album itu, dia melihat sebuah foto di mana Radith sedang tertidur. Dia mengambil foto selfie di sebelah lelaki itu sambil menatap wajahnya yang menenangkan. Foto itu sangat manis dan tentu saja romantis, membuat Nesya bertanya-tanya apakah Lunetta secinta itu pada Radith?
“Radith emang pria yang pantas buat dicintai sampai kayak gini. Gue kalau jadi Lunetta juga bakal suka banget sama cowok itu, perhatian, baik, dan mau menjaga gue bahkan dengan nyawanya sendiri. Siapa yang gak jatuh cinta sama cowok kayak gitu?” tanya Nesya pada dirinya sendiri. Dia kembali menutup album foto itu dan mengembalikannya, dia berjalan ke arah lemari dan membukanya.
Isi lemari itu masih banyak baju-baju Lunetta, bahkan baju seragamnya juga masih ada di sana. Nesya membuka satu persatu baju yang ada di sana dan dengan iseng merogoh kantong baju itu satu persatu. Dia menarik sesuatu yang ada di kantong baju seragam prakteknya. Secarik kertas. Apakah baju ini tidak pernah dicuci setelah Lunetta menikah? Kenapa masih ada kertas yang utuh di sini?
“Wah, gue tahu kalau Luna sesuka itu sama Radith, tapi ini? Astaga, dia nulis ini? Buat Radith? Kalau Darel tahu surat ini, dia pasti bakal sedih banget, hahaha, gue kira gue anak dan cewek yang jahat, tapi ternyata Luna lebih jahat dari gue,” ujar Nesya yang kembali duduk ke kasur untuk membaca surat panjang itu, dia tertarik karena paling atas bertuliskan “dear Radith”
”Hai Radithya David putra Galeno. Ini udah lama banget sejak kita lulus dari sekolah. Gue udah tunggu lo malam banget Dith, tapi bahkan gue gak bisa berhenti suka sama lo, gue masih menyimpan semua rasa ini buat lo. Gimana ini? Gue harus apa? Gue udah punya pacar yang selalu ada buat gue, manis ke gue, dan bahkan mau melakukan apapun buat gue. Tapi gue masih suka dan nunggu lo.
Sekali aja, gue tanya ke lo, lo suka gak sih DIth sama gue? Lo juga sayang gak sih sama gue? Gue selalu bertanya hal ini dalam hati gue, dan entah kenapa gue masih merasa kalau gue bisa nikah sama lo, bahagia sama lo. Apa lo juga merasakan itu? Atau cuma gue yang bodoh berharap sama manusia dingin kayak lo ini? Gue takut Dith, gue takut kehilangan lo, tapi gue juga takut sendirian.
Kalau memang lo sayang sama gue, tolong datang, gue mau bertemu sama lo dan kita bahas semua. Gue cinta sama lo dan gue benar-benar berharap, lo juga cinta sama gue Dith. Masih ada kesempatan buat kita kan Dith? Lo juga sayang sama gue kan Dith? Gue harap lo akan menjawab ‘iya’ gue akan tetap tunggu lo Dith, gue sayang sama lo.
Salam hangat, Lunetta.”
Nesya sampai termangu melihat surat yang sepertinya tak pernah sampai ini. Luna pasti tidak memberikan surat ini pada Radith karena suatu hal dan malah meletakkan surat ini ke dalam kantong baju dan melupakannya. Nesya merasa Iba pada saudara kembarnya itu, dia tidak bahagia bersama Darrel saat itu, dia harus menikah dengan pria itu karena takut sendirian dan merasa Radith tidak akan mencintainya.
“Kenapa lo gak berani kasih surat ini buat dia? Kalau lo berani kasih surat ini, lo akan bahagia sama Radith dan jalan cerita kisah ini gak akan seperti ini. Semoga sekarang lo benar-benar bahagia sama Darrel ya Lun. Walau gue benci sama lo dan gue gak mau berurusan sama lo, kali ini gue berharap lo bahagia. Kayaknya gue gak perlu seiri itu sama lo deh Lun, karena lo juga sama merananya kayak gue.”
__ADS_1
Nesya mengembalikan surat itu ke dalam kantong dan dia keluar dari kamar Lunetta. Dia menuju rooftop dan melihat bintang bintang buatan yang ada di dalam ruangan itu, sangat menenangkan. Dia duduk di sana dan terdiam, apakah mungkin hidupnya akan bahagia dan tenang setelah ini? Seandainya dia bisa bersama suaminya di tempat ini, memupuk romansa dan bersama bayi dalam kandungannya, mereka bisa bahagia seperti keluarga pada umumnya. Apakah dia layak mendapat itu semua? Memikirkan saja sudah terasa sangat sulit. Nesya merasa tidak akan mudah membuat papanya mau menerima Roy sebagai menantu, yah, hanya itu, dia tidak meminta hal lain lagi.
“Hai, gue dengar lo sampai ke Indonesia dan tinggal di rumah papa. Gue kira lo udah pergi dan ternyata lo ada di sini, apa kabar? Lo udah lama banget menghilang, dan ternyata kita masih bisa ketemu lagi,” ujar seseorang yang membuka pintu dan langsung duduk di sebelah Nesya dengan santainya. Wanita itu menatap lembut Nesya, namun Nesya hanya menatap dingin ke arahnya, masih ada sisa benci dalam hatinya.
“Danesya Azura Wilkinson. Gue tuh tau lo benci sama gue, tapi gue gak nyangka lo akan sebenci itu, iya sebenci itu sampai udah bertahun-tahun lo masih benci sama gue. Kalau ada hal yang bisa gue lakukan, gue pengen tahu cara biar kita bisa kayak saudara pada umumnya, Nes, gue ingin punya saudara perempuan lagi, gue masih gak tahu kenapa lo sebenci itu sama gue.”
“Lo tanya karena gak tahu atau karena bodoh? Sudah jelas alasannya karena lo tinggal di rumah ini, hidup dengan nyaman dan pengawalan ketat, sementara gue harus dibuang dan gak dapat semua hal yang lo dapatkan. Kenapa lo yang sakit-sakitan, gue yang harus dibuang? Kenapa gue harus dilahirkan di keluarga yang kayak gini? Gue benci lo dan keluarga ini, jadi jangan harap lo bisa anggap gue saudara,” Ketus Danesya pada Lunetta.
“Gue merasa lucu. Lo iri sama gue dengan semua fasilitas ini. Sementara gue iri sama lo Danes, lo bisa bebas melakukan apapun yang lo mau, sementara gue? Gue mau sekolah di Sydney aja gak boleh dan dipaksa masuk ke SMK Taruna. Pengawal? Gue tanya ke lo, emang lo nyaman kemanapun lo pergi, ada sekumpulan orang yang ngikutin lo. Lo gak punya ruang untuk bergerak sendiri, enak?” tanya Luna pelan.
“Apa yang lo punya, itu yang gue mau sejak dulu Nes, bang Jordan sibuk ke luar negeri, papa sibuk di luar negeri, ada banyak banget orang di rumah ini, tapi gue merasa kesepian. Semua yang lo dapat, yang lo punya, yang lo alami, itu semua yang gue mau. Yang gue idamkan tapi bahkan gak akan pernah bisa gue dapatkan,” lirih Luna memeluk lututnya sendiri. Dia mengingat kehidupannya dulu.
“Lo? Lo mau mengalami semua yang gue alami Lun? Lo mau hidup dikejar-kejar sama ajudan bokap lo sendiri, harus kabur ke luar negeri bareng suami lo buat menghindar dari keluarga lo dan akhirnya suami lo dibunuh sama bokap lo sendiri. Lo yakin mau melakukan semua itu Lun? Lo yakin mau mengalaminya?” tanya Nesya dengan nada menyindir. Luna menengok ke arah Nesya perlahan.
“Lo bisa hidup berdua sama suami lo tanpa pengawasan bokap, lo bisa melakukan apapun yang lo mau bareng sama suami lo, dan lo bisa tinggal dimanapun yang lo mau, gak ada alasan buat gue gak iri sama lo Danes, tapi gue juga sadar, gue gak bisa merasakan hal itu karena apapun yang gue dan suami gue lakukan, selalu dalam pengawasan bokap, miris ya?” tanya Lune sambil tersenyum masam.
“Satu lagi, masalah bokap membunuh suami lo. Gue tahu itu bukan Roy. Lo jangan nuduh Radith, karena ini pengamatan gue sendiri. Nangis lo lebay seolah ingin bokap simpati sama lo. Terus, lo tahu Radith yang bunuh suami lo, tapi lo masih sudi ngomong sama dia, gue gak akrab sama lo, tapi gue tahu lo gak akan seakrab itu sama orang yang udah bunuh suami lo. Gue yakin Roy masih hidup dan entah siapa yang ada di dalam tanah itu.”
“Lo tenang aja, gue gak akan kasih tahu siapapun karena lo juga berhak bahagia dan lo emang harus bahagia. Gue gak akan ikut campur apapun, gue cuma mau lo tahu, kita itu sama-sama nelangsa, di jalan kita masing-masing. Lo iri sama gue, gue iri sama lo. Tapi bukan mau kita lahir di keluarga kayak gini kan? Kita gak punya pilihan selain menjalaninya.”
“Menghadapi keluarga ini gak bisa sendirian Nes, gue harap kita bisa saling topang, saling menguatkan dan saling bantu, biar gak merasa sebegitu beratnya, gue balik dulu,” ujar Luna yang langsung pergi dari sana tanpa mendengar jawaban Nesya.
__ADS_1
“Di.. dia tahu?” tanya Nesya pada dirinya sendiri dengan gugup.