Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 154


__ADS_3

Dalam pesawat, Radith duduk bersama dengan Angga, sementara di seberang, dia melihat Nesya yang duduk bersama dengan tuan WIlkinson. Radith menatap ke arah Nesya dengan penuh isyarat, Nesya mengerti maksud dari isyarat Radith dan Nesya mengangguk, dia paham apa yang akan dikatakan oleh Radith, dia juga tahu apa yang harus dilakukan untuk misi mereka.


“Sampai di Indonesia, kamu akan tinggal di rumah papa, jadi kamu tidak usah khawatir, setelah ini juga papa akan bawa jenazah Roy ke ruangan khusus untuk diidentifikasi, jadi kita bisa memastikan apa penyebab dia mati, dan apakah itu benar jenazah Roy atau tidak,” ujar tuan Wilkinson pada Nesya yang membuat wanita itu langsung terisak.


“Memang seumur hidupku, aku tidak boleh untuk merasa bahagia. Kalian semua jahat, kalian semua memang ingin kematianku, aku akan mati setelah ini, jadi kalian tidak perlu khawatir,” ujar Nesya dengan lemas, dia sudah kelelahan karena menangis, yah, dia benar-benar lelah, namun dia bahkan harus berusaha untuk menangis dan sedih lagi.


“semua ini justru papa lakukan untuk melindungi kamu. Kamu bisa menikah dengan siapapun, asalkan dia dari keluarga yang baik. Apa yang membuatmu ingin bersamanya? Dia bukan orang yang baik, kenapa kamu ingin sekali hidup dengan baj1ngan itu?” tanya tuan Wilkinson yang napasnya mulai tak stabil karena emosi sampai akhir Nesya tidak mau melupakan pria itu.


“papa sudah ambil semua yang Nesya punya. Hidup Nesya, bahkan suami Nesya, semua papa ambil. Sebentar lagi papa akan kehilangan Nesya. Nesya akan mati, dan papa harus selalu ingat di kepala papa, kalau Nesya mati karena papa, Nesya mati karena papa yang membuat Nesya mati. Hal itu akan terus menghantui hidup papa, sampai kapanpun,” ujar Nesya dengan datar.


Radith yang juga mendengar hal itu tentu saja terkejut, Nesya bukan meminta tuan WIlkinson untuk tidak mengautopsi Roy, dia malah mengancam pria itu dengan hidupnya sendiri. Apakah Nesya akan benar-benar mati dan membuat tuan WIlkinson menyesal? Itu bukan hal yang baik, Nesya tidak akan mungkin mati begitu saja.


“Jika papa masih mau melihat Nesya hidup, jika papa memang mau Nesya bahagia, jika papa masih menganggap Nesya sebagai anak papa, tolong, sekali ini saja, tolong, lepaskan Roy, lepaskan suami Lira. Dia sudah sangat menderita, sepanjang hidupnya penuh penderitaan, bahkan saat kematiannya sangat menyakitkan. Tidak bisakah papa lepaskan dia agar jiwanya tenang?” tanya Nesya sambil menatap nanar papanya.


“Kenapa kamu ngotot untuk tidak membedah dan mengecek apakah itu benar Roy atau bukan? Kenapa kau tidak mau melakukan hal itu? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan?” tanya tuan Wilkinson dengan curiga, namun bukannya panik, Nesya hanya tersenyum miring mendengar hal itu. Dia memalingkan wajahnya dan menutup matanya. Hal itu tentu membuat tuan WIlkinson tak nyaman.

__ADS_1


“Percuma saja Nesya meminta, memang papa hanya ingin Nesya mati. Lakukan semua yang papa inginkan, Nesya juga akan lakukan yang Nesya ingin lakukan, tentu saja, hal yang Nesya lakukan tidak akan merugikan siapapun, karena sejak awal, anak papa hanya Lunetta, Nesya tidak pernah jadi anak papa. Jadi wajar jika papa terus menyiksa Nesya selama hidup, bahkan sampai saat ini,” ujar Nesya santai.


“Kau tetap anak papa dan papa hanya ingin yang terbaik untukmu, kau harus lepas dari anak yang tidak baik itu, semua papa lakukan untukmu, untuk kebahagiaanmu,” ujar tuan Wilkinson yang masih tidak mau mengalah. Nesya langsung menatap tajam ke arah tuan WIlkinson, dia menyiratkan kemarahan yang sudah lama dia pendam, akhirnya dia bisa menyampaikan semuanya saat ini.


“Jika memang Nesya anak papa dan jika memang papa ingin Nesya bahagia, jika papa ingin Nesya berumur panjang. Biarkan Roy beristirahat dalam damainya. Biarkan dia tersiksa dalam hidupnya saja, jangan biarkan jiwanya juga tersiksa. Nesya mau dia dikuburkan dengan layak, sesegera mungkin, tanpa ada pembedahan apapun, Nesya tidak rela tubuhnya harus dicabik-cabik lagi.”


“Nesya hanya minta hal itu, sangat mudah bukan? Tapi jika hal itu saja papa tidak bisa penuhi, Nesya merasa tidak ada gunanya lagi hidup, tidak ada gunanya terlahir sebagai keluarga Wilkinson yang terkenal dengan kuasanya, lebih baik Nesya mati, dan Nesya tidak perlu lagi hidup dalam siksaan keluarga ini,” ujar Nesya yang langsung memasang penyumpal telinga.


“Kau anak yang keras kepala. Papa juga tidak mau bersikap dingin denganmu. Kau dan Lunetta, kalian anakku yang berharga. Kau pasti menderita karena harus hidup jauh dari keluarga. Maaf untuk hal itu, Lunetta harus dijauhkan darimu, itu salahku. Tapi bahkan sampai saat ini, kau tidak bisa melihat niat baikku, kau sudah sangat membenciku,” lirih tuan WIlkinson kecewa.


“Semoga saja tuan WIlkinson percaya dengan apa yang Nesya katakan, semoga dia mau menuruti permintaan Nesya dan kita bisa hidup tenang setelah ini, aku sudah merindukan keluargaku, tapi aku bahkan harus menahannya sedikit lagi,” ujar Radith pelan pada Angga.


“saya yakin nona Nesya tidak ceroboh, dia bahkan merencanakan semuanya dengan sangat rapi sampai kita pergi ke Hawaii, dia pasti bisa melakukannya sekali lagi,” ujar Angga yang menyudahi percakapan mereka.


Mereka menghabiskan sisa waktu penerbangan dengan tidur, sudah banyak energi yang terkuras, mereka tidak ingin memikirkan apapun lagi setelah ini. Terutama Radith, tugasnya selesai untuk saat ini, tinggal bagaimana Nesya sampai akhir meminta agar jenazah yang mereka bawa tidak dicek oleh tuan WIlkinson.

__ADS_1


“Terima kasih karena kau sudah menyelesaikan misi dengan baik. Mulai sekarang kau sudah tidak bekerja di bawah wewenang keluarga WIlkinson. Kau bebas melakukan apapun yang ingin kau lakukan,” ujar tuan Wilkinson yang diangguki oleh Radith. Dia merasa senang karena akhirnya bisa bernapas dengan lega.


“Kalian, bawa Jenazah Roy ke rumah, jangan ke rumah sakit. Siapkan prosedur untuk pemakamannya. Aku akan memakamkannya di makam keluarga Wilkinson agar Nesya mudah jika ingin berkunjung,” ujar tuan WIlkinson yang membuat Radith, Nesya dan semua pengawal yang ada di sana mematung seketika.


“Tuan, tapi bukankah kita harus mengecek apakah jenazah itu benar Roy? Karena tubuhnya cukup hancur jadi kami tidak bisa mengenalinya tanpa bantuan ahli,” ujar salah satu pengawal yang dijawab gelengan kepala oleh tuan Wilkinson.


“lakukan seperti yang aku perintahkan,” tegas tuan Wilkinson yang langsung berjalan sambil menggandeng tangan Nesya untuk masuk ke dalam mobil.


“Terima kasih, terima kasih papa sudah mau menuruti apa yang Nesya minta. Akhirnya Nesya tahu, papa bukan orang jahat. Papa tidak sejahat yang Nesya pikirkan selama ini, terima kasih,” ujar Nesya dengan tulus. Tuan Wilkinson menatap ke arahnya sambil tersenyum.


“Kau anakku, hatiku terluka mendengarmu sangat membenciku. Ini yang bisa papa lakukan untuk menebus semua kesalahan papa. Ini yang bisa papa lakukan untuk menebus semua waktu yang terbuang, semua kesakitan yang kamu rasakan. Maafkan papa, papa bukan membencimu, atau bahkan membuangmu. Ini salah papa, tidak bisa menjadi orang tua yang baik,” ujar tuan Wilkinson dengan tulus


“Ya, papa memang bukan orang tua yang baik, bagus jika papa menyadari hal itu. Tapi jika papa ingin berusaha untuk berubah dan jadi yang lebih baik, Nesya akan memberi papa kesempatan, dan papa ambil kesempatan itu. Semoga ke depannya akan seperti ini,” ujar Nesya yang tak kalah tulusnya.


Tuan WIlkinson memeluk Nesya dengan erat dan penuh kasih sayang. Akhirnya dia bisa memeluk Nesya seperti dia sering memeluk Lunetta. Dia berharap ini menjadi awal yang baik untuk keluarganya, dia ingin keluarganya kembali bersatu dan utuh.

__ADS_1


“Perlahan namun pasti, papa akan pastikan, kita menjadi keluarga yang utuh dan bahagia,” ujar tuan Wilkinson dengan hangat yang diangguki oleh Nesya


__ADS_2