Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 144


__ADS_3

Lira melihat Rania yang tampak sudah cukup pandai berenang, dia kagum dengan yang dilakukan oleh gadis kecil itu. Tidak banyak anak yang bisa berenang sehebat itu, kecuali dia memang dididik untuk ikut olimpiade, jadi akan dilatih dengan intens oleh ahlinya, apakah mungkin Rania juga digabungkan dalam klub olimpiade? Lira ingin mengetahui hal itu.


“Rania pintar berenang karena dia merasa dia cuma boleh dan bisa melakukan olahraga itu, dia tidak bisa melakukan olahraga lain, jadi dia minta ke kak Darrel buat mendaftarkan dia ke klub renang,” ujar Luna seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Lira. Mendengar itu muncul pertanyaan lain di benak Lira.


“Rania merasa dia cuma bisa renang? Maksudnya gimana? Kenapa dia berpikiran seperti itu?” tanya Lira yang penasaran. Luna mengangguk dan menjelaskan kondisi Rania dengan detail. Gadis kecil itu memiliki kelainan jantung yang membuatnya tidak bisa beraktivitas fisik terlalu berat, itu akan membuatnya pingsan karena kelelahan.


“Ah, begitu. Dia gadis kecil yang kuat berarti. Dia gak ngeluh dengan kondisinya dan milih buat melakukan apa yang bisa dia lakukan. Harusnya gue banyak belajar dari dia dong ya berarti,” ujar Lira yang ingin mencairkan suasana karena Luna tampak sedih melihat Rania yang harus mengalami hal itu di usia yang masih kecil.


“malah seharusnya dia gak lahir dulu. Dokter tidak menyarankan gue buat melahirkan ketiganya. Dokter minta gue buat merelakan satu buat menjaga yang dua. Dan Rania ini yang paling lemah, paling kecil di perut gue, dokter menyarankan buat merelakan Rania biar yang dua lainnya lebih sehat, tapi gue gak mau,” ujar Luna pelan.


“Gue egois, gue merasa semuanya anak gue dan gue gak bisa membunuh salah satunya. Gue memilih buat mempertahankan ketiganya. Dan gue berhasil, gue melahirkan ketiganya, dan suatu keajaiban Rania bisa sehat secara tampak mata, dan kesehatan mentalnya juga bagus, tapi ya itu, dia jadi harus menanggung beban punya kelainan jantung.”


“Lo ibu yang hebat Lun, kalau gue jadi lo, gue juga akan mempertahankan anak itu, apapun resikonya, dan yah, sekarang Rania tumbuh jadi anak yang cantik, pintar dan punya semangat hidup yang tinggi,” ujar Lira yang diangguki oleh Luna, namun entah kenapa Luna masih sedih, Lira bisa melihat wanita itu menyimpan sesuatu dalam hatinya.


“Gue cuma berharap dia bisa berumur panjang Ra, bener deh, gue cuma berharap hal itu. Kalau dikasih yang lain-lain lagi, gue malah lebih bersyukur, yang jelas gue cuma mau dia bahagia dan berumur panjang,” ujar Luna yang kembali membuat Lira terdiam. Dia bingung harus menimpali seperti apa.


“Dokter bilang itu sudah keajaiban dia bisa bertahan sampai usia ini. Dan dokter bilang, Rania akan mulai mengalami waktu sulit kalau dia sudah beranjak dewasa, karena dia gak bisa ikut olahraga yang aneh-aneh, dia harus disekolahkan di tempat khusus, atau ya homeschooling, itu juga kalau Rania bisa bertahan sampai dewasa.”


“Dokter awalnya memprediksi Rania akan bertahan hanya sampai dia berusia lima tahun. Dan Rania berhasil sampai saat ini, tapi kemudian dokter bilang, kalau Rania gak segera dapat donor jantung, dia gak akan bisa bertahan sampai umur 10. gue sama kak Darrel mati-matian nyari donor, tapi susah buat nyari yang cocok karena Rania masih muda, dan kondisinya beda, gue gak ngerti beda gimananya, yang jelas susah,” ujar Luna lagi.


“Lo harus percaya kalau Tuhan bakal tolong Rania. Tuhan udah bantu Rania bertahan sampai umur sekarang, dan Tuhan pasti bakal kasih jalan terbaik untuk hidup Rania, gue percaya dia akan bertahan untuk waktu yang lama, dia punya mimpi, dia punya semangat. Gak ada alasan dia untuk gak bertahan dalam waktu lama,” ujar Lira yang diangguki oleh Luna.


“Semoga semua yang lo bilang itu benar. Gue dan kak Darrel sudah berusaha semampu gue, semaksimal yang gue bisa, tapi kalau pun misalnya Rania gak bisa bertahan, dia capek untuk terus berjuang atau apapun itu, gue gak akan paksa dia. Dia udah cukup hebat untuk bertahan. Walau gue pasti hancur, ya gue harus ikhlas.”


“Gue gak kira lo juga mengalami hal yang gak enak ternyata Lun. Gue kira lo itu anak dengan sendok emas jadi gak akan mengalami susah sama sekali. Maaf ya sekali lagi gue udah kasar banget tadi,” ujar Lira yang kembali merasa tidak enak karena tadi dia sudah mencerca Luna dengan perkataan yang tidak enak. Luna sendiri menggelengkan kepalanya, dia tidak keberatan dengan semua yang Lira katakan.

__ADS_1


“Gak masalah Ra, emang salah keluarga gue juga lo dan Radith harus mengalami semua itu. Untuk masalah sendok emas, yah, seandainya semudah yang orang pikir, gue dengans enang hati sih Ra, hahaha, siapa yang gak mau kan hidup enak,” ujar Luna yang kembali diangguki oleh Lira, dia juga setuju untuk hal itu.


“Gue tuh selalu percaya Ra kalau setiap orang lahir ke dunia ini sudah punya nikmat dan juga ujiannya sendiri. Semua orang punya kesulitannya sendiri, dan gue gak bisa judgement orang-orang untuk gak begini begitu, atau harus melakukan ini itu, gue gak mau Ra. Karena gue gak tahu apa yang harus mereka alami untuk sampai ke posisi itu,” ujar Luna dengan santai.


“Gue gak nyangka loh, lo bisa juga berpikiran dewasa kayak gini, kaget aja gitu seorang Lunetta bisa berpikiran dewasa, hahaha, lo yang gue kenal gak kayak gini soalnya,” ujar Lira dengan tawa yang pecah. Luna juga tertawa mendengar pengakuan itu.


“Ya kan gue terakhir ketemu lo juga udah lama banget Ra, sekarang gue udah jadi Ibu anak 3, mau gak mau pikiran gue berubah, berkembang jadi lebih dewasa, kalau gak gitu kasihan dong anak-anak gue nanti jadinya, punya emak lemot, manja, waah, gak deh kasihan,” ujar Luna sambil tertawa.


“Keadaan yang membuat seseorang jadi dewasa, gue ngerti masalah itu Lun, maaf ya gue udah berpikir hal yang sangat buruk tentang lo dan keluarga lo juga. Seharusnya gue gak kayak gitu, gue harusnya bisa menahan semua omongan buruk itu ke lo, gue gak nyampe ke sana tadi,” ujar Lira lagi.


“Gue tahu lo udah menyimpan banyak kepahitan Ra, kalau gak dikeluarin, lo bisa meledak, lo malah bisa jadi membahayakan banyak orang kalau sampai bertindak gegabah. Gue gak mau begitu, jadi ya mending gue dengerin aja semua, toh nanti lo akan tahu sendiri kan bagaimana kenyataannya,” ujar Luna yang diangguki lagi oleh Lira.


“Gue kangen suami gue Lun. Gue gak tau dia pergi kemana dan sama siapa, gue khawatir dia gak ngabarin sama sekali. Biasanya dia minta A buat ngabarin Andre, terus nanti Andre yang ngabarin ke gue. Tapi sekarang gak ada kabar sama sekali, jadi ya gue khawatir banget, terus tadi gue kesentil, jadi deh kelepasan ngomong.”


“A? namanya cuma A gitu? Atau A itu Andre?” tanya Luna bingung. Jelas saja dia bingung, dia tidak mengerti sistem anak buah Radith, Lira saja harus dijelaskan berkali-kali dengan detail baru bisa mengerti kenapa Radith hanya menamai anak buahnya dengan huruf.


“Sebenarnya gue masih gak paham, tapi ya udah deh yah, intinya itu. Kalau gue dapat kabar apapun dari Radith atau tentang Radith, gue akan kabarin lo secepatnya. Lo jangan terlalu khawatir ya,” ujar Luna yang masih tidak membuat Lira lega. Apalagi dia tahu kondisi Radith yang mudah terkena serangan panik jika tidak meminum obatnya.


“Mamiiiii! Zia mau naik seluncuran yang tinggi!” Sean berteriak sambil berlari ke arah Lira. Lira dan Luna saling pandang dan langsung berdiri. Luna meminta salah seorang pengawalnya untuk tinggal dan menjaga tas mereka sementara dia dan Lira mencari keberadaan Zia dan pasti saat ini sedang bersama dengan Rania juga.


Lira ikut berlari mengikuti Sean yang tampak panik juga. Dia menunjuk seluncuran yang tinggi. Lira melotot melihat seluncuran itu. Bagaimana Zia memiliki keberanian sebesar itu menaiki seluncuran ini? Dia bahkan tidak berani karena banyaknya kabar seluncuran roboh saat dinaiki, dia tidak mau mengambil resiko mempertaruhkan hidupnya hanya untuk bersenang-senang.


“Zia dan kak Rania ada di sana Mi, mereka katanya mau naik berdua mi,” ujar Sean yang menarik tangan Lira. Membuat dua wanita dewasa itu mau tidak mau menaiki tangga perlahan untuk mencapai ke puncak. Apakah dua anak ini adalah refleksi dari ayah mereka masing-masing yang tidak bisa diam dan hidup dengan tenang?


Luna dan Lira bertukar pandangan mendengar Zia dan Rani yang protes kepada penjaga karena melarang mereka berdua untuk meluncur karena masih terlalu kecil. Untung saja penjaga itu tidak mengijinkan Zia dan Rania, mereka masih terlalu kecil, jadi nanti mereka meluncur terlalu kencang dan menabrak saat sampai di dasar, itu akan menjadi sangat berbahaya.

__ADS_1


“Mami, ada mami di sini, kalau naiknya bareng mami gak papa kan pak? Mami, ayo kita naik seluncuran Mi, kata bapak ini kami tidak boleh naik karena masih terlalu kecil,” adu Zia dengan wajah yang sebal, sementara penjaga itu tampak tertawa canggung dan mengangguk pada Lira, Lira membalas anggukan itu dengan sopan sebagai permintaan maaf juga karena anaknya menyusahkannya.


“Zia pengen banget naik ini? Zia gak takut kalau nanti jadi terbang?” tanya Lira yang sebenarnya ingin menakut-nakuti anak gadis itu itu. Namun Zia sama sekali tidak terpengaruh, dia tetap ingin naik dan meminta Lira untuk menemaninya. Akhirnya Lira yang terdesak menuruti permintaan Zia. Dia meminta Sean untuk menunggu sementara dia turun bersama Zia menaiki seluncuran itu.


“Bunda, Rania juga mau naik ini. Bunda mau kan menemani Rania untuk naik ini? Rania ingin sekali saja karena selama ini kan Rania cuma berenang di area olimpiade, Rania tidak pernah naik ini. Bunda, boleh kan Rania naik?” tanya Rania pada Luna yang membuat wanita itu menengok kembali ke bawah. Cukup tinggi, dia bahkan tidak memiliki keberanian untuk meluncur dari tempat setinggi ini.


“Rania tapi gak boleh takut loh ya, dan kalau nanti terjadi sesuatu, Rania langsung bilang ke Bunda ya, nanti kita langsung melakukan tindakan. Oke? Kita lihat dulu Zia dan tante Lira, kalau mereka berhasil dan Rania tidak takut, kita turun, ya?” tawar Luna yang tentu langsung diangguki oleh Rania sekaligus dipelototi oleh Lira karena dia menjadikan Lira kelinci percobaan.


Namun karena Zia sangat ingin, akhirnya Lira meluncur dengan alas sebuah ban berisi dua orang. Dia duduk di belakang sedangkan Zia ada di depan. Dia menjepit Zia dengan kakinya agar gadis kecil itu tidak jatuh ataupun terpental karena arus airnya cukup kuat. Selama meluncur, Lira berteriak kegirangan, begitu juga dengan Zia. Rupanya tidak seburuk yang Lira bayangkan.


Sesampainya di bawah, mereka tertawa bahagia dan juga melakukan tos karena mereka berhasil turun sampai ke dasar dengan keadaan selamat. Lira memberi isyarat pada Luna jika semua baik-baik saja jadi Luna bisa ikut turun dengan aman. Luna melihat tanda yang diberikan oleh Lira dan duduk di atas ban bersama dengan Rania. Dia selalu menganggap Rania lemah, jadi dia  tidak pernah melakukan hal seperti ini.


Luna langsung berteriak sesaat setelah meluncur. Dia melihat ke arah Rania yang tampak semangat dan bahagia bisa melakukan hal ini. Dia mungkin tidak menyangka hari seperti ini akhirnya datang ke dalam hidupnya. Jika ayahnya mengetahui hal ini, jelas saja dia akan melarang, belum dengan kedua kakaknya, tidak akan membiarkan dia menaiki benda seperti ini.


Setelah sampai bawah, Luna dan Lira tertawa karena tidak seburuk yang mereka bayangkan. Apalagi jika anak-anak menyukainya. Luna mulai melihat jika Rania tidak selemah yang dia pikirkan dan gadis itu berhak untuk diperlakukan sebagai gadis yang kuat. Luna akan menyampaikan hal ini pada suaminya.


“Ah, Sean. Gue lupa Sean masih di atas. Zia sama tante Luna dan kak Rania di sini dulu ya, Mami mau ke atas lagi buat jemput Sean. Jangan kemana-mana dan jangan menyusahkan tante. Oke?” pesan Lira yang langsung berlari kecil di dalam air agar anaknya tidak menunggu terlalu lama. Namun saat dia sudah sampai di pinggir kolam Ziza berteriak.


“MAMI, ITU SEAN! Sean sedang meluncur ke sini!” seru gadis kecil itu. Lira langsung menengok dan mendapati anaknya meluncur dengan seorang pria yang entah siapa. Lira masuk lagi ke dalam air menunggu anaknya sampai ke bawah.


“Sean? Kenapa gak tunggu mami?” tanya Lira sambil melihat pria muda yang ada di belakang Sean.


“Ah, maafkan saya. Anak ini tampak bingung dan seperti ingin turun, saat saya bertanya dia bilang maminya di bawah, jadi saya menawarkan untuk turun bersama dan dia mau.”


“Terima kasih banyak.  Sean, lain kali tunggu mami ya, Nak,” ujar Lira yang khawatir. Sean mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


“Wanita semuda anda, sudah punya anak? Dimana suami anda?” tanya Pria itu yang tentu langsung membuat Lira menengok.


Siapa pria aneh dan sok dekat dengannya ini?


__ADS_2