
Radith melihat undangan yang ada di hadapannya. Akhirnya apa yang dia takutkan benar- benar terjadi. Lelak iitu berbohong jika sudah melepaskan Luna sepenuhnya. Cinta yang dipupuk bertahun – tahun tk mungkin bisa hilang dalam waktu beberapa hari. namun jika tujuan awalnya hanya membuat Luna bahagia, dia hanya perlu merelakan Luna untuk bahagia.
"Lo harus pegang omongan Lo, Lo udah janji sama dia, Lo bakal bahagia. Oke, Lo bisa bahagia, Lo cakep, pasti Lo bisa punya cewek lain," ujar Radith pada dirinya sendiri di depan kaca. Radith langsusng mendapat ide dan mengirim pesan pada sekretarisnya. Meminta orang itu untuk datang, tentu saja sekretaris itu bingung, sejak Lira datang, hanya Lira yang boleh masuk ruangan Radith.
Wanita itu berjalan ke ruagan Radith dengan gugup, dan saat masuk, dia kaget melihat Radith yang duduk di sofa, bukan di kursi kebesarannya. Lelaki itu bahkan meminta sekretarisnya untuk duduk di sebelahnya di sofa. Meski ragu, orang itu tetap duduk di sebelah Radith dengan memberi jarak.
"Sudah berapa lama kau bekerja untukku?" tanya Radith yang selalu saja langsung pada intinya. Orang itu melongo dan tergagap karna pertanyaan itu. namun dia tetap menjawab pertanyaan Radith, membuat lelaki itu mengangguk paham dan melanjutkan pertanyaannya hingga membuat wanita itu merasa sedang di introgasi.
"Menurutmu, apa selama ini aku sudah memperlakukanmu dan semua karyawan dengan baik? Atau ada yang kurang?" tanya Radith yang membuat wanita itu menunduk. Dia mengira pertanyaan itu adalah pertanyaan jebakan, dia memikirkan jawaban yang tepat, namun dia teringat jika prinsip perusahaan ini adalah kejujuran, jadi dia langsung tahu apa yang harus dikatakan.
"Bapak sudah memperlakukan karyawan bapak dengan baik. Bapak juga sangat royal dan bahkan tak ragu memberi hadiah untuk kerja keras karyawan bapak. Namu menurut saya pribadi, hanya satu yang kurang pak," ujar wanita itu yang membuat Radith kehilangan senyum tipisnya. Dia merasa sudah sempurna, dia tak mau masih ada kata 'namun' untuk mendeskripsikan dirinya.
"Namun apa? Apakah semua hadiah yang aku berikan kurang untukmu? Aku akan memberikan rumah jika itu pantas untukmu," ujar Radith yang ijawab gelengan kepala oleh wanita itu, tentu saja Radith makin bingung dan makin tak mengerti apa yang kurang dari dirinya.
"Bapak kurang tersenyum. Semua kebaikan bapak sudah cukup, bahkan dengan gaji yang diberikan, kami merasa sudah lebih dari cukup. Hanya saja semua akan menjadi lengkap jika kami bisa melihat bapak tersenyum dan ramah kepada kami, bagaimanapun kami adalah mitra bapak. Tangan dan kaki bapak," ujar wanita itu yang membuat Radith merenungi hal itu.
"Apa aku harus terseyum seperti ini? Apa dengan tersenyum seperti ini aku akan membuat gadis yang kusukai juga menyukaiku?" tanya Radith yang tersenyum dengan sangat manis. Lelaki itu memandang dengan lekat ke arah sekretarisnya, membuat sekretaris itu makin salah tingkah dan sampai berkeringat. Namun sekretaris itu menganggukan kepalanya samar dan malu.
"Bagaimana denganmu? Menurutmu, apakah aku tampak tampan jika seperti ini?" tanya Radith yang memegang dagu sekretaris itu. sekretaris itu tak berkedip memandang Radith. Jantungnya makin berdebar, dia bingung harus menjawab apa. Tentu saja Radith makin tampan, hingga sseperti terhipnotis, wanita itu menganggukkan kepalanya, membuat Radith makin tersenyum.
"Bagus, kau boleh kembali ke ruanganmu sekarang," ujar Radith yang langsung mengubah kembali air mukanya. Dalam sekejap, Radith langsung mengubah wajahnya menjadi datar dan dingin. Lelaki itu bahkan berdiri dan langsung duduk di kursinya, meninggalkan sekretaris yang masih terpatung dan tak menyangka akan apa yang dilakukan Radith saat ini.
"Kamu tak mau pergi? Apa kamu pikir aku tipe bos yang suka menggoda sekretarisnya? Aku hanya meminta pendapatmu, aku tak tertarik menjalin hubungan dengan rekan kerjaku. Silakan kembali ke ruanganmu," ujar Radith yang membuat wanita itu tergagap dan akhirnya berdiri lalu pamit untuk keluar dari ruangan Radith. Lelaki itu menatap kaca yang ada di hadapannya dan kembali tersenyum.
__ADS_1
"Maaf pak, bukan seperti I tu bertanya pada seorang wanita, pada akhirnya pak Radith akan melukai wanita itu, membuat wanita itu malu dan bahkan tidak akan berani menghadapi pak Radith." Radith langsung menatap ke arah suara dan mendapati Lira yang menatap ke arahnya dengan ekspresi yang tak bisa dia baca.
"Aku hanya bertanya padanya. Saya tidak mengatakan saya suka padanya. Kenapa dia harus merasa seperti itu? apakah emua wanita seperti itu? kalian akan suka pada lelaki yang melakukan hal yang aku lakukan? Wah, hati kalian mudah goyah pasti," ujar Radith yang membuat Lira menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak semua, tapi bukankah melakukan kontak fisik juga tidak bisa menjadi hal yang benar? Saya bisa melihat semua karna di ruangan saya juga memiliki akses cctv ruangan ini, anda yang memasangnya. Tapi jika bapak tidak bisa bertanggung jawab atas apa yang dirasakan oleh orang lain, ada baiknya bapak jangan membuat orang lain merasakan hal itu."
"Jangan berputar – putar, kamu malah membuatku makin pusing. Bagaimana denganmu, apakah menurutmu aku tampan jika tersenyum? Apa kau akan suka paadaku jika aku tersenyum seperti ini?" tanya Radith yang dijawab gelengan kepala oleh Lira. Radith menjadi penasaran dan ingin mendengar pendapat Lira.
"Bagi saya, ada yang lebih penting dari sebuah senyuman, yaitu ketulusan. Jika bapak tulus melakukannya, orang akan merasa hangat dan nyaman. Bapak pun tak akan merasa berat untuk melakukannya. Tapi yang saya lihat, bapak hanya melakukannya untuk sesuatu, namun bapak tak mau melakukannya. Sampai kapanpun, bapak tidak akan bahagia jika seperti itu."
"Omong kosong. Saya sangat bahagia. Kamu tahu apa tentang kehidupan syaa? Apa kamu dukun yang bisa membaca apa yang saya rasakan? Kamu cepat keuar, saya tidak memanggilmu dan kamu sangat mengganggu di sini," ujar Radith yang membat Lira tersenyum tipis. Hal itu tentu membuat Radith makin merasa kesal dan tak nyaman.
"Lihat kan? Bapak marah, jika bapak bahagia, bapak tidak mungkin marah. Sekarang dia sudah bahagia pak, bapak harus lepaskan, namun bukan berarti bapak menjadi orang lain dan melampiaskan dengan cara seperti ini, ini tak akan membuat bapak puas dan bahagia," ujar Lira pelan dan halus, dia hanya ingin Radith kembali ke jalannya yang benar.
"Jangan mentang – mentang kamu pernah tinggal dengan dia, kamu bis amengatur saya untuk hal ini. saya yang tahu apa yang saya rasakan. Kamu tidak akan ingin saya mengulangi perintah saya." Lira menganggukkan kepalanya dengan sedih dan keluar dari ruangan itu. Lira menghela napasnya panjang, sepertinya tugasnya akan sulit.
Suatu sore di hari yang cerah, Lira sudah bersiap untuk menghadiri resepsi pernikahan Luna. Gadis itu ingin menghadiri pemberkatan pernikahan, namun Radith tiba -tiba saja memberinya tugas yang nyeleneh, seakan lelaki itu tak mengijinkan Lira datang ke acara itu. Lira berharap Radith tak mengacaukan yang sore ini.
Lira keluard ari apartemen dan menunggu raksi, namun sebuah mobil berhenti di hadapannya, membuat Lira menghela napasnya. Lelai itu memang tak akan membiarkannya hidup dengan tenang barang sehari. Lelaki itu seakan melampiaskan amarah dan rasa sedihnya dengan mengerjai Lira. Lira hendak menghindar, namun Radith malah mengklaksonnya berkali – kali, membuat banyak mata melihat ke arahnya.
"Lo udah gila ya? Mau Lo apa sih? Ini udah bukan jam kerja Gue, please, Gue mau datang ke nikahannya sahabat Gue, kalau Lo gak mau, Lo gak usah hambat Gue dong," ujar Lira yang tak bisa lagi menutupi rasa kesalnya. Radith menghela napasnya melihat Lira yang sangat galak.
"Gue gak mau hambat Lo, Gue mau ke sana bareng sama Lo. Ayo masuk ke mobil, acaranya keburu selesai," ujar Radith yang membuat Lira diam sesaat, namun akhirnya Lira masuk ke dalam mobil dan duduk tenang sementara Radith langsung melajukan mobilnya ke hotel tempat acara berlangsung.
__ADS_1
Mereka berjalan bersama dengan Radith di depan dan Lira di belakang. Tiba -tiba saja langkah Radith berhenti dan menatap ke arah luna yang tersenyum lebar pada setiap tamu yang datang. Ada Darrel yang di sampingnya juga sangat menawan. Entah mengapa hati kecilnya tak bisa menerima karna bukan dia yang ada di sana.
"Lo harus bisa ke sana. Lo harus bisa kasih selamat. Dengan begitu Lo bisa iklas dan lepasin dia sepenuhnya," ujar Lira yang membuat Radith memandangnya sayu, lelaki itu menganggukan kepalanya dan menghirup udara lamat – lamat, lalu melanjutkan langkahnya untuk menyalami pengantin yang berbahagia.
"Radith, Lo datang? Lo sama Lira ke sini? Kalian beneran pacaran?" baru saja Radith sampai ke atas dan berdiri di hadapan Darrel, Luna sudah tersenyum padanya dan menanyakaan hal itu. Entah mengapa Radith merasa gugup dan menggelengkan kepalanya dengan cepat, lelaki itu langsung memandang Lira dengan tatapan aneh.
"Gue ke sini sendiri. Dia aja yang ngikutin Gue, udah Gue usir juga gak mau. Ya kalik Gue pacaran sama asisten sendiri, gak berkelas banget Gue. Masih banyak cewek lain kalik Lun, Lo tahu Gue gak jelek," ujar Radith yang membuat Luna terdiam dan menatap ke arah Lira yang menatap Radith dengan mulut yang terbuka.
"Lo yang ajak Gue ke sini. Lo yang datang di depan rumah Gue dan ngomong mau bareng sama Gue. Kenapa Lo nyebelin banget kayak iblis gitu sih?" tanya Lira yang langsung turun dari sana, bahka tanpa menyalami Luna dan Darrel. Entah mengapa Lira merasa terluka karna Radith memandangnya sangat remeh seperti itu.
Radith berlari mnghampiri Lira, namun gadis itu selalu menepis tangan Radith, membuat lelaki itu tak sabar dan menarik tangan Lira cukup keras sampai gadis itu berhenti bergerak. Lira menatap ke arah Radith dengan air mata yang sudah siap untuk meluncur, Radith langsung menggelengkan kepalanya melihat kondisi Lira.
"Kenapa Lo harus ngomong kayak tadi? Sehina itu ya Gue di mata Lo? Lo bisa mainin Gue sampai kayak gini? Lo gak papa bilang Gue yang minta datang sama Lo walau itu bohong. Tapi bisa kan Lo gak usah pakai ngomogn soal berkelas? Gue manusia, Gue punya ahrga diri," ujar Lira yang tak bisa dijawab olh Radith.
"Gue Cuma gak mau Luna anggap Gue kalah dan ngelihat Gue dengan kasihan. Dia dapat Darrel, keluarga mereka sempurna, Gue Cuma gak mau terlihat menyedihkan di hadapan Dia. Gue minta maaf sama Lo," ujar Radith yang makin membuat Lira marah dan tak terima.
"Maksud Lo, Lo jadi kasihan kalau sama Gue? Lo siapa pantas claim Gue yang kayak gitu? Lo gak ada hak sedikitpun buat ngerendahin Gue kayak gitu. Harusnya Lo tahu kenapa Luna akhirnya gak sama Lo, Lo gak pernah gentle, Lo gak pernah mau ngerasa orang mandang Lo rendah. Padahal gak ada yang gitu, itu Cuma Lo dan semua pikiran Lo."
"Cukup."
"Lo harus berhenti sama semua pikiran itu, atau bukan hanya Luna, tapi semua orang bakal satu persatu pergi dari hidup Lo."
"GUE BILANG CUKUP!" Radith berteriak dan membuat banyak mata melihat ke arahnya. Lira menghela napasnya dan langsung pergi dari sana, Radith sendiri tak mengejar Lira dan memilih untuk berjalan ke arah lain. Dia akan hilang kendali jika gadis itu terus berbicara dan menekan dirinya. Lelaki itu masih belum menerima bahwa dirinya salah.
__ADS_1
"Mentang – mentang Lo udah gue percaya, Lo seenaknya bicara omong kosong di hadapan Gue. Lain kali, Gue bakal tegas ke Lo, awas aja."