Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 66


__ADS_3

Pagi harinya, Lira merasa seluruh badannya pegal, namun dia merasa dingin karna AC yang masih menyala. Lira menatap ke arah Radith yang juga masih tertidur. Mereka sama sama belum memakai busana sama sekali, Lira tersipu saat mengingat apa yang mereka selesaikan tadi malam. Malam yang sangat panjang karna Radith seolah menumpahkan semua yang sudah dia tabung selama bertahun tahun.


Radith merasakan pergerakan dari Lira dan membuka matanya. Dia melihat Lira yang juga masih menatapnya. Dengan cepat Radith menempelkan hidungnya ke hidung Lira sebagai ucapan selamat pagi. Lelaki itu juga mengecup pipi Lira singkat dan segera bangun dari tidurnya dengan setengah nyawa masih tertinggal entah dimana.


"Radith! Itu, astaga! Kamu mah," ujar Lira menutup matanya namun menunjuk ke badan Radith. Barulah lelaki itu sadar dia tidak memakai sehelai benangpun. Pantas saja rasanya dingin. Lelaki itu langsung pergi ke lemari dan memakai celana serta kaos tanpa memakai pakaian dalam lagi. Dia segera keluar dari kamar, membuat Lira bingung kenapa lelaki itu seperti terburu-buru.


Radith segera mengecek kamar sean untuk memastikan kondisi anak itu dalam keadaan baik dan utuh. Setelah melihat Sean yang masih tidur, dia ingin pergi ke dapur, namun dia ingat, ada satu anak lagi yang harus dia lihat. Lelaki itu langsung berjalan ke kamar lain dan membukanya, melihat Zia yang tidur telentang membuat Radith tersenyum.


Lelaki itu berjalan ke arah Zia dan hendak membenarkan selimut anak itu, namun karna celana Zia tersingkap, dia bisa melihat kaki bagian atas (paha) gadis kecil itu berwarna biru lebam. Radith langsung mengerutkan keningnya dan mengecek kaki satu lagi, namun tidak ada apapun di sana.


"Mungkin dia main terus kebentur sesuatu, astaga nak, hati hati ya kalau main, sampai luka gini, ntar kamu Papa bawa ke rumah sakit ya," ujar Radith pelan agar tidak membangunkan anak itu. Namun entah kenapa dia masih merasa janggal, dia tidak bisa langsung pergi dari sana dan memilih untuk melihat kondisi Zia. Dia membuka baju Zia sampai sebatas perut.


"Astaga, di sini juga ada. Masak dia kebentur terus terusan di tempat yang berbeda? Ini aneh banget," lirih Radith saat mendapati bekas biru yang hampir memudar di bagian perut gadis kecil itu. Radith menutup kembali baju yang Zia kenakan dan melihat ke arah lengannya, lelaki itu langsung melotot saat dia mengangkat baju itu sampai ke pundak, dia melihat bekas yang nyaris sama di sana.


"Oke, ini bukan di bentur, terus ini apa? Yang satu udah kayak lumayan lama, tapi yang dia masih baru nih, fresh kayak baru keluar dari pabrik. Astaga, siapa coba yang lakuin ini?" Tanya Radith pada dirinya sendiri. Lelaki itu ingin menyelidikinya dan segera keluar dari dalam kamar Zia.


Namun saat dia keluar, dia melihat Grace yang juga keluar dari kamarnya. Mereka tampak canggung untuk sesaat, apalagi karna Grace melihat Radith yang baru keluar dari kamar Zia. Wanita itu langsung menghampiri Radith, takut terjadi sesuatu dengan Zia, atau malah Radith mungkin saja melakukan sesuatu??


"Zia kenapa? Apa dia ada masalah?" Tanya Grace dengan khawatir. Radith menggelengkan kepalanya dan langsung menjelaskan jika dia terbiasa menengok bagaimana keadaan anaknya dan Zia adalah anaknya, jadi dia melakukan hal yang sama. Penjelasan itu cukup membuat Grace merasa lega dan mengangguk.


"Ah, kamu mau makan apa buat sarapan? Biar aku masakin, aku jago masak loh. Hitung hitung ucapan terima kasih karna udah dibelikan pembalut sama es krim semalem," ujar Grace dengan ramah. Radith menolak tawaran itu karna dia memang tidak biasa Makan berat di pagi hari, kecuali itu masakan Lira karna Lira akan marah jika dia tidak makan.


"Gak usah cuma mau bakar roti aja, udah sda alatnya juga. Makasih ya, eh tapi kalau mau masak juga gak papa, buat anak anak," ujar Rsdith yang diangguki oleh Grace. Sepertinya wanita itu cukup kecewa karna Radith menolaknya, namun dia mencoba untuk beradaptasi karna mungkin memang beginilah sikap Radith yang sebenarnya, dan tentu dia harus menerima dengan lapang dada.


"Eh, gue mau bikin coklat panas, Lo mau sekalian gak? Biar sekalian pas bikinnya," tawar Radith pada Grace yang sudah membuka kulkas untuk melihat isinya. Wanita itu berbalik dan mengangguk, tidak buruk menikmati coklat panas milik orang kaya kan? Selama ini dia tidak pernah merasakannya, jadi dia ingin juga bisa merasakan apa yang orang kaya makan atau minum.

__ADS_1


Radith dengan lihai mulai meracik coklat panas itu, dia membuat 3 gelas coklat panas, namun tak berhenti di situ, dia juga mengambil jahe dan mulai meracik minuman Jahe untuk Lira. Dia tahu Lira pasti kelelahan bermain dengannya tadi malam, dia jadi tidak tega dan berniat menebusnya dengan cara ini. Sementara itu Grace sibuk mulai memotong bahan yang akan dia masak.


"Eh ini udah jadi coklatnya. Lo minum aja, Gue balik ke kamar dulu, kasihan Lira di sana sendiri," ujar Radith tanpa dosa dan langsung pergi dari sana. Grace tersenyum getir menatap gelas yang ditinggalkan begitu saja oleh Radith, seperti dironya, ditinggalkan begitu saja. Grace mengambil cangkir itu dan tersenyum tipis lalu mencobanya, dan seketika senyum tipis itu berubay merekah karna rasanya sangat lezat.


"Wah, tuh anak bekas barista atau gimana ya? Gila sih ini enak banget coklatnya, kayaknya kalau buka kafe bakal laris," ujar Grace pada dirinya sendiri dan kembali meneguk coklat itu ke dalam mulutnya. Dia langsung melupakan apa yang Radith lakukan dan kembali fokus dengan masakannya, dia tidak akan membuat Radith atau paling tidak Sean menjadi kecewa.


Sementara itu Radith kembali ke kamarnya dengan susah payah karna membawa tiga gelas. Setelah berhasil membuka pintu dengan meletakkan gelas di atas lagi, Radith segera masuk ke kamarnya dan melihat Lira yang kesusahan berjalan menuju lemari dengan tubuh polos. Radith tersenyum hangat dan langsung meletakkan gelas itu di meja, lalu menggendong Lira yang masih polos itu ke arah Lemari dengan bridal style.


"Radith! Ya Tuhan kamu ngapain? Astaga Radith, turunin ih, malu tahu gak, astaga," ujar Lira yang membuat Radith tertawa, lelaki itu membuka lemari dengan kalinya dan meminta Lira untuk segera memilih bajunya jika tidak mau terlalu lama ada di gendongan Radith. Wanita itu menurut dan asal mencomot baju yang ada di lemarinya, barulah Radith mau menurunkannya.


"Kamu gak usah malu sama aku, kan aku udah lihat semua, sampai ke dalam dalamnya pula. Lagian cuma kita berdua aja kan di sini, aaah, wait, lupa nutup pintu," ujar Radith yang melihat ke arah pintu masih terbuka. Lelaki itu langsung berlari, dengan dipelototi oleh Lira kadna bagi Lira Radith sangat bodoh membiarkan pintu terbuka di saat dirinya dalam keadaan seperti itu.


"Aku bawa coklat panas buat kamu, kamu bituh yang manis manis biar tenaganya cepat pulih. Tapi sebelum coklatnya lebih baik minum jahe tuh, buat tenaga kamu bagus. Kurang sayang apa coba aku ke kamu sampai mau kayak gini? Kamu bersyukur dong ya udah disayang sama aku yang tampan rupawan ini?" Tanya Radith sambil menaikkan kedua alisnya bergantian.


"Ya ya ya, terserah lah, itu aku sakit banget tahu gak sampai jalan aja sakit. Aku gak bisa ngapa ngapain nih pasti. Kalau aku keluar kamar pasti Sean tanya kenapa, dan aku bakal pusing jawabnya," ujar Lira yang sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Melihat itu Radith kembali tertawa.


"Apa kamu mau aku panggilkan tukang pijat? Yang udah tua, buta dan perempuan tentunya. Aku gak mau istri aku dipegang sama sembarang orang," ujar Radith yang langsung membuat Lira memicingkan matanya. Bisa bisanya Radith masih memikirkan hal seperti itu di saat seperti ini, sungguh membuat Lida takut.


"Eh aku keluar dulu ya, Grace tadi bilang mau masak, kan gak lucu kalau Sean diracun sama dia, aku harus pastikan masakannya aman," ujar Radith yang membuat alis Lira berkerut, namun belum sempat dia bertanya, Radith sudah menghambur keluar kamar, meninggalkannya yang masih polos dengan baju hanya dia pegang tanpa dia pakai.


Lira segera memakai baju dan celana yang lengkap lalu keluar perlahan ke arah mereka karna dia takut apa yang Dikatakan Radith sungguh terjadi, dia bisa melindungi Sean jika dirinya ada di sana meaki dengan tubuh yang semua sakit, kekuatan ibu akan muncul tiba tiba di saat yang tidak kita duga.


"Kamu gak perlu masak sebanyak ini, Sean gak biasa makan banyak, kalau cuma buat Zia sama kamu, ini gak kebanyakan apa? Aku sama Lira juga biasanya sarapan cuma roti, apalagi Lira, paling ditambah sama buah," ujar Radith yang didengar oleh Lira. Wanita itu mengerutkan keningnya dan berpikir ada yang aneh dari Radith, lelaki itu terdengar akrab dengan Grace dan seharusnya tidak seperti itu.


"Kamu sejak kapan akrab sama dia? Kamu ada affair sama dia di belakang aku?!" Bentak Lira tiba tiba yang membuat Radith terkejut bahkan sampai menjatuhkan piring yang dia pegang. Lira menatao piring yang jatuh itu dengan kesal lalu mengambil gelas di dekatnya dan membantingnya juga.

__ADS_1


"Semalam aku kan pergi ke supermarket sama dia, terus ya kami ngobrol, eh ya enggak sih, gitu pokoknya. Kamu kenapa kayak gini deh? Aku gak ngapa ngapain sama dia, kamu gak usah mikir kemana mana," ujar Radith yang tak membuat Lira tenang. Wanita itu mengambil satu gelas lagi dan kembali membantingnya, membuat pecahan kaca ada di mana mana.


"Bohong! Kamu Bohong. Kamu kan udah pernah melakukan itu ke dia, sampai jalian punya anak sialan itu! Pasti kamu ada main di belakang aku lagi kan? Kamu bohong! Aku benci sama kamu!" Teriak Lira yang berjalan pincang ke kamarnya karna dia masih merasakan sakit. Radith ingin menyusul Lira, namun banyak pecahan beling di sana dan dia tidak memakai sandal saat ini, akan bahaya jika dia nekat mengejar Lira.


"Di.. dia kenapa?" Tanya Grace takut. Radith menghela napasnya dan ingat perkataan Hafiz. Ternyata seseram ini mood swing yang dialami Lira. Namun dia tidak bisa marah dan harus memakluminya, karna dia tahu Lira bertindak itu tanpa sadar yang penuh, dia hanya akan menyesalinya saat kondisi mentalnya sudah sedikit stabil.


"Sorry kamu harus lihat ini, dia punya bipolar, dan yah masih tahap obat sama terapi rutin aja. Tapi ya gitu, kambuhnya ngeri. Ya aku baru tahu sih sampai sengeri ini, tapi ya ah gitu deh, speechless. Sekaliab aku mau ingatkan, kalau dia melakukab sesuatu yang gak baik, tolong jangan terlalu di ingat ya, itu karna kondisi mentalnya masih belum stabil."


Grace terkejut dengan fakta itu, namun dia segera mengangguk dan tidak mau membahas lebih karna dia takut terlalu mencampuri urusan keluarga Radith, sedangkan dia hanya orang luar yang kebetulan punya anak dari Radith, dia hanya akan mengingat pesan Radith yang terakhir, tanpa mau mengingat yang pertama.


Radith mengambil telpon yang ada di dekat rak piring. Dia segera menelpon pengawalnya karna dia hanya hafal nomor pengawalnya. Dia meminta pengawal itu memanggil asisten rumah tangga untuk membersihkan segala bentuk pecahan barang yang ada di ruangan ini.


Setelah semua beres, Radith segera kembali ke kamar, ingin membujuk Lira, namun Lira tidak menjawab dan bahkan mengaktifkan sensor wajah sehingga dia tidak bisa masuk ke kamarnya sendiri. Radith akhirnya menyerah dan kembali ke dapur, paling tidak dia bisa memanggil Zia dan Sean untuk sarapan bersama. Biasanya dia dengan Lira dan Sean, namun sekarang rasanya berbeda.


Sean makan dengan lahap karna memang masakan yang enak, bahkan Sean memakan porsi yang lebih banyak dari biasanya, membuat Radith ikut takjub sekaligus penasaran apa yang membuat nasi goreng dan udang jumbo ini menjadi enak. Radith mengambil sedikit dan mencobanya, dan ternyata benar benar enak, jauh dari ekspetasinya.


Setelah selesai makan, Radith teringat dengan luka di tangan dan kaki Zia, namun dia tidak bisa kenuduh Grace, jadi lebih baik dia menanyakannya pada Grace baik baik dulu agar tidak ada kesalah pahaman. Dia sudah cukup lelah pagi ini, tidak mau menambah beban dengan membuat pertengkaran dengan Grace.


"Eh, Zia apa belakangan ini pernah jatuh atau kebentur sesuatu?' Tanya Radith santai seolah itu bukan pertanyaan yang berat. Grace langsung melongo lalu menggelengkan kepalanya dengan bingung lalu menatap ke arah Zia.


"Terjadi sesuatu sama Zia kah? Kenapa dia? Kenapa?" Tanya Grace yang langsung hendak menghampiri Zia, namun dilarang oleh Radith.


"Aku kan cuma nanya. Karna Sean itu sering kebentur gitu, apalagi kalau udah bawa Gadget, meleng terus. Makanya aku nanya Zia gitu juga atau enggak, kalau iya kan kita bisa periksakan, barang kali ada yang perlu diobati kan?"


"Aahh cuma tanya, ya udah di cek dulu aja, aku gak pernah iseng begitu sih, tapi ya siapa tahu memang Zia kebentur tapi aku gak tahu," ujar Lira yang diangguki oleh Radith.

__ADS_1


"Nanti aku bawa Zia ke dokter," ujar Radith singkat dan Final, tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun, termasuk Grace yang Ibu kandungnya.


__ADS_2