Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 132


__ADS_3

Hai,mohon Maaf setelah ini akan menjadi Kacau, silakan langsung melompat ke Chapter 136


Terima kasih banyakkk atas pengertiannya


--------------------------000000----------------------


"Baiklah, kalian harus mengawqsi orang itu dan jangan biarkan dia lolos, culik dia dan ambil ID cardnya, kalian lihat kan hanya ada 3 orang yang menjaganya, jika satu terpancing, hanya sisa dua, tembak saja kepalanya dan kalian akan berhasil membawa itu orang. Lakukan dengan cepat agar tidak ada yang curiga, karna jika dia terlambat datang, pasti akan menimbulkan kecurigaan," ujar Radith yang memberi intruksi pada A yang merupakan ketua tim.


"Ya, kami akan melakukannya sebaik mungkin, tapi apakah tuan harus ikut bersama kami? Saya rasa akan lebih aman jika tuan hanya tinggal di rumah dan membiarkan kami melakukannya? Nyawa tuan akan berada dalam bahaya jika mereka sampai bisa menangkap tuan," ujar A yang membuat Radith menggelengkan kepalanya. Dia merasa kali ini lebih bertanggung jawab dengan tim karna mereka harus melakukan baku tembak dengan orang orang itu.


"Aku hanya akan memberi intruksi dan mengamati, aku tidak akan terluka dan kau tahu itu dengan pasti, ah ya, aku harus mengabari Andre agar bisa mengelola perusahaanku dengan baik jika misal aku tidak bisa lagi melanjutkan ini semua, hah, Andre pasti akan sangat gembira jika tahu aku berpotensi mati," gurau Radith sambil mengambil ponselnya. Dia segera menghubungi Andre.


"Hai, gue lagi ada misi penting yang melibatkan banyak nyawa termasuk nyawa gue sendiri, kalau gue mati, gue mau lo yang kelola semua perusahaan gue dan semua asset itu gue titipkan ke lo, gue minta jaga Sean dan latih dia buat jadi pengusaha yang sukses, baru setelah itu gue bisa tenqng mewarisi perusahaan ke Sean, lo mau kan lakukan itu? Lo kan sahabat gue," ujar Radith dengan mata yang berkaca kaca. Andre mengangguk santai akan hal itu.


"Tenang aja, gue akan jagain Sean, Zia dan tentu saja Lira. Kalau lo mati, gue bisa milikin Lira dan menguasahi semua harta lo kan? Daripada gue cuma dititipin dan mengelola, mending gue jadikan atas nama gue lah, apalagi Lira jadi janda muda, beuhh, pasti bahagia banget dah gue kalau sama dia, yoi gak tuh? Jadi lo kalau mau mati gak papa," ujar Andre tanpa dosa, bahkan A sampai kaget dibuatnya.


"Brengsek lo, iya iya, gue gak akan mati, gue gak akan biarin Lo ngambil istri gue yang paling cantik itu. Oke? Dengar ya, gue gak akan biarin lo melakukan semua niat busuk itu, awas aja lo kalau sampai gue balik, lo bakal gue cincang kayak cacing," ujar Radith tidak jelas yang tentu dijawab Andre dengan mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti kenapa Radith membawa bawa cacing di sini.


"Ya udah lah, terserah lo aja, yang penting jaga diri, dan gue akan menahan semua. Tapi kalau lo positif mati, yah, apa boleh buat, kasihan kan Lira jadi janda muda, mending sama gue lah," ujar Andre dengan percaya diri. Lelaki itu membuat Radith sedikit senang dan bahkan tertawa, dia tidak menyangka Andre memiliki cara yang sangat unik untuk membuatnya semangat dalam menjalankan misi.


"Ya udah kalau gitu, gue pergi dulu ya, lo doain gue yang baik baik aja ya, gue gak mau bini gue jadi janda atau nikah sama orang kayak lo, oke? Gue pergi dulu," ujar Radith setelah berbasa basi sedikit dengan Andre. Dia kembali memasang wajah yang serius memandang setiap pengikutnya, dia merasakan beban yang luar biasa saat ini, karna dia tidak boleh dan tidak bisa gagal.


"Ayo kita ke sana dan basmi mereka semua," ujar Radith yang diangguki oleh Tim A. Ah, sekadar informasi, tubuh mereka sudah dilindungi oleh anti peluru, namun untuk kepala, mereka tidak bisa melakukannya, jadi mereka harus melindungi kepala apqpun yang terjadi, jika kepala mereka terkena, mereka tamat seketika.


"Semoga saja dugaanku tepat, setelah mengikuti mereka, aku jadi tahu tujuan tujuan mereka. Untung saja mereka memakai topeng, jadi kita bisa membunuh mereka tanpa ada yang curiga. Kalian bersiap, jika mereka sungguh melewqti jalur ini, kitabm harus bertindak cepat, karna bisa saja mereka memanggil bantuan dan kita kalah jumlah," ujar Radith dengan serius. Mereka mengangguk dan segera menempati posisi masing masing. Radith cukup tegang saat ini, namun dia berusaha biasa saja, agar semua berjalan lancar dan dia tidak mendapat serangan panik.


Setelah mengintai cukup lama, seperti dugaan, sebuah mobil datang ke area mereka, dan di sana Radith langsung menaikkan ranjau yang terpasang di sana, membuat ban mobil itu kempes seketika. Setelah kempes, Radith segera meminta pengawalnya untuk menembak kaca mobil itu dengan cepat, untung saja mereka membawa pistol yang tanpa suara, jadi mereka bisa menembak tanpa membuat orang yang jauh di sana jadi curiga atau mendengar. Setelah menembak. 3 orang pengawal langsung keluar dari sana.


"Bodoh," desis Radith pelan dan seketika itu juga, mereka semua tergelepar tidak bernyawa karna anak buah Radith menembak persis di kepala mereka. Anak buah Radith melemparkan bom yang berisi obat tidur ke dalam kaca mobil yang sudah pecah itu. Mereka sengaja melakukannya agar orang yang masih di dalam mobil segera pingsan, karna mereka tak bisa mendekat, mereka takut orang itu mempunyai senjata tidak terduga dan malah membunuh mereka.


Setelah beberapa saat, Radith dan A keluar dari persemhunyian. Mereka mendapati orang itu sudah pingsan. Dengan cepat A menembak kepalanya agar memastikan orang itu mati. Mereka segera melucuti pakaian orang orang itu dan memakainya untuk menyamar. Radith menjadi pengawal sementara A menjadi bosnya di sini karna A jauh lebih meyakinkan dan berpengalaman untuk hal semacam ini.

__ADS_1


"Kalian cari tahu identitasnya, dan kubur mereka dengan layak. Berikan santunan pada keluarganya jika memang keluarga mereka masih ada. Namun pastikan identitas kalian tidak terbongkar sama sekali, saya akan mengamuk jika identitas kalian terbongkar," ujar Radith pada pengawal yang kelasnya lebih rendah dibanding 10 pengawal intinya (yang saat ini masih 9 orang, karna Radith belum mencari pengganti A)


"Baik tuan, kami akan lakukan sesuai dengan perintah tuan," ujar salah seorang dari mereka dan 6 orang di antara mereka langsung membawa mayat mayat itu ke tempat lain, agar tidak menimbulkan kecurigaan. Radith mengamati sekitar, lalu memakai ID card pengawal dan juga topeng seperti yang dilakukan orang orang itu. Radith memandang A yang tampak gagah dan tampan dengan topengnya.


"Bagus, setelah ini kita pergi ke dalam sana dan pastikan kita mendapatkan informasi yang lengkap, kita harus segera tahu dimana Roy," ujar Radith yang diangguki oleh A.


"Keluarkan mobil," perintah Radith pada jam di tangannya. Tak butuh waktu lama, mobil yang sama persis dengan mobil yang ditumpangi orang orang itu sampai di hadapannya. Dia langsung masuk ke dalam mobil itu dan segera pergi dari sana, tentu setelah menyingkirkan ranjau yang dia buat.


"Bereskan TKP, aku tidak ingin ada satu barang bukti pun yng tertinggal. Termasuk pecahan kaca, atau bahkan hanya tetesan darah, aku mau kalian membersihkan semua. Apa kalian mengerti?" Tanya Radith pada jam tangannya lagi. Setelah memastikan mereka mengerti, Radith mematikan panggilan dan jamnya, lalu tak lupa meninggalkan jam itu di dalam mobil agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Siap A?" Tanya Radith pada A.


"Ya tuan, berhasil, atau mati sekalian," ujar A pelan yang diangguki oleh Radith. Mereka menghela napas beberapa kali agar tidak gemetar, lalu segera keluar dari dalam mpbil agar tidak menimbulkan kecurigaan.


**********


"Gini, kalau lo mau makan enak, di sini nih, ini enak banget dan murah. Ya warung biasa sih, tapi enak banget, kalau lo mau, gue bawa lo ke sana."


"Ya gak papa dong, apa juga yang gak buat lo, lo mau minta pergi ke Singapura sekarang juga nih buat makan siang, pasti gue kasih dah."


"Kalian brisik banget sih, kalau mu pacaran di luar aja sana loh, gue tuh lagi sakit, jangan berisik," ujar Rashi yang tak tahan karna sedari tadi Alena dan Ravi terus mengobrol seolah kamar ini hanya milik mereka berdua, padahal ada Rashi yang kesakitan di sini, namun mereka tak peduli.


Ah, mereka ada di sini untuk bergantian menjaga Rashi, karna Luna dan Rania harus pulang ke rumah dan mandi serta istirahat sebentar. Memang Darrel meminta mereka yang bergantian di dalam, karna dia tak mau Rashi kesepian jika dijaga oleh pengawal di dalam, meski di depan sudah banyak pengawal juga sih untuk memastikan keamanannya.


Namun berbeda dengan Ravi dan Alena, mereka malah sibuk berdua dengan niat memberi Rashi udara dan celah untuk beristirahat, namun rupanya lelaki itu malah terganggu karna mereka tidak mengajak Rashi mengobrol, padahal biasanya lelaki itu memang tak begitu suka mengobrol.


"Lagian lo kok masih di sini sih Vi? Lo gak sekolah apa?" Tanya Rashi dengan kesal. Dia ingin mengusir Ravi dari sini, karna Alena tidak akan berisik jika tak ada Ravi di sini dan Alena memang masih mendapatkan stock libur setelah olimpiade, jadi gadis itu sah sah saja berada di tempat ini.


"Lah? STM gue bos. Sekolah Tinggal Masuk. Ya udah, gue masuk doang juga udah dapat nilai. Lagian lo kenapa sih peduli banget sama sekolah gue? Gue aja gak peduli kok," ujar Ravi yang membuat Alena menaikkan alisnya, namun Ravi memberi isyarat bagi Alena untuk diam, agar Rashi merespon apa yang dia katakan.


"Ya tetap aja lo harus masuk, sana pergi, gue bilang ke Papa sama Mama nih kalau lo bolos. Nyebelin banget, sana sih pergi jauh jauh dari sini," ujar Rashi yang tak digrubris oleh Ravi, dia tetap duduk di posisinya dan memainkan ponselnya, membuat Rashi menegurnyw sekali lagi dan membuatnya menengok ke arah Rashi.

__ADS_1


"Gak mau, gue gak mau pergi ke sekolah. Mau apa lo? Ngadu sama mama? Ya udah sono ngadu," tantang Ravi yang membuat Rashi semakin kesal. Tak lama berselang, Luna rupanya sudah datang lagi dan masuk ke ruangan itu, membuat Rashi merasa berada di atas angin untuk saat ini.


"Mama, tuh Ravi tadi bilang gak mau sekolah. Rashi udah paksa buat dia berangkat, tapi dia tetap gak mau dan ngebantah. Katanya sekolahnya cuma tinggal berangkat aja. Terus dia gak takut waktu Rashi mau ngadu ke mama."


Luna mendengar hal itu dengan seksama dan menatap ke arah Ravi, namun anak itu tak tampak takut sama sekali, apalagi setelah mendapati ekspresi bingung Luna, jelas mamanya tak marah dengan apa yang dia lakukan dan mamanya memang tak perlu untuk melakukan itu.


"Nak, kamu masih agak mimpi? Atau kamu merasa pusing atau gimana? Udah, biarin aja Ravi di sini, dia ke sekolah juga percuma, mending dia di sini," ujar Luna yang malah ada di pihak Ravi, membuat Rashi menjadi tercengang, biasanya Luna tidak menyukai anak anaknya melakukan hal yang menyimpang seperti ini.


"Mama kok gitu? Kalau nanti Ravi kebiasaan gimana? Kalau nanti Papa tahu dan marah ke Ravi? Kalau papa sih gak mungkin deh marah ke mama, tapi nanti pasti marah ke Ravi," ujar anak itu yang membuat Lira menggelengkan kepalanya. Hal itu tentu membuat Rashi menjadi semakin bingung.


"Papa kamu juga pasti setuju sama mami, udah biarin aja Ravi di sini temenin kamu, daripada di sekolah gak ngapa ngapain juga," ujar Luna yang tentu membuat Rashi tak terima. Dia tidak mau Ravi hanya beralasan untuk menemaninya, padahal niatnya untuk menjadi dekat dengan Alena yang memang ada di sini untuk membantu Luna dalam menjaga Rashi.


"Kok gitu sih Ma? Kalau gitu mulai besok pas udah sembuh, Rashi mau seenaknya aja deh buat ke sekolah, terserah lah Rashi mau masuk kapan juga, gak akan dimarahin sama mama dan papa juga. Kalau kalian marah kan berarti gak adil juga," ujar Rashi yang membuat Luna terkekeh, sepertinya anak lelakinya sungguh tidak tahu kenapa Luna membiarkan Ravi untuk di sini hari ini.


"Shi, ini hari minggu. Ngapain juga Ravi ke sekolah? Di sana dia gak bakal ngapa ngapain, gak ketemu siapa siapa, ya jadi daripada dia nganggur di rumah, mending kan dia di sini temenin kamu, gimana sih kamu?" Tanya Luna yang membuat Rashi terdiam, dia sungguh malu karna sudah ngotot, ternyata hanya kesalahannya sendiri.


"Ya udah, kalau lo mau gue pergi, gue pergi deh gak papa. Udah ada Mama juga di sini. Len, ayo pergi aja sekarang," ajak Ravi yang membuat Rashi menengok tajam dan cepat, dia melihat wajah Ravi tampak senang mengajak Alena untuk pergi dari sana.


"Mama mau titip apa? Alena sama Ravi mau makan di warteg yang enak menurut Ravi, jadi kalau mama mau, kan bisa Ravi belikan juga," tawar Ravi yang ditolak oleh Luna karna dia sedang tidak lapar dan tadi sebelum kemari, dia sudah memakan saparan yang dibuatkan oleh koki pribadi mereka.


"Kalian pergi berdua? Atau pakai sopir?" Tanya Rashi yang membuat Ravi mengeluarkan kunci dalam sakunya, ternyata lelaki itu mengeluarkan kunci motor dan menunjukkannya pada Rashi, membuat lelaki itu kembali berdecak tak puas melihat hal itu. Rasanya sangat menyebalkan melihat Ravi bertindak seenaknya.


"Siang panas, lo pakai mobil aja disupirin. Alena mana mau diajak panas panasan begitu? Yang ada kulit berskincare itu langsung rusak terkena sinar matahari dan debu," cibir Rashi seolah dia tahu jika Alena tak akan menyukai ide itu, padahal Alena yang sudah bilang pada Ravi jika itu tak apa.


"Gak paap lah naik motor, udah cepat, gak macet, gak lama, lebih dekat, lebih ah, banyak lebihnya pokoknya," ujar Alena sambil terkekeh dan langsung keluar dari kamar inap Darrel.


Namun sebelum masuk ke dalam lift, Ravi melihat dokter yang biasanya memeriksa keluar dari lift lain dan berjalan ke kamar inap Rashi, membuat Ravi membatalkan niatnya pergi dan menunggu dulu hasil pemeriksaan dari dokter itu.


Selayaknya hubungan kembar, Rashi dan Ravi memang sering bertengkar, namun mereka sama sama peduli dan tidak mau yang lain terluka. Termasuk Ravi, dia ingin memastikan saudaranya baik baik saja meski lelaki itu sudah mengusirnya tadi.


"Saya menemukan ada benjolan di bagian kepala belakang. Setelah memeriksa hasilnya, rupanya itu sebuah tumor, yang membuat Rashi menjadi sakit kepala bukan hanya karna stres tapi jugs karna tumor ini. Kalau Keluarga berkenan, secepatnya harus diambil tindakan operasi karna meski tak ganas, tumor ini bisa membuat Rashi sangat tersiksa dan bahkan tumor ini juga bisa menyebar ke area lain.

__ADS_1


__ADS_2