Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 156


__ADS_3

Radith turun dari pesawat dan segera masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh anak buahnya, dia tidak sabar menemui anak dan istrinya yang sudah sangat dia rindukan. Dia harus segera menjelaskannya pada Lira dan meminta maaf karena dia harus pergi ke luar negeri tanpa memberi tahu apapun atau meminta izin pada Lira, dia berharap istrinya akan mengerti hal itu.


Sesampainya di rumah, dia mencium aroma yang sangat enak dari dapur, dia langsung melepas sepatunya dan meletakkan tas yang dia bawa, dia berjalan mengendap ke arah dapur dan mendapati istrinya sedang memasak, dia sangat merindukan istrinya, dia langsung memeluk Lira dari belakang, membuat wanita itu terkejut dan melempar spatula yang dia pegang sehingga minyak muncrat mengenai tangannya, dia kesakitan memegangi tangannya.


“Astaga sayang! Maaf aku gak tahu, maaf, astaga aku ambil kompres,” ujar Radith panik yang langsung pergi ke arah kulkas. Lira menahan tangan Radith dan tertawa, dia pergi ke arah Wastafel dan membasuh tangannya sebentar, dia melihat jika cipratan minyak itu memang tidak begitu melukainya, jadi dia sudah biasa saja, dia menatap Radith yang masih mematung.


“Sungguh, ini adalah ucapan selamat datang yang sangat baik. Terima kasih loh tuan muda Radithya David Putra Galeno, aku sangat menghargainya, hahaha,” ujar Lira yang mendekat ke arah Radith dan memeluknya. Radith menyambut pelukan itu dan menumpahkan semua rasa rindunya terhadap istri yang sangat dia cintai itu. Lira melepaskan pelukan mereka dengan agak paksa, membuat Radith melihatnya dengan bingung.


“Mandi dulu, jangan sampai kamu baru pulang udah bikin aku luka, bikin aku pingsan pula sama bau tubuh kamu yang asam itu. Gih sana mandi, habis itu makan, sebentar lagi siap makanannya,” ujar Lira yang tentu saja disambut wajah masam dari Radith. Pria itu kecewa karena Lira langsung menyuruhnya mandi, padahal dia masih ingin bermanjaan dengan istrinya.


“Iya, kangen kangenannya nanti lagi, mandi dulu, kamu itu dari luar, bawa virus bawa kotoran, gak baik. Sana mandi dulu, kita makan siang bareng ya, gih sana mandi,” ujar Lira yang sangat lembut, membuat Radith luluh dan akhirnya mengangguk. Lelaki itu menuruti apa yang Lira minta dan segera pergi untuk mandi, dia juga merasa sangat gerah karena tadi dia tidak mandi dan langsung terbang ke pulau Dewata ini.


Radith mandi dengan cepat namun bersih. Lelaki itu segera keluar dari kamar mandi dan membantu Lira menyiapkan meja makan. Lelaki itu tidak berhenti tersenyum melihat istrinya setelah sekian lama. Namun karena rasa lapar mengganggu perutnya, dia memilih untuk makan terlebih dahulu, apalagi sebentar lagi sudah waktunya mereka menjemput anak-anak, Radith ingin ikut menjemput mereka sebagai kejutan.


“Kenapa kamu senang sekali? Semua berjalan lancar? Apa habis ini kamu mendapat misi yang mudah setelah semua berjalan berat?” tanya Lira yang membuat Radith sedikit sedih, dia memang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, wajar saja Lira sampai bertanya dan merasakan hal itu, yang Lira tahu, dia hanya pulang ke rumah untuk bersinggah dan akan pergi lagi setelah itu, dia merasa bersalah untuk keluarganya.


“Aku udah nyelesaiin misi terakhir aku dari tuan Wilkinson dan sekarang aku udah gak terikat sama mereka. Setelah ini aku bebas melakukan apa yang ingin aku lakukan, mereka gak bisa nyuruh-nyuruh aku lagi, apalagi nyuruh aku buat ninggalin kalian, keluargaku. Maaf karena aku butuh waktu yang sangat lama, tapi aku udah janji sama kamu kan? Aku pasti balik,” ujar Radith dengan lembut.


Mata Lira tampak berkaca-kaca, dia langsung menunduk karena tidak mau Radith melihatnya menangis. Namun lelaki itu tentu saja langsung sadar dan menghampiri Lira. Dia memeluk istrinya dengan hangat, mengecup kening dan puncak kepala wanita itu, lalu mendekapnya agar dia bisa mencurahkan semua isi hati dan pikirannya dalam tangisnya. Radith memberinya waktu untuk itu semua.


“Maaf, maaf karena aku udah ninggalin kamu, bikin kamu sedih, khawatir, dan bahkan kamu gak tahu aku dimana. Aku juga gak bisa ngabarin kamu karena semua terjadi di luar kendali. Kalau aku ngabarin kamu kondisi aku, atau dimana aku, aku takut mereka malah melakukan sesuatu ke kamu biar kamu bisa ngadu dan akhirnya kamu malah yang menderita, aku gak mau Ra, jadi maafin aku ya?”

__ADS_1


“Aku seneng kamu selamat, itu udah lebih dari cukup buat aku, Dith. Aku tahu kamu gak bisa kasih kabar ke aku  pasti ada alasannya, aku setiap hari berdoa semoga kamu selamat, dan Tuhan mengabulkan doa aku, kamu pulang dalam keadaan selamat dan utuh, aku makasih banget sama Tuhan, aku juga makasih ke kamu karena kamu sudah pulang, dalam keadaan selamat Dith,” lirih Lira sambil masih menangis.


“Aku gak bisa janji, tapi aku harap, aku gak terlibat lagi dalam semua masalah itu, aku ingin keluarga kita bisa hidup normal dan bahagia, merawat baby El, mengurus rumah, mendidik anak-anak, sampai nanti mereka dewasa dan kita udah tua, melihat mereka sukses, aku mau keluarga kita berjalan seperti itu, Ra. Aku sayang sama kamu,” ujar Radith yang tak tahan ingin menangis juga.


Lira melihat ke arah jam dinding. Sudah waktunya mereka menjemput anak-anak, Lira langsung mengajak Radith untuk menjemput Sean dan Zia. Mereka pasti terkejut dan senang karena Radith sudah pulang. Radith berencana untuk langsung mengajak mereka keluar, jadi dia membawakan baju ganti untuk anak-anaknya. Tak lupa menyiapkan Baby El untuk bisa pergi bersama.


“Emang kita mau kemana? Kamu gak capek baru saja pulang udah mau pergi lagi sama anak-anak?” tanya Lira khawatir. Radith menggelengkan kepalanya, bagaimana dia bisa lelah setelah sekian lama, akhirnya dia bisa bertemu dengan anak anaknya. Dia ingin memanjakan mereka dan mengajak mereka berjalan-jalan untuk menebus waktu yang selama ini dia buang tanpa melihat dan bertemu dengan anaknya.


“Aku mau ajak mereka ke mall, mereka bisa main, belanja, atau mau nonton film pisang kuning yang lagi viral itu. Aku pengen mereka bisa maafin aku yang gak pernah ada waktu buat mereka, aku rasa ini salah satu cara buat nebus dia. Aku minta kamu gak larang mereka buat ambil apapun yang mereka mau loh ya, karena kali ini aku mau nurutin semua maunya mereka,” ujar Radith menyengir.


“Yah, setelah itu mereka akan berharap kamu bakal pergi terus, karena kalau kamu pergi lama dan pulang, mereka bisa beli apapun yang mereka mau. Cara yang sangat bagus dan tepat,” ujar Lira meledek sambil mendorong troli baby El yang masih tertidur. Dia menyetel kursi bayi dalam mobil agar baby El bisa duduk dengan aman dan nyaman, lalu setelah dirasa pas, dia duduk di kursi penumpang dan Radith di kursi kemudi.


“Aku mau bantah kamu yang tadi. Anak anak gak mungkin lah minta aku buat pergi lagi biar dibelikan mainan, mereka malah bakal seneng karna aku kan jadi ayah yang baik buat mereka, kenapa mereka malah mau menyingkirkan aku dan minta aku kerja? Gak akan kayak gitu ih, kamu jangan bikin aku jadi ragu dong,” keluh Radith dengan sedih, yah, lelaki itu merajuk, hal yang biasa dia lakukan di depan Lira.


“Iya, kamu ayah yang baik dan anak anak akan sayang sekali sama kamu. Mereka bakal bangga punya kamu dan gak akan minta kamu buat pergi lagi karena kamu berharga buat mereka. Sekarang mending kamu buruan nyetir, keburu mereka sudah pulang dan malah jadi nungguin,” ujar Lira yang diangguki oleh Radith, lelaki itu senang mendapat kecupan cinta dari istrinya.


Radith melajukan mobilnya menuju sekolah Sean. Untungnya dia masih ingat jalan menuju sekolah itu. Mereka menunggu di depan gerbang, Radith melihat ada penjual telur gulung, tanpa bertanya pada Lira, dia segera turun dan membeli dua bungkus telur gulung masing-masing seharga lima ribu hanya untuk mengobati rasa rindunya terhadap micin yang tidak bisa dia rasakan selagi ada di luar negeri.


“Kamu tuh kalah sama Sean, Sean aja gak pernah makan makanan gak sehat begitu kok, buran dihabisin biar Sean gak lihat kamu makan itu, nanti kalau dia minta gak akan aku kasih,” ujar Lira dengan galak namun hanya dibuat-buat. Radith tertawa karena Lira tidak tahu, Sean sudah pernah dia racuni dengan nikmatnya micin yang digunakan untuk bumbu telur gulung ini.


“Iya, aku habisin semua. Nih kamu juga makan, kalau kamu gak makan nanti Sean yang makan loh. Kamu udah lama juga kan gak jajan begitu?” tanya Radith yang membuat Lira tertawa, namun dia tetap menerima telur gulung itu dan mengambil satu untuk memakannya. Lira menatap ke arah Radith, badannya dia miringkan seolah dia ingin berbicara dengan jarak dekat pada lelaki itu.

__ADS_1


“Kamu dah gak pergi pergi lagi kan Yang? Kalau memang kamu gak pergi lagi, kita kapan kapan main yuk, kita berdua aja, gak usah ajak anak anak, main buat nyobain jajanan begini, atau paling gak ke pasar malam gitu, mau kan? Udah lama banget gak main atau merasakan jadi bujang lagi nih, ya?” bujuk Lira yang membuat Radith berpikir, dia tidak merasa itu hal yang buruk dan tentu saja mereka harus mencobanya.


“Oke, besok sabtu aja, biar agak luang dan banyak jajanan. Nanti anak anak sama nany mereka aja, kitanya pergi main. Biar sama kayak jaman jaman kamu masih jadi sekretaris aku, kan kamu bahagia banget tuh kan,” ujar Radith yang tentu dijawab Lira dengan tatapan bingung. Mereka tidak pernah ada moment romantis, yah, seingatnya begitu. Mereka tidak pernah melakukan hal yang romantis.


“emang selain kamu perintah aku buat lakukan apapun, kamu minta aku buat jadi pengawal Lunetta, emang kita pernah melakukan hal yang romantis? Apa aku yang lupa? Kayaknya gak pernah deh, atau kamu merasa bahagia ya lihat aku begitu?” tanya Lira sambil menatap Radith dengan mata yang menyipit, seperti sedang menyelidiki lelaki itu.  Radith tiba tiba saja berubah sedih.


“Iya juga ya, aku gak pernah kasih kamu rasa bahagia, kayaknya kamu emang bakal hidup lebih bahagia kalau gak ketemu aku ya, Ra. Maaf ya aku udah hancurin hidup kamu. Harusnya kamu gak ketemu sama aku, maaf ya aku udah kasih banyak penderitaan buat kamu dan bahkan sampai sekarang aku gak bisa nebusnya,” lirih Radith dengan rasa bersalah yang luar biasa.


“Iya, aku gak bisa bohong dan emang gak boleh bohong. Kamu memang kasih penderitaan yang luar biasa Dith, sakit banget rasanya, bener bener sakit. Tapi aku masih berharap kamu bisa tebus semua itu setelah ini. Kamu bisa kasih aku, Sean, Zia, Nathan kebahagiaan. Kamu punya alasan buat meninggalkan kami, tapi sekarang kamu di sini, waktunya kamu tebus semua.”


“Aku gak menyesal, kalau aku dikasih kesempatan buat mundur ke masa lalu , aku tetap akan melakukan hal yang sama, aku tetap bakal sama kamu dan aku tetap bakal mengurus anak anak kita. Kamu kasih banyak luka, dulu. Tapi sekarang, kamu rumah, mau aku sedih, bahagia, terluka, sampai aku jungkir balik salto, aku tetap akan sama kamu Dith.” ujar Lira dengan senyum yang tulus.


“Lagian, kalau gak kerja di tempat kamu, aku gak bisa bayar ujian sekolah adik aku, aku harus kerja keras buat dapat uang. Kalau ketemu kan semua jadi enak, adik aku bisa kuliah, punya rumah sendiri, aku juga tinggal di rumah ongkang ongkang kaki, udah bisa hidup enak. Kapan lagi kan bisa gitu? Ya gak?” celetuk Lira agar suasananya tidak kaku. Benar saja, Radith tertawa keras mendengarnya.


“Kamu benar. Kamu harus ambil manfaat dari aku, ya kalik kan cuma sedih sedihnya aja. Aku malah senang dan bersyukur kamu bisa manfaatin aku, yah, paling gak aku jadi bermanfaat. Hahaha, astaga, aku gak nyangka jawaban itu keluar dari mulut kamu, benar benar gak nyangka, sekarang aku tahu, kenapa aku cinta banget sama kamu,” ujar Radith yang masih tertawa.


“Aku harap setelah ini kita cuma bisa ketawa, penuh dengan rasa bahagia. Aku gak bisa janji, tapi aku akan berusaha Ra, maaf kalau aku belum jadi suami yang terbaik, belum jadi ayah yang terbaik buat anak-anak kita. Tapi karena urusan aku sama dunia gelap itu dah selesai, aku harap ke depannya sisa bahagianya aja ya sayang,” ujar Radith sambil mengecup kening Lira setelah itu. Lira mengerutkan keningnya lagi.


“BAU AMIS TELUR RADITH!!!!!! ah kamu mah, ini baunya nyengat banget,” keluh Lira sambil membersihkan dahinya yang berminyak dengan tisu. Radith tertawa lagi setelah mendengar keluhan itu. Lira tetaplah Lira, dia tidak segan merusak moment romantis mereka jika dia merasa tidak nyaman, namun itulah yang membuat Radith jatuh cinta padanya.


Tak lama berselang, Sean tampak keluar dari gerbang sekolahnya. Dia melihat mobil Radith yang terparkir di parkiran. Dia segera berlari kecil ke arah Radith, sementara Radith dan Lira sibuk menyembunyikan telur gulung yang belum habis mereka makan.

__ADS_1


“Hahahha, kita malah kayak anak anak yang takut kena gap sama emaknya, astaga lucu banget,” ujar Radith yang sudah menyembunyikan telur gulung dalam dashboard dan menyemprot mobilnya agar wangi dan bau minyak telur gulung bisa tertutupi.


Keluarga sederhana seperti inilah yang Radith idamkan sejak lama.


__ADS_2