
Hai,mohon Maaf setelah ini akan menjadi Kacau, silakan langsung melompat ke Chapter 136
Terima kasih banyakkk atas pengertiannya
--------------------------000000----------------------
Lira melihat anaknya yang sangat tampan, hidungnya mirip sekali dengan Lira. Dia tak menyangka akan melahirkan malaikat tampan seperti itu. Lira menatap ke arah Radith setiap kali dia merasa bangga dan terharu dengan anaknya. Dia terus memandang anaknya yang masih membutuhkan banyak kehangatan itu. untung saja kondisinya sehat dan normal. Meski tubuhnya cukup kecil namun selama anak itu sehat, dia akan baik baik saja.
“Sayang, kamu hebat, aku bangga banget sama kamu. Gak bosan aku buat bilang ke kamu, aku bangga sama kamu sayang,” ujar Radith yang sebenarnya membuat Lira tersipu. Akhirnya tubuhnya pun juga terasa ringan meski perutnya masih besar, dia senang karna bisa melahirkan anaknya dalam kondisi sehat dan aman (yah, mengingat Radith memiliki banyak musuh di luar sana, akan sangat sulit untuk mendapat ketenangan dan keamanan di saat seperti itu.
“Dith, aku mau anak kita ini dirahasiakan ya, aku mau udah, biar Sean dan Zia aja yang terekspos, paling gak sampai dia gaak besar, baru deh kita publish. Gak papa kan Dith? Permintaan aku gak aneh kan? Aku Cuma ingin dia tumbuh jadi anak biasa yang gak dalam bahaya setiap saat, aku takut kalau kelahiran dia akan membuat musuh musuh kamu punya kesempatan baru buat menghancurkan kita.” tanya Lira yang diangguki oleh Radith. Dia juga berpikir itu adalah hal yang terbaik yang bisa dia lakukan.
“Aku juga berencana melakukannya, bahkan jika aku bisa, aku tidak akan pernah memberi tahu dunia tentang dia sampai dia dewasa, bahkan jika bisa lagi, aku ingin Sean dan Zia juga begitu, namun sudah terlambat, jadi aku hanya bisa memberikan hal yang optimal untuk menjaga mereka dan merahasiakan identitas Sean Junior,” ujar Radith yang diangguki oleh Lira.
“Mami, apa mami baik baik saja? Apakah Mami sehat? Apakah mami masih kesakitan? Sean akan merasa kasihan pada Mami jika mami kesakitan. Mami You Okay kan?” Tanya Sean yang membuat Lira mengangguk senang, kebahagiaannya langsung bertambah karna dia bisa memiliki anak yang luar biasa seperti Sean. Anak itu sangat khawatir pada kesehatannya, dia merasa terharu akan hal itu.
“Mami baik baik saja, rasanya sakit sekali, tapi setelah melihat Sean, mami sudah merasa sehat, terima kasih Sean sudah bertanya, Sean sudah bisa membuat Mami jadi sehat lagi, kamu memang anak Mami yang paling top deh,” ujar Lira yang membuat Sean tersipu, namun dia masih menatap khawatir Lira, karna wajah Lira tampak pucat berkeringat, sementara itu Zia yang juga masuk menatap semua orang dalam keheningan, sepertinya dia paham tidak boleh menganggu moment keluarga ini.
“Zia sayang, sini nak sama Mami, mami kangen juga sama Zia. Anak cantik, bantu Mami buat jagain adik kalian ya,” ujar Lira yang membuat Zia berkaca kaca dan langsung berlari ke arah Lira. Dia masih tidak tahu harus mengatakan apa, namun dalam hatinya sangat lega karna Lira tidak mengusirnya. Meski Zia tak mengatakan apa apa atau belum begitu mengerti, dia sudah tahu jika Lira adalah Ibu Sean dan bukan Ibunya.
“Ya, nanti Sean yang menjaga dedek bayinya, Zia yang mengurus, seperti Mami dan Papa,” ujar Sean yang sebenarnya membuat Lira mengerutkan keningnya. Jika seperti dia dan Radith, bukankah itu berbeda dari hubungan saudara? Namun dia segera membuang pikrian buruk itu, dia akan menganggap Sean masih belum mengerti apa yang dia katakan, jadi dia overthinking dengan anak anaknya sendiri atau membuat alur novel ini menjadi bukan rate semua umur.
“Ya, kalian bertugas untuk membantu Mami dalam menjaga adik adik kalian ya, nanti Papa yang bertugas untuk mencari uang dan memberikan kalian mainan yang kalian inginkan, jadi semua bahagia. Ah, apalagi kalian sudah memberikan surat pada Santa klaus bukan? Pasti sebentar lagi santa Klaus membawakan hadiah kalian, yah jika kalian berkelakukan baik, jadi kalian harus baik pada Mami, apa kalian bisa melakukannya?”
“Ya, Sean akan melakukannya, namun bukan karna hadiah dari Santa, Sean hanya ingin Mami menjadi lebih mudah, mami sudah menggendong Sean dulu, dan sekarang juga menggendong dedek bayi, Sean akan menjadi kakak yang baik untuk dedek bayi,” ujar Sean yang membuat Lira terkekeh, dia salut dengan pola berpikir Sean yang sangat dewasa, dia bahkan tak memiliki pikiran seperti itu sebelumnya.
“Tapi, fokus kalian bukan ke dedek bayi ya, kalian tetap anak anak mami, jadi mami yang mengurus kalian, nukan kalian yang mengurus mami. Kalian fokus saja pada cita cita dan sekolah kalian, buat mami dan papa bangga, buat dedek bayi bangga punya kakak seperti kalian, bisa kan?” tanya Lira yang diangguki oleh Sean dan Zia. Tentu mereka bisa melakukan hal yang mudah itu.
__ADS_1
“Ah ya, apakah mami mau makan atau minum sesuatu? Papa akan berikan untuk mami,” ujar Sean yang membuat Radith menengok. Lira bahkan terkejut dengan pertanyaan dan pernyataan itu, dia tertawa, lebih tepatnya menertawakan Radith yang juga tidak menyangka dengan hal itu. mereka tertawa bersama setelah beberapa saat tersadar. Radith langsung mengusap kepala Sean dengan gemas.
“Ya benar, apakah mami mau makan atau meminu msesuatu? Biar papa Radith dan abang Sean yang membelikan untuk mami, jadi mami tidak perlu lelah dan kesusahan. Ayo mami, katakan apa yang mami mau, papa akan belikan semua yang mami mau,” ujar Radith yang juga meladeni Sean, Radith membuat Sean juga terkekeh dan ikut mengangguk, dia akan ikut bersama dengan Radith jika memang Lira ingin sesuatu, Lira pun tampak berpikir apa yang dia inginkan.
"Mau nasi padang tapi gak yang pedas pedas, kalau minumnya air mineral aja. Aku gak boleh makan macem macem sih sama dokternya," ujar Lira yang diangguku oleh Radith, Radith langsung mengajak Sean untuk ikut bersamanya. Mereka keluar dari kamar Lira bersama, meninggalkan Lira dan zia hanya berdua.
"Mami, apakah Adik bayi ini juga bisa jadi adik Zia? Apakah Zia boleh memanggilnya adik?" Tanya Zia yang diangguki oleh Lira. Wanita itu tentu saja merasa senang dan malah berharap Zia akan nyaman bersama keluarga ini seperti dia sayang dan nyaman saat bersama Zia. Lira ingin Zia sepenuhnya menjadi anaknya.
"Justru mami malah mau meminta Zia untuk jadi kakaknya Dedek bayi ini, kalau Zia jadi kakaknya dedek bayi ini, pasti dedek ini sangat bahagia dan bangga, karna memiliki kakak yang baik dan hebat, Zia mau kan jadi kakaknya dia?" Tanya Lira dengan lembut.
Zia langsung sumringah dan menganggukkan kepalanya, dia setuju untuk menjadi kakak dari anak Lira, justru malah hal itu yang dia inginkan.
"Terima kasih Mami," ujar Zia senang sambil memeluk Lira.
"Mami yang terima kasih sama Zia. Terimakasih anaknya Mami," ujar Lira sambil membalas pelukan gadis kecil itu.
************
“Kamu yang sopan lah sama mama kamu kayak gitu, bukan Cuma gak sopan, tuh, kamu dari luar, bau asap, bau asem, mandi dulu kek, cuci kaki tangan dulu, main nyosor aja ke istri orang, sana kamu mandi dulu, terus sini nonton sama Mama dna Papa, makin gede kok anak anak papa gak ada yang mau nonton bareng sih,” ujar Darrel yang malah lebih cerewet dari Luna.
Darrel memang begitu, dia tidak akan rela jika istrinya dimiliki oleh orang lain, dia akan berusaha untuk merebut Luna dan tidak akan ingin jika istrinya itu diambil dengan alasan apapun. Termasuk oleh Ravi dan Rashi, Rania adalah pengecualian. Papanya bahkan overprotektif jika Luna dipeluk atau dicium tanpa alasan yang jelas. Namun Luna sendiri tidak keberatan dengan sikap protektif itu karna dia tahu itu sudah sikap bawaan suaminya yang tak bisa lagi dia ubah.
“Memang Rania sama Ra.. ah enggak deh, kalau Rashi udah biasa gak ikutan nonton. Nah Rania? Biasanya dia ikut nonton sama Mama, sekarang dimana?” tanya Ravi yang dijawab kedikan bahu oleh Darrel. Ravi berdecih pelan melihat sikap jutek papanya setelah dia mencium mamanya tanpa ijin, padahal dia hanya sedang bahagia dan ingin menunjukkan pada mama papanya bahwa dia bahagia. Namun ternyata Papanya terlalu kaku dan mudah marah.
“Huh, kayak pak tua yang suka marah marah, tunggu aja tuh rambutnya botak terus giginya tinggal dua,” ujar Ravi setelah agak jauh.
“Papa dengar ya Vi!” teriak Darrel yang sontak membuat Ravi tertawa namun juga kabur dari sana, tak ingin menjadi bulan bulanan papanya. Dia ingin meihat dimana Rania, dia membuka pintu kamar gadis itu tanpa mengetuknya.
__ADS_1
Rupanya Rania sedang melakukan video call dengan seseorang, sangat fokus sampai bahkan gadis itu tak menyadari kehadirannya. Dia mengendap dan ikut melihat ke arah layar dari samping. Matanya terbuka saat dia melihat Adlan ada di sana. Ravi tidak menyangka akan melihat wajah lelaki itu dalam layar panggilan video dengan adiknya karna dia tak pernah tahu jika Adlan dan Rania memiliki hubungan khusus.
“Boleh gak kalau ke kamar orang itu ketuk pintu atau gimana dulu? Gak main masuk aja terus nguping orang ngomong?” tanya Rania yang tiba tiba tahu, rupanya gadis itu diberitahu oleh Adlan yang melihatnya dari pantulan kaca. Lelaki itu memegang lehernya dan terkekeh melihat Rania yang salah tingkah.
“Eh Ran, Ran, Ran, lagi gak ada orang, Lo gue an gak papa ya. Gue mau cerita, gue udah resmi jadian sama Alena!” seru Ravi yang membuat Rania membuka mulutnya. Dia langsung melepas kedua earphonenya dan mematikan panggilan video itu tanpa pamit sama sekali, dia hanya fokus dengan kakaknya yang sdari tadi cerah itu.
“Serius? Kok gak bilang bilang mau resmian? Tahu gitu kan gue bantuin apa gitu kek. Lo bawa dia kemana? Taman romantis ya? Atau lo sewa satu restoran buat dia?” tanya Rania yang membuat Ravi sedikit sendu. Dia kembali teringat dengan kejadian tak mengenakkan beberapa jam lalu, namun dia tak mau cerita pada Rania karna nanti fokus adiknya itu jadi mengejeknya, bukan memberi semangat untuknya.
“Iyaa, tadi gue kan pergi ke rumah dia tuh, terus gue ajak makan malam romantis, terus ya gitu deh, gue kasih cincin, gue tembak dia, dan dia mau. Gue gak pernah nembak cewek sebelumnya dan dia mau sama gue, ya gue deg deg an parah, tapi bahagia dan gak nyangka ternyata dia benar benar jadi pacar gue sekarang,” ujar Ravi dengan semangat.
“Bentar bentar bentar, gue mau ambil jus dulu, gak enak kalau ceritanya Cuma begini doang,” ujar Rania yang membuat Ravi berdecak, namun dia mengijinkan Rania untuk pergi, dia menunggu dengan sabar, dan perasaannnya ada yang mengganjal. Dia melihat ke arah kamar dan melihat ada kulkas di dalam sana dan dia yakin di dalam kulkas itu sudah ada jus buah yang diinginkan oleh Rania.
“Lah, kalau di sini udah ada jus, kulkas, dia ngapain ke.. lu… RANIIAAAA!!!” Teriak Ravi yang langsung berlari ke arah ruang keluarga, dia seharusnya tahu, Rania tidak mungkin sebaik itu untuk duduk manis mendengarkan ceritanya. Benar saja, Rania sudah duduk dan memnta perlindungan papanya.
“Rania udah cerita semua ke Mama dan Papa, hahaha,” ujar Rania yang membuat wajah Ravi menengang. Luna dan Darrel menatap Ravi dengan alis yang terangkat. Ravi langsung mengangkat tangannya dan melihat ke arah mama papanya dengan diam, setelah beberapa saat terdiam, Ravi akhirnya menghembuskan napasnya panjang.
“Ravi sebenarnya mau bilang ke mama dan papa, tadi kan Rvai mau bilang tapi malah diusir sama papa, Ravi gak mau umpetin apa apa kok beneran deh. Lagian kan udah biasa kalau anak SMA pacaran, Ravi gak akan turun deh nilainya dan Alena juga anak yang baik, beneran deh,” ujar Ravi yang membuat Rania langsung tertawa mendengar pengakuan itu.
“Hahaha, Kak Ravi yang bilang sendiri kan ma ke mama dan papa, Rania Cuma bilang apa tadi? ‘aku udah kasih tahu semua’ dan dia jujur sendiri. Hahahaha,” ujar Rania yang puas. Ravi langsung terdiam mendengar itu, rupanya Rania belum mengatakan apapun, malah dia sendiri yang menceritakan semua pada mama papanya. Dia merasa malu tak tertahan karna hal itu.
“Kamu jadi tadi senang banget tuh karna pacaran sama Alena? Astaga, papa sih, anaknya mau cerita malah diusir, padahal ini kan cerita seru banget, kapan lagi kan anak anak mama pacaran pas SMA,” ujar Luna yang membuat Rania mengerutkan keningnya dengan heran.
“Kak Ravi sering pacaran kok ma, Cuma yang pacarnya anak beres ya Cuma Alena aja, yang lain gak ada yang beres makanya putus sama dia, hahaha,” ujar Rania yang malah membuat Luna terkejut, begitu juga Darrel. Ravi merasa ditelanjangi oleh adiknya sendiri. Dia langsung merasa dendam dan langsung membuka mulutnya.
“Ah, tapi kak Ravi itu anaknya baik ma, jadi kalau ada cewek yang gak baik ya dia gak mau lagi sama dia Ma, Pa, ya kan kak Ravi? Kalau sekarang ceweknya baik, jadi ya dipublish, ya kan kak Ravi? Kak Ravi yang baik, yang ganteng, nanti kalau mau minta di traktir sama Rania, Rania traktir ya,” ujar Rania cepat karna dia tahu apa yang hendak dikatakan oleh Ravi. Lelaki itu memicingkan matanya dan Rania langsung menutup mulutnya.
“Oke, trantir ya, berarti sekarang kamu traktir kak Ravi buat Cuma Cuma, terus besok traktir karna jadian sama Adlannn hahahahhaha.” Balas Ravi yang membuat Rania merasa malu. Luna sampai terkejut namun juga tersenyum, ternyata bukan hanya Ravi yang menjadi pemeran utama hari ini namun juga Rania. Gadis itu langsung diam tak bisa mengatakan apa apa, sementara Darrel tampak serius menanggapi apa yang dikatakan oleh Ravi.
__ADS_1
“Adlan? Siapa Adlan? Apa papa kenal?” tanya Darrel yang langsung diangguki semangat oleh anaknya. Sementara Rania langsung bersembunyi di balik Luna, malu menghadapi keluarganya karna biasanya dia diperlakukan seperti yang paling kesil, sekarang harus menjadi anak remaja, rasanya tetap aneh dan tidak nyaman baginya.
“Papa kenal, mama dan papa tahu kok. Itu loh yang ikutan lomba cerdas cermat juga, yang satu kan Rashi tuh, terus Alena dan yang satu lagi namanya Adlan. Dia pintar banget kalau matematika dan logika, jadi kalau mereka ada tugas gitu ya pa, palingan juga mereka ngerjain bareng, Adlan yang mengajari Alena, iya kan Len?”