
Sudah satu minggu Lira tidak mendengar kabar tentang Radith, bahkan lelaki itu tidak pernah datang ke kantor dan menemuinya. Lelaki itu hanya menelponnya jika ada perkembangan mengenai Caroline, bahkan Lira sudah tak bisa menemukan apapun lagi tentang wanita itu, Lira sudah menyerah dan menyerahkan tugas itu pada asisten Radith yang lebih lama berkerja dibanding dia.
"Harusnya kau memberi tahuku lebih cepat dari ini, aku bisa dnegan mudah menemukan identitas mereka, kenapa tuan lebih memilihmu yang tidak berpengalaman untuk masalah seberat ini?" tanya orang itu yang memandang Lira remeh. Lira meliriknya dengan malas tanpa mengatakan apapun, memang benar dia tidak berpengalaman dan tak biasa menggunakan alat – alat canggih seperti ini.
"Kalau buat tuan kamu yang minta, aku juga akan berusaha menyelesaikanya sendiri. Mana bisa aku memutuskan untuk melempar tugas pada orang lain? Jangan berlebihan, cepat selesaikan saja tugasmu," ujar Lira dengan nasa kesal, asisten Radith itu terkekeh dan menggelengkan kepalanya sambil membawa map yang diserahkan untuk Lira.
"Siapa yang senior di sini? Kenapa aku harus patuh padamu? Ah satu lagi, sepertinya Kau kecewa terhadap sesuatu, jangan letakkan hatimu pada sebuah pondasi yang tidak kuat, kamu gak tahu kapan pondasi itu akan patah dan seluruh hatimu akan hancur," ujar orang itu yang langsung keluar dari ruangan itu.
"Dia ngomong apa sih? Gak jelas banget omongannya. Emang pak Radith suka banget ya minta orang gak jelas jadi orang – orangnya? Ah, untung ada gue, satu – sataunya orang yang waras," ujar Lira dengan bangga dan masuk kembali ke ruangannya. Radith sudah memberikan Lira ruangan khusus dan terpisah dari pegawai lain sejak Lira diminta untuk memecahkan kasus ini.
"Ahh, walau kasus Caroline udah dibawa sama tuh orang, ada baiknya Gue bantuin pak Radith buat cari info lain, siapa tahu bakal lebih berguna," ujar Lira dengan semangat dan senang. Mengingat nama Radith saja sudah membuat semangatnya membara dan hatinya menjadi berbunga.
"Biasanya dia udah ngirim tugaas gak jelas ke Gue, biasanya dia udah ngomel – ngomel karna gue gak bener kerjaannya, duh, kenapa jadi aneh ya kalau gue gak ada kerjaan dan gak dengar suara dia?" tanya Lira yang kemudian tertawa karna tingkahnya sendiri. Lira menggelengkan kepala dan memilih untuk kembali mengerjakan masalah Caroline yang sungguh rumit.
"Kalau gue gak bisa ketemu siapa Caroline, gue harus cari siapa aja orang yang kayak Caroline. Pasti bukan Cuma dia yang dikirim buat mengacau keluarga Wilkinson," ujar Lira yang sudah menjadi serius dan langsung membuka Ipad yang diberikan Radith padanya. Dengan serius Lira mengamati dan membaca satu persatu profil pengawal Radith.
"Benar dugaan Gue, gak Cuma satu atau dua yang identitasnya gak jelas. Tapi bagaimana mereka bisa jadi pengawal Pak Radith? Apa Pak Radith sembarangan pilih pengawal? Atau orang jahat masukin mereka tanpa sepengetahuan pak Radith? Wah, gue sudah nemu info penting, pasti pak Radith bangga. Apa gue harus telpon dia ya?" tanya Lira yang kemudian tertawa dengan tertahan.
Lira pun akhirnya mengirim pesan untuk Radith, berisi dia menemukan info penting yang akan dikatakan langsung. Radith pun mengatakan dia akan mampir ke perusahaan setelah ini untuk mendengar info penting itu. Lira pun senang sampai mendekap ponsel ke dadanya, akhirnya setelah sekian lama, dia akan melihat wajah tampan atasannya lagi.
Radith menepati perkataannya dan pergi ke kantor, namun penampilannya tidak terlihat seperti bos yang datang ke kantor. Radith bahkan hanya memakai kaos dan celana Jeans santai, sepertinya lelaki itu memiliki urusan lain dan meluangkan waktu hanya untuk menemui Lira. Lira tidak bisa tidak memikirkan hal yang menyenangkan mengetahui hal itu.
__ADS_1
"Cepat katakan yang perlu dikatakan, aku tidak memiliki banyak waktu," ujar Radith sesaat setelah masuk ke ruangan Lira. Lira yang tadinya senang dan gugup pun langsung kehilangan senyumnya. Lira langsung mengambil Ipad dengan tangan yang sedikit bergetar dan menunjukkan apa yang dia ketahui.
"Pengawal? Berapa banyak? Siapa aja?" tanya Radith saat Lira menjelaskan apa yang dia ketahui. Lira pun menjawab pertanyaan itu sesuai informasi yang dia tahu. Radith tampak terkejut, namun ekspresinya tak sesuai dengan dugaan Lira, seakan hal ini bukan hal yang begitu penting dan mendesak, Lira pun menjadi tak semangat dalam menjelaskannya.
"Terima kasih, informasi yang kamu berikan sangat bagus dan bermanfaat. Kirimkan file itu ke nomorku dan gali informasi lainnya lagi. Kau bekerja keras, aku akan memberikan bonus besar untuk ini. Kalau tidak ada hal lain, aku harus pergi sekarang," ujar Radith yang membuat Lira membatu.
"Maaf pak, apa pak Radith punya urusan mendesak? Karna sudah satu minggu pak Radith sama sekali tidak datang ke kantor. Bahkan smeua divisi kebingungan dan menunggu kehadiran pak Radith," ujar Lira memberanikan diri. Dia mengira Radith akan memarahinya atau membentknya karna ikut campur, namun Radith hanya melihat ke arah ponselnya dan menatap Lira lagi.
"Perusahaan ini akan aman walau aku tidak ada di sini, tapi seseorang itu akan berada dalam bahaya kalau aku gak ada di sana. Kau, gantikan aku untuk urusan yang tidak begitu penting, untuk urusan perusahaan, aku akan percayakan pada direktur dan dewan. Untuk beberapa waktu ke depan aku tidak akan datang ke kantor."
"Ah, karna kamu sangat penarasan, aku akan memberitahumu, tapi jangan beritahukan pad ayang lain, aku tak mau dianggap sebagai pemimpin yang terlalu menjadi budak cinta orang lain." Perkataan Radith makin membuat Lira bingung sekaligus cemas, memang apa yang terjadi sampai Radith tidak tenang seperti ini?
"Luna sedang mengalami masa yang sanagat sulit dan hanya aku yang ada di dekatnya. Dia putus dari tunangannya dan dia depresi, aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Luna." Lira langsung terdiam dengan mata yang berkaca saat Radith mengatakan hal itu tanpa beban sama sekali.
Lira langsung terduduk di lantai saat pintu ruangannya tertutup. Lira meremas dadanya yang tiba – tiba merasa sesak. Dia tak tahu kenapa dia merasa sakit. Dia hanya kesulitan untuk bernapas dan hal itu memicu air mata keluar dari penyimpanan di dalam matanya. Lira menahan isakannya sekuat mungkin dan memukul dadanya agar bisa bernapas lagi.
"Gue salah makan apa gimana? Kenapa tiba - tiba gue sesak gini? Astaga, Lo bodoh Lira, harusnya Lo lebih perhatikan apa yang Lo makan biar gak kayak gini," ujar Lira sambil tertawa, namun tawa itu terdengar pahit dan dia terus memukul dadanya sendiri sampai rasa sesak itu mereda. Lira menggelengkan kepalanya untuk membuang semua isi pikirannya.
"Lo bodoh, Lo bodoh. Harusnya Lo tahu kalau Lo bakal mengalami hal kayak gini. Harusnya Lo tahu kalau Lo bakal ngerasain sakit yang kayak gini selama Lo suka sama atasannya Lo sendiri. Lo siapa? Lo siapa berhak ngerasa sakit dan cemburu?" tanya Lira pada dirinya sendiri.
Lira menarik napas dalam – dalam setelah rasa sakit di dadanya berkurang. Lira kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, meski dia melakukan pekerjaan itu sambil sesekali mengelap pipinya yang basah karna air mata. Lira tak bisa menghilangan bagaimana raut khawatir Radith saat membicarakan Lunetta.
__ADS_1
Saat hari sudah sore, Lira mengemasi barangnya dan kelaur dari gedung kantor itu untuk mencari angkot yang akan mengantarnya pulang ke rumah. Namun sebuah mobil berhenti di depannya dan supir di mobil itu meminta Lira untuk masuk. Karna Lira mengenalnya, Lira langsung masu kke dalam mobil itu tanpa takut dan curiga. Mobil itu pun melaju pelan dalam keheningan.
"Terima kasih udah kasih tumpangan." Orang itu akhirnya menghembuskan napas, sepertinya orang itu memang menunggu Lira untuk membuka mulutnya lebih dulu. Melihat respon itu tentu Lira menjadi tak tenang. Dia merasa sudah menyinggung orang itu, Lira bahkan sudah menyiapkan diri untuk menerima ocehan orang itu.
"Lo suka sama Gue?" pertanyaan yang meluncur itu tentu membuat Lira merasa canggung, lelaki itu mengucapkannya tanpa beban seolah itu pertanyaan biasa, lelaki itu malah menepikan mobilnya dan menatap ke arah Lira dengan tatapan dingin. Tatapan paling dingin yang pernah Lira lihat.
"Lo ngomong apa? Gue? Suka sama Lo? Emang mungkin Gue suka sama bos yang suka ngatur, bos yang galak dan bos yang suka ngomel kayak Lo?" tanya Lira dengan santai, lebih tepatnya berusaha santai agar lelaki yang ada di sebelahnya percaya. Namun lelaki itu malah mengeluakran senyum aneh dan membuka dashboard yang ada di depan Lira.
"Lo masih maau mengelak?" tanya lelaki itu sambil melemparkan sebuah tab pada Lira. Lira membuka tab itu dan dia terkejut saat melihat isi dari tab itu rupanya cctv yang ada di ruangan Lira. Lira terlalu gegabah menangis di ruangan itu, harusnya Lira tahu gerak – geriknya akan seallu diawasi karna dia bekerja langsung dibawah Radith.
"Gue gak suka sama Lo, tenang aja. Kalau Gue suka sama Lo, Gue gak akan melibatkan perasaan ke pekerjaan. Gue bakal simpan buat diri gue sendiri dan gak bakal ngerepotin Lo, Lo gak usah khawatir," ujar Lira tanpa memandang ke arah lelaki itu. lelaki itu menggelengkan kepalanya dan memijit pelipisnya.
"Gak, apapun alasannya dan apapun yang bakal Lo lakuin, jangan pernah suka sama Gue. Bahkan kalau Lo udah suka sama Gue, Lo harus hapus rasa suka itu, Lo gak boleh suka lagi sama Gue. Masalah jadi rumit banget karna dulu ada dua orang yang suka sama Gue. Gue gak mau ada hal kayak gitu lagi."
"Kan Gue udah ngomong, Gue gak suka, dan bahkan Lo gak akan tahu kalaupun Gue suka sama Lo. Anggap aja gak pernah ada Video ini dan kerja kayak biasanya, enak kan? Urusan Gue dan perasaan Gue, biar Gue yang atur," jawab Lira berusaha santai.
"Lo bisa ngomong gini karna Lo gak tahu efeknya. Gue tahu Lo orang baik, Gue gak mau Lo jadi terluka karna Gue. Udah cukup pusing hidup Gue, Gue gak bisa mikirin perasaan Lo juga. Sebagai atasan Lo, Gue minta Lo hapus perasaan itu buat kebaikan semua orang."
"Gak ada yang perlu dihapus karna Gue kan gak pernah suka sama Lo. Lo jangan kegeeran, Gue gak akan suka sama roang kayak Lo, Gue puya selera yang tinggi," ujar Lira dengan wajah tengil dan sombong. Radith yang melihat itu memejamkan matanya sejenak. Lalu menghembuskan napasnya pelan pelan.
"Bagus kalau Lo bisa merasa begitu. Bagus kalau Lo gak pernah suka sama Gue. Semoga Lo gak akan pernah suka sama Gue," ujar Radith yang embali memasukkan gigi dan melajukan mobilnya lagi untuk mengantarkan Lira pulang ke rumahnya.
__ADS_1
'Gue dan hati Gue. Biar itu menjadi urusan dan beban Gue sendiri. Lo gak perlu khawatir, Gue gak akan melibatkan atau merepotkan.'