
"Radith cepetan! Katanya mau menebus semua kesalahan selama 5 tahun ini." Suara itu cukup keras terdengar di telinga Radith yang masih merebahkan diri di kasurnya. Setelah semua yang mereka alami, Radith dan Lira memutuskan untuk tinggal 1 rumah, namun masih berbeda kamar
Ah, jika kalian berpikir mereka akan digrebek warga, tenang saja, wilayah ini tidak sibuk dengan urusan orang lain, bahkan mereka tak saling mengenal para tetangga. Begitulah kehidupan kota besar, bukan suatu hal yang perlu dibuat terkejut bukan?
"Ra, bisa ga agak siang dikit? Ini masih jam 9 loh, mbak mbak di mall juga lagi nata etalase kalik. Ngapain coba Lo berangkat ke Mall pagi pagi? Mau bantuin mbaknya nata barang dagangan?" Tanya Radith dengan mata yang setengah terpejam.
"Lira, Gue janji, Gue janji bakal tebus semua, Gue janji bakal turutin semua yang Lo mau. Gue sayang sama Lo, Gue gak mau kehilangan Lo lagi." Lira menirukan apa yang dikatakan Radith dengan nada mengejek dan bibir bawah yang dimajukan beberapa senti.
"Iya iya, Gue mandi dulu, Lo mau ikut Gue mandi? Atau Lo mau mandi sama Gue aja gitu?" Tanya Radith yang memainkan alisnya dengan nakal. Lira tak menjawab, dia hanya berlalu sambil menutup pintu kamar Radith, membuat Radith mendesah kecewa.
Radith merasa Lira masih dingin padanya, wanitanya itu hanya mengajaknya bicara jika perlu, seperti saat ini, Lira ingin "membalas dendam" pada Radith, makanya Lira sangat bersemangat berbicara padanya.
"Yah, Radithya David Putra Galeno, paling gak Lo menemukan apa yang Lo cari selama ini. Lo gak akan terlalu beruntung untuk mendapatkan semua hal dengan sempurna. Sabar Radith sabar, dikit lagi." Lelaki itu bangkit dari tidurnya sambil berbicara sendiri.
Radith mengambil handuknya dan masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar. Dia membersihkan setiap inchi di tubuhnya dengan teliti, tidak membiarkan sedikitpub kotoran menempel di tubuhnya. Radith menyelesaikan ritual paginya dan keluar sambil mengeringkan rambutnya.
Tiba - tiba saja Lira membuka pintu, sesaat kemudian Lira berteriak sambil menutup matanya. Membuat Radith memicing karna suara yang nyaring itu memekakan telinganya. Lelaki itu lekas meminta Lira untuk diam, dia merasa reaksi Lira sangat berlebihan.
"Apa sih Lo? Lo udah punya Sean, anak Gue, berarti Lo harusnya udah melihat lebih. Masak Lo kaget lihat Gue pakai handuk gini?" Tanya Radith tanpa beban, membuat Lira membuka tangan yang menutupi wajahnya dan menatap Radith dengan garang.
Radith tak dapat menahan tawanya melihat wajah Lira yang sangat merah seperti gadis remaja. Lelaki itu malah memiliki ide liar untuk menggoda Lira. Radith melonggarkan handuk yang melilit pinggangnya, hal itu membuat Lira terkejut bukan main.
"AHHHHH RADITH MESUM!" Teriak Lira yang langsung berbalik, tak mau menatap Radith, Lira bisa mendengar Radith tertawa. Ya, lelaki itu sengaja melakukan hal yang memalukan itu. Lira tak menyangka Radith adalah manusia yang seoerti itu. Kemana hilangnya sikap dingin penuh wibawa yang dimiliki Radith?
"Lo yang masuk ke kamar Gue gak pakai ketuk pintu, Lo yang marah - marah dan sekarang Lo yang pilih buat ga keluar dari sini. Ya udah, Gue ganti baju aja."
"Ha.. habisnya Lo lama banget, Gue aja mandinya gak selama itu. Gu.. Gue kan mau ngajak Lo Jogging dulu, nyebelin banget sih Lo." Lira tergagap karna masih terkejut. Membayangkan apa yang ada dibalik handuk itu membuatnya merasa malu.
"Mom, Mom kenapa ada di sini sama Ayah?" suara anak kecil itu membuat Radith dan Lira sama -sama terkejut. Lira bingung harus menjelaskan apa, Lira langsung meminta bantuan Radith untuk menjelaskan pada anak mereka.
"Mommymu sama Ayah lagi main. Ayah mau digantiin baju sama Mommy, boleh kan?" Tanya Radith yang membuat Lira kembali terkejut. Bagaimana bisa lelaki itu memberi jawaban kepada anak kecil seperti itu?
"Hahaha Ayah seperti anak kecil, Sean saja sudah bisa memakai baju sendiri, kenapa Ayah tidak?"
"Sean ayo kita keluar aja, Ayah kamu itu memang aneh. Udah, kamu sama Mommy aja, ga usah sama Ayah, yuk kita tinggalin Ayah," ujar Lira yang sudah menggandeng Sean agar anak lelakinya itu tak teracuni oleh Radith yang tidak tahu aturan.
Radith hanya terkekeh dan segera mengganti pakaian setelah Lira menutup pintu. Lelaki itu memakai kaos putih polos dan mengambil kemeja motif kotak kotak. Lelaki itu segera turun setelah memastikan penampilannya sederhana, namun juga menawan.
"Lo bakal ngerasa jadi cewek paling beruntung karna punya Gue Liora. Ganteng banget sih Gue, padahal udah punya anak satu." Entah mengapa Radith jauh lebih merasa tampan setelah tahu dia sudah menjadi seorang ayah. Seolah ada aura tersendiri terpancar dari dalam dirinya.
Radith segera menemui Lira dan mereka berangkat dari sana sambil membawa Sean, mereka membawa Sean ke pra Taman Kanak Kanak, tempat dimana Sean bisa bermain dengan aman dan tentu dengan pegawasan.
Lira dan Radith memutuskan untuk langsung pergi ke Mall karna mereka sudah terlalu sianh untuk berjogging, Lira sedang malas untuk berperang dengan sinar matahari yang sangat menyengat ini.
"Radith, kita foto yuk," ujar Lira yang tentu membuat Radith menolak tanpa berpikir. Lira memanyunkan mulutnya mendengar tolakan itu.
"Gue janji, Gue janji bakal turutin semua..."
"Itu mulu! Iya iya, kita foto. Kita foto sampai galeri Lo penuh sama ketampanan Gue." Lira berdecih mendengar kesombongan lelaki itu. Yah, walau memang benar Radith sangat tampan, Lira saja yang tidak mau mengakui hal itu.
__ADS_1
"Bentar Kok jadinya jelek gini ya. Aduh belakangnya jelek banget. Gak jadi ah, nanti aja nyari views yang bagus," ujar Lira saat melihat dirinya di kamera. Sementara Radith yang melirik dari belakang tubuh Lira.
"Lo nya aja yang jelek. Tuh, Gue sama aja ganteng kan, Tempat yang bagus itu gak penting, yang penting itu wajah yang bagus," ujar Radith menyindir. Lira langsung berbalik dan menatap Radith dengan wajah yang galak.
"Gak ada orang yang jelek di dunia ini. Itu semua tergantung selera. Unik tidak menjadikan seseorang jadi jelek. Sama - sama diciptakan sama Tuhan kok sombong. Catet tuh," ujar Lira yang langsung meninggalkan Radith.
Radith tersenyum mendengar omelan Lira, dia tahu Lira memiliki hati yang lembut namun juga adil san tegas. Ucapan Lira tentu tidak salah, Radith hanya berniat bercanda, Radith juga tahu tentang hal itu. Radith segera menyusul Lira sebelum wanitanya semakin jauh dan tentu merepotkan baginya untuk mencari Lira.
"Dith, Gue mau es krim itu," ujar Lira menunjuk sebuah kedai es krim yang antreannya sangat panjang.
"Ya udah Lo ke sana. Nih pakai kartu kredit Gue," ujar Radith yang memberikan dompetnya pada Lira. Lira menggelengkan kepalanya dan menarik Radith ke antrean, lalu memundurkan langkahnya. Radith menatap Lira dengan penuh tanya.
"Lo yang Antre, Gue mau ke toilet dulu. Gue mix coklat vanilla ya, Thank you ayang beb," ujar Lira dengan genit dan langsung pergi dari sana. Radith hanya bisa menatap kepergian Lira dengan kesal. Lelaki itu terpaksa mengantre agar Lira tidak marah nanti.
"Masih muda tapi udah punya istri aja." Radith bisa mendengar suara yang berasal dari sampingnya karna kedai ini membuka dua barisan antrean. Radith langsung memasang wajah dinginnya, menutup telinga rapat rapat karna dia tak ingin mendengar omong kosong mereka.
"Bisa aja itu adiknya, Gak pantes banget cewek kayak gitu bersanding sama masnya yang ganteng ini, kayak pembantu sama majikan," bisik mereka cukup keras, benar -benar masih bisa didengar oleh Radith. Lelaki itu masih bersikap tidak peduli pada para wanita yang ada di sebelahnya.
Radith bisa melihat Lira yang datang dari jauh, Lira pun juga bisa melihat Radith yang kesal, Lira sangat tahu ekspresi itu, pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Dith? Lo gak papa?" tanya Lira yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Radith. Lelaki itu langsung merangkul Lira, menyenderkan kepalanya ke pundak Lira, tentu saja Lira menjadi geli, namun dia segera memahami kondisi dan langsung memegang kepala Radith.
"Lama," ujar Radith dengan nada manis dan hangat, Radith bisa tahu jika para wanita di sebelahnya memekik kaget karna keuwuan Radith dan Lira, apalagi Radith yang langsung menjadi hangat, sangat berbeda dari Radith yang mereka lihat beberapa saat lalu.
"Maaf, toiletnya gantian. Gue udah gak pengen es krim, pindah aja yuk, panjang juga antrenya. Kasihan suami gue digodain tante genit," ujar Lira yang membuat wanita wanita itu melotot. Lira segera menggandeng tangan Radith untuk pergi dari sana.
Mereka langsung terkekeh saat sudah cukup jauh, apalagi mengingat wajah wanita yang tampak sekali merasa dongkol dengan sebutan tante genit. Lira sangat puas bisa memberi sedikit pelajaran pada mereka.
"Dith, ada kaca, ayo kita foto," ujar Lira yang diangguki saja oleh Radith. Lelaki itu sudah berjanji menuruti Lira, apalagi Lira sudah membantunya untuk pergi dari sana.
"Gak ada manis manisnya jadi cowok, senyum dikit kenapa sih? Masak cuma manis kalau terdesak sama cewek cewek itu aja? Nyebelin banget," ujar Lira yang membuat Radith menaikkan sebelah alisnya.
"Ya terus fotonya gimana? Gini?" Tanya Radith yang langsung memeluk pinggang Lira. Membuat wanita itu terkaget dan reflek melepaskan tangan Radith yang melingkar di pinggangnya, tangannya bertaut di depan perutnya.
"Ya.. Ya gak gitu juga ih," ujar Lira yang merasakan pipinya memanas, Radith tersenyum melihat hal itu. Lira melirik ke arah Radith dan menanyakan kenapa Radith tersenyum.
"Gue tuh pengennya bisa romantis kalau Gue sama Lo aja, berdua. Kalau di tempat umum kayak gini jatuhnya norak. Bukan Gue gak bangga punya Lo, tapi kita harus tahu tempat, dan hubungan kita bukan buat konsumsi publik. Apakah kamu mengerti istriku?" Tanya Radith yang diangguki dengan canggung oleh Lira.
"Demi Alex Lo menyeramkan banget kalau kayak gini. Merinding Gue, udah yuk, nyari tempat foto lain," ujar Lira yang membuat Radith mengernyitkan keningnya.
"Liora, Kalau Lo mau foto foto, kenapa kita gak ke studio aja? Kenapa kita gak ke tempat tempat alam atau apa gitu yang hasil fotonya bisa bagus?" Tanya Radith dengan heran. Lira hanya mengedikkan bahunya.
"Kan Gue berencana bikin Lo malu dan susah, mumpung Lo masih punya janji buat bikin Gud bahagia kan? Ya gini caranya," ujar Lira yang membuat Radith menghela napasnya panjang. Tidak disangka wanita seperti Lira sangat kekanak - kanakan, namun dia tidak bisa menolak sama sekali.
Bukan masalah janjinya pada Lira, Radith hanya merasa tak bisa menolak permintaan Lira. Mungkin karna lelaki itu sudah jatuh Cinta pada Lira. Dia jatuh pada pesona gadis yang kini sudah menjadi wanitanya, wanita yang melahirkan anaknya. Radith sangat mencintai Lira, saat ini, dan semoga saja sampai nanti.
"Mas, mas, boleh minta tolong fotoin gak ya mas? Saya mau foto nih mas," ujar Lira yang membuat Radith terbuyar dari lamunannya. Lira menyerahkan ponselnya ke lelaki itu dan segera menarik leher Radith agar mendekat. Lelaki yang diminta tolong pun mulai menghitung.
"Satu.."
__ADS_1
"Dua.."
"Tiga.."
cekrekkk
Lira melihat hasil fotonya dan langsung menatap foto itu dengan gugup. Senyuman Radith sangat hangat, benar -benar bisa meluluhkan hatinya. Walau itu hanyalah senyum yang tipis, tapi tatapan dan senyuman itu penuh arti.
"Kenapa Lo kayak gini sih ke Gue?"
"Kenapa? Gue gak boleh mengagumi istri Gue sendiri?" Tanya Radith yang tersenyum makin manis. Lira sampai sesak napas dibuatnya.
"Gu.. gue kan bukan istri Lo Dith, apa sih Lo ngomongnya gitu," ujar Lira yang langsung membuang pandangannya dari Radith. Radith mengambil dagu Lira dan menatapnya dengan lekat.
"Kalau gitu, ayo menikah. Lo jadi istri Gue, Gue jadi suami Lo. Kita bahagia selamanya," ujar Radith dengan suara bass yang menghipnotis Lira hingga gadis itu tak bisa melakukan apa - apa. Radith mulai mendekatkan wajahnya, membuat Lira memejamkan matanya karna gugup dan takut.
Wajah Radith semakin dekat dan mengikis jarak antara mereka.
"Eem, Maaf mas, mbak. Ini ponselnya diambil dulu, saya masih di bawah umur."
Suara itu membuat Radith langsung tersadar dan menjauhkan dirinya, lalu berdehem untuk menetralisir rasa malu karna lupa jika mereka masih di tempat umum.
"Ma.. makasih ya mas," ujar Lira yang mengambil ponselnya dari lelaki itu dan lelaki itu langsung pamit dari mereka. Lira menggaruk leher belakangnya karna gugup. Dia bertatapan dengan Radith yang juga sama gugup dan kaget.
"Ish, Lo sih, malu ah," ujar Lira yang langsung berjalan cepat meninggalkan Radith. Lelaki itu menatap punggung Lira yang mulai menjauh, menggaruk pelipisnya sambil mengutuk dirinya yang bodoh.
"Reputasi dingin Lo hancur Dith, hancur sudah, bodoh ih," ujar Radith dengan kesal sambil berjalan menyusul Lira yang semakin menjauh darinya.
\*tes tes satu dua tiga.
YAKKK, APAKAH MASIH ADA YANG BACA CERITA INI? BARU INGET AKUNNYA:")
Semoga masih ada yang baca aja deh.
Thank you
Love,
__ADS_1
Eliz