Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 112


__ADS_3

Radith melihat ke arah kasur bayi yang ada di kamarnya. Anaknya sangat baik dan pintar, anak itu tidak menangis dan tertidur lelap. Seharusnya dia istirahat di saat seperti ini seperti yang Lira lakukan, namun entah mengapa Radith malah ingin melihat dan dekat dengan anaknya. Dia tidak menyentuh bayi itu, dia hanya melihatnya dengan senyum yang merekah.


"Kamu kecil sekali ya, semoga kamu jadi anak yang kuat, anak kesayangan mami dan Papa, Nathan, anak kuat, anak yang penuh berkat. Papa sayang sama kamu nak," lirih Radith agar tidak mengejutkan dan membangunkan anaknya itu. Baru saja Radith hendak berbalik, dia merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Tanpa berpikir, Radith langsung berbalik dan memeluk orang itu.


"Kamu kok gak tidur? Bukannya besok banyak kerjaan? Akhir tahun loh, pasti banyak laporan kan?" Tanya Lira yang langsung diangguki oleh Radith, dia memang seharusnya beristirahat karena pekerjaannya sudah menumpuk, namun bahkan rasanya dia ingin di rumah saja karena anak dan istrinya ada di rumah ini. Dia tak ingin jauh dari mereka.


"Kamu juga harusnya istirahat loh, kamu kan baru aja pulih dari operasi, tidur lagi sana, aku aja yang nungguin Nathan, besok kan aku seharian kerja, kamu pasti repot. Aku udah minta asisten pribadi aku nyariin ART sementara buat bantuin kamu, jadi kamu gak boleh loh kerja yang berat berat, tugas kamu cuma makan yang banyak dan sehat, bahagia, bisa kasih asi kualitas terbaik buat anak kita, dah gitu aja," ujar Radith yang membuat Lira tertawa.


"Iya sayang, aku bakal ingat terus, aku gak akan capek capek dan fokus nge asiin anak kita aja," ujar Lira yang diangguki oleh Radith, namun dia memiliki ide untuk bersikap iseng pada Lira. Dia menatap istrinya dalam waktu yang lama.


"Eum, bukan cuma Nathan yang butuh Asi, kalau bisa sih, kalau bisa aja loh ya, aku juga dikasih asi, dikit aja gak papa untuk pertumbuhan tulang dan gigi," ujar Radith dengan senyum menggoda. Lira langsung memicingkan matanya. Dia tahu Radith akan bersikap seperti itu.


"Kamu mending tidur deh, bikin pengaruh buruk ke anak kitam hawa kamu tuh penuh dengan aura negatif, gak baik buat anak kita pokoknya," ujar Lira yang mengelus kepala putra mereka dan langsung kembali ke tempatnya untuk melanjutkan tidur.


Radith juga kembali ke kasurnya untuk tidur, dia memejamkan matanya sambil memeluk Lira, namun tidak erat karena dia masih takut akan menyakiti istrinya itu. Baru saja mereka memejamkan mata, Nathan sepertinya terusik dan anak itu menangis cukup keras, membuat Lira dan Radith terpelonjat kaget.


"Kamu gak nutup lagi tirainya, itu dia pasti digigit nyamuk sampai rasanya gak nyaman gitu, astaga, sana tutup dulu, eh tapi dicup cup dulu, coba kamu bisa gak jadi ayah yang buat anaknya merasa nyaman dan aman, jadi dia bakal tenang setelah di cup cup sama kamu," ujar Lira yang diangguki oleh Radith.


Lelaki itu menepuk nepuk badan anaknya dengan pelan, namun dia tak mau berhenti menangis, akhirnya Radith mengecek popok bayi itu dan mendapati rupanya popok yang dikenakan Nathan sudah basah, pantas saja anaknya merasa tak nyaman. Dia memilih untuk mengganti popok itu sendiri karena tak mau Lira merasa terganggu.


Radith mengambil popok kain yang baru, lalu dia juga mengambil bedak bayi. Dia mengelap itu si bayi dengan kain yang bersih, lalu membubuhkan bedak dengan lembut, dan setelah itu memakaikan popok kain pada si bayi dan memasukkan popok kain yang kotor ke dalam tempat cucian. Dia mengembalikan bedak ke tempatnya dan mencuci tangannya.


Setelah semua beres dan bayi itu sudah tenang, Radith menutup tirai tidur bayi itu agar tidak digigit nyamuk, lalu melangkah kembali ke tempat tidur, namun dia mendapati Lira yang menatapnya dengan tatapan kagum, dia kira Lora masih tertidur, namun rupanya istrinya itu masih menunggunya, dia langsung merasa malu karena ketahuan bersikap sedewasa itu.


Biasanya Radith hanya akan berdiri di depan Lira dan menjadi asisten wanita itu dengan alasan dia tidak berani untuk menyentuh bayi itu. Radith menggaruk lehernya dengan canggung lalu tidur di sebelah Lira dan langsung membungkus kepalanya dengan malu.

__ADS_1


"Terima kasih suamiku sayang, sudah jadi suami siaga yang katanya gak berani buat pegang dedek bayinya, tapi malah kamu ngelakuin sendiri cuma biar aku gak capek. Kamu sudah bisa ngurus dedek bayinya. Aku terharu banget jadinya," ujar Lira yang memeluk Radith. Lelaki itu langsung melihat ke arah Lira dengan tatapan yang senang.


"Tadi aku udah bener kah? Atau ada yang salah salah? Aku deg deg an banget tadi kalau ternyata salah dan nanti babynya kenapa napa, aku takut," ujar Radith yang membuat Lira terkekeh dan mengangguk gemas.


"Udah kok, udah bener dan yah tapi, kamu tuh emang cerdas Dith, kamu bisa langsung ngerti padahal kamu cuma ngelihat aku aja kan? Aku bangga punya kamu sebagai suami aku," ujar Lira yang langsung merapikan rambut Radith. Akhirnya mereka bisa tidur dengan tenang karena anak mereka tidak rewel dan bisa tidur sampai pagi.


"Kamu sadar gak sih? Anak kita tuh pinter banget loh Ra, dia bahkan gak rewel, dia cuma rewel kalau popoknya gak nyaman dan kalau laper aja. Kayak dia tahu buat gak nyusahin mami papa nya, padahal kalau dia mau bikin repot pun juga gak papa loh," ujar Radith yang langsung membuat Lira menutup mulut lelaki itu dengan cepat.


"Jangan ngomong gitu, nanti anaknya malah lebih suka ngerepotin, pokoknya kalau ngomong di depan anak, kamu harus yang positif, dan jangan marahin atau ngeluh misal dia ada sesuatu, karena dia pasti bisa merasakan. Kalau misal dia beraknya lancar nih, jangan kamu bilang 'aduh, kok berak Mulu sih," kalau kamu bilang gitu, dia bakal kerasa pokoknya kita harus hati hati."


"Iya aku paham, sayang, aku mau mandi dulu, sama habis ini aku ke kantor, kamu di rumah baik baik ya, Nathan, kamu jagain mama kamu ya nak, Papa mau berangkat kerja dulu, buat beli susu kamu, hehe, papa berangkat dulu sayang," ujar Radith yang mencium kening anaknya lalu mencium bibir Lira.


Lelaki itu keluar dari kamar dan mengurus Sean serta Lira. Karena bagaimanapun Radith dan Lira tetap harus ingat jika mereka masih punya dua anak yang juga masih belia, jangan sampai anak mereka merasa kasih sayang pada Sean dan Zia hilang hanya karna mereka memiliki anak yang lain.


"Papa, Sean sama Zia mau ketemu sama dedek bayi boleh?" Tanya Sean yang diangguki oleh Radith.


"Sean suka bertemu dengan dedek bayi, Sean sayang sama Dedek bayi," ujar Sean saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.


"Zia juga, Zia sayang dengan dedek bayi, dedek bayinya lucu," ujar gadis kecil itu.


"Papa sayang sama kalian semua, karena kalian semua anak anak papa, papa senang kalau kalian saling menyayangi."


Siang harinya, Lira tampak sibuk untuk menyiapkan makan siang, sedangkan anak anaknya sedang menonton televisi, tentu saja sambil memomong adik bayinya yang tampak ceria. Lira menengok ke arah mereka sesekali, karna Baby El tidak boleh diangkat, mengingat tulang dan lehernya masih belum kuat, jadi dia harus mengawasi barangkali Sean atau Zia merasa gemas dan malah menyakiti baby El tanpa sengaja.


“Sayang, Sean dan Zia, kalian mau makan ayam kan? Ini mami udah bikin ayam dibumbu coklat, namanya bumbu bacem, kalian pasti suka deh, ini mami baru belajar masak ini, khusus untuk kalian, pasti rasanya enak karna Mami membuatnya dengan hati yang bahagia.  Hahaha, kalian makan dulu sini, dedek bayi juga mau makan dulu, setelah itu baru deh kalian main lagi sama dedek bayinya,” ujar Lira yang diangguki oleh Sean dan Zia.

__ADS_1


Lira duduk di sofa dan mengangkat anaknya pelan pelan, setelah itu dia menggendong dan memposisikan bayi itu untuk minum air asinya, dia duduk sambil mengelus wajah bayinya yang tampak mulus dan lucu, mungkin ini salah satu keuntungan menjadi istri Radith, dia bisa memiliki anak yang setampan ini, dia sangat bersyukur untuk hal itu, dia melihat anaknya sangat bersemangat dalam minum.


“Nah, anak mami, pelan pelan sayang minumnya, nanti kamu kesedak loh, astaga anak mami, enak sekali ya rasa minumnya? Mami senang kalau kamu menyukainya. Hari ini mami makan buah dan sayur, pasti rasanya enak kan? Mami gak akan makan ikan atau yang amis amis sayang biar kamu gak merasa eneg makan asinya mami, mami mau makan yang enak enak dan yang segar segar aja sayang,” ujar Lira dengan senang.


“Kalau Papa, papa mau makan yang enak enak sayang, apalagi masakan mamimu wanginya enak sekali, papa akan sangat menyukainya sayang. Iya sayang, apa nak? Kamu mau gantian minum susunya? Oh sayang, gak suah, buat kamu aja, kalau papa nanti malam aja sepuasnya, ya sayang ya, uluh uluh, apa sayang?” tanya Radith yang tiba tiba saja muncul dan membuat Lira kaget bukan kepalang. Radith langsung duduk di sebelah Lira, membuat wanita itu jadi kaget dan mengerjapkan matanya beberapa kali.


“Papa, jangan ngajarin baby El yang buruk buruk ah, gak mau Mami. Biar baby El jadi anak yang baik, seperti maminya, ya nak sayang ya, kamu jangan dengar kata kata Papamu yang gak baik kok, hehe, sayangnya mami, ayo nak kamu minum yang puas. Mending kamu sama anak anak deh Dith, sana Lira sama Sean lagi makan tuh,” ujar Lira yang diangguki oleh Radith, lelaki itu membiarkan Lira untuk fokus saja pada anaknya.


“Ya udah, aku ke dapur dulu, aku lapar banget belum makan, tadi aku rapat banyak banget yang dibahas dan banyak yang bikin pusing. Aku tinggal beberapa hari tuh udah bikin perusahaan kacau banget, bisa gila aku karna mereka sama sekali gak kompeten, aku gak suka banget harus begitu,” ujar Radith yang tentu membuat Lira mengerutkan keningnya, dia tidak mau Radith menceritakan masalah pekerjaan di depan anak anaknya, dia mau Radith menyimpan masalah itu hanya di depannya.


“Ah, maaf aku lupa, kelepasan aku Yang, ya udah kalau gitu aku ke dapur dulu, lapar mau makan, tadi aku makan di luar, tapi aku ngerasa kangen rumah, jadi aku makan di rumah aja deh sama kamu sekalian,” ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Radith langsung  mencium Lira, namun dia tidak berani mencium anaknya, karna jika dia melakukannya, dia mungkin membawa virus dan bakteri untuk anak bayi itu.


Radith langsung berjalan ke arah dapur dan menemui anak anaknya. Dia mencuci tangan dan wajahnya dengan air, lalu mencium anak anaknya satu persatu. Setelah itu dia mengambil nasi dan lauk yang sudah tersedia di sana, dia makan dengan lahap sambil menatap anak anaknya yang juga tampak menikmati makanan yang dibuat oleh Lira. Dia baru pertama kali merasakan masakan Lira yang seperti ini, jadi dia merasa takjub karna rasanya juga enak.


“Wah, sepertinya papa perlu membuat rumah makan utnuk mamimu, biar nanti mamimu yang buat resepnya, terus nanti papa yang membawa pegawai, pasti laris, ini enak banget, iya kan? Kalian setuju sama papa kan? Ini enak banget kan?” tanya Radith yang diangguki oleh Zia dan Sean, mereka juga menyadari Lira sangat pandai memasak, dia bahkan hanya perlu melihat resep sekilas untuk tahu garis besar bumbu yang akan dia pakai, sisanya dia hanya menggunakan feeling.


Lira sudah sangat berbakat dalam memasak sejak dulu, mengingat dia hanya hidup berdua dengan adiknya untuk waktu yang lama dan mereka hidup miskin, mau tidak mau dia harus belajar masak dan membuatkan makanan untuk Alex. Seperti anak pada umumnya, adik lelakinya itu juga ingin makan banyak makanan yang enak dan tentu beragam, namun karna dia tidak memiliki cukup uang, dia harus membuat sendiri semua makanan itu.


“Kalau kalian setuju dengan ide yang papa buat, kalian coba bilang ke mami, kalau kalian yang bilang, pasti mami setuju, tapi kalau papa yang bilang, nanti malah dikira Papa gak sanggup membiayai hidup mamimu, kalian bantu papa buat bilang ke mami ya sayang sayangnya papa,” ujar Radith yang diangguki kembali oleh Sean dan Zia. Mereka melanjutkan makan dengan tenang dan tidak berbicara lagi, mereka menyelesaikan makan dan Sean serta Zia langsung pergi ke arah baby El dengan semangat. Mereka langsung bermain kembali dengan anak itu.


“Ah, sepertinya posisiku sudah digantikan untuk saat ini, aku gak berharga lagi di maata kalian anak dan istriku, pesonaku kalah sama pesona baby El, hik hik hik, baby El, kamu tega sama papa ya sayang, untung aja papamu ini baik hati dan sabar, jadi papamu tetap sayang sama kamu nak, tapi kalau malam, kita gantian ya, gantian pap yang dimanja sama mamimu,” ujar Radith yang membuat Lira mencubit pinggangnya pelan.


“Udah dibilang kalau di depan baby El mulutnya dijaga. Aku gak mau dia terkontaminasi hal yang gak benar Dith, udah dong kamu tuh jangan begitu. Dah ya, kamu berangkat kerja lagi aja, biar aku dan anak anak yang jaga baby El, kamu cari uang buat susu dan popoknya,” ujar Lira yang membuat Radith tertawa, dia tahu Lira akan galak jika dia bertingkah aneh dan berlebihan di depan baby mereka.


“Ya ya ya, papa akan kembali bekerja dan mencari uang untuk kalian. Kalian bantu mami untuk jaga baby El ya, nanti papa akan bawa makan malam yang enak buat kalian, nanti kalau kalian mau makan sesuatu, bilang ke mami aja, biar mami bilang ke papa dan papa akan belikan untuk kalian. Oke?” tanya Radith yang diangguki oleh mereka.

__ADS_1


“Ya udah, aku berangkat dulu ya, kamu hati hati di rumah, aku sayang kamu,” ujar Radith yang langsung mengecup kepala Lira dan pergi dari rumahnya untuk melanjutkan pekerjaan yang tiada henti membuat kepalanya panas dan bahkan rasanya hampir meledak.


__ADS_2