
Perjalanan panjang hanya mereka lewati dengan tidur dan beristirahat karna baik Radith maupun Lira, mereka berdua tahu jika sesampainya mereka di Negara itu, kecil kemungkinan mereka bisa beristirahat lagi. Entah mengapa pula Radith memiliki firasat kali ini bukan hari yang baik untuknya, namun dia berusaha menepis perasaan itu dengan pikiran yang positif.
“Ra, Sean beneran anaknya Daniel? Gue mohon Lo jujur sama Gue, karna Gue juga berhak tahu tentang hal ini. Lo tahu? Gue bakal lakukan apapun atau kasih Lo apapun kalau memang Sean anak Gue, yah tentu aja selain melepaskan kalian berdua.” Lira tak menjawab, mata wanita itu terpejam rapat dengan napas yang teratur.
“Gue tahu sulit buat Lo bilang kenyataannya ke Gue, apalagi setelah Gue ketemu sama Lo, Sean langsung dibawa kabur orang kayak gini. Tapi Gue janji Ra, ini akan jadi pertempuran yang terakhir. Gue bakal berhenti dari bisnis gelap dan Gue bakal mulai hidup yang baru.”
“Liora, Gue gak pernah jadi cowok yang cerewet, bahkan Gue selalu menunjukkan sisis dingin Gue ke semua orang terutama waktu Luna memutuskan buat pergi dari Gue dan pilih Darrel. Tapi Lo berhasil Ra, Lo berhasil jadi pengaruh besar buat mood Gue, buat perasaan Gue, Gue ketergantungan sama Lo Ra.”
“Gue tahu Lo dengar, terima kasih udah mau tetap tutup mata jadi Gue bisa jujur ke Lo. Kalau Lo bangun nanti, pura – pura gak dengar apa -apa aja ya biar gak canggung.” Radith langsung memejamkan mata setelah mengatakan hal itu. Lira yang merasa sudah hening langsung membuka matanya dan melihat kea rah Radith.
“Tunggu Gue siap, gak mudah buat hilangin rasa kecewa walau Gue sayang dan cinta sama Lo. Kasih Gue waktu sampai rasa trauma itu sembuh sendirinya.”
*
*
*
Radith dan Lira kompak melakukan peregangan saat akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Lelaki itu menyalakan ponsel Lira dan melihat lokasi Sean. Radith tersenyum karna benar dugaan dan perhitungannya, mereka ada di Negara ini. Radith langsung memerintahkan semua orang yang dia bawa. Radith sebenarnya tak ingin mendatangi tempat itu, namun karna Lira terus memintanya, dia jadi tak tega.
“Gue benar – benar punya firasat buruk Ra, gak biasanya Gue kayak gini, mending Gue aja yang ke sana, Lo tunggu di hotel. Karna kalau ada apa – apa, Gue tinggal jaga diri Gue sendiri,” ujar Radith yang tentu tak digubris oleh Lira, yang ada dipikirannya saat ini adalah menyelamatkan Sean secepat mungkin.
Namun Radith masih tampak gelisah. Tidak biasanya dia memiliki feeling buruk sampai seperti ini, bahkan dia tidak secemas ini saat menyelamatkan luna dulu. Meski lelaki itu berusaha berpikir positif, tetap saja rasanya janggal dan cemas. Mengapa orang itu membawa Sean kemari bukan ke Negara lain? Apakah sudah ada jebakan yang disiapkan? Berapa jumlah mereka? Semua itu terus berputar di kepala Radith.
“Ra, Gue Cuma mau bilang ke Lo. Kalau sesuatu terjadi, Lo gak boleh terlibat, yang mereka mau itu Gue. Kalau kita ketemu Sean, Lo langsung bawa pergi dia, gak usah pedulikan apapun, pergi sejauh mungkin,” ujar radith dengan wajah yang serius. Lira yang juga sedang panik langsung menoleh ke arah Radith.
“Lo ngomong gitu seolah nanti kita bakal mati tahu gak. Lo tenang aja, Lo tahu kan kalau Gue ini bisa bela diri, kita bakal tangkap penculik itu dan bunuh mereka semua karna mereka udah bikin anak Gue menderita,” ujar Lira berapi – api. Radith langsung terdiam mendengar respon itu, Lira sedang emosi, tak mungkin mau mendengarkannya.
Mereka akhirnya sampai ke sebuah rumah yang tampak sepi, Radith yang sudah merasa curiga makin yakin firasatnya benar. Lelaki itu membuka jendela Lira dengan tombol yang ada di sebelahnya, melepas kunci dan langsung keluar dari mobil dengan posisi Lira yang terkunci di dalam mobil.
__ADS_1
“Dia kira Gue anak kecil kalik ya, dikunciin kayak gini gak bisa keluar. Dasar cowok aneh,” ujar Lira yang langsung keluar dari dalam mocil setelah membuka kuncinya dari dalam. Dia berjalan mengendap kea rah rumah itu, dia sudah tidak melihat Radith di sana hingga dia yakin lelaki itu sudah masuk ke dalam rumah.
~Bugh Bugh Bugh
Lira mendengar suara gaduh dari dalam rumah itu. Dia langsung teringat pesan Radith. Lira langsung berlari dari sana sejauh mungkin dan berusaha mencari tempat yang ramai. Bukan Lira ingin meninggalkan Radith sendiri, namun akan menjadi sia sia jika mereka berdua tertangkap, setidaknya salah satu di antara mereka harus mencari bantuan.
“Kalian, kalian udah perhatikan sekitar? Ada berapa jumlah mereka?” tanya Lira yang membuat mereka menunduk lesu.
“Jumlah mereka sangat banyak dan tidak mungkin bagi kita melakukan penyergapan karna akan menimbulkan perhatian. Masalah tuan Radith adalah pasar gelap, jika ini terbongkar, kita justru akan kehilangan lebih banyak hal lagi, terutama karna kita bukan warna Negara sini.”
“Kalaupun kita memaksa untuk menyerang, saya rasa akan percuma, bahkan jumlah dari kita tidak lebih dari seperlima jumlah mereka, ini adalah kawasan mereka, kita tidak bisa melakukan banyak,” ujar dua orang di hadpaan Lira yang membuat wanita itu frustasi. Lira menghembuskan napasnya pelan – pelan, mencoba untuk mencari solusi.
“Kalian ada kontak sama tuan Wilkinson? Minta bantuan beliau sekarang, kita terjebak, Radith udah tertangkap, kita harus menang atau kita semua akan mati di Negara ini. Gue akan ke sana lagi buat pastikan mereka berdua baik – baik aja. Tapi kalian jangan terlalu lama, waktu kita gak banyak.”
Mereka segera berpisah dan Lira kembali mengamati rumah itu sambil sembunyi. Tiba – tib ada orang yang menutup badannya dengan karung dan langsung memanggulnya. Lira yakin dia akan dibawa ke rumah itu, namun dia harus berlagak panic hingga dia terus menendang – nendang udara sambil berteriak.
Benar saja, karung itu dibuka dan Lira dilempar ke sebelah pria yang wajahnya sudah penuh dengan luka. Lira bahkan sampai menutup mulutnya melihat pria itu. Mereka sangat kejam, seolah yang mereka lakukan adalah balas dendam yang mendalam terhadap Radith. Lelaki itu bahkan sampai tak bisa membuka sebelah mata dan hanya bisa berbaring dengan napas terengah.
“Kalian salah paham, Sean itu anakku dan kami tidak ada hubungannya dengan Radith, dia hanya mantan bosku dan itu sudah lima tahun lalu. Jangan sakiti anakku, dia tidak ada hubungannya dengan semua ini.”
“Hei jal4ng! kau pikir aku orang bodoh yang menculik anak kecil secara acak untuk meminta tebusan? Kau pikir aku tidak tahu latar belakang kalian? Dasar kalian berdua sampah yang tidak pantas hidup di dunia ini,” ujar orang itu yang membuat Lira menjadi geram.
“AKU TIDAK PERNAH ADA URUSAN DENGAN KALINA! LEPASKAN AKU DAN ANAKKU! JIKA KALIAN BERANI MENYAKITINYA, AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN!!” Teriak Lira penuh dengan emosi, bahkan air mata sudah membasahi pipinya tanpa disadari.
“DIAM!”
~Plaakkk
“Jangan membuatku marah dan mengubah jalan cerita pertunjukkan yang sebentar lagi akan disaksikan. Oh, sepertinya kau lebih suka melihat anakmu hancur sampai kepinagn kecil sebelum Kau menyusulnya ke neraka? Baiklah, aku pria yang berbesar hati, aku akan kabulkan permintaanmu. Bawa bocah itu kemari!”
__ADS_1
“Kalian jauh lebih busuk dari kutu! Kalian akan mendapat balasan atas apa yang kalian lakukan!” teriak Radith dengan sisa tenaga yang dia punya.
~pyaarrr
Radith terkapar dengan kepala yang berdarah setelah orag itu memukulkan botol wine ke kepalanya. Lira memekik melihat Radith yang tersungkur di sebelahnya, namun dia tidak bisa melakukan apa – apa.
“Aku merasa jijik melihatmu sok mengatai orang lain padahal Kau adalah pembunuh yang keji. Kau wanita Jal4ng, jika kau tak ingin bernasib sama, kau harus tutup mulutmu. Aku tidak suka berbuat kasar pada wanita, jangan sampai Kau jadi yang pertama.”
Lira menunduk dan menangis, mungkin memang ini akan menjadi akhir hidupnya. Setidaknya mereka tetap bersama sampai akhir, meski ini menjadi akhir yang menyedihkan.
T.A.M.A.T
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Tapi Boong.