Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 85


__ADS_3

Radith bersama Lira sudah duduk di ruang tunggu menunggu giliran mereka, sesuai janji, Radith akan menemani Lira untuk check up kandungan, dia ingin sekali melihat detak jantung jabang bayi yang masih belum tahu jenis kelaminnya (tentu saja), Radith sudah berjanji akan tetap berada di Indonesia sampai Lira melahirkan karna dia ingin mengantar Lira untuk check up setiap bulannya, sekaligus menebus waktu waktu sulit yang pernah dan mungkin akan Lira alami lagi di kemudian hari.


"Setelah ini kita jemput Sean dan pergi makan ya, udah lama kita gak makan bareng, waktunya mumpung pas, habis itu aku drop kalian dan balik ke kantor," ujar Radith yang diangguki oleh Lira, namun istrinya itu tampak tak nyaman dan seolah ingin menyampaikan sesuatu meski ragu. Radith akhirnya bertanya dan Lira menganggukkan kepala pelan untuk meyakinkan dirinya agar bisa bercerita pada Radith apa yang dia pikirkan.


"Aku merasa berdosa kalau kita senang senang, dan bahagia begini sedangkan kita belum tahu kondisi Zia di luar sana, kamu cepat temukan dia Dith, hatiku rasanya mengganjal terus kalau belum ketemu sama Zia, aku merasa bersalah, jadi apa apa juga gak enak," ujar Lira yang tentu dimengerti oleh Radith, lelaki itu paham betul, dia juga merasa serba salah, di satu sisi dia ingin membahagiakan Lira, di sisi lain dia harus tetap ingat pada putrinya.


"Andre udah menemukan semua preman di Jakarta dan kagi ngefilter mana yang pakai tato. Itu masih jakarta, belum kalau ternyata Zia ada di kota lain, berarti harus melakukan hal yang sama. Aku sebenarnya udah kepikiran mau pakai polisi atau medsos aja, tapi rasanya terlalu riskan, aku takut kalau nanti semua anak buah aku malah ditangkap dan kena impas ke banyak hal, kamu tahu kan gimana kotornya pekerjaan kita? Bahkan setelah aku punya pabrik ini, jadi bahaya.


"Aku tahu, sebenarnya aku mau menyarankan kamu buat minta bantuan tuan Sanjaya, tapi kamu gak akan mau, karna semakin kita berhutang ke mereka, semakin kamu gak bisa lepas dan bahkan semakin kamu gak bahagia, karna mereka akan ajak kamu buat permainan kotor lagi, tapi Dith, kalau emang kita udah kepepet, kayaknya kita tetap perlu pertimbangkan itu," ujar Lira yang disetujui oleh Radith.


"Aku udah mempertimbangkan ini juga Ra, tapi ya gak tahu ya, aku ngerasa gak perlu, dan biasanya aku ikut sama feeling aku, jadi aku gak mau aja gitu buat ngikutin apa yang aku pikirkan, aku lebih pilih ikutin kata hati aku, aku harap kamu bisa ngerti juga kenapa aku begini ya, aku janji, kurang dari dua bulan, aku bakal ketemu sama dia, aku bakal temukan Zia," ujar Radith yang tentu tak membuat Lira merasa puas, kenapa harus menunggu 2 bulan? Entah apa yang akan terjadi dalam 2 bulan itu.


"Jangan 2 bulan target kamu, kamu pikir coba selama 2 bulan Zia mau makan apa? Selama 2 bulan dia mau tinggal dimana? Selama 2 bulan dia disiksa kayak apa? Belum tentu dalam 2 bulan Zia masih selamat dan hidup kalau kita gak segera temukan dia, kamu juga harus pikirkan itu Dith," ujar Lira yang membuat Radith terdiam, semua yang dikatakan Lira sangat benar dan bahkan dia tidak bisa membantah itu.


"Nyonya Liora" percakapan mereka terhenti saat mendengar nama Lira dipanggil. Mereka masuk ke ruangan itu dan memberi salam pada dokter yang aja di sana. Dokter meminta Lira untuk berbaring dan memeriksa kondisi Lira, baik jantung, nadi, dan sebagainya, entahlah, Radith juga tidak begitu paham. Sampai tibalah saat mereka akan melakukan usg untuk melihat perkembangan bayi Lira yang masih sangat kecil.


Dokter menyalakan monitor dan memberikan gel di perut Lira, lalu menggerakan alat pendeteksi untuk melihat kondisi bayi. Radith langsung merasa hatinya menghangat setelah melihat detak jantung bayi yang masih kecil itu. Dia merasa air matanya akan keluar, dia menatap ke arah Lira yang juga ternyata menangis karna melihat ke arah monitor, dia tersenyum dengan air mata yang sudah jatuh ke pipinya, melihat itu, tangis yang sudah Radith tahan pun ikut pecah.


"Wah, apa ini anak pertama kalian? Kalian tampak sangat terharu melihat bayi kalian, biasanya orang tua dengan anak pertama yang mengalami hal ini," ujar Dokter yang dijawab gelengan kepala oleh Radith, dia mengusap layar monitor itu dengan senyum bangga, senyum sayang dan segala senyum baik di dunia ini. Dia lalu berterima kasih pada Lira karna memberinya kesempatan untuk bsia melihat ini.


"Ini anak kedua kami dok, tapi yang pertama saya gak lihat hamilnya sampai dia usia 5 tahun, jadi ini pertama kalinya saya melihat hasil usg bersama istri saya ini," ujar Radith yang tentu membuat dokter itu menyipitkan matanya, melihat itu Lira langsung mengambil alih situasi dan sedikit tertawa canggung, Radith memang ceroboh, dia mengatakan hal hanya sepenggal sepenggal jadi membuat dokter itu akan salah paham.

__ADS_1


"Setelah kami berhubungan, kami harus bekerja di dua negara berbeda dalam waktu bertahun tahun tidak bisa bertemu dok, jadi ya anak saya tumbuh tanpa ada dia di sisi anak saya, namun saya yakin rasa cinta dia selalu menyertai anak saya sehingga anak pertama kami tumbuh dengan baik," ujar Lira yang diangguki oleh dokter itu. Dia menjelaskan apa yang harus dimakan dan dihindadi oleh Lira demi menjaga bayi yang ada dalam perutnya tetap sehat.


"Jangan kebanyakan stres bu yang paling penting, karna stres itu bisa memicu banyak hal yang tidak baik, ya salah satu yang paling fatal adalah keguguran. Jadi bapak juga harus menjaga suasana hati Ibu agar selalu bahagia, positif sehingga dedeknya juga betah ada di perut Ibu sampai nanti waktunya dia dilahirkan," ujar Dokter itu yang diangguki oleh mereka berdua. Radith dan Lira mengucapkan terima kasih lalu keluar dari sana dengan bahagia. Akhirnya setelah menunggu, mereka bisa mendapatkan junior yang lain, dan kali ini kondisi keluarga mereka sudah sangat membaik, tak ada yang lebih membahagiakan dari ini.


"Kita jemput Sean dan pergi makan dulu aja ya, aku udah lapar juga. Pasti dedek juga lapar yah, minta mama makan yang banyak ya, makan yang enak juga ya dek, biar dedek cepat besar, cepat tumbuh dan bisa lahir dengan sehat dan bongsor," ujar Radith yang membuat Lira tercengang, dia setuju dengan lahir sehat, tapi untuk bongsor? Apakah Radith ingin Lira tersiksa?


"Kalau dedeknya lahir terlalu besar, nanti mamanya yang jebol dong waktu melahirkan dia, gimana sih kamu, harusnya kamu kasihan lah sama aku, malah minta yang bongsor, udah, mending normal, baru setelah lahir dia tumbuh jadi bongsor," ujar Lira yang membuat Radith tertawa, suasana hatinya sedang bagus saat ini, dia tentu tidak keberatan dengan apa yang akan diminta oleh Lira.


"Ya sayang, kamu yang melahirkan, kamu yang memutuskan, aku gak akan minta apa apa, aku cuma minta kamu sehat dan bahagia, udah itu aja. Karna jauh dari aku sayang sama Babynya, aku juga sayang sama kamu, lebih besar rasa sayangku buat kamu malah," ujar Radith yang diangguki oleh Lira, dia tahu Radith akan melakukan banyak kesalahan, namun dia juga harus menyiapkan hatinya agar tidak terpancing dan tetap sabar selama menggendong anak dalam perutnya.


Mereka sampai di depan sekolah Sean, Radith ingin sekali makan jajanan di sana, namun dia juga tahu Lira tak akan pernah mengijinkan karna jajanan di sana tampak tak bersih, yah tentu berbeda dengan jajan yang ada di dalam kantin sekolah yang bersih dan mahal. Radith hanya bisa menatap ingin jajanan masa kecilnya itu, Lira yang melihat Radith tentu tahu apa yang dipikirkan oleh suaminya, dia tersenyum geli karna Radith tak berani untuk membeli jajan itu sebab ada dirinya di sini.


"Gak boleh ya sayang, itu nanti dedek juniornya malah jadi berminyak gimana? Nanti aja di rumah aku minta koki buat buatin ke kamu ya? Gak papa ya?" Tanya Radith yang tentu tak membuat Lira senang, dia juga ingin makan jajanan yang ada di sana walau setial hari dia melarang Radith dan Sean untuk memakannya.


"Ini yang minta bayinya loh, kamu gak mau ikutin permintaan bayinya?" Tanya Lira yang membuat Radith kalah, dia langsung turun dari mobilnya dan membeli 3 porsi, dua untuknya dan satu untuk Lira. Saat masih antre, Sean keluar dari sekolah dan langsung menghampiri Radith, membuat Lira was was karna tetap saja, Sean tidak boleh memakan ini. Dia hanya ingin meminta sedikit karna sudah lama tidak merasakannya. Sean dan Radith kembali ke dalam mobil dengan perasaan riang, berbeda dengan Lira yang menatap Radith tajam.


"Mami, ini enak loh," celetuk Sean yang membuat Lira menengok dan melihat apa yang Sean bawa. Anak itu memegang telur gulung satu porsi. Seumur hidup Sean yang lahir dan tumbuh di Australia, dia tidak pernah memakan atau tahu wujud telur gulung, bahkan setelah di Indonesia pun, Lira tak pernah memberikan Sean benda itu, hanya ada satu orang yang bisa memberikannya pada Sean.


"Ini Papa waktu itu belikan saat sedang ada di luar dan saat itu juga jadi tahu kalau Zia diculik Mi, enak banget rasanya, Sean suka," ujar Sean tak sadar, membuat Radith memejamkan matanya karna Sean tidak sadar dengan siala dia bicara dan tidak ingat tentang janji yang sudah mereka buat. Lebih penting dari itu, Lira sudah menatap Radith dengan tajam, membuat Radith meringis dan memasukkan satu tusul telur gulung ke dalam mulutnya.


"Dedek bayi yang cakep, mami gak mungkin marah sama Papa kan? Mami kan baik, cantik, imut dan sayang sama dedek bayi, jadi mami gak boleh marah marah sama papi, ya sayang ya," ujar Radith yang tentu membuat Lira tertawa. Dia tidak menyangka Radith akan membuat alasan itu, bahkan bayinya belum punya organ selain jantung dan telinganya belum ada, bagaimana bisa dia menggunakan bayi ini untuk menyelamatkan dirinya sendiri?

__ADS_1


"Aduh anak mami, kamu kasihan ya nak, kamu masih di dalam perut saja sudah harus dijadikan alasan untuk kesalahan papa kamu, padahal kalau papa kamu salah, seharusnya dia langsung mengaku salah, gak usah menyalahkan anak mami, tenang aja ya nak, mami gak akan kayak gitu ke kamu, udah biarin aja ya papa kamu kayak gitu, kita gak usah dengarkan," ujar Lira yang menyerang balik Radith. Lelaki itu mengerucutkan bibirnya karna kembali dibuat kalah oleh Lira, dia tidak menyangka dalam beberapa tahun, kondisi mereka sangat berubah.


Radith dulu adalah seorang bos yang sangat menyebalkan, seeenaknya dan mau menang sendiri, dia tidak pernah kalah atau mengalah pada orang lain, namun kini Lira bahkan bisa menjungkar balikkan hidupnya dari yang dingin, tegas dan haus darah menjadi hangat, penyayang dan takut istri. Jadi untuk para lelaki kuat di luar sana, yah, kalian lihat saja sampai menikah, sejauh mana kalian akan pertahankan image kuat tak terkalahkan itu.


Lelaki itu menyalakan mobilnya untuk pulang, dia harus menyelesaikan pekerjaan yang dia tinggal selama pergi ke Jepang karna asisten lribadinya juga ikut bersamanya, jadi hanya sekretaris yang membantunya, itu pun tak bisa banyak, mau tidak mau dia harus lembur dan mengebut untuk menyelesaikannya.


Sesampainya di rumah, dia mendapat panggilan dari Andre, dia sudah berharap akan ada berita baik dari lelaki itu. Radith mengangkat panggilan dan sengaja menyalakan loadspeaker agar Lira dan Sean juga bisa mendengar apa yang Andre katakan.


"Kami menemukan preman dengan tato naga di leher dan tindik di telinga yang persis seperti Sean katakan. Entah ini berita buruk atau baik, orang ini benar menemukan Zia di pelabuhan dan mengambilnya untuk dijadikan pengamen dan pengemis," ujar Andre yang membuat Radith dan Lira saling memandang, tentu saja ini berita baik karna Radith berhasil menemukan Zia dengan cepat, jauh lebih cepat dari perkiraan.


"Nah, sampai tadi masih berita baik, ini akan sampai ke berita buruknya. Zia berhasil kabur dan sekarang gak tahu di mana, udah nyari di semua tempat biasanya para preman nyimpan anak anak, tapi tetap gak ada dan preman ini pun juga gak tahu dimana Zia sekarang. Kita dapat petunjuk, tapi kita juga kehilangan petunjuk."


"Ya udah, paling gak kita tahu Zia ada di Jakarta. Gue akan terbang ke sana, dan kita nyari dia sama sama. Tunggu ya," ujar Radith yang mematikan ponselnya dan menatap ke arah Lira dan Sean bergantian.


"Sebentar lagi Sean libur triwulan kan? Nanti kita liburan ke rumah om Alex ya, sekalian Papa mau nyari Zia di Jakarta. Mau kan? Tapi ini papa berangkat duluan, kalau papa belum kembali, Sean dan Mami nyusul papa ke sana ya," ujar Radith yang diangguki oleh Sean.


Radith menatap ke arah Lira dengan perasaan bersalah, baru saja dia berjanji akan tetap ada di dekat Lira, namun kini dia harus pergi lagi ke luar pulau meski tujuannya untuk mencari anaknya.


"Gak papa, ini buat Zia, kamu gak melanggar janji dan aku gak marah. Temukan anak kita dalam keadaan selamat yah, aku selalu doain kamu," ujar Lira dengan senyum manisnya. Radith mendekat dan mencium bibir Lira, berterima kasih karna istrinya sudah mau mengerti.


"Aku akan cepat, secepat mungkin yang aku bisa," ujar Radith yang diangguki oleh Lira.

__ADS_1


__ADS_2