Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 56


__ADS_3

"Kondisi Lira memang sudah membaik, tapi penyakit mental gak bisa sepenuhnya sembuh, pasti nanti kalau ada pemicu, bisa kambuh kapan aja. Kalau pemicunya ringan, kemungkinan dia masih bisa hold on, tapi kalau pemicunya berat, dia akan kehilangan kesabaran dan kesadaran, jadi Lo harus jaga emosi dia tetap stabil, semua akan baik baik aja," ujar Hafiz saat terapi sudah selesai dilakukan.


"Oke, makasih banget, karna Lo udah mau bantu gue bahkan harus ikut gue ke pulau lain begini. Untuk urusan transport udah gue tanggung semua, dan untuk ucapan makasihnya, udah gue tranfer ke rekening Lo. Sekali lagi terima kasih Lo udah mau bantu gue sampai kayak gini," ujar Radith yang diangguki oleh Hafiz. Tentu Hafiz tidak merasa keberatan karna merawat Lira setara dengan merawat 5 orang lain.


Setelah Hafiz pergi, Radith masuk ke kamar Lira. Wanita itu sedang duduk di depan kaca dan merapikan rambutnya. Dia tahu Radith masuk, namun membiarkannya saja, toh lelaki itu memang memiliki akses penuh ke kamarnya saat ini, karna Luna dan Darrel masih ada di rumah ini. Lira akhirnya tidur bersama Radith karna lelaki itu ketiduran di kamar ini dan dia tidak punya tempat lain untuk tidur.


"Lira sama Darrel mau main ke pantai dan ngajak kita, kamu mau ikut atau aku bilang ke mereka kamu capek habis terapi jadi mereka bisa pergi sendiri?" Tanya Radith yang berdiri di belakang Lira dan mengambil alih sisir yang dipegang Lira, lalu mulai menyisiri rambut wanita itu dengan pelan dan lembut. Perlakuan kecil ini yang membuat Lira nyaman dan betah berada di sekitar Radith. Lelaki itu punya perlakuan yang bagus.


"Eum, ikut aja deh, gak enak juga kalau diajak sama mereka. Sean mana? Dia juga pasti senang kalau kita semua pergi, dari tadi aku belum lihat dia, Sean mana?" Tanya Lira yang menyadari belum melihat Sean hari ini, dia bisa melihat Radith tampak bingung dengan pertanyaan sederhana itu, membuat Lira menyadari pasti ada sesuatu yang terjadi dan Radith tak ingin Lira tahu.


"Oke, gini, Sean pergi main sama Rania. Anak kita gak mau main sama aku, dia cuma mau main sama Rania, dan kamu tahu apa? Dia bahkan mau mandi bareng Rania! Untung aku tahu dan ngelarang dia. Sekarang dia marah sama aku, aku gak tahu harus ngapain biar dia gak marah lagi, tapi sungguh, aku gak suka banget lihat dia begitu sama cewek, dia kan masih kecil banget."


"Udah, gak usah berlebihan, siapa tahu emang itu karna Sean suka sama kakak yang lebih besar? Dia merasa nyaman main sama Rania yang udah dewasa dan bisa ngejaga dia? Iya kan? Kalau pun mereka bilang suka, ya itu bisa aja cuma cinta monyet, mereka gak bakal ingat sampai mereka besar nanti, jadi ya kamu chill aja, gak udah pakai marah sama Sean, nanti dia malah makin kesal sama kamu," ujar Lira panjang lebar.


"Ya tapi dia kan masih kecil, dan ini anak Luna loh. Kamu yakin? Aku kayak ngerasa dejavu aja kalau sampai Sean beneran sama Rania, bukan berarti itu buruk, tapi kamu yang paling tahu kalau aku gak nyaman dan gimana aku menghindari sekali keluarga ini, jadi gimana kalau nanti Sean beneran jadi sama dia?"


Lira merasa gemas dengan Radith yang terus memikirkan omong kosong yang tidak mungkin terjadi. Mereka hanya dua anak kecil yang jarang bermain atau memiliki teman, jadi mereka padti nyaman dan senang bisa bermain bersama. Sudah, hanya itu, Radith terlalu jauh memikirkannya sehingga malah membuat Sean merasa tak senang dan tentu saja Lira merasa tak enak jika Luna tahu hal ini.


"Udah, aku kan yang gendong Sean 4 tahun lebih, aku tahu dia gak akan kayak gitu, oke? Nanti kalau dia sama Rania, bukan aku yang sakit, kamu yang gantian sakit, haha, ya udah, kamu keluar dulu, aku mau ganti baju," ujar Lira yang diangguki oleh Radith, lelaki itu berjalan ke arah pintu dan membukanya, keluar dari kamar dan menutupnya lagi, namun sebelum benar benar tertutup, lelaki itu terdiam.


"Nah, Lira, aku mau sekalian kasih tahu kamu aja ya, kalau kamu masuk ke kamar orang nih, tadinya ksn ditutup yah, terus pas kamu masuk kan jadi terbuka tuh, nah kalau kamu udah keluar, ya ttup lagi sayang pintunya, jangan ditinggal gitu aja. Oke? Got it? Love you," ujar Radith yang langsung keluar tanpa menunggu Lira menjawab karna dia tidak mau mereka bertengkar.


"Ah, kalian udah siap. Eum, Lira lagi ganti baju, baru selesai dia, terus Sean, gak tahu, kayaknya sama Rania kan ya? Eum, gue juga mau ganti baju dulu ya, gak enak banget ke pantai pakai kemeja hitam panjang sama celana jeans panjang tebal begini," ujar Radith panjang lebar dan langsung melambaikan tangannya sekali dan masuk ke dalam kamar Sean untuk berganti pakaian.

__ADS_1


"Kamu ngerasa Radith sama Lira aneh gak sih sayang? Kok kayak mereka takut banget gitu loh ketemu sama aku? Padahal aku biasa aja sama mereka, udah bertahun tahun juga gak ketemu, Lira juga dia udah baik banget jadi penerjemah aku, temen aku selama di sana, jadi yah aku gak menganggap mereka aneh atau apa," ujar Luna bingung saat Radith tampak sekali berusaha mengabaikannya.


"Urusan keluarga mereka, bukan urusan kita Luna. Kamu cari anak anak aja deh sana, jangan sampai mereka keluar dari rumah tanpa kita, kita harus pastikan kondisi mereka aman," ujar Darrel yang diangguki oleh Luna. Wanita itu pergi ke halaman untuk mencari 3 anaknya, yang kemungkinan akan menjadi 4 karna Sean tidak pernah mau lepas dari Rania yang masih berusia 7 tahun.


"Ah, Lira, wow, kamu cantik banget loh pakai itu, cocok banget buat kamu dan warna kulit kamu," puji Darrel saat Luna sudah keluar dari rumah untuk mencari anak anak dan Radith belum kembali dari kamar Sean untuk berganti baju. Darrel mengatakannya dengan spontan, sehingga dia juga telat menyadari sudah seperti menggoda istri temannya sendiri.


"Maaf, maaf, maksud aku, eum, itu cuma pujian, gak ada maksud lain. Maaf, beneran, I am so sorry," ujar Darrel yang merasa tak enak, namun Lira hanya mengangguk saja, dia tidak merasa ini masalah yang besar dan dia hanya perlu berterima kasih jika dipuji seperti itu, Lira juga senang bajunya saat ini cocok untuk suasana pantai.


Lira memakai baju renang berbentuk Bra berwarna merah yang bagus, dia memakai outer untuk menutupinya sekaligus membuat dirinya lebih motis, namun Darrel masih bisa melihat pakaian itu di balik outer yang dimekanan oleh Lira. Sebenarnya Lira merasa takut karna Darrel memiliki tingkat observasi yang tinggi, sehingga membuatnya sadar akan hal yang ada di sekitarnya dengan cepat dan mudah.


Radith keluar dari kamar memakai kemeja tipis bermotif bunga dan celana pendek serta sandal jepit yang harganya bisa mencapai ratusan ribu. Dia melihat Lira dan langsung membuka mulutnya. Sementara Darrel yang tak mau Radith salah paham segera meminta maaf dan pamit untik mencari Luna agar Radith dan Lira bisa berbicara lebih leluasa.


"Kamu nyaman pakai baju itu? Kamu gak akan kepanasan atau apa? Ini panas banget loh, dan kamu kalau pakai yang begini, nanti pasti kamu menggelap dan bahkan kulitmu bisa terbakar, kenapa pakai baju seperti ini?" Tanya Radith sama sekali tidak marah, namun memang merasa khawatir tentang Lira.


Mereka melakukan perjalanan dengan gembira. Lira dan Radith memakai lamborghini sementara Luna dan Darrel bersama dengan 4 anak di sana memakai mobil sport keluarga yang mewah. Mereka menikmati perjalanan yang cukup singkat itu dengan kemewahan. Mereka sampai di pantai dan memarkirkannya, tak lupa dengan dua lengawal bersenjata yang menjaga mobil itu agar tidak dicuri.


"Wow, pantai, aku udah lama banget gak ke pantai dengan tujuan benar benar berlibur sama keluarga besar begini, astaga, cantik banget walau masih cantik istriku," ujar Radith yang kembali menggandeng Lira untuk duduk di tepi pantai sambil meminum air kelapa, sementara Sean dan ketiga anak lain itu bermain pasir dan berlarian.


Meski sedang menatap Lira, mata Radith tak lepas dari Sean dan ketiga anak Luna agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada mereka, apalagi kondisi pantai cukup ramai, dia tidak bisa mengambil resiko anak mereka diculik atau disakiti oleh orang lain yang tidak mereka kenal, namun mengenal mereka, yah, ini sebabnya keluarga mereka tidak pernah merasa liburan dengan aman dan nyaman.


"Hei, gak papa, di sini banyak pengawal, ada yang kelihatan, ada yang enggak. Mereka aman, kamu gak perlu tegang begitu, relaks aja, kita kan lagi berlibur, lepasin beban kamu, rileks," ujar Lira yang diangguki oleh Radith, lelaki itu mencium singkat bibir Lira sebagai ucapan terima kasih sudah menenangkannya, dia menyeruput lagi air kelapa muda yang sungguh lezat dan segar di tengah cuaca panas ini.


"Lira, Lo mau antar gue ke kamar mandi gak? Ak Darrel lagi main sama Ravi Rashi, dan gak mungkin gue ajak Radith buat temenin Gue, temenin ya Ra?" Ajak Luna yang tiba tiba saja sudah ada di depan mereka. Tentu Lira tidak menolak dan langsung berdiri bersama Luna untuk mencari toilet dan membuang air kotor dalam tubuhnya.

__ADS_1


Radith merogoh ke arah kantongnya dan melihat benda yang sengaja dia bawa. Dia sudah menunggu cukup lama untuk hal ini, bahkan dia harus menundanya karna Lira dan karna pekerjaannya. Kini dia akan segera mengutarakan niatnya dan memberi kejelasan untuk Lira dan terutama Sean, lelaki itu buru buru memasukkannya lagi setelah melihat Lira kembali.


Mereka bermain air cukup lama, Radith dan Darrel juga berenang cukup ke tengah sampai hampir menyentuh batas aman, lalu kembali lagi. Luna dan Lira juga menemani anak anak bermain pasir dan air, tak lupa tradisi di pantai, yaitu mengubur orang sampai batas leher dan memfotonya.


Tak terasa hari sudah petang, mereka kembali ke pantai dan melihat sunset. Sean menutup matanya dan membuat permohonan, sesuatu yang biasa dia lakukan saat mereka hidup di Ausie atau di Bali, setelah memohon, dia kembali membuka matanya untuk melihat matahari yang tenggelam di laut.


"Lira, aku udah berkali kali tanya hal ini ke kamu dan yah, kamu pernah setuju, tapi karna setelah itu banyak yang terjadi, kita harus menunda sampai selama ini. Aku udah gak bisa tunggu lagi dan aku pikir ini saat yang tepat. Aku udah siapin semua buat kamu, jadi, maukah kamu jadi istriku?" Tanya Radith tiba tiba sambil mengeluarkan cincinnya di depan Lira.


"Tapi Dith, aku udah punya satu di kalung ini, kamu mau kasih aku lagi?" Tanya Lira bingung, dan Radith juga menganggukkan kepalanya, menjawab kebingungan itu dengan yakin. Yah paling tidak anggap saja ini hadiah yang Radith berikan untuk Lira.


"Ya, aku mau jadi istri kamu, kita udah pernah bahas ini san jawaban aku tetap sama, aku mau jadi istri kamu. Kita bisa mempersiapkan pernikahan pelan pelan, sambil menguatkan hati dan keyakinan kalau kita benar benar mau menikah, karna aku gak mau bercerai," ujar Lira yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu memasang cincin ke jari manis Lira.


"Untuk semua persiapan. Kamu tenang aja, udah siap 90%, termasuk untuk resepsinya. Kita tinggal perlu cetak undangan aja, mau tanggal berapa kamu?" Tanya Radith dengan lembut seolah tidak ada orang lain lagi di tempat ini. Namun untung saja Darrel dan Luna mengerti, memberi ruang mereka untuk bicara dan mereka dukung sebagai saudara.


"Eum, aku suka angka 10, jadi tanggal 20 aja," celetuk Lira yang membuat Radith mengerutkan keningnya bingung.


"Kan tanggal 20, bulan 10 tahun 2020, itu bakal bagus. Kecuali ada bulan 20, bakal lebih bagus lagi," celetuk Lira yang kembali membuat Radith gemas. Semakin hari dia semakin mencintai Lira.


"Aku senang perlahan semua masalahnya selesai. Aku juga udah dapat satu investor, walau itu cuma kecil, tapi bisa bantu usaha kita buat lebih berkembang dulu," ujar Radith yang kini diangguki oleh Lira. Mereka terdiam cukup lama setelah perbincangan singkat itu.


"Aku masih ngerasa gak sebegitu leganya akhirnya bisa menikah sama kamu. Tetap ada rasa aneh, curiga dan feeling gak enak. Tapi semua pasti cuma karna aku terlalu takut, jadi aku akan abaikan itu, asal kita semua bakal bahahia," ujar Lira yang diangguki oleh Radith kali ini.


"Ya, kali ini aku gak akan mengecewakan kamu. Aku udah pesan semuaaaa, jadi kamu gak perlu mikir apa apa lagi dan yah, buat aja daftar siapa yang mau diundang, kan enak," ujar Radith yang diangguki oleh Lira.

__ADS_1


__ADS_2