Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 35


__ADS_3

"Kita gak ada petunjuk apapun Sean kemana. Gue telat datang, maafin Gue. Tapi Gue pastikan Sean gak akan kenapa – napa," ujar Radith sambil mengendarai mobilnya. Radio dalam mobilnya terus berbunyi dimana orang – orangnya juga terus mencari dan saling berkomunikasi. Mereka diminta berpencar dan bahkan Radith mengirim orang lagi dari Indonesia hanya untuk mencari Sean.


"Darimana Lo yakin kalau anak Gue gak kenapa napa? Lo bahkan gak tahu dia dimana dan sama siapa," ujar Lira dengan lemas, dia belum sepenuhnya pulih, namun sebagai seorang Ibu, mengetahui anaknya tidak baik – baik saja membuatnya memiliki tenaga yang entah datang darimana. Radith yang melihat Lira sebenarnya tak tega, namun dia tak akan bisa membujuk wanita itu.


"Gue yakin kalau Sean gak akan diapa – apain sampai Gue datang sendiri. Dia itu Cuma umpan, yang mereka mau ya Gue," ujar Radith dengan santai, namun kenyataan itu membuat Lira makin kesal dengan lelaki yang ada di sebelahnya ini.


"Lo tahu? Lima tahun Gue hidup di sini sama keluarga kecil Gue tanpa gangguan dan sangat tenang. Lo datang dua hari ke rumah Gue, semua langsung kacau. Kenapa sih Lo gak menyerah dan biarin Gue hidup tenang? Hidup Lo terlalu berbahaya tau gak, dan juga membahayakan sekitar Lo," ujar Lira yang sudah emosi.


"Iya, itu salah Gue. Gue gak nyangka kalau di negara ini pun ada yang benci sama Gue. Lo pikir lima tahun Gue diam Cuma karna Lo? Gue mau memantaskan diri Ra, dan Gue gak mau ada orang yang tahu keberadaan Lo dan Lo jadi bahaya, Gue kira selama lima tahun semua berjalan lancar dan mereka udah bosan sendiri, ternyata enggak."


"Lima tahun bikin Lo banyak omong ya? Gue pingin pnasaran, tapi Gue masih kesal. Satu lagi, kalau sampai terjadi apa – apa sama Sean, Gue bakal bunuh Lo pakai tangan Gue sendiri," ujar Lira yang tak membuat Radith takut.


"Gue lebih baik mati di tangan Lo daripada Gue ahrus lihat Lo sama orang lain. Setidaknya Lo bakal terus ingat Gue selama hidup dan Gue gak harus lihat Lo hidup sama orang selain Gue." Jawaban tak terduga itu membuat Lira terdiam. Wanita itu tak menyangka jawaban itu keluar dari mulut Radith.


"Udah kayak psikopat belum? Gue habis nonton dramanya Kim Soo Hyun yang sama cewek psiko, cocok kan Gue?" tanya Radith dengan wajah sumringah dan terkekeh di akhir kalimat. Dia tak ingin melihat wajah Lira yang tegang dan takut padanya, dia akan mencairkan suasana dan kebetulan dia ingat tentang drama ini.

__ADS_1


"Gak usah nonton yang kayak gitu juga Lo udah gila. Udah, gak usah ajak omong Gue dulu, mending fokus cari Sean," ujar Lira yang diangguki oleh Radith. Namun lelaki itu akhirnya menepikan mobilnya, dia merasa akan membutuhkan waktu satu tahun jika mereka mencari dengan cara seperti ini, itu pun jika orang yang menculik Sean sabar menunggu.


"Gue mau telpon asisten Gue dulu, siapa yang Gue tolak proyeknya belakangan ini. Pasti di antara merekalah yang cuik Sean. Lo gak ada sesautu yang bisa jadi petunjuk gitu? Kita gak mungkin kabarin polisi, pasti Sean bakal berada dalam bahaya," ujar Radith yang membuat Lira terdiam.


"Astaga! Bod0h! Ayo kita balik ke rumah. Gue butuh ponsel Gue," ujar Lira yang membuat Radith mengangkat alisnya.


"Kalung Sean, kalung Sean ada GPSnya. Kalau mereka gak lepas kalung itu, kita bisa tahu Sean dimana. Gue terinspirasi dari Lo yang kasih kalung ke Luna waktu dulu," ujar Lira yang membuat Radith memutar bola matanya. Kenapa Lira suka mengungkit Luna di depan Radith?


Tanpa banyak bicara, Radith langsung melajukan mobilnya kembali ke rumah Lira. Mendengar nama Luna, entah mengapa Radith merasa hatinya yang mulai hangat kembali dingin, dia masih tak bisa jika harus mengingat semua tentang Luna meski dia sudah mencintai Lira.


"Daniel, Stop! Sean dalam bahaya dan kita butuh lelaki ini untuk menemukan Sean, jangan seperti anak kecil, jika bukan karna Radith, kita semua mungkin sudah mati kedinginan di rumah," ujar Lira yang membuat Daniel mundur sambil memegangi pipinya yang bengkak, meski Radith masih emosi, dia berusaha menahan tangannya agar pertengkaran ini tak berlarut.


"Nih, ini dimana? Gue gak tahu," ujar Lira yang menunjukkan ponselnya ke Radith. Lelaki itu tampak membolak balik ponsel Lira, lalu menampilkan wajah terkejut. Dia tak manyangka dalam waktu singkat, mereka sudah sampai ke negara Lain. Radith yakin negara ini bukan tujuan utama mereka.


"Sebenarnya Sean itu diculik jam berapa? Gimana ceritanya mereka udah sampai sini?" tanya Radith yang membuat Lira terbingung. Ponsel Lira langsung direbut oleh Daniel, lelaki itu juga terkejut anak mereka sudah ada di daerah Samudra Pasific. Akan lama jika mereka mengejar.

__ADS_1


"Gak lama setelah Lo pergi, ada orang – orang datang, awalnya Gue Cuma diikat, dan akhirnya Gue dibawa ke bathtube dan bathtube itu sengaja di isi airnya pelan – pelan. Gue gak sadar setelah itu, dan Lo selametin Gue. Kita masih bisa kejar Sean kan Dith? Gue mohon, Gue bakal jadi asisten Lo seumur hidup asal Lo bisa selametin anak Gue."


"Deal, Lo bakal jadi milik Gue seumur hidup Lo. Kita berangkat sekarang, kemungkinan dia bakal transit di Santiago. Kita harus pakai penerbangan yang langsung ke sana. Walau kita gak bisa gejar, selama gpsny aktif, pasti kita bisa ketemu sama Sean."


Lira menganggukan kepalanya dan langsung masuk lagi ke mobil. Daniel hendak masuk ke dalam mobil juga, namun Radith memberi kode pada orangnya yang ada di sana agar lelaki ini tak bisa ikut dengan mereka, tentu saja Daniel merasa tak terima, bagaimanapun Lira dan Sean juga tanggung jawabnya dan dia harus ikut untuk menemukan anaknya.


"Lo di rumah aja. Jaga tanaman jangan lupa disiram, kalau ada tukang sayur lewat biarin aja, gak usah Lo isengin. Kalau butuh makan, nanti orang Gue yang kasih Lo makan, oke? Bye!" ujar Radith yang langsung menutup jendela mobil dan melaju dari sana menuju bandara. Dia tidak bisa memakai pesawat pribadi karna dia hanya punya pesawat kecil, dan tak mungkin dia pakai itu untuk perjalanan jauh.


Lira tampak gemetar dan cemas, wajah ynag sudah lama sekali tak dilihat oleh Radith. Wanita itu pasti sangat menyayangi anaknya dan tak ingin anak satu satunya menjadi terluka.


"Lo tahu kan Gue gak pernah ingkar janji? Gue janji, Sean pasti selamat, apapun taruhannya," ujar Radith dengan tegas dan dingin, namun apa yang dikatakan Radith membuat Lira merasa hangat. Dia sedikit tenang dan menganggukkan kepalanya.


Radith memegang tangan Lira dengan hangat, meski pandangannya tetap tertuju pada jalanan karna dia melaju dengan kecepatan yang cukup kencang.


"Yang penting Lo selalu ingat Ra, kalau Lo itu punya Gue, sampai kapanpun," ujar Radith dengan suara rendah yang menegaskan dia tidak main -main dengan ucapannya ini.

__ADS_1


__ADS_2