
Radith dan Nesya masuk ke salah satu warung makan yang ada di sana. Nesya memesan salah satu menu yang ada di sana. Radith pun memesan menu yang sama. Mereka menunggu pesanan dalam hening. Nesya memainkan kuku jarinya dengan gemas karena bosan, Radith yang melih ta itu bahkan menjadi risih dan mengambil tangan Nesya agar dia tidak memainkannya lagi.
“Kalau lo mainan kuku gitu, nanti bisa jadi daging tumbuh. Emang lo mau tuh kuku lo tumbuhnya nusuk ke jari? Gak mau kan?” tanya Radith dengan galak yang membuat Nesya mengerjapkan matanya pelan-pelan. Lalu setelah kembali ke kesadarannya, dia langsung menunduk lesu karena jenuh tidak ada obrolan dan makanan masih disiapkan sehingga tidak ada kegiatan.
“Lo bosan? Kenapa gak main ponsel aja sih?” tanya Radith yang sudah mengeluarkan ponselnya untuk bermain gim. Nesya kembali menghela napasnya dan memangku dagunya dengan kedua tangan. Radith semakin penasaran dengan wanita itu, kenapa dia tampak tidak semangat padahal dia sudah tinggal di luar negeri.
“Gue gak boleh mainan ponsel kalau gak ada suami gue. Jadi gue cuma main ponsel kalau di rumah aja. Yah, gue gak bawa ponsel nih, cuma bawa 1 debit card punya suami juga,” ujar Nesya mengeluarkan kartu dari kantong bajunya. Radith tentu merasa kasihan karena Nesya tampak sangat tertekan. Apakah Roy memang sengaja melakukan hal ini? Membuat Nesya menurut dengan apa yang dia katakan?
“lo mau mainan ponsel gue? Ada banyak gim disitu,” lirih Radith mengulurkan ponselnya. Untung saja dia membawa ponsel khusus untuk bermain dan melepas penatnya, sehingga dia biasa saja saat menawarkannya pada Nesya. Wanita itu berbinar menatap ponsel Radith dan tentu saja mengangguk. Dia mengambil ponsel Radith dan mulai memainkannya. Entah kenapa tingkah Nesya ini mirip seperti Lunetta yang dulu.
“Lo mirip banget sama Luna pas jaman SMK, udah manja, kalau dituruti kayak anak kecil jadi anteng begini, comel banget,” ujar Radith tanpa sadar mengusap kepala Nesya dan membuat rambut wanita itu berantakan karena dia gemas dengan wanita itu. Nesya mematung mendapat perlakuan itu, Radith yang langsung menyadari perbuatannya pun menjadi gugup, dia menarik tangannya dan mencoba untuk bertindak seperti biasa.
Untung saja setelah itu makanan yang mereka pesan sudah tiba. Radith dan Nesya kembali hening dan fokus pada makanan mereka. Radith memperhatikan kalung yang dipakai oleh wanita itu, entah kenapa dia melihat Nesya seperti sebuah peliharaan yang dipasangi kalung agar tidak hilang, muncul rasa Iba dari dalam diri Radith, meski dia bahkan tak tahu pasti apa yang dirasakan oleh Nesya.
“Kalung lo bagus, tapi kok mirip kalung buat peliharaan gitu, hahaha, maaf loh gue harus jujur, walau modelnya mewah,” ujar Radith yang akhirnya tak tahan untuk mengungkapkan hal itu. Nesya terkekeh dan membenarkan apa yang Radith katakan, dia menyentuh kalungnya dan memencet sebuah tombol yang ada di sana, kalungnya langsung mengeluarkan suara aneh yang membuat Radith melotot tidak menyangka dengan apa yang dia lihat dan dengar.
“Kaya suara anjing kan? Hahahah, suami gue ekstrim kalau lagi main sama gue, apalagi dia suka macam macam gaya binatang, jadi ya dia beliin kalung ini buat gue, kalau lagi gaya anjing, dia bakal pencet kalung ini biar keluar suara anjing. Keren kan?” tanya Nesya dengan bangga, padahal Radith merasa hal itu tidak bagus sama sekali. Siapa yang tega menjadikan istrinya seperti hewan peliharaan? Apakah lelaki itu sungguh mencintai Nesya?
“Lagian kalung ini juga ada GPSnya, jadi Suami gue bisa tahu gue ada dimana aja, jadi ya gue gak boleh ngelepas kalung ini. Kalau kalung ini gak dekat sama kulit leher gue, dia bakal meledak, kecuali suami gue yang lepasin, dia dan kontrolernya. Begitulah,” ujar Nesya tanpa beban sama sekali. Dia menyuap makanan dengan lahap, berbeda dengan Radith yang masih merasa ngeri dengan apa yang dia lihat ini.
“sebegitunya Roy sama Lo? Dia itu maaf banget ya, pas jaman sekolah sih menurut gue agak gimana gitu. Lo cantik, baik dan bahkan lo dari keluarga Wilkinson yang kaya raya, kenapa lo malah mau jadi istri orang yang bahkan memperlakukan lo kayak hewan peliharaan gini? Lo gak bebas, bahkan gue lihat lo tertekan karena gak bisa ini itu sesuka hati lo,” ujar Radith yang membuat Nesya terkekeh.
“Seperti halnya tuan Wilkinson yang gak sebaik itu, dia bukan malaikat kan? Ada brengseknya juga kan? Roy juga. Walau dia ekstrim dan sering banget nyeleneh, dia bisa nunjukin kalau dia jagain gue dari semua hal jahat. Menurut dia, keluar di siang hari, orang-orang di sekitar sini pasti ada aja yang akan mencelakai gue, jadi gue hanya boleh keluar rumah di malam hari.”
__ADS_1
“Begitu juga sama kalung ini. Mungkin lo anggap ini aneh dan gak normal, tapi kan dia belikan yang modis banget, selain itu, dia gak mau gue celaka atau hilang, jadi dengan pakai ini, dia bisa tahu dimana gue dan ya semua pasti ada plus minusnya lah. Lagian ya, lo bilang apa? Gue anak dari keluarga Wilkinson? Hahaha anak dia mah cuma bang Jordan sama Lunetta aja,” ujar Nesya dengan nada kesal.
“Gue tahu lo marah atau merasa gak adil, yah gue juga merasakan bokap lo itu brengsek, hahaha, gue gak akan menyangkal itu. Gue juga kalau gak kepepet waktu itu gue butuh uang, gue gak akan sih kerja sama tuan Wilkinson, sampai hidup gue campur aduk kan karna bokap lo juga,” ujar Radith sambil menyantap suapan terakhir di piringnya dan menata sendoknya agar rapi.
“Lo benci sama dia tapi Lo masih harus kerja sama dia? Wow, lo itu kayak meludah di beras yang lo makan sehari-hari,” ujar Nesya yang menyengir untuk menyindir Radith. Benar saja, lelaki itu tersedak saat minum air, Nesya malah tersenyum melihat hal itu.
“Kayak sekarang, lo ada di sini buat dia kan? Gue gak tahu apa yang lo lakukan buat dia, tapi pasti lo ke sini, tanpa istri dan anak, itu berarti lo lagi kerja sama dia, apa gue salah?” tanya Nesya yang tentu membuat Radith gelisah, namun dia tidak mau terlalu mencolok, dia malah tertawa dan mengusap keringat di lehernya.
“Iyalah, mau gimana juga perusahaan gue di bawah Wilkinson, ya apapun yang gue lakukan, gue lagi menghasilkan uang buat dia,” ujar Radith yang mencoba untuk biasa saja, dia berharap Nesya tidak curiga atau menanyakan hal yang serupa, dia tidak ingin rahasianya terbongkar begitu cepat.
“Oh iya? Cuma karena masalah uang? Gue kira lo ke sini karena mau bawa gue balik ke Indonesia, atau menangkap suami gue karena suatu hal, kan jadi seru banget tuh, lo nyusulin gue ke sini buat nangkap dan bawa gue pulang secara paksa,” ujar Nesya yang tentu membuat Radith kembali mematung, dia tidak biasa ada dalam situasi seperti sekarang.
“Emang lo melakukan apa sampai gue harus nangkap dan bawa lo pulang ke Indonesia?” tanya Radith yang terus memutar otak agar dia tidak terjebak oleh Nesya, sebaliknya, dia ingin bisa menjebak Nesya agar dia mengaku dan malah mau bekerja sama dengannya, itu akan jadi jauh lebih baik.
Belum sempat Radith menjawab, Roy masuk dengan kasar dan langsung berjalan ke arah Nesya. Radith bisa melihat tangan Nesya bergetar melihat Roy yang berjalan dengan marah ke arahnya. Radith hendak berdiri dan mencegah Roy melakukan kerusuhan, namun lelaki itu ternyata hanya menghampiri Nesya tanpa mengatakan apapun.
Nesya pun langsung mengerti dan berdiri di sebelah Roy, barulah lelaki itu melihat ke arah Radith, dia menatap Radith dengan dingin, namun setelah melihat Nesya menggandeng tangannya, dia tidak jadi mengajak Radith untuk berkelahi di sini.
“Kamu akan membayar malam ini sayang, ayo kita pulang. Lo punya duit buat bayar makanannya kan?” tanya Roy pada Radith, Radith mengangguk kaku dan Roy langsung meminta Radith membayar makanan sedangkan dia langsung melenggang pergi bersama Nesya. Radith masih mematung dan mengerjapkan matanya berkali-kali, entah kenapa dia merasa Roy sangat menyeramkan.
“Apa mungkin gue merasa deg deg an karena gue tahu dia bandar narkoba? Gue merasa dia itu sangat berbahaya dan bisa aja banyak pengikutnya yang bisa bunuh gue kapan aja,” lirih Radith karena dia tidak mau ada yang tahu apa yang dia katakan. Dia segera bangkit dan membayar makanannya dan makanan Nesya.
Dia berjalan untuk pulang ke hotelnya, namun saat beberapa langkah keluar dari restoran itu, dia dihadang oleh beberapa orang yang membuatnya sedikit panik karena dia tidak membawa senjata apapun dan bahkan dia tidak memberitahu anak buahnya untuk mengikutinya, jadi dia benar-benar sendiri saat ini.
__ADS_1
“Berikan nomor teleponmu. Jika kau tidak melakukannya, kami akan membunuhmu di sini saat ini juga,” ujar salah seorang yang paling sangar. Radith langsung tahu jika mereka adalah anak buah Roy. Radith tidak mengatakan apapun, dia memberikan nomor ponselnya dan mereka mencoba menelpon dan ponsel Radith menyala, tanda nomor yang dia berikan sudah benar.
Mereka tidak mengatakan apapun dan langsung pergi begitu saja. Mereka tidak menyentuh dan menyakiti Radith sama sekali, namun entah kenapa dia langsung lemas dan tulangnya seperti rontok begitu saja. Dia duduk di dudukan yang ada di sana dan mengatur jantungnya agar berdetak normal. Setelah dia merasa tenang dia segera pulang ke hotelnya.
“Tuan, Tuan darimana? Kami tidak berani untuk mencari ke semua tempat karena pesan tuan. Apakah terjadi sesuatu tuan?” tanya Angga yang dijawab anggukan kepala oleh Radith, dia juga tidak menyangka akan seperti ini kejadiannya, dia harus mulai tidur sendiri agar Angga dan Beni tidak ketahuan ataupun menjadi celaka.
“Mulai besok kalian akan tinggal di kamar yang berbeda, hari ini aku bertemu dengan Roy dan dia meminta anak buahnya untuk menghadangku. Mereka sudah mendapatkan nomorku, aku tidak bisa menyeret kalian dalam masalah ini, setidaknya jika aku mati, kalian masih bisa kembali dan hidup dengan layak.”
“Tuan, ini bukan pertama kali kami nyaris mati bersama tuan, jadi kami sudah terbiasa. Jika tuan meminta kami untuk pergi, kami tidak akan mau, kami juga akan memastikan tidak akan ada yang mati di sini dan kita semua bisa pulang ke Indonesia,” ujar Beni yang diangguki oleh Angga. Mereka tersenyum satu sama lain dan memutuskan untuk beristirahat untuk memikirkan cara lain.
Saat Radith hendak mematikan lampu, dia melihat ponselnya bergetar, dia mengambil ponsel itu dan melihat sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Dadanya langsung berdebar cukup keras, dia membaca kembali kata demi kata yang ada di sana.
“Kenapa dia minta gue buat datang ke rumahnya? Apa dia mau bantai gue atau dia sudah tahu tujuan gue pergi ke sini?” tanya Radith pada dirinya sendiri. Dia kini tidur sendiri, sedangkan A dan B tidur di kamar lain agar orang lain tidak curiga, saat ini dia tidak bisa mendiskusikan dengan mereka, jadi dia tidak tahu harus berbuat apa.
“Gue harus ke sana. Mungkin ini kesempatan gue buat lebih masuk ke kehidupan mereka? Mungkin ini jalan yang paling bisa gue lakukan agar gak ada yang terluka. Tapi kalau gue yang dibantai gimana? Mana anak gue masih bayi,” ujar Radith yang masih bingung dengan pilihan keputusannya.
“Gak tahu deh, masalah esok biarlah jadi milik esok hari. Sekarang lo harus tidur biar tetep ganteng,” ujar Radith yang melempar ponselnya ke kasur tanpa menjawab pesan itu. Dia memejamkan matanya, namun otaknya tetap memikirkan pesan yang dia dapat, lelaki itu membuka matanya lagi.
“Kalau dia mau bunuh gue, gak mungkin dia repot repot ngundang gue ke rumahnya, dia bakal ngundang gue ke tempat lain, terus diculik, terus dibunuh. Dia gak akan seceroboh itu kan?” tanya Radith pada dirinya sendiri. Dia tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini, hatinya penuh dengan kegugupan dan ketakutan.
“Gue bawa senjata gak ya? Kalau ternyata dia berniat buat bunuh gue, gue harus melawan kan? Tapi kalau ternyata dia cuma ngundang gue, senjata itu malah bakal bikin dia curiga. Ck, kenapa sih gue harus terlibat sama masalah keluarga orang? Susah amat hidup damai sebagai orang biasa,” keluh Radith yang tidak ada niat untuk tidur lagi.
Lelaki itu memikirkan apa yang akan terjadi esok hari, sampai tanpa sadar dia akhirnya tertidur karena lelah, setidaknya otaknya bisa beristirahat sebentar dan besok pagi dia memiliki tenaga yang cukup untuk memikirkan hal itu lagi.
__ADS_1
Entah apa yang akan terjadi esok hari, Radith tidak ingin malam segera berlalu, biarkan waktu berhenti sampai malam ini saja.