
“Berarti Zia harus tinggal di sini ya Dith? Bagus deh Sean jadi punya teman,” ujar Lira saat tidur di sebelah Radith. Lelaki itu masih merasa bersalah karna kejadian ini, namun reaksi Lira jauh lebih baik dari yang ada di pikirannya. Istrinya malah sangat santai dan bisa menerima dengan mudah, padahal Lira tidak bisa terguncang sedikit saja.
“Mungkin lebih dari itu Ra, aku gak sampai hati bilangnya ke kamu,” ujar Radith lemas. Lira menghela napasnya dan memeluk Radith dari samping, lelaki itu merangkulkan tangannya ke tubuh Lira yang terasa mungil, padahal Lira bukan tipe wanita yang kecil, mungkin Radith sudah melebar dari sebelumnya karna bahagia, yah mungkin sebentar lagi dia akan banyak kehilangan berat badan karna stres.
“Ah, ceweknya juga ikut ke rumah ini? Hmmm, punya 2 istri dong kamu,” ujar Lira yang malah membuat itu menjadi gurauan. Radith tidak mengerti kenapa Lira bisa sesantai itu menanggapi hal seserius ini. Hal ini justru malah membuat Radith menjadi tak nyaman, dia merasa ada yang aneh dengan wanita itu. Bagaimana jika Lira memendam sesuatu dan malah jadi meledak suatu hati nanti?
“Aku Cuma punya satu istri dan akan selalu satu istri. Udah deh ya kita mending tidur aja, dipikir besok lagi aja ya, asli, aku udah pusing banget udah capek banget otak dan badannya,” ujar Radith yang membuat Lira terkekeh. Wanita itu memberikan ciuman singkat di pipi Radith, lalu menyenderkan kepalanya di dada bidang Radith untuk tidur.
Radith tersenyum hangat mendapat ciuman itu. Dia mencium kepala Lira, dahinya lalu kedua matanya bergantian. Dia juga mencium kedua pipi Lira bergantian, lalu ke hidung ke dagu, ke bibir. Tak berhenti di sana, Radith juga mencium kedua telinga Lira bergantian, lalu ke leher wanita itu dan terakhir ke tangannya. Radith menyadari dia sangat mencintai Lira, setiap inchi tubuh wanita itu membuat Radith terpesona.
“Terima kasih, setidaknya sejenak aku bisa lupa sama semua masalah yang hadir. Aku bisa merasakan cinta yang luar biasa ke dan dari kamu. Aku bersukyur ketemu kamu dalam hidupku yang hancur, kamu kayak penawar racun di hidupku. Terima kasih udah stay dan tetap sayang sama aku yang terlalu B4ngs4t jadi pria. I love you.”
“Tuhan selalu menciptakan sesuatu untuk saling melengkapi Dith. Ada terang dan ada gelap, ada suka dan ada duka, setiap masalah ada solusinya, setiap luka ada penyembuhnya, setiap racun ada penawarnya. Aku bahagia kalau memang kamu adalah potongan Puzzle yang melengkapi hidupku. Jadi aku gak akan jatuh lagi dengan masalah yang kecil kayak gini, aku sayang kamu Dith,” lirih Lira tanpa membuka matanya.
Akhirnya Radith bisa tidur dengan nyenyak dengan memeluk Lira. Sesuatu yang sudah lama ingin dia lakukan namun tidak pernah bisa. Meski kini saat dia bisa melakukannya dia malah sedang dalam keadaan yang tidak baik, namun sekali lagi, dia harus mensyukuri semua yang terjadi. Mungkin ini hikmah positif yang dia dapat, mereka makin bisa saling menyayangi dan menguatkan dalam masalah ini.
Pagi menyapa. Rumah Radith sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Lira sibuk di dapur untuk menyiapkan makanan sedangkan Radith ada di kamarnya untuk bersiap ke tempat kerja sekaligus mampir ke rumah Grace dan membahas masalah yang belum selesai. Radith memakai dasinya dengan tangan yang masih memegang telpon. Dia dihubungi oleh Hafiz yang khawatir dengan Lira karna mereka tidak pernah update kondisi Lira sejak mereka berpisah dari Lombok saat itu.
“Yoi, ini gue lagi di rumah, Lira belum bersikap aneh kok, dia juga masih minum obatnya. Yah, walau sebenarnya Gue juga udah bingung karna dia terlalu biasa dan bahagia gitu. Aduh sorry, gue gak bisa bilang masalahnya apa, yang jelas ini tuh masalah yang sangat besar, tapi Lira malah santai aja, ketawa tawa dan malah dia anggap ini Cuma bercandaan gitu, Gue bingung lah jadinya.”
“YA ITU JUGA SALAH SATU EMOSI DIA YANG GAK STABIL BAMBAAANNGGG.” Pekik Adlan yang membuat Radith langsung menjauhkan ponselnya dan merasakan telinganya yang berdengung. Dia ingin mengumpat, namun sadar jika Hafiz sudah banyak menolongnya, dia menahan dirinya dan menunggu Hafiz melanjutkan perkataannya. Dia tidak tahu apa yang salah dengan itu.
“Bipolar itu gak selalu dia sedih terus. Kadang, dia bakal ketawa ngakak terus tiba tiba sedih, pokoknya mood dia bakal berubah dengan drastis dan kadang itu di luar kendalinya dia, dia gak sadar gitu. Nah kalau tadi malam mood dia lagi baik, ya Lo harusnya bersyukur sih, tapi nanti kalau tiba-tiba dia marah, ngamuk atau sedih gitu, Lo harus maklum aja terud dihibur. Pokoknya jangan sampai dia di rumah sendiri, bahaya,” ujar Hafiz yang membuat Radith kembali khawatir.
__ADS_1
“Kalau di rumah Gue tuh gak akan sendiri. Tapi, kalau di kamar, ya pasti dia sendiri dan pengawal gak akan masuk ke rumah apalagi ke kamar kalau gak ada hal yang mendesak, ya kalik Gue gak berangkat kerja biar dia gak sendirian di rumah,” ujar Radith dengan lesu. Hafiz menyarankan untuk dia membawa Lira dan Sean berangkat kerja karna dia tahu pasti Radith punya ruangan private di sana.
“Benar juga, oke deh, nanti Gue bawa mereka aja ke tempat kerja,” ujar Radith yang menutup panggilan dan ingin sarapan dengan Lira sekaligus mengajak Lira untuk ikut kerja dengannya. Wanita itu bisa stay di ruangan Radith yang terdapat televisi dan video game untuk membunuh kebosanan Lira dan Sean. Sementara waktu, mungkin ini jalan terbaik yang bisa dia lakukan untuk melindungi Lira dan Sean.
***
Radith masuk ke sisi kemudi dan Lira masuk ke sebelahnya. Sean membawa semua bukunya dan masuk ke pintu tengah, dia membuka Ipad miliknya dan membuka aplikasi pemutar Video untuk menonton tontonan anak-anak luar negeri karna menggunakan bahasa Inggris. Sean terlalu nyaman berbahasa Inggris sehingga dia lebih suka menonton video berbahasa Inggris dibanding Indonesia.
“Sean, don’t watch the video too close, You will hurt your eyes,” tegur Radith karna Sean terlalu dekat melihat ke Ipadnya. Lira melihat ke arah Sean dan menarik Ipadnya untuk sedikit menjauh, Sean mengerti dan langsung melakukan yang Radith minta. Lira menaikkan alisnya untuk menggoda Radith, seolah mengatakan dia jauh lebih baik dari Radith yang hanya menggunakan kata-kata.
“Yah, kamu Ibunya dan kamu hidup bersamanya lebih lama. Tunggu aja dua tahun lagi, dia bakal lebih nurut sama aku, aku akan menjadi ayah yang tegas padanya,” keukeuh Radith yang membuat Lira tertawa. Dia tidak ingin mereka bersaing untuk Sean, karna lebih baik mereka mendidik dan membesarkan Sean bersama.
Mereka sampai di kantor Radith dan semua mata tertuju pada mereka berdua. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya Radith membawa istri dan anaknya untuk bekerja, bahkan mungkin ini pertama kalinya di kantor ada yang membawa keluarga mereka. Mereka semua menatap malu-malu ke arah Lira dan Sean, terutama Sean yang masih imut-imutnya, mereka semua menyapa Lira dengan sopan dan melambaikan tangan gemas ke Sean.
“Kamu tunggu di kantor aku aja ya, kalau ada apa-apa langsung telpon aku. Nanti setelah selesai, aku rencananya mau ke rumah Zia, kalau kamu mau ikut, kita ke sana bareng, tapi kalau kamu gak mau ikut, aku antar kamu pulang dulu, paling gak lama sih, Cuma mat tanya aja mereka mau tinggal sendiri atau tinggal sama kita. Kamu gak papa kan kalau misal mereka mau tinggal sama kita?” tanya Radith yang baru ingat dia belum meminta ijinLira.
“Gak papa, kan juga solusinya Cuma dua itu, kalau misal Grace mau tinggal di tempat kita, tinggal bersihkan kamar tamu aja, aku gak mau kalau dia tinggal satu kamar sama kita. Toh emang kamu harus tanggung jawab, aku kan tahu rasanya jadi mereka, dan itu gak enak. Walau aku masih beruntung karna kamu tahu, kamu mengejar dan kamu merawat aku. Tapi mereka lebih gak beruntung, jadi ya gak ada salahnya kan?”
“Kamu itu terbuat dari apa sih Ra, kok ya bisa sesabar ini. Seandainya aku bisa mengulang waktu, aku bakal coba jadi lebih sabar Ra, jadi orang orang aku gak melakukan hal yang sebodoh itu Cuma demi aku, tapi aku bahkan sampai menyiksa si Grace ini kalau dari cerita mereka, aku benar-benar merasa bersalah Ra,” ujar Radith yang membuat Lira mengelus tangannya pelan.
“menatap ke depan aja Dith, gak ada gunanya juga menyesali yang udah terjadi di belakang. Kalau ditanya sakit hati, pasti aku sakit hati lah kamu punya anak dari perempuan lain. Tapi mau gimana lagi kan? Lebih baik kita menatap ke depan aja ya Dith, perbaiki apa yang perlu diperbaiki. Kalau memang kamu orang baik, pasti Tuhan kasih jalan terbaik buat kamu.”
Radith mengangguk, dia mengajak Lira masuk ke dalam ruangannya dan mencium kening wanita itu dan menggendong Sean lalu mencium pipi anak itu dengan gemas.
__ADS_1
“Jangan terlalu banyak main Ipad ya nak, jagain mamamu,” ujar Radith yang diangguki oleh Sean. Anak itu mengerti apa yang dikatakan oleh Radith, namun dia enggan berpikir jawabannya, dia harus menjawab dengan bahasa Indonesia, jadi lebih baik dia mengangguk saja sebagai jawaban agar cepat dan tidak perlu berpikir.
Dua jam berlalu, Radith baru menyelesaikan rapat dan masuk ke dalam ruangannya untuk bekerja. Dia melihat Lira yang masih menonton televisi walau sesekali matanya melihat ke arah ponsel. Dia melihat Radith masuk dan melambaikan tangan untuk menyapa Radith. Lelaki itu langsung berjalan ke arah Lira dan tak lupa mencium kening wanita itu dan mencari keberadaan Sean.
"Sean lagi di kasur, katanya enak nonton sambil tidurnya di kasur, tapi aku belum lihat lagi sih, coba kamu lihat gih, aku mager banget udah nempel sama sofanya," ujar Lira yang seperti di rumah sendiri. Radith menghela napasnya dan langsung melihat ke kamar di ruangan itu. Sean sudah dalam posisi tidur dengan Ipad di tangannya.
Lelaki itu menyimpan Ipad Sean dan menggendongnya, lalu keluar dari dalam kamar itu karna mereka harus segera membereskan masalah Zia dan bisa beristirahat di rumah. Radith tidak memiliki jadwal padat hari ini, jadi dia bisa sedikit bersantai. Radith menghampiri Lira dan meminta istrinya itu bergegas mematikan televisi dan nereka berangkat.
"Aku gak pengen ikut, tapi aku penasaran juga sama wajahnya Zia. Tapi aku gak mau ketemu sama cewek gila itu lagi Dith," ujar Lira di dalam mobil sambil memangku Sean yang sudah tidur. Radith mengangguk paham, dia tahu pasti Lira kesal karna Grace sudah mengancam nyawa Sean tempo hari, bahkan sampai membuat nyawa Sean terancam.
"Kamu tunggu di mobil aja, aku kan ngomong sama mereka dulu, kalau udah selesai aku bawa Zia buat dikenalin ke kamu. Gimana?" Tanya Radith yang dijawab gelengan kepala oleh Lira karna dia juga ingin tahu apa yang mereka bicarakan di sana dan Radith hanya menurut saja. Paling tidak dia sudah menawarkan solusi pada wanita itu.
Sesampainya di sana, Radith mengetuk pintu rumah itu dengan Lira di sampingnya menggendong Sean. Grace keluar dari dalam rumah dengan senyumnya, namun senyum itu lenyap saat melihat Lira juga ada di sana. Dia mempersilakan tamu tamu itu masuk ke dalam rumah dan membuatkan minuman.
"Tenang saja, anda bisa minum dengan nyaman karna Saya jamin tidak ada racun di sana. Saya meminta maaf karna kemarin saya mengancam nyawa anak anda, tapi itu karna saya frustasi tidak bisa bertemu dan berbicara dengan Radith, saya harap anda mengerti dan memaafkan saya," ujar wanita itu dengan lembut.
"Apa anda kemari untuk bertemu dengan Zia? Anak itu sedang main dengan teman temannya, saya akan panggilkan," ujar orang itu yang ditahan oleh Radith. Lelaki itu tidak berbasa basi dan langsung mengatakan maksud kedatangannya. Wanita itu tampak terkejut dengan penawaran Radith.
"Rumah ini memang kontrak, dan jika memikirkan keperluan Zia, memang baiknya Zia tinggal dengan anda. Tapi saya tidak yakin Zia bisa tinggal di sana tanpa saya, bagaimanapun saya ibu kandungnya, jadi jika visa, saya ingin meminta untuk ikut tinggal di sana. Saya tidak akan jadi benalu karna saya tetap akan bekerja. Ini semua hanya demi Zia."
"Baiklah, jika begitu saya akan persiapkan kamar tamu dan kamu bisa tinggal di sana. Zia juga akan saya siapkan kamar sendiri agar dia bisa tidur dengan nyaman, saat semua siap, saya akan menjemput kalian. Untuk saat ini, hanya ini yang bisa saya lakukan," ujar Radith dengan sopan.
"Ini sudah lebih dari cukup, paling tidak Zia mendapat haknya sebagai anak kandung anda juga, terima kasih sudah mau bertanggung jawab, saya harap kita semua bisa hidup sebagai keluarga," ujar Grace yang mendapat tatapan tak suka dari Lira, namun dia menahannya.
__ADS_1
'Gue ngerasa aneh sama nih orang, feeling gue gak pernah salah, pasti ada yang gak beres,' batin Lira saat melihat cara berbicara orang di hadapannya ini.