
"Bos, saya sudah mengaktifkan Bom, bomnya meledak lima belas menit lagi," ujar seeorang yang menginterupsi seorang Bos yang masih menikmati pemandangan Radith terkapar pingsan. Orang itu menoleh dan menatap anak buahnya dengan kesal, tentu saja anak buahnya tak mengerti kenapa dia ditatap seperti itu.
"Kenapa tidak Kau pasang waktu mundur agar bom itu meledak besok pagi? Apakah lima menit terlalu singkat untukmu? Bodoh, aku tidak menyangka mempekerjakan orang sebodoh dirimu," ujar bos itu yang membuat pesuruhnya menjadi terdiam. Namun pesuruhnya itu embali mencoba meyakinkan bosnya jika dia sudah melakukan sesuatu yang benar.
"Tapi saya juga sudah merancang jika ada orang yang masuk dari pintu belakang, Bom ini akan langsung meledak, saya yakin pasti ada orang yang mereka kirim untuk menyelamatkan mereka, biarkan saja mereka semua mati bersama," ujar orang itu yang membuat Bos tadi sedikit tersenyum.
"Ayo kita pergi dari sini, hilangkan semua jejak, saya tahu jika Tuan Wilkinson pasti ada di belakang mereka, lebih baik tua bangka itu tak tahu apa yang sudah kita lakukan terhadap orang – orangnya," ujar Bos itu yang langsung melangkah pergi dari ruangan itu.
"Bos, apa tidak seharusnya kita menembak saja tiga ekor tikus ini? Bagaimana jika mereka mencoba untuk melarikan diri?" tanya anak buah itu yang dijawab lambaian tangan oleh Bosnya yang sudah berlalu beberapa langkah.
"Bisa apa mereka? Yang satu sudah sekarang, yang satu lagi perempuan. Kau buang saja yang kecil ke kolam renang dan biarkan dia mati tenggelam, pada akhirnya mereka bertiga juga akan menjadi serpihan kecil karna Bom di tempat ini," ujar orang itu yang langsung pergi dari sana.
Para pusuruh itu segera melakukan tugas mereka. Lira bisa mendengar suara sesuatu (atau mungkin seseorang) di lempar ke dalam Air. Ah iya, setelah Lira melihat Radith babak belur, mereka menutup kepala Lira dengan kain hitam hingga Lira tak bisa melihat apapun, namun dia bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan.
Lira berteriak saat mereka melempar Sean ke dalam kolam, wanita itu meronta – ronta, namun ikatan pad atalinya cukup kuat. Mereka yang melihat Lira hanya terkekeh dan segera pergi dari sana karna rumah itu akan segera meledak. Lira tak tahu kemana mereka pergi, dia hanya tak mendengar apapun, suasana ruangan in menjadi sepi.
"Ra? Lira? Lo masih hidup kan?" tanya seseorang yang membuat Lira menegakkan kepalanya meski dia tak bisa melihat apa – apa.
__ADS_1
"Radith? Lo belum mati? Gue kira Lo udah mati karna dipukul pakai Botol," ujar Lira yang menengok – nengokkan kepalanya.
"Gue gak akan mati dengan mudah, apalagi Gue belum pecahin satu – satu kepala mereka. Lo bisa buka simpul ikatan mereka kan? Ini gampang banget dibukanya," ujar Radith yang membuat Lira meraba ikatan yang mereka buat. Lira terkejut setelah mengetahui simpul itu familiar untuknya.
"Gue terlalu panik sampai Gue gak sadar kalau mereka terlalu bodoh dan gegabah," ujar Lira yang sudah melepaskan ikatan tali pada tangannya dan membuka penutup kepalanya. Wanita itu mempelajari berbagai simpul dan cara melepaskannya saat dia sekolah bela diri, dia tak menyangka apa yang dia pelajari akan berguna saat ini.
"Lo buruan selametin Sean dulu, Gue kesusahan buat ngelepasin talinya," ujar Radith karna lelaki itu merasakan sakit di sekujur tubuhnya, hingga tangannya lemas dan tak bisa melepaskan tali dengan mudah. Lira berdecak dan menghampiri Radith, membuka ikatan itu dengan pelan agar tidak melukai pemilik tangan itu.
"Kenapa Lo santai banget? Lo mau Sean celaka? Cepat selametin dia," ujar Radith yang sudah berdiri dan berjalan terburu – buru untuk menyelamatkan Sean. Namun dia tak mendapati seorang pun di kolam itu, membua dirinya makin terheran dan bingung mencari kemana perginya anak kecil itu.
"Apa yang paman cari?" tanya anak itu dalam bahasa Inggris, Radith menengok kaget dan terheran, anak yang tadi dia dengar sudah dilempar ke dalam kolam bisa berdiri tegak di hadapannya dengan tangan terikat dan badan yang basah kuyup.
"Mommy yang mengajarkan Sean buat berenang tanpa tangan satu tahun yang lalu. Sangat sulit, tapi sekarang terasa mudah."
"Lalu bagaimana kau bisa naik ke sini tanpa bantuan tangan?" tanya Radith lagi. Bahkan dia yang sudah sedewasa ini pasti masih bingung dan panik, namun anak berumur lima tahun ini sangat cerdas dan tenang.
"Itu dari sana," ujar anak itu yang menunjuk bagian kolam renang dimana tempat itu terdapat undakan seperti tangga. Radith menghela napasnya lega dan memiliki sedikit rasa gemas dengan orang – orang bodoh itu. Radith juga langsung menatap Lira yang bertindakseolah tak terjadi apapun.
__ADS_1
"Terus kenapa Lo tadi jejeritan padahal Lo tahu Sean bisa Survie? Lo bikin Gue tambah panik tahu gak," tanya Radith yang langsung dijawab helaan napas dari Lira.
"Tuan Muda Radith yang terhormat, kalau Gue gak teriak, mereka bakal curiga, yang ada anak Gue malah ditembak mati, gitu aja gak paham sih Lo. Udah Lo mau nunggu disini sampai besok atau pergi? Sepuluh menit lagi meledak nih tempat," ujar Lira yang membuat Radith memelototkan matanya.
"Lah iya Gue lupa. Yok buruan pergi dari sini," ujar Radith yang langsung menggendong Sean untuk keluar dari rumah itu. Saat sudah sampai di luar, mereka segera meninggalkan tempat itu untuk meminimalisir terkena efek ledakan. Namun Radith berhenti dan merogoh kantongnya.
"HP gu jatuh, Gue harus balik buat ambil. Gue udah rekam semua percapakan mereka, Gue bis atangkap mereka dengan hp itu," ujar Radith yang langsung berlari sebelum endengarkan jawaban Lira.
"Radith! Lo sakit jiwa! Lo bisa mati Dith! Radith!" Lira berusaha meneriaki lelaki itu, Namun Radith tak mendengar ucapannya dan sudah berbelok masuk ke rumah yang penuh dengan Bom itu.
"Kenapa sih Lo bodoh banget? Bukti itu gak cukup penting dibanding nyawa Lo Dith! Kenapa Lo bodoh banget sih?" tanya Lira pada dirinya sendiri. Anak yang Lira gandeng tentu tak mengerti apa yang mereka katakan karna Lira dan Radith menggunakan bahasa Indonesia sementara Sean hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris.
Lira menunggu Radith keluar dari rumah itu sambil melihat jam di tangannya. Dia takut Radith tak bisa menemukan ponselnya tepat waktu. Apalagi waktu yang mereka miliki sangat sedikit. Sean yang tadinya tak mengerti pun juga ikut khawatir melihat mamanya khawatir.
"Apa kita harus kembali dan menolong paman tadi?" tanya Sean pada Lira, namun Lira menggelengkan kepalanya. Dia tak mungkin membahayakan nyawa anaknya.
"Sean jadi anak baik ya, Sean duduk sini, tunggu mama, Mama akan menolong paman tadi," ujar Lira yang diangguki oleh anak itu. Lira setengah berlari menuju rumah itu, namun belum sampai dia di halaman rumah itu, sudah terdengar suara ledakan dari dalam rumah. Lira mematung seketika mendengar suara ledakan itu.
__ADS_1
"Belum ada lima belas menit, kenapa udah meledak?" tanya Lira dengan pandangan mata yang kosong.
"Radith…" lirihnya di akhir kalimat. Wanita itu langsung duduk bersimpuh melihat rumah yang sudah terbakar.