
Radith sampai di rumahnya. Dia menunggu mobil pengawalnya untuk sampai di sana dan saat sampai, dia membantu pria tua itu untuk turun dari mobil dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
“Kaki saya kotor, nanti rumah tuan jadi kotor, saya di sini saja,” ujar pria itu yang tentu saja tidak diijinkan oleh Radith, dia mengajak pria itu untuk pergi ke kran yang ada di depan rumahnya karena memang kaki bapak itu sangat kotor.
“Bapak bisa mencuci kaki dulu di sini, nanti kita masuk ke dalam ya pak, di luar dingin, bapak bisa tidur di salah satu kamar yang ada di rumah ini,” ujar Radith dengan ramah. Bapak itu menurut dan mencuci kakinya sampai bersih. Dia memakai sandal yang diberikan oleh Radith untuk masuk ke rumah Radith. Radith memang membedakan sandal untuk luar dan untuk di pakai di dalam rumahnya.
“Bapak ingin mandi? Jika bapak ingin mandi saya bisa pinjamkan baju. Kamar mandinya ada di sebelah sana. Bapak bisa mandi agar lebih segar juga,” ujar Radith yang kembali diangguki oleh bapak itu. Radith segera bergegas ke kamarnya. Dia mengambil handuk baru, baju yang besar dan masih bagus, celana rumah yang juga tidak pernah dia pakai, serta ****** ***** yang juga masih baru. Dia segera kembali menemui bapak itu dan memberikan baju itu pada si bapak.
“Ini terlalu banyak. Apa saya boleh memakainya? Mungkin nanti bajunya jadi bau dan kotor,” ujar bapak itu yang tentu saja langsung dijawab gelengan kepala oleh Radith, dia meminta bapak itu untuk mandi dan memakai saja pakaian itu. Bapak itu kembali menurut dan mandi di kamar mandi yang ditunjukkan Radith. Radith memiliki stok sikat gigi baru di sana, dan bapak itu boleh memakainya.
“Aku belum sempat masak, yang ada cuma makanan tadi siang, gak cukup buat kita berlima, kita pesan saja ya?” pinta Lira yang diiyakan oleh Radith. Wanita itu memesan makanan untuk keluarganya dan pengawal Radith yang seharian ikut mereka, pengawal itu pasti belum makan.
“Mbak, kamar tamu masih bersih gak ya mba? Coba minta tolong dibersihkan lagi ya mba barangkali ada debu atau spreinya sudah gak bersih. Minta tolong ya mbak,” pinta Radith pada asisten rumah tangganya dan dia juga mandi untuk menyegarkan badannya. Sementara anak anak Radith masuk ke dalam kamar untuk mengerjakan tugas mereka dan sekaligus langsung beristirahat.
“bapak sudah selesai mandi? Ini kamar untuk bapak beristirahat sementara waktu, karena anak buah saya butuh waktu untuk membereskan barang barang bapak di kos dan menyiapkan segala sesuatu untuk bapak pulang. Bapak ingin langsung beristirahat? Kita bisa mengobrol besok,” ujar Radith yang membuat bapak itu terdiam bingung, sepertinya bapak itu tidak bisa memutuskan.
“Baiklah, kita lihat kamarnya dulu yuk pak. Ini kasurnya, kalau misal kurang nyaman mohon dimaafkan, karena kamar ini sudah lama kosong. Itu ada TV dan ini remotnya, bapak bisa menonton televisi di sini. Terus di bawah itu ada kulkas pak, sudah diisi dengan berbagai jenis minuman, jadi kalau nanti malam bapak haus, bapak tinggal ambil di dalam sana.”
“Di situ rak berisi makanan ringan dan roti rotian, jika bapak merasa lapar, bapak bisa makan di sana. Bapak tidak perlu sungkan ya, bapak bisa makan atau minum apapun yang ada di sini, tidak perlu sungkan. Anggap saja rumah sendiri ya pak. Kalau bapak perlu sesuatu, bapak ketuk saja kamar saya, kamar saya ada di sana,” jelas Radith dengan sabar dan lembut. Bapak itu mengangguk paham mendengar penjelasan Radith.
“Terima kasih tuan sudah mau membantu saya sampai seperti ini. Saya tidak tahu harus mengatakan apa, dan saya juga tidak bisa membalas apapun yang tuan berikan. Tuan tidak perlu memberikan hal lebih, ini semua lebih dari cukup tuan, saya hanya perlu ongkos untuk pulang ke kampung, jadi tuan tidak perlu repot mengantar atau membawakan barang barang dari kos saya karena barang barang saya kotor.”
“Saya sudah berniat untuk membantu bapak dan saya akan melakukannya. Anggap saya adalah penolong yang Tuhan kirim untuk membantu bapak. Besok kita pulang ke kampung halaman bapak. Apa bapak bisa naik pesawat? Jika tidak kami akan membelikan tiket kapal untuk bapak pulang,” tanya Radith penasaran. Bisa saja bapak ini mabuk udara atau bagaimana.
__ADS_1
“Saya tidak pernah naik pesawat De, saya bisa sampai ke pulau ini saja menumpang pada kapal, saya kira saya bisa hidup lebih baik dan memberikan uang lebih untuk keluarga di kampung dengan berjualan mainan seperti ini, namun ternyata memang sudah tidak diminati, saya tidak tahu lagi harus bagaimana,” ujar bapak itu yang mulai ingin menangis lagi.
Radith mengelus punggung bapak itu dan menenangkannya. Dia tidak ingin bapak itu tidur dengan perasaan sedih. Dia mengajak bapak itu untuk kembali keluar dan duduk di meja makan karena kebetulan makanan yang Lira pesan sudah sampai. Dia mengajak Zia dan Sean untuk makan malam bersama.
“Ayo pak kita makan dulu ya, saya tidak tahu bapak bisa makan makanan ini atau tidak, tapi saya harap bapak doyan ya pak,” ujar Radith yang kembali diangguki oleh pria itu. Mereka makan dengan lahap dan Lira juga memperhatikan Sean dan Zia ketika makan agar mereka makan dengan baik dan tidak tersedak.
Bapak itu mengamati keluarga Radith dan tanpa sadar tersenyum senang. Dia ikut bahagia melihat Radith dan keluarganya yang harmonis. Dia merindukan anak cucu nya yang berada di kampung halamannya, meski mereka hidup sederhana, mereka juga bahagia, namun tuntutan ekonomi yang semakin menghimpit membuat bapak ini harus pergi merantau, namun tidak ke pusat ibukota, dia memilih perlu ke luar pulau dimana wisatawan banyak datang.
Hal yang bapak itu bisa adalah membuat mainan tradisional, jadi bapak itu menggunakan kemampuannya untuk mencari nafkah yang ternyata tidak semudah itu. Dia harus berjalan jauh mencari orang yang mau membeli mainannya, di saat banyak orang yang sudah beralih ke teknologi modern dan tidak memainkan benda ini lagi. Dia ingin pulang, namun tidak bisa, beruntung dia bertemu dengan Radith.
“Bagaimana pak? Apa rasanya enak? Apa ada yang kurang atau ada hal lain yang bapak ingin? Kami bisa carikan,” tawar Radith yang melihat bapak itu hanya diam. Radith mengira bapak itu tidak menyukai ayam bakar bumbu bali yang dibeli Lira untuk satu keluarga dan yang satu lagi dia berikan pada Angga untuk dimakan bersama dengan teman temannya.
“Ini sangat lezat, saya tidak pernah makan makanan yang seenak ini, ini sangat enak, saya melihat kalian hidup dengan rukun, saya jadi merindukan keluarga saya. Saya merasa gagal menjadi tulang punggung keluarga. Saya sangat merindukan mereka, saya akan berusaha bekerja keras di kampung halaman saya jika saya bisa pulang, namun saya terjebak di sini, saya merindukan mereka,” ujar bapak itu pelan.
“Setelah ini bapak bisa pulang, bapak bisa bertemu dengan anak, istri dan cucu bapak. Saya dan istri saya akan mengantar bapak untuk sampai di rumah dengan selamat, kami juga ingin bersilaturahmi dengan keluarga bapak jika bapak tidak keberatan,” ujar Radith yang tentu disambut baik oleh bapak itu, dia tentu sangat senang jika Radith mau bertemu dengan keluarganya, dia bahkan merasa sangat tersanjung.
“Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan dan saya ingin lakukan. Jadi bapak tidak perlu terlalu memikirkannya seperti ini. Setelah makan sebaiknya bapak tidur, besok kita akan datang ke kos bapak dan membereskan barang barang bapak, lalu akan mengantar bapak ke rumah bapak, naik pesawat saja ya pak agar lebih cepat sampai juga,” ujar Radith yang disetujui saja oleh bapak ini.
“Ah, saya bahkan belum tahu siapa nama bapak. Apakah bapak mau memperkenalkan diri ke saya?” tanya Radith penasaran. Bapak itu kembali mengangguk.
“Nama saya Burhan, den,” jawabnya singkat. Radith mengangguk paham dan karena dia sudah selesai makan, dia meletakkan alat makannya.
“Pak Burhan tidak perlu khawatir apapun untuk saat ini, kehidupan pak Burhan juga akan kami tanggung sementara waktu sampai pak Burhan stabil dan bisa melakukannya sendiri,” ujar Radith mengakhiri percakapan mereka karena hari sudah malam dan banyak yang harus dilakukan besok, dia harus beristirahat.
__ADS_1
“Dith, kamu tahu kamu gak bisa menolong semua orang seperti itu kan? Kalau setiap kamu ketemu orang, kasihan dan menolong mereka sampai seperti ini, aku rasa itu bukan hal baik,” ujar Lira saat dia ada di kasur bersama Radith. Lelaki itu mengangguk setuju, dia juga tahu akan hal itu, dia tidak bisa menolong semua orang yang dia temui sampai seperti ini.
“Kali ini aku bener bener kesentil, Ra. Jadi gak tahu kenapa aku memang ingin aja menolong pak Burhan, tapi kalau gak ada dorongan dari hati aku, aku gak mau walau aku merasa kasihan banget, aku gak akan tolong mereka kalau hati aku bilang enggak, jadi aku yakin, memang Tuhan yang tuntun aku buat tolongin dia,” ujar Radith yang diangguki oleh Lira, setidaknya suaminya mengerti maksudnya.
“Ya udah, kamu istirahat. Udah lama juga kamu gak tidur di rumah kan? Kamu hari ini baru sampai udah main sama anak-anak, pasti capek banget kan? Sekarang kamu tidur aja, besok harus bangun pagi dan nyiapin semua juga,” ujar Lira yang diangguki oleh Radith.
”sebenarnya aku kangen banget sama kamu, Ra. Apalagi sudah berminggu minggu kita gak ritual. Tapi karena kamu lelah, aku lelah, ritualnya besok aja ya, Ra. Selama aku pergi, kamu mainnya gimana? Gak kangen kah sama pusaka aku ini? Kamu nahan atau main sendiri?” tanya Radith dengan iseng.
Tampak jelas wajah Lira memerah. Dia tidak menyangka Radith akan membicarakan hal ini. Dia merasa malu dan langsung menutup wajahnya dengan selimut.
“Sayang, suami kamu tanya nih. Kamu selama ini masak cuma nahan aja? Apa kamu mainan sendiri? Kamu beli mainan juga gitu kah? Aku mau tahu nih,” ujar Radith yang terus menggoda istrinya. Dia memang berniat untuk membuat Lira merasa malu dan salah tingkah, dia suka melihat istrinya seperti remaja, padahal mereka sudah punya 3 anak dan 2 diantaranya adalah anak yang Lira lahirkan, namun dia masih begitu menggemaskan.
“kamu kalau gak mau terluka, mending kamu diam, tidur, atau nanti kamu malah aku minta tidur di luar,” ancam Lira yang membuat Radith tertawa terbahak bahak, dia tidak perlu khawatir orang lain akan mendengar karena kamarnya kedap suara. Dia akan terus menggoda Lira bahkan jika dia harus melakukannya sampai besok, namun karena Lira tampak lelah, dia jadi tidak tega.
“Sayangku, istriku yang paling aku sayang, selamat malam ya, mimpi yang indah, akhirnya setelah sekian lama, kita bisa tidur berdua, pelukan kayak gini, romantis romantisan, terus nanti kita bikin baby El jilid dua ya sayang. Tapi karena kamu lagi capek banget, aku gak tega buat ganggu kamu, kamu istirahat aja ya, masih banyak hari buat kita bisa romantis romantisan, aku sayang kamu.”
“Dith, selama kamu di Hawaii, kamu ngapain aja?” tanya Lira yang tiba-tiba berbalik menghadapnya. Wajah mereka cukup dekat dan mereka bisa merasakan napas satu sama lain.
“eum, aku gak ngapa ngapain lagi sih, aku kan udah cerita semua, aku cuma fokus sama Roy aja, dan ternyata dia gak jahat, aku gak mau bunuh orang yang gak jahat dan gak merugikan buat aku, jadi aku bantu mereka, udah itu aja,” ujar Radith yang diangguki oleh Lira, meski dia sedikit kecewa mendengarnya.
“Nesya? Kamu cuma cerita semua tentang Roy, tapi kamu gak mau cerita tentang Nesya. Kembaran Luna kan?” tanya Lira yang kini membuat Radith terdiam. Dia memang sengaja tidak menyenggol nama Nesya agar Lira tidak banyak bertanya tentang wanita itu yang dia tahu akan membahas malah Luna pada akhirnya.
“kalau aku cerita, kamu bakal marah gak? Aku gak mau bohong, tapi aku juga gak mau kamu terluka. Walau sebenarnya aku juga gak ada apa apa sama dia, jadi gak ada yang perlu dikhawatirkan, tapi kan aku tahu kamu berperasaan banget, aku gak mau kalau kamu jadi kepikiran,” ujar Radith yang membuat Lira menghela napasnya.
__ADS_1
“ya udah, kalau memang kamu gak ada apa apa dan menurut kamu gak perlu cerita, aku bakal percaya sama kamu kok, aku tahu kamu gak akan pernah bohongin aku atau apa pun itu, aku percaya sama kamu. Sekarang karena udah malam, ayo mendingan kita tidur,” ujar Lira yang langsung membalikkan tubuhnya lagi.
“Aku gak mau kamu kecewa sayang, kalau memang kamu mau tahu cerita tentang dia, aku bakal cerita semua, gak akan ada yang aku tutupi, aku mau kamu gak menaruh kecurigaan apapun ke aku, aku sayang kamu,” ujar Radith memeluk dan mencium pundak Lira. Lalu menarik selimut dan memejamkan mata bersama dengan istrinya itu.