
Sesuai janji, Radith, Lira, Sean dan Zia pergi ke suatu temoat di kota ini. Yah, Radith ingin tempat wisata yang santai dan tak ada hubungannya dengan pantai, jadi dia pergi ke taman safari untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya sekalian mengenalkan ke anak anaknya tentang hewan yang mungkin tidak pernah mereka lihat secara langsung.
Sejak kecil, Sean memang tidak pernah pergi ke kebun binatang, dia hanya melihat hewan hewan itu melalui tab atau buku cerita. Dia sangat senang saat Radith mengajaknya untuk melihat langsung hewan hewan itu. Belum ada kata terlambat untuk bersenang senang dengan semua hewan itu kan? Meski Sean sudah memasuki masa Sekolah dasar sekarang.
"Zia sudah pernah pergi ke taman safari atau kebun binatang?" Tanya Radith yang diangguki oleh Zia. Gadis kecil itu menceritakan jika Greselyn beberapa kali membawanya ke kebun binatang dan dia sangat suka memberi makan jerapah, mereka bersenang senang meski keadaan ekonomi mereka hanya pas pasan. Dan tarif masuk ke kebun binatang tidaklah begitu mahalnya, jadi Greselyn tak sulit membawa Zia ke sana.
"Kata Mama, kalau pergi ke kolam renang atau ke taman bermain akan menghabiskan banyak uang dan tidak membuat Zia belajar. Jadi mama ajak Greselyn ke kebun binatang untuk belajar tentang hewan," ujar Zia yang membuat Lira dan Radith terdiam. Mereka merasa bersalah harus merebut nyawa Ibu yang sudah baik bagi Zia.
Padahal menurut mata Radith dan Lira, Greselyn adalah orang yang kejam, bahkan dia adalah ibu yang kejam, terbukti dengan dia yang bisa tega memukul Zia sampai badannya banyak yang biru. Namun di ingatan Zia, Greselyn adalah Ibu yang baik dan sayang padanya, sering mengajaknya bermain dan pergi berjalan jalan. Radith tentu saja merasa bersalah untuk hal itu. Dia tidak melihat dari pandangan Zia saat memutuskan untuk mengambil nyawa Greselyn.
"Semua udah terjadi, kamu gak perlu menyesal kayak gitu, kita sudah melakukan apa yang perlu dilakukan. Zia gak akan pernah tahu, kalau pun dia tahu, kita kasih tahu sendiri pas dia udah lebih dewasa dan mengerti. Kamu harus ingat, kamu lakuin ini buat kita semua, buat keselamatan kita termasuk keselamatan Zia, jadi kamu gak perlu merasa bersalah," ujar Lira yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu menghela napas panjang untuk menahan air mata yang menyesakkan itu.
"Sekarang kita senang senang aja, kalau memori Zia itu hal yang baik, ya udah, kita tambah memori baik di otak dia, jadi dia akan mengenal kita sebagai orang yang baik. Gantikan posisi mamanya, aku mau kita bisa lakukan itu," ujar Lira yang diangguki lagi oleh Radith. Dia memasuki area parkir dan turun dengan anak anaknya.
Lira menggandeng Zia dan Radith menggendong Sean yang sedang sedikit Tantrum. Mereka membeli tiket masuk dan langsung melihat banyak hewan ada di sana. Zia sangat senang melihat hewan hewan itu, apalagi mereka akan menaiki mobil dan diperbolehkan untuk memberi makan hewan hewan yang ada di sana. Tentu saja Zia merasa makin senang.
Sementara Sean, dia tidak begitu suka melihat hewan darat, dia lebih tertarik dengan ikan selama ini, jadi mungkin lain waktu Radith akan membawa mereka ke tempat yang bisa memperlihatkan ikan ikan dan hewan laut lain pada Sean. Mungkin dia harus mulai mencari tempat seperti itu di Bali.
Rasanya tak adil bagi Sean yang harus selalu mengalah karna Radith hanya memikirkan apa yang Zia suka, meski kali ini Radith bukan sengaja melakukannya, hanya Sean yang tidak sedang dalam kondisi mood yang baik dan dia tidak begitu menyukai hewan hewan ini, jadi terkesan Zia yang dibahagiakan lagi kali ini.
Mereka mencoba untuk mencari hewan yang Sean suka, namun fokus Radith jadi teralihkan lagi saat Zia memekik riang sambil memberi makan hewan hewan itu, Radith sudah mencoba mengajak Sean juga melakukannya, namun Sean masih enggan dan memilih untuk tidur di gendongan Radith.
"Ra, aku jadi kasihan sama Sean karna masalah ini. Kalau kita pindah ke tempat yang semacam akuarium gitu gimana?" Tanya Radith yang tak disetujui oleh Lira. Rasanya akan melelahkan, apalagi mereka harus berjalan selama di sini, Lira sudah merasa lelah dan kram, padahal bayi di kandungannya masih sangat kecil, tapi dia bisa merasa selelah itu.
"Ya udah, kita istirahat dulu aja, kamu sambil gendong, eh enggak, pangku aja Sean ya, aku sama Zia mau beli minuman sama camilan buat kita. Gak papa kan? Daripada kamu kecapekan gitu, gak tega aku," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Mereka berpisah seperti itu dan Radith bersama Zia pergi ke kedai makanan unguk memilih camilan.
__ADS_1
"Papa, Sean suka makan yang manis, ayo belikan gula kapas untuk Sean," ujar Zia yang membuat Radith terkejut. Apakah anak ini tahu makanan kesukaan Sean? Dia bahkan tak begitu tahu jika Sean menyukai makanan yang manis terutama gula kapas seperti ini.
"Zia tahu dari mana kalau Sean suka makan yang manis? Kalian kan gak boleh banyak makan gula, nanti kalau giginya rusak bagaimana? Papa juga gak pernah belikan Sean ini kok, kok Sean bisa suka?" Tanya Radith penasaran. Zia langsung cerita pernah sekali Greselyn membawakan itu untuk mereka tanpa memberi tahu Radith, jadi Radith tidak tahu.
"Mama Grace beli itu untuk kami, dan Sean sangat menyukainya. Tapi Sean bilang untuk gak kasih tahu papa dan Mami karna katabya kalian akan marah. Eem, kalian gak akan marah sama Sean kan? Sean gak akan dimarahin kan?" Tanya Zia khawatir. Radith tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Ya, kalian gak akan papa marahin. Ya udah, kalian ambil tuh satu satu, tapi nanti Mami dan Papa minta ya, jadi kalian gak boleh banyak banyak gula, kasihan nanti giginya patah dan sakit, gak mau kan Zia giginya sakit dan jadi ompong?" Tanya Radith yang diangguki oleh Zia. Dia sudah merasa cukup dengan bisa memakan gula kapas yang enak ini.
"Sedikit saja tidak masalah, yang penting Zia dan Sean bisa makan. Ah ya, beli sosis juga boleh kah Pa? Zia mau beli sosis yang besar itu," ujar Zia lagi. Radith menganggukkan kepalanya, dia akan membelikan semua yang Zia minta, apalagi Zia juga membelinya untuk Sean, anak ini tak pernah lupa dengan Sean setiap melihat makanan.
"Zia, kamu beli sebanyak ini, apa kamu bisa makannya? Nanti kalau sisa papa marah loh sama Zia," ujar Radith karna merasa Zia cukip berlebihan dengan membeli kentang goreng yang diulir panjang juga. Anak itu akan kekenyangan dengan makan sebanyak ini, lagipula belum tentu Sean mau memakannya karna anak itu sedang tidak baik kondisinya.
"Tidak akan sisa, karna kan ada om pengawal di sana, jadi ada 6 orang, kita bisa membagi makanan ini jadi 6 dan semua bisa merasakan," ujar Zia dengan suara kecilnya. Radith jadi terharu mendengar itu, dia langsung pergi ke kedai gula kapas, sosis dan kentang yang dibeli oleh Zia. Membuat Zia penasaran apa yang akan Radith lakukan. Rupanya lelaki itu membeli semua makanan yang dipilih Zia dan berencana membagikannya untuk semua pengawal yang tersembunyi, juga untuk pengunjung lain yang mau merasakan.
"Papa beli semua? Wah, papa pasti punya banyak uang," ujar Zia dengan kagum. Radith terkekeh mendengar pujian itu, biasanya dia biasa saja saat dipuji, namun jika Sean, Lira atau sekarang Zia yang memujinya, ada rasa bangga dalam dirinya karna dia berhasil menjadi kepala keluarga yang baik. Zia sendiri cukup senang karna Radith mau membelikan untuk mereka semua.
"Sean, ayo main sama Zia, kita makan gula kapas sambil kasih makan Jerapah, ayo, Sean suka gula kapas kan," ujar Zia yang membuat Sean mau mendongakkan kepalanya. Anak itu menatap ke arah Lira, karna dia tahu Lira tidak memperbolehkan nya makan gula. Namun karna Lira mengangguk, mood Sean langsung naik dan mau bermain bersama Zia.
Mereka memakan gula kapas bersama, Lira dan Radith pun ikut memakan walau sedikit, agar sesuai perjanjian, mereka harus membaginya pada Lira dan Radith agar tidak terlalu banyak makan gula. Sean langsung kembali ceria setiap memasukkan gula dan gula itu langsung melebur bersama air liurnya. Mereka tertawa melihat Sean yang begitu bahagia dengan gula kapas itu, akhirnya kekhawatiran Radith lenyap juga, dia tidak perlu merasa bersalah karna membawa Sean ke sini.
"Papa, papa coba lakukan ini," ujar Sean yang mengambil banyak gula kapas dan menempelkannya di sela sela hidung dan mulut Radith. Mereka tertawa terbahak bahak dan melihat Radith yang seperti orang tua dengan mulut yang berkumis merah muda. Mereka seperti keluarga pada umumnya, tertawa bahagia dengan melakukan hal sederhana, Radith bahkan lupa kapan terakhir kali dia bisa tertawa seperti itu.
"Mau lanjut main lagi? Sean mau kasih makan Jerapah sama Zia? Kalau iya, kita beli makanannya dulu," tawar Radith yang diangguki oleh Sean, dia sudah mulai menyukai suasana di sini, yah, berkat Gula kapas yang diberikan oleh Zia, suasana menjadi cerah dan Sean tidak tantrum atau kesal lagi. Mereka menghabiskan hari dengan bahagia, pertama kalinya mereka melakukan hal ini setelah sekian tahun mereka lahir ke dunia ini.
Sepulangnya dari sana, Radith langsung membawa mereka ke restoran yang sudah dia pesan. Dia juga mengajak Alex karna Andre sudah pulang ke Bali untuk perawatan lanjutan di sana. Mereka makan malam dengan penuh kehangatan keluarga.
__ADS_1
"Papa, bagaimana cara makan ini?" Tanya Zia yang melihat steak di hadapannya. Radith langsung membantu Zia dengan memotong daging itu menjadi ukuran kecil, dia juga melakukan hal yang sama pada Sean agar tidak ada keirian di antara mereka. Alex melihat Zia dan Sean akur pun ikut merasa bahagia dan terkesan dengan cara Radith merawat mereka.
"Jadi lusa kalian pulang? Kalau iya, aku bakal bilang ke guru privat Sean buat selesai dulu, sama nanti bang Radith bisa tranfer dulu aja uang lesnya," ujar Alex yang diangguki oleh Radith, namun dia tidak mau begitu repot harus mentranfer ke guru itu.
"Abang Tranfernya ke kamu aja ya, nanti kamu yang kasih cash gitu ke gurunya atau kamu tranfer juga. Oke ya? Karna abang simpannya rekening kamu aja, nanti kamu urus lah semua. Gak papa kan?" Tanya Radith yang diangguki oleh Alex. Bukan hal yang besar, jadi dia bisa melakukannya.
"Uncle Alex, kenapa uncle gak ikut kami ke Bali saja? Kita bisa tinggal satu rumah dan bisa sering main, kenapa Uncle tetap bekerja di sini, pasti Papa mau kan kasih kerja uncle di Bali?" Tanya Sean yang membuat Radith juga memandang ke arah Alex, menunggu jawaban yang akan diberikan oleh lelaki itu.
"Papa Radith pasti kasih uncle kerja, tapi uncle mau bekerja dengan kaki dan tangan uncle sendiri, jadi uncle tetap di sini," ujar Alex lembut.
"Kalau kerja di Bali, uncle pinjam kaki dan tangan siapa?" Tanya Sean yang membuat Alex terdesak, dia pikir Sean akan mengerti karna anak itu sangat cerdas, namun ternyata Sean tetaplah anak anak yang polos, meski pikirannya sudah dewasa, dia mssih menunjukkan sisi anak anak beberapa kali.
"Maksud Uncle, kalau di Jakarta, Uncle akan bekerja dengan usaha dia sendiri. Uncle gak mau ditolong sama Papa, jadi Uncle mandiri dan pasti bangga karna Uncle sukses dengan usaha dia sendiri tanpa ada bantuan papa," ujar Radith yang membuat Sean membulatkan mulutnya.
"Kalau Sean mau main ke rumah Uncle, nanti aja kalau pas liburan, Sean bisa main ke rumah Uncle, sampai puas. Nanti kita bisa pergi ke banyak tempat," ujar Alex yang diangguki oleh Sean.
"Apa Zia juga boleh ikut?" Tanya Zia yang sedari tadi hanya menyimak.
"Boleh dong! Kita semua nanti main yah, uncle bakal ajak kalian lihat balapan. Kalian gak pernah kan lihat balapan?" Tanya Alex sambil tertawa, Radith melongo mendengar apa yang ditawarkan oleh lelaki itu.
"Heh, kamu jangan berani berani racuni anak anak abang sama balapan loh ya, ngawur kamu," ujar Radith yang membuat Alex makin tertawa.
"Papa, Sean mau lihat balapan, ayo pa bawa Sean dan Zia untuk lihat balapan, atau balapannya yang diajak ke rumah," ujar Sean yang membuat Radith mengerutkan keningnya. Apakah Sean memintanya untuk membuat Sirkuit di rumah?
"Nanti Uncle balapannya kita ajak makan di rumah kita Pa," ujar Sean yang membuat tawa Radith pecah. Wajar saja Sean tak tahu, dia tidak pernah mendengar kata itu sebelumnya, jadi dia mengira balapan adalah nama orang. Sean sangat polos saat mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Iya, minta uncle Alex ya nanti, biar Sean dan Zia bisa kenalan," ujar Radith setelah tawanya sedikit mereda. Memang anak kecil memiliki banyak dunia ajaib, termasuk yang satu ini. Membuat Radith tertawa dan harinya menjadi cerah