Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 149


__ADS_3

Setelah Nesya benar-benar tinggal di kamar hotel itu, Radith meminta Angga dan Beta untuk masuk ke dalam kamarnya, mereka harus menyamakan suara tentang masalah ini. Angga dan Beta akan menyampaikan masalah ini dengan teman-temannya agar mereka satu suara. Tuan WIlkinson akan sampai ke negara ini esok hari, waktu yang sangat mendadak, untung saja Roy sudah benar-benar pergi dari negara ini malam nanti.


“Kita bisa membunuh Roy sebelum tuan Wilkinson datang. Panggil Nesya untuk datang ke rumah ini, kita bisa mendiskusikan masalah ini pada wanita itu, jadi kita bisa segera mengeksekusi dan membuat tuan Wilkinson puas,” ujar Radith yang sebenarnya membuat Angga dan Beta sangat terkejut. Mereka tidak yakin jika itu keputusan yang baik.


Beta langsung keluar dari kamar Radith menuju kamar dimana Nesya tinggal untuk sementara. Beta bingung bagaimana menjelaskannya, jadi dia memilih untuk meminta Nesya langsung karena Radith ingin bicara. Tidak mungkin dia menyampaikan ide gila Radith, Nesya pasti sangat terkejut dan tidak setuju dengan ide itu, yah, Beta saja tidak setuju, namun dia tidak bisa membantah.


“Ada apa? Sepertinya sangat gawat karena anak buahmu bahkan tidak bisa mengatakan apapun, kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Nesya tidak sabar. Radith tampak merasa bersalah dan bingung bagaimana menjelaskannya. Dia tampak berpikir keras sebelum memutuskan untuk memberitahu idenya.


“Oke, gue tahu lo akan keberatan sama ide ini. Tapi gue punya ide buat membunuh Roy, karena bokap lo akan datang ke negara ini besok pagi. Kita punya waktu sampai malam ini untuk membunuh Roy, jadi kita harus siapkan skenario dimana Roy benar-benar mati,” ujar Radith yang tentu saja membuat Nesya syok, dia tahu Radith belum memutuskan untuk tidak membunuh Roy, namun apakah lelaki itu masih memiliki niat membunuh suaminya?


“Lo? Bukannya lo melihat gimana dia? Dia gak pernah menyakiti siapapun, kenapa lo masih aja minta dia buat mati? Itu gak sesuai sama perjanjian kita Dith. Lo? Lo mau mengingkari janji? Kenapa?” tanya Nesya yang sudah terbata-bata. Dia tahu Radith bisa membunuh suaminya dengan mudah saat ini, dia tinggal menyabotase pesawat dan semua selesai, karena Roy menyewa satu pesawat untuknya dan teman-temannya.


“Dengar gue dulu. Gue gak akan membunuh Roy yang asli, tapi lo tahu kalau bokap lo gak akan berhenti sampai Roy benar-benar mati. Entah itu gue atau nyuruh orang lain, Roy akan mati kalau kita gak buat dia seolah mati, lo ngerti gak maksud gue?” tanya Radith yang kali ini membuat Nesya bingung.


“Tunggu, maksud lo, lo pengen buat seolah Roy itu mati, tapi itu bukan Roy? Jadi bokap gue tahunya Roy udah mati jadi dia gak ngejar Roy lagi? Kayak gitu?” tanya Nesya yang diangguki oleh Radith. Beta dan Angga kagum dengan ide yang disampaikan Radith, mereka bahkan tidak bisa memikirkan ide seperti itu. Namun bukankah sulit menemukan jenazah yang pas?


“Gue sering temenin Lira nonton drama korea, dan di sana juga ada kasus begini. Kita nyari mayat tanpa identitas yang ciri-cirinya paling mirip sama Roy, kita buat seolah dia mati, entah itu kecelakan, atau bisa juga jatuhin ke jurang, atau masukin ke air yang sampai bengkak. Bokap lo mungkin gak sadar dan akhirnya percaya. Gue tahu ini gila, tapi kita bisa coba,” ujar Radith yang meminta persetujuan Nesya.


“Oke, jadi apa ide lo? Jangan sampai libatkan Roy yang asli. Gue gak mau dia terganggu dan sampai pulang ke Hawaii karena masalah ini, nekat buat ngebantai bokap gue yang udah pasti dia yang bakal kebantai, gue gak mau,” lirih Nesya yang diangguki oleh Radith, dia akan menolong Nesya bagaimanapun caranya.


“Kita buat seolah mobil kalian kecelakaan, lo berhasil keluar karena didorong sama Roy dan mobil dia meledak di jurang. Jadi tubuhnya gak akan bisa dikenali lagi. Gimana? Kalau dari lo oke, gue bakal minta anak buah gue buat langsung nyari mayat dan mobil yang bisa diledakkan di jurang. Gue minta persetujuan karena lo harus terluka, lo kan keluar dari mobil dengan paksa.”


“Oke, tapi gue harap jangan terlalu keras dan jangan membahayakan perut gue ya Dith,” ujar Nesya mengelus perutnya. Radith mengerutkan keningnya, mencoba mencerna apa yang sedang dikatakan oleh Nesya. Saat dia tahu apa maksud dari wanita itu. Dia langsung menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Lo serius? Anaknya Roy? Dia sudah tahu masalah ini?” tanya Radith setelah meminta Angga dan Beta untuk segera bergerak sebelum besok karena besok dia akan melakukan skenario seolah sedang mengejar Roy dan lelaki itu masuk ke dalam jurang.


“Ya, gue belum kasih tahu Roy karena dia kan harus pergi ke luar negeri buat masalah ini, dia bakal segera selesaikan tugasnya dan hidup sebagai orang biasa. Kalau gue kasih tahu dia langsung, dia gak akan mau pergi ke luar negeri buat tugasnya ini,” ujar Nesya yang diangguki oleh Radith. Dia semakin yakin dengan niatnya membantu Nesya. Apalagi ada nyawa tak bersalah yang membutuhkan ayahnya.


“Oke kalau begitu udah jelas ya, kita bakal lakuin apa yang gue sarankan. Gue akan pastikan perut lo baik-baik saja. Tapi, lo gak papa membahayakan diri lo sendiri? Kalau biasanya sih di film-film orang kecelakaan itu kepalanya berdarah. Lo, lo gak papa?” tanya Radith khawatir. Nesya menganggukkan kepalanya dengan yakin, meski dia juga tidak tahu akan sesakit apa.


“gak papa, kalau Roy mati, gue juga lebih baik mati. Jadi gak papa gue tahan dikit rasa sakit ini. Sekarang lo mau apa dan gimana. Gue harus apa?” tanya Nesya yang langsung diangguki oleh Radith. Lelaki itu mencari jurang yang cukup berbahaya di negara itu, namun sulit sekali menemukannya.


“Got it, gue nemu jurang yang pas buat misi ini. Malam ini kita ke sana buat nyiapin semua, sekalian latihan gimana lo harus lompat dan kita bakal nyiapin benda yang bantu lo buat terluka. Angga sama Beta bakal ada di luar biar mereka juga memastikan lo gak papa. Terus nanti anak-anak yang lain bakal bayar mobilnya. Kita harus meyakinkan tuan Wilkinson kalau itu beneran Roy.”


“Oke gue ngerti. Gue mau makan sama minum obat dulu, habis itu gue tunggu aja kabar dari lo, kalau memang semua sudah siap, gue bakal datang ke sini, gue bakal ikutin apapun yang lo minta buat keselamatan gue dan suami gue. Gue percaya sama lo Dith, gue tahu lo gak akan bikin gue kecewa,” ujar Nesya yang langsung berdiri dan pergi dari sana.


Dua jam kemudian, Radith masih menunggu dengan tak sabar. Otaknya terus berputar untuk mencari berbagai rencana cadangan jika memang rencana gilanya ini tidak bisa mereka lakukan. Dia harus membuat skenario seolah Nesya tinggal di sini sendirian dan dia masih berusaha mencari tahu dimana Roy sebenarnya, ah, rencana itu juga mudah untuk dilakukan bukan? Radith akan menggunakan rencana ini jika semua yang sudah dia rencakan berantakan.


“Tuan, saya sudah menemukan mayat tanpa identitas yang mirip posturnya dengan Roy, saya akan membayarnya dan kita bisa segera latihan, saya akan membawa mayatnya besok agar masih awet dan tidak busuk. Saya menuju lokasi mobil, karena anak yang lain sudah mendapatkan mobil bekasnya,” ujar Angga di telepon.


Radith pergi ke kamar Nesya. Wanita itu memakai pakaian santai namun sangat cantik. Sesaat Radith terkagum dengan kecantikan wanita itu, meski tak identik, dia bisa melihat wajah Lunetta di wajah wanita itu. Ah, baiklah, kita harus kembali ke masalah Roy.


“Setelah masalah ini, mungkin lo harus pulang ke Indonesia, karena bokap lo gak akan biarin lo sendirian di negara ini. Lo bisa tinggal di Bali, dekat sama rumah gue, jadi kalau lo perlu bantuan apapun, lo bisa kabarin aja gue. Untuk sementara, lo gak bisa ketemu sama Roy, lo bisa lakukan itu?” tanya Radith yang diangguki oleh Nesya dengan lemas.


“Gue udah ngomong ke Roy masalah semua, dia awalnya mau balik lagi dan bawa gue buat kabur, tapi gue udah cegah karena mau kami ke ujung dunia pun, bokap gak akan nyerah buat bunuh dia. Jadi gue udah minta dia percaya sama gue, percaya sama lo kalau ini jalan yang paling baik,” ujar Nesya yang membuat Radith terdiam untuk sesaat.


“Roy sudah tahu semua? Jadi dia juga sudah tahu kalau gue datang ke negara ini buat bunuh dia? Dia tahu?” tanya Radith yang diangguki oleh Nesya. Wanita itu tidak merasa bersalah sama sekali, namun Radith langsung merinding mendengar pengakuan itu.

__ADS_1


“Dith, suami gue itu bukan orang bodoh, dia juga tahu sejak pertama kali lo datang dan intai gue. Dia tahu, makanya dia malah membiarkan lo bebas buat kasih tahu lo, dia itu bukan musuh lo, dia gak membahayakan siapapun, semua tentang cctv, gue bohong, Roy yang minta gue ngomong ke lo masalah itu, dia murni mau kasih lo kesempatan untuk kenal dia sebelum jatuhin keputusan,” ujar Nesya dengan santai.


“Kali ini, dia bukan kasih kesempatan ke lo, dia minta kesempatan dari lo buat biarin gue hidup. Dia bakal ikutin apa yang jadi rencana lo. Termasuk untuk beberapa waktu jangan ketemu dulu. Dia bakal ikutin itu, kami percaya sama lo Dith, kami tahu, lo orang baik,” ujar Nesya yang kali ini melirih. Radith mengangguk dan langsung mengajak Nesya untuk pergi ke tempat yang mereka maksud.


Hari semakin gelap. Radith menjelaskan dengan detail apa yang akan mereka lakukan dan bagaimana mobil yang berisi anak buah Radith dan Nesya harus jatuh ke dalam jurang. Dia akan menukar anak buah Radith dengan mayat yang sudah mereka beli dan meledakkan mobil itu, serta membakar mayat yang ada di dalam mobil itu.


“Rencana ini terdengar terlalu sempurna Dith, gue malah takut kalau kita gak bisa menyelesaikan misi ini dengan baik Dith, kalau bokap gue curiga gimana? Dia bakal makin marah, dan malah nyeret lo ke dalam masalah ini, kalau dia gak percaya, rencana lo gimana?” tanya Nesya yang dijawab gelengan kepala oleh Radith.


“Gue yakin rencana ini bakal berhasil, kalaupun gak berhasil, paling gak Roy gak ada di negara ini jadi nyawa dia masih aman. Kalau masalah gue, lo gak perlu khawatir sama gue, gue udah terlalu sering hampir mati, jadi kalau tambah sekali lagi masih gak masalah. Tuan WIlkinson butuh gue, jadi dia gak akan bunuh gue dengan gampang,” ujar Radith dengan yakin.


“Gue tahu lo cuma mau bikin gue tenang, kelihatan banget lo panik, tangan lo juga tremor gitu. Tapi yaudah, gue bakal percaya sama lo buat kali ini, lo tenang aja, gue gak akan lepas tangan gitu aja, kalau lo dibuat susah karena gue, gue bakal gantian bantu lo,” ujar Nesya yang membuat Radith gemas dengan wanita itu.


“Lo itu bikin gue kangen sama istri gue tahu gak. Dia tuh kayak lo gini, pengen banget bantuin gue ini itu, padahal dia tahu dia gak bisa bantu. Tapi dia punya banyak akal buat bantuin gue, tapi semoga lo gak melakukan hal bodoh ya, lo harus ingat masalah dedek di perut lo,” ujar Radith yang membuat Neysa terkekeh.


“Kata orang wanginya bumil itu wangi, jadi banyak yang suka. Gue kira itu mitos aja, ternyata bener, lo naksir kan sama gue? Kenapa bisa lo ingat istri lo pas masih sama gue? Lo pasti naksir kan sama gue? Haha,” kekeh Nesya yang ingin mencairkan suasana agar dia sendiri tidak tegang.


“gak ikut-ikut deh gue, suami lo itu menyeramkan, dan jauh lebih menyeramkan bapak lo. Gak mau gue, gak mau main main masalah nyawa dengan suka sama orang kayak lo,” ujar Radith bergidik ngeri dengan masalah yang akan dia dapatkan jika mereka memiliki hubungan khusus seperti yang dituduhkan oleh Nesya.


Setelah selesai dengan semua yang diperlukan. Radith mengumpulkan anak buahnya untuk memastikan mereka tahu apa yang akan mereka lakukan. Terutama Charlie yang bertugas membawa mobil karena dia yang paling mirip dengan Roy dari segi postur. Dia juga meminta anak buahnya yang lain untuk bersiap dengan mayat dan juga skenario kejar-kejaran mereka.


“Saya sangat berharap kalian bisa melakukan yang terbaik. Jika kita semua melakukannya dengan rapi, tuan WIlkinson tidak akan curiga dan semua akan berlalu. Kita mendapatkan kebebasan kita tanpa mengorbankan nyawa siapapun. Apa kalian mau melakukan semua ini? Aku pernah dikhianati oleh satu dari anak buahku dan itu sangat menyakitkan.”


“Jika salah satu dari kalian ada mata-mata dari tuan Wilkinson dan rahasia ini akan kalian bocorkan, kalian bisa bilang kepadaku sekarang. Aku akan memaafkanmu, dan membiarkanmu hidup asal kau tidak mengadukannya. Ini bukan tentangku, ini tentang nyawa orang tak berdosa.”

__ADS_1


“aku percaya, kalian semua orang-orangku, kalian bisa aku andalkan,” ujar Radith pada akhirnya.


“Mari pulang dan beristirahat, besok akan menjadi hari yang panjang.”


__ADS_2