Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 109


__ADS_3

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Zia bisa melihat baju yang dia buat desainnya jadi. Berkat bantuan Jenny, dia bisa mendapatkan baju yang dia sudah bayangkan, bahkan jauh lebih cantik dari perkiraannya. Lira tidak henti menatap kagum fengan baju yang sebenarnya sederhana, namun baginya menjadi sangat bagus karna anaknya yang membuat semua ini.


"Zia sayang, kalau kamu mau, kamu bisa ikut tante untuk memamerkan baju kamu ini ke orwng lain. Tante bisa bantu kamu buat memproduksi baju baju sesuai dengan desain yang kamu mau, bahkan kalau kamu mau, kamu bisa pakai baju itu dan pamerkan sendiri ke mereka, kamu akan menjadi desainer sekaligus modelnya, tante bisa jamin kamu akan menjadi anak yang sukses."


Mendengar itu, Radith yang sebenarnya tak mau ikut campur jadi menengok, dia bisa melihat Zia tampak ragu, Radith tidak bisa membiarkan Zia melepas mimpinya, namun sebagai ayah pada umumnya, dia juga ingin Zia meraih pendidikan yang tinggi, dia mau anaknya lulus dengan nilai yang baik dan memuaskan, yang tentu akan sulit dia gapai jika dia tidak fokus.


"Saya mengerti kenapa kalian, termasuk kamu nih Ra, semangat untuk mengajak Zia explore semua kemampuan dia. Saya akan mendukung apapun yang bisa mengembangkan bakat anak anak saya. Namun usia mereka masih sangat belia, saya ingin mereka menggunakan kemampuan mereka sebagai hobi, bukan prioritas utama, karna mereka tetap harus sekolah, lulus dengan baik, setelah itu barulah mereka raih apa yang menjadi mimpi mereka."


"Zia, papa akan dukung jika kamu ingin menjadi apapun asal itu hal baik, tapi papa minta kamu tetap fokus pada sekolah kamu, kamu tetap bisa menjadi anak papa yang baik, anak papa yang pintar dan nilainya baik. Menurut Zia, apa permintaan papa berlebihan?" Tanya Radith yang membuat Zia terdiam. Lira bisa melihat gadis itu bingung harus menjawab apa.


"Zia, setiap 3 bulan sekali, kamu ada liburan panjang kan? Bagaimana jika seperti ini, dalam waktu 3 bulan, papa ingin kamu menunjukkan jika nilai kamu tetap baik meski kamu lebih suka menggambar dan gambar kamu bisa sangat menghasilkan untuk kamu. Jika kamu berhasil tunjukkan itu, selama liburan, kamu boleh ikut tante Jenny ke tempat pameran atau gala premier apapun itu, bagaimana?"


"Apakah benar pa? Apa Zia boleh melakukannya? Zia akan belajar dengan rajin, Zia akan mendapat nilai yang bagus dan membuat papa bangga. Tante, Zia mau fokus untuk belajar dulu, karna Zia adalah pelajar. Jadi nanti kalau liburan, Xia baru ikut main bersama tante, boleh kan tante?" Tanya Zia dengan polos. Tentu saja Jenny mengangguk, bagaimana mungkin dia tidak mengijinkan Zia untuk melakukan hal itu?


"Apapun yang Zia anggap baik, lakukan saja nak, tante, mama, papa akan selalu mendukung Zia. Apalagi tante tahu Zia sangat berbakat, jadi nanti kita bisa belajar bersama untuk melakukan yang terbaik ya nak. Kapanpun Zia mau hubungi tante, Zia tinggal minta mama untuk telpon tante, nanti kita buat baju bersama lagi," ujar Jenny yang tentu membuat Zia bahagia. Dia mengangguk senang dan melihat ke arah mamanya.


"Tante Jenny tidak akan pernah mengecewakan, kamu harus selalu ingat dengan tante Jenny, jadi kamu tidak akan melupakan jasa tante Jenny terhadap kita. Kamu ingat kan pesan mami?" Tanya Lira yang langsung diangguki oleh Zia.


"Ya Mami, Zia akan selalu mengingat pesan Mami. Tante Jenny terima kasih banyak, Zia tidak akan berhasil melakukan ini semua tanpa dukungan dan bantuan dari tante Jenny, Zia tidak akan pernah lupa akan hal ini tante, terima kasih banyak," ujar Zia yang membuat Jenny tersenyum, dia melihat Zia sangat manis dan baik


"Ya, tante juga berterima kasih pada Zia, karna Zia memberikan inspirasi untuk tante, tante jadi bisa membuat baju yang sangat bagus ini, ini semua karna desain dan gambar serta imajinasi Zia. Kamu belajar yang rajin ya nak, tapi juga asah kemampuan kamu, sampai bertemu 3 bulan lagi, kita akan jalan jalan ke tempat yang jauh."


"Rencananya, kalau dalam 3 bulan ini Zia dan Sean bisa mendapat nilai mereka dengan baik dan memuaskan, saya akan mengajak anak anak untuk pergi ke Paris. Di sana Zia bisa melihat Paris Fashion week, dan Sean bisa melihat tentang Astronomi, saya pernah baca di Perancis ada tempatnya. Mereka seharusnya semangat akan hal ini," ujar Radith yang membuat Zia dan Sean terkesima.


"Benarkan Papa? Benarkah? Sean akan melihat roket sungguhan? Sean akan bisa menyentuh dan masuk ke dalam roket?" Tanya Sean yang langsung diangguki oleh Radith. Dia ingin menjadi ayah yang supportif untuk anak anaknya selagi dia masih mampu dalam segi tenaga dan finansial, dia ingin anak anaknya melewati jalan yang mudah untuk mencapai sesuatu, tinggal bagaimana mereka memanfaatnya Previleige yang mereka miliki.

__ADS_1


"Zia akan belajar dengan keras. Terima kasih papa, terima kasih Mami, terima kasih tante Zia," ujar Zia yang memeluk mereka satu persatu dan pergi ke kamarnya untuk belajar. Lira dan Radith tentu senang dengan manfaat itu. Mereka senang bisa melihat Sean dan Zia memiliki motivasi untuk berprestasi di sekolah, paling tidak dari segi akademi, mereka ingin anak anak mereka menunjukkan yang terbaik.


"Kalau gitu, aku harus pergi dulu, aku akan terbang ke London besok, jadi aku harus menyiapkan banyak hal. Kabari aku jika ada sesuatu kabar tentang Zia dan bakatnya ini. Aku akan dengan senang hati membantunya untuk mengasah semua itu. Zia anak yang baik dan pandai, tidak akan sulit baginya."


"Terima kasih banyak untuk semua support yang sudah kamu berikan. Aku sangat berterima kasih untuk itu. Aku jadi mendapat bayangan harus kemana zia Aku arahkan, mungkin bahkan aku bisa mengecek apakah dia bisa menggambar hal lain, barangkali dia bisa menjadi penulis komik atau apapun itu? Pasti akan sangat membanggakan."


"Jangan mengharapkan banyak atau membayangkan anakmu akan melakukan semua hal hebat dalam satu waktu. Bakat Zia sajw sudah sangat luar biasa, biarkan dia fokus pada hal itu, jika kau memintanya untuk melakukan hal lain, seperti menjadi komikus atau apapun itu, dka tidak akan menikmati dan bahkan merasa tertekan.


"Kalau kamu mau mendapatkan potongan daging yang bagus, kamu harus mengasah pisau dengan fokus dan benar, jika kamu fokus dengan banyak pisau, kamu malah tidak akan mendapat pisau yang super tajam, kamu hanya mendapat banyak pisau dengan ketajaman rata rata, daging yang dopotong pun kualitas dan bentuknya jadi biasa saja," ujar Jenny yang dimengerti oleh Lira.


"Aku mengerti, aku akan melakukan sesuai yang kau sarankan, sekali lagi, terima kasih banyak," ujar Lira sambil memeluk Jenny dengan hangat dan tulus.


Gambar yang dibuat oleh Zia.



“Hei, aku mau minta tolong belikan Ipad untuk Zia, yang jelas bisa dia gunakan untuk menggambar, dan belikan saja buku gambar yang besar, serta semua alat gambar manualnya, Zia akan memerlukannya untuk latihan,” ujar Lira pada asisten Radith dan diangguki oleh lelaki itu. Lira terlalu bersemangat untuk Zia yang akan berkembang. Dia tidak sabar melihat karya anak itu yang lain.


“Zia, Mami minta setelah kamu bisa fokus dengan bakat kamu ini, kamu jangan lupa untuk sekolah ya nak, mami gak mau kamu malah jadi ketinggalan di sekolah, mami mau semua tetap seimbang, kamu gak perlu jadi ranking satu, namun kamu tetap harus bisa dapat niai yang baik,” ujar Lira yang berjongkok agar sejajar dengan Zia.


“Ya mami, Zia akan ingat itu. Zia hanya akan membuat baju baju untuk Mami, Papa dan Mama Gracia. Ah, walau mama Gracia udah gak ada di sini, mungkin mama Gracia bisa melihat baju yang Zia buat,” ujar gadis kecil itu yang membua tLira kembali terdiam.


“Mama Gracia pasti bangga sama Zia, maka dari itu Zia harus menjadi anak yang baik, anak yang sukses dan bahagia agar mama Gracia di atas sana juga merasa bahagia,” ujar Lira dengan sedih juga. Dia merasa Zia terlalu muda untuk mengalami semua hal itu, apalagi dia juga turut berperan dalam kisah sedih yang Zia rasakan, dia dan Radith yang sudah merenggut nyawa Gresselyn yang dianggap Zia sebagai Gracia dan Radith merenggut nyawa Gracia bahkan sebelum menyadari perbuatannya.


“Gambar Zia sangat cantik, apakah Sean boleh mendapat satu yang seperti ini? Sean mau satu yang seperti itu,” ujar Sean yang membuat Zia kembali cerah. Gadis kecil itu langsung memegang tangan Sean dan menariknya ke arah Sofa. Mereka duduk di karpet dan Zia mengambil pensilnya. Dia melihat Sean seolah sedang mengukur, Lira bahkan sampai gemas dengan hal itu, namun dia membiarkan kedua anaknya untuk menikmati dunia mereka sendiri.

__ADS_1


Lira pergi ke dapur untuk membuatkan camilan. Dia melihat ke arah laci dan melihat banyak bumbu instan untuk kue kering dan brownies, dia mengambil dan membuka satu, lalu mulai membuat sesuai dengan intruksi yang ada. Dia memasukkan semua bahan, menambah air dan mengaduknya, lalu memasukkannya ke dalam oven. Lira kembali menengok apa yang dilakukan oleh Zia dan Sean.


“Mami, lihat, Zia sedang menggambar untuk Sean, lihat, Sean akan punya baju baru setelah ini,” ujar Sean yang membuat Zia tersipu malu, sementara Lira yang melihat Zia menggambar entah mengapa merasa sangat bangga dan senang, padahal Zia bukan anak kandungnya, namun dia merasa gadis kecil itu sudah menjadi bagian dalam hidupnya.


Lira kembali ke dapur setelah beberapa saat mengobrol dengan anak anaknya, dia membuat agar agar dari bubuk instan, setelah itu dia mulai merebusnya sampai mendidih, meletakkannya di dalam loyang dan memasukkannya ke dalam kulkas, dia juga membuat satu teko sirup untuk anak anaknya. Dia merasa sudah lama mereka tidak melakukan ini, padahal hal ini umum bagi keluarga yang lain, namun tidak bagi keluarga Lira yang rumit.


“Mami, apakah setelah ini Sean juga bisa membuat baju dari gambar yang Zia buat? Sean ingin punya baju dari ini juga,” ujar Sean dengan semangat. Lira tentu saja mengangguk, tidak ada alasan untuk menolak permintaan Sean. Namun dia juga tidak mau membuat Zia jadi harus menggambar untuk mereka semua, Zia juga perlu beristirahat dan hanya bermain, tidak “bekerja” seperti itu, pasti rasa dan beban yang ada di Zia berbeda.


“Ya, kamu boleh membuat itu, nanti mama akan meminta orang untuk membuatnya, atau nanti tante Jenny yang akan membuatnya seperti baju milik Zia. Namun Setelah ini kalian makan roti yang Mami buat ya, pasti enak deh kalau mami yang buat. Sean juga, kamu belum makan siang juga kan? Kamu mau makan siang apa? Zia tadi udah makan belum?” tanya Lira yang dijawab gelengan kepala oleh Zia.


“Sean mau makan Pizza mami, tapi Sean mau yang masih panas, apakah boleh Mi?” tanya Sean yang diangguki oleh Lira.


"Mami, jika besok Zia sudah menjadi terkenal dan hebat, apakah Zia akan pergi dari rumah ini? Kau tidak boleh pergi dari rumah ini, aku tidak mengijinkanmu untuk pergi dari rumah ini, kau dengar itu kan, jangan pergi dari rumah ini," ujar Sean yang membuat Zia mengerjapkan matanya pelan pelan. Dia tidak mengerti kenapa Sean mengatakan itu.


"Apakah Zia harus pergi jika sudah menggapai cita cita Zia? Apakah Mami ingin Zia pergi?" Tanya gadis kecil itu dengan polos. Lira tentu saja bingung dengan apa yang dikatakan Zia, namun dia segera menggelengkan kepalanya, dia juga menatap ke arah Sean untuk menggelengkan kepalanya.


"Mami tidak pernah meminta kalian untuk pergi, jika kalian memang pergi, kalian wajib untuk kembali ke rumah ini, mami akan selalu mendukung apapun yang kalian lakukan, dan mami akan selalu menunggu kalian untuk kembali. Jadi, jangan pernah berpikir mami ingin kalian pergi dari sini," ujar Lira dengan lembut agar anak anaknya mengerti.


"Tapi mami, Zia sudah menjadi anak yang terkenal, dia akan pergi ke luar negeri kan Mi? Apakah kamu akan kembali kalau kamu sudah ke luar negeri? Kau harus mengatakan yang sejujurnya," ujar Sean yang tampak penasaran. Jangankan Zia, Lira saja tidak menyangka pertanyaan semacam itu keluar dari mulut anaknya. Dia tidak pernah mengajarkan Sean untuk seperti itu.


"Nak, anak mama yang paling ganteng, kalau Zia harus pergi ke luar negeri, mami pasti tetap dukung dia, mami akan berikan yang terbaik untuk kalian berdua, jadi mami akan selalu support kalian, nah, kalau Sean marah karna Zia pergi ke luar negeri, gak adil dong, karna kalau Sean ingin menjadi astronot, Sean malah harus pergi ke luar bumi, lebih jauh dong?" Tanya Lira yang membuat Sean tersadar.


"Ah, betul. Sean akan pergi ke Bulan Mi, kalau Zia mau, Zia juga boleh ikut dengan Sean untuk pergi ke bulan," ajak Sean yang diangguki oleh Zia. Lira mengerti mereka masih belum begitu memahaminya, namun dia harus lebih pintar sekaligus berhati hati karna Sean sudah sangat cerdas, anak itu bisa menanyakan hal yang tak terduga baginya, jika dia tak bisa menjawab, Sean akan kecewa.


"Ya sudah, Mami minta Papa untuk bawa Pizza buat kalian ya, sambil menunggu Kue dan Agar agarnya jadi juga. Kalian main dulu berdua ya, jadi anak baik, jadi saudara yang baik, jangan bertengkar. Mami mau ke dapur dulu," ujar Lira yang langsung bangun dari tempatnya, membuat Sean dan Zia mengangguk bersamaan.

__ADS_1


"Ayo kita main ke kamar Sean, kita main ular tangga, sambil menunggu teman Mami kembali ke sini dan membuatkan baju untuk Sean," ujar Sean dengan senang sambil menarik tangan Zia untuk masuk ke kamarnya.


__ADS_2