Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 140


__ADS_3

Radith kembali ke rumahnya saat hari sudah sore, dia masih memikirkan apa yang akan dia lakukan, apalagi Nesya meminta jika semua ini hanya diketahui oleh mereka berdua saja, yang artinya Radoth juga tidak bisa memberitahu pengawalnya, karena mereka juga bagian dari tuan Wilkinson, Nesya tidak bisa menjamin untuk siapa sebenarnya mereka bekerja.


“Tuan, apakah tuan terluka? Kenapa tuan baru keluar dari rumah itu saat sore hari?” tanya Angga yang tampak khawatir saat Radith menghampirinya. Radith menggelengkan kepala dan meminta mereka untuk segera berjalan, dia tidak mau orang-orangnya terlihat dan malah menimbulkan masalah baru untuk dirinya dan mereka sendiri, lebih baik mereka membicarakannya di hotel.


“Apa yang dia katakan tuan? Apakah mereka mengetahui rencana kita? Apakah mereka mengancam tuan untuk melakukan sesuatu?” tanya Beni yang juga khawatir karena dari tadi Radith hanya diam dan tampak berpikir, namun Radith masih menggelengkan kepalanya, hal itu tentu saja tidak membuat puas anak buahnya, namun mereka tetap menunggu dengan sabar.


“Tidak ada Roy di sana, hanya ada Nesya dan aku makan siang dengan damai. Aku masih menerka apa yang mereka rencanakan, namun aku sudah memiliki rencana, aku harus mengenal mereka lebih dekat, sebelum akhirnya aku menemukan kelemahan mereka dan menyerang mereka dengan tepat,” ujar Radith yang membuat anak buahnya terdiam.


“Namun bukankah itu memerlukan waktu yang banyak dan resiko yang tinggi tuan? Karena jika mereka curiga, nyawa tuan akan dalam bahaya, bukankah lebih baik kita segera mengakhiri misi ini dan pulang?” tanya Charlie yang sedari tadi diam, namun Radith menggelengkan kepalanya, dia tetap pada pendiriannya untuk mengambil rencana tersebut.


“aku sudah merencanakan hal ini dan aku merasa ini yang paling baik karena kita tidak  bisa melukai Danesya, jika kita terburu-buru, aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada wanita itu. Apakah kalian mau menanggungnya jika memang terjadi hal yang buruk?” tanya Radith yang dijawab gelengan kepala oleh anak buahnya.


“jangan laporkan apapun ke tuan Wilkinson. Aku harap kalian bersepuluh tidak ada yang berniat untuk mengkhianatiku. Jangan melaporkan apapun sampai aku meminta kalian, beri alasan jika mereka bertanya. Jika ada yang melanggar, kita bersebelas akan menjadi korbannya. Apa kalian mengerti?” tanya Radith dengan wajah yang tegas dan mengisyaratkan dia tidak bisa dibantah lagi.


“mengerti tuan, kami akan melakukan apa yang tuan perintahkan,” ujar Angga mewakili yang lain. Meski mereka bingung, mereka harus tetap menuruti apa yang Radith katakan, ditambah lagi alasan Radith cukup masuk akal bagi mereka. Radith sendiri bersyukur mereka tidak banyak bertanya sehingga dia tidak perlu berbohong.


“kecuali Angga, kalian boleh kembali ke kamar kalian, beristirahatlah dan nikmati liburan ini,” ujar Radith yang membuat mereka semua berdiri dan membubarkan diri. Angga duduk di kursi dan menunggu Radith untuk bicara, dia tahu jika seperti ini, ada hal yang Radith ingin tanyakan atau meminta saran darinya, jadi dia tetap diam sampai Radith menanyakan hal itu.


“Menurutmu, apa definisi orang yang waras?” tanya Radith dengan datar. Angga tentu saja terkejut dengan apa yang Radith tanyakan. Dia mengira Radith meminta nasehat atau ide mengenai Roy dan masalah ini, atau sekadar menceritakan keluh kesah tentang merindukan keluarga kecilnya. Namun Radith malah menanyakan hal yang aneh menurutnya.


“Kenapa tuan bertanya seperti itu? Saya tidak mengerti dan saya takut salah dalam menjawab,” ujar Angga yang memilih jalur aman karena dia tidak tahu, maksud Radith membahas hal ini. Mungkinkah Radith merasa dirinya sudah tidak waras? Jika Angga menjawab, dia bisa kena masalah dan dikira mengatai Radith tidak waras.


“Kau bahkan bingung untuk pertanyaan yang sederhana ini? Aku tidak menyalahkanmu, karena meski sederhana, ini adalah pertanyaan yang cukup sulit mengingat bagaimana keadaanku, dan bagaimana aku menghadapi keadaan ini,” ujar Radith mengawang ke langit-langit kamar hotel itu. Angga masih terdiam, dia tidak mengerti apa yang Radith katakan dan kemana arah pembicaraan ini.


“Bagaimana jika orang yang kita anggap gila, sebenarnya dialah yang waras dan bagaimana jika selama ini kita merasa waras, sebenarnya kita adalah orang gila itu? Kenapa sulit sekali mencari tahu siapa yang waras di sini,” lirih Radith yang tentu saja makin membuat Angga bingung, namun lelaki itu tidak mau Radith makin berpikir ke arah yang tidak jelas ke mana.


“Tuan, waras dan gila, semua tergantung dengan perspektif kita melihat keadaan. Jika memang kita tidak sanggup dan memerlukan bantuan ahli, mungkin memang kejiwaan itu sudah terganggu, atau jika mengganggu ketertiban umum dan merugikan orang lain, itu harus segera ditangani,” ujar Angga yang membuat Radith memandangnya.

__ADS_1


“Merugikan orang lain? Apakah jika tidak merugikan, orang itu sebaiknya dibiarkan saja? Bagaimana, jika orang yang kita kira waras, justru malah merugikan banyak orang? Apakah selama ini kita salah persepsi?” tanya Radith yang semakin membuat Angga bingung, apakah memang terjadi sesuatu di rumah Nesya.


“Tuan, apakah nona Nesya melakukan sesuatu yang membuat tuan mengkhawatirkan hal ini? Apakah dia mencuci otak tuan dan membuat tuan tidak yakin dengan tujuan kita datang ke negara ini?” tanya Angga yang kembali membuat Radith menatap ke arahnya. Lelaki itu duduk ke arah kasurnya tanpa menghilangkan pandangannya dari Angga.


“Aku? Dicuci otak? Oleh Danesya? Tidakkah kau berpikir bahwa tuan Wilkinson lah yang sudah mencuci otak semua orang dan membuat kita berpikir kita harus melakukan apapun yang dia katakan? Bukankah dia yang membuat kita menyakiti banyak orang tidak bersalah? Membunuh orang yang bahkan kita tidak tahu tujuannya apa? Bukankah kita sudah merugikan banyak orang?”


“Tuan, mereka mati, kita membunuh mereka, karena memang mereka pantas mendapatkannya. Jika mereka tetap hidup, mereka yang akan mengancam hidup kita. Ingatkah tuan terakhir kali kita membunuh orang? Orang itu hampir membunuh nyonya Lira dan tuan muda Nathan. Tuan melakukan hal yang benar dengan membunuh mereka untuk melindungi keluarga tuan.”


“Ya, aku melakukan itu untuk melindungi keluargaku, tapi bagaimana dengan keluarga orang lain? Pernahkan kau bahkan memikirkan nasib mereka? Orang yang kita bunuh adalah kepala keluarga, ayah dari seorang atau bahkan beberapa anak. Aku tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya, aku hanya melakukan hal yang menurutku benar, tanpa melihat apa dampak yang akan ditimbulkan.”


“Saya tidak tahu apa yang terjadi di sana. Namun jika memang hal ini bertentangan dengan hati nurani tuan, saya akan mengikutinya. Saya akan melakukan hal yang menurut tuan benar, saya adalah kaki tangan tuan dan akan selalu seperti itu, apapun jalan yang tuan pilih, saya ada di belakang tuan,” ujar Angga dengan yakin.


“Benarkah? Kau bekerja untukku kan? Bahkan jika aku mengirimmu kepada kematian, apakah kau akan tetap setia sampai mati?” tanya Radith yang sebenarnya menanyakan dengan acak, namun Angga mengangguk dengan yakin, Radith tidak melihat kebohongan di sana, dia cukup kagum dan terharu dengan apa yang dilakukan Angga.


Akhirnya Radith memutuskan untuk menceritakan semua yang terjadi di rumah Nesya dan entah kenapa Angga juga jadi terbuka, dia mengerti kenapa Radith merasa ragu dan mulai mempertanyakan kebenaran dari apa yang dia lakukan selama ini. Angga juga merasakan hal yang sama setelah mendapat cerita ini.


“Aku tahu, ini cukup sulit bagiku. Namun aku masih merasa aku harus melakukan apa yang Nesya minta, aku merasa jika aku tetap membunuh Roy begitu saja, aku sudah tidak bisa disebut manusia lagi, karena aku membunuh orang yang bahkan tidak memiliki dosa apapun terhadap keluargaku dan aku,” ujar Radith yang diangguki oleh Angga.


“Saya tidak akan memberitahu anak-anak mengenai hal ini, kita akan bertindak seolah semua ini masih bagian dari misi kita untuk membunuh Roy. Tapi, ada hal yang saya ingin tanyakan pada tuan, bolehkah saya bertanya?” ijin Angga yang tentu saja diangguki oleh Radith.


“apa yang akan tuan lakukan setelah mengenal Roy dan nantinya mengetahui fakta lelaki itu tidak pantas untuk dibunuh? Apa yang akan tuan katakan pada tuan Wilkinson dan apa yang akan tuan lakukan jika tuan Wilkinson memakai nyonya Lira untuk mengancam tuan?” tanya Angga yang kembali membuat Radith terdiam. Dia masih belum tahu jawabannya.


“Kita akan menemukan jawabannya nanti, yang paling penting untuk saat ini adalah kita mengetahui apakah Roy seburuk yang dibicarakan oleh tuan Wilkinson, atau dia hanya pengedar biasa. Jika memang dia pengedar biasa, kita tidak memiliki hak untuk membunuhnya karena apa yang dia lakukan tidak ada hubungannya dengan kita.”


“aku akan mencoba menjelaskannya pada tuan Wilkinson, apalagi dari yang kulihat, Danesya sangat mencintai lelaki itu, meski lelaki itu cukup kasar dan yah, tidak normal, namun jika mereka memang bahagia dan saling mencintai, apa hak kita untuk memisahkan keduanya?” tanya Radith yang kembali diangguki oleh Angga. Mereka mengakhiri percakapan itu untuk membersihkan diri dan bersiap makan malam.


Radith kembali mendapat pesan dari nomor Roy. Lelaki itu meminta Radith kembali datang ke rumahnya, kali ini untuk bersantai dan barbeque bersama. Radith menyanggupi undangan itu, dan kali ini dia membalas pesannya untuk menanyakan apakah teman-temannya juga boleh ikut hadir dan Roy mengijinkannya.

__ADS_1


“Angga, Beni, Charlie, kalian ikut denganku untuk pergi ke rumah Roy, sisanya, kalian bisa menjaga dari jauh jika terjadi sesuatu, namun jangan lakukan apapun,” perintah Radith yang diikuti oleh mereka semua. Mereka mem  bubarkan diri dan langsung bersiap untuk tugas mereka masing masing, Radith sendiri sudah berdandan santai agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Pukul 7 malam, Radith, Angga, Beni, Charlie, berjalan ke rumah Roy dengan perasaan was-was, Radith menekan bel yang ada di sana dan gerbang rumah otomatis terbuka, Radith langsung disambut oleh beberapa orang yang ada di sana dan meminta lelaki itu untuk pergi ke halaman belakang. Radith mengikuti saja apa yang mereka perintahkan dan berjalan ke arah halaman belakang.


Di sana terdapat banyak wanita yang bukan berdarah Indonesia dan tentu saja Nesya ada di sana bersama dengan Roy, Radith sangat tahu jika itu adalah Roy, lelaki itu memeluk pinggang Nesya dengan mesra, hal itu saja cukup membuat Radith kembali ragu dengan misinya.


“Oh, tamu undangan spesial kita sudah datang. Selamat datang di pesta pantai ini. Kukira kalian ada banyak, ternyata kalian hanya berempat di negara ini?” tanya Roy yang dijawab anggukan canggung oleh Radith. Dia masih belum terbiasa dengan Roy, apalagi masa lalu mereka tidak bisa dibilang baik, namun Roy malah bersikap seolah mereka kenalan dekat.


“kalian jangan sungkan, kalian bisa berkenalan dengan wanita-wanita yang ada di sini, mereka semua adalah kenalanku saat berada di negara ini, jadi mereka juga teman kalian. Silakan nikmati pesta,” ujar Roy yang tentu saja kembali membuat mereka berempat terkejut. Cukup aneh melihat lelaki yang Radith tahu sangat temperamental itu memperlakukannya dengan ramah dan sopan.


“Maaf karena aku harus menggunakan kekerasan untuk meminta nomormu, tapi aku merasa harus melakukannya karena jika aku tidak memakai cara itu, aku tidak yakin kau akan memberikan nomormu dan aku tidak bisa membalas budi karena kau sudah membayar makanan istriku.”


“Santai saja untuk hal itu, tanpa kau minta juga aku akan melakukannya,” ujar Radith mencoba santai. Mereka melupakan semua dendam lama dan bahkan misi mereka untuk sementara waktu. Mereka menikmati suasana pesta  kecil yang dibuat oleh Roy, lelaki itu ternyata cukup ahli dalam membuat pesta yang sederhana namun berkesan dan sangat keren menurut Radith.


 Namun semua berubah saat seseorang membisikkan sesuatu kepada Roy dan lelaki itu mengubah wajahnya menjadi serius. Tangannya terkepal dan wajahnya memerah. Dia langsung masuk ke dalam rumahnya, diikuti beberapa pengawalnya membuat sisa orang yang ada di sana menjadi canggung dan bingung, termasuk Radith yang merasa cemas.


“Tenang saja, itu mungkin hanya klien suamiku, atau sekadar urusan bisnis. Dia tidak mengetahui apapun tentangmu, yah, itu sejauh yang kutahu, jadi nikmati saja pesta ini, dan jika kau mau, kau juga bisa menikmati wanita di sini, karena memang mereka diundang untuk menyenangkan semua orang,” bisik Nesya di telinga Radith.


“aku kira kau tahu jika aku memiliki istri. Aku tidak tertarik dengan wanita lain,” ujar Radith di telinga Nesya karena takut wanita itu tidak mendengarnya. Nesya terkekeh mendengar jawaban itu, Radith adalah pria yang unik dan memegang janjinya, termasuk dalam rumah tangga bersama wanita yang bahkan tidak tahu jika dia berada di sini.


“Bagaimana tawaranku, apa kau sudah memikirkannya?” tanya Nesya setelah beberapa saat terdiam.


“tidak biasanya aku menuruti perkataan lawanku, namun aku sudah mempertimbangkannya, aku akan melakukan apa yang kau inginkan,” ujar Radith yang tentu saja membuat Nesya tersenyum senang mendengarnya.


“Tapi jika hasilnya tetap sama, aku harap kau mengerti dan tidak terlalu menyalahkanku. Kau bisa saja menghalangiku dengan semua kemampuanmu, namun aku tidak akan berhenti begitu saja,” ujar Radith yang kembali diangguki oleh Nesya.


“Kita lihat nanti,” ujar wanita itu mengakhiri percakapan.

__ADS_1


Radith memilih untuk kembali menikmati pesta dan tidak memikirkan semua masalahnya untuk sejenak.


__ADS_2