
Radith melihat dengan haru seorang bayi lelaki yang sangat manis, Radith merasa anak itu lebih mirip ke Lira, padahal seharusnya anak itu lebih mirip padanya yang lelaki. Meski lahir lebih awal dari perkiraan, syukurlah bayi itu sehat dan utuh, hanya saya Radith merasa anaknya tidak terlalu besar, apakah itu ukuran normal untuk bayi? Entahlah.
“Sayang terima kasih, terima kasih kamu udah berjuang buat menggendong dia, kamu atur perilaku, kamu atur kesabaran, kamu kesakitan dan kamu harus tanggung semua itu sendirian. Aku, aku bersyukur punya istri kamu, aku bersyukur kamu sudah mau menerima semua, dan aku bersyukur berterima kasih kamu sudah berhasil lahirkan anak ini. Aku sayang sama kamu,” ujar Radith yang memeluk Lira yang masih lemas.
“Aku, aku senang anak kita selamat, aku udah takut banget tadi. Maaf aku gak bisa lahiran normal dan tagihan rumah sakitnya jadi bengkak banget, maaf ya,” ujar Lira yang membuat Radith menitikkan air mata dan bahkan menggelengkan kepalanya beberapa kali, dia mencium puncak kepala Lira yang berkeringat dengan penuh kasih sayang.
“Kamu udah selamat aja aku udah terima kasih banget. Kamu sudah berhasil menyelamatkan nyawa kamu dan nyawa anak kamu, aku berterima kasih sekali untuk itu. Aku, aku bersyukur karna kamu selamat, kamu gak usah merasa bersalah apalagi karna biaya, kamu tahu kalau aku kaya raya, uang segitu bagi aku Cuma recehan,” ujar Radith yang membuat Lira terkekeh di sela sela tangisnya.
“Dith, anak kita ada 3, tapi ini pertama kalinya kamu bakal kasih nama anak kamu. Kamu mau kasih nama dia siapa? Aku bakal nurut siapapun nama yang kamu pilih buat dia, kamu pasti udah nyiapin nama yang bagus kan?” tanya Lira yang diangguki oleh Radith.
“Aku sebenarnya mau kasih nama dia yang panjang. Tapi kakanya Cuma bernama Sean dan Zia, kan singkat banget yah, rasanya jadi gak adil kalau dia namanya panjang sendiri, jadi aku kasih nama dia Nathan. Elnathan Putra Galeno,” ujar Radith dengan senyum lebar ke arah Lira.
"Elnathan, nama yang bagus juga. Aku suka. Akhirnya nanti anak kita ada yang absennya di atas gak di bawah mulu, hahaha," ujar Lira yang membuat Radith sadar Sean dan Zia ada di absen bawah. Radith juga tidak sadar akan hal itu, namun tentu Lira sadar, karna jika mengmabil rapot, dia harus menunggu lama sampai nama anaknya dipanggil.
"Padahal rencananya liburan akhir tahun ini aku mau bawa anak anak ke Paris, tapi setelah lihat kamu selemah ini dan secapek ini, aku gak mau lah bawa mereka, aku mau jagain kamu aja, mereka nanti liburannya lain waktu aja," ujar Radith yang diangguki oleh Lira.
Dia sebenarnya tidak masalah jika memang Radith harus pergi bersama anak anak mereka, apalagi lelaki itu sudah berjanji, namun jika memang Radith mau menemaninya, dia juga dengan senang hati akan menyambut Radith. Dia berharap anak anak juga akan mengerti.
"Mami, tangan Sean sudah bersih, sudah pakai cuci tangan dan pembersih tangan. Jadi gak papa kan kalau Sean masuk? Mami, mami apa kabar? Masih sakit? Mami gak papa?" Tanya sean yang langsung berdiri di samping maminya. Lira menggelengkan kepalanya pada anak itu, menenangkan anaknya agar tidak panik.
"Mami sakit, tapi setelah melihat dedek bayi dan Sean, sakitnya mami jadi hilang, mami sekarang baik baik aja, Sean gimana? Sean sehat kah?" Tanya Lira dengan pelan dan Sean langsung mengangguk. Dia melihat perut Lira yang rata, namun tidak berani untuk menyentuhnya. Dia hanya terus menatap tanpa memegangnya.
"Mami, apa dedek bayinya sudah tidak ada di perut Mami? Perut mami sudah jadi kecil kembali, tapi mami masih besar juga, Sean kira mami besar karna dedek bayinya," ujar Sean dengan polos. Radith menahan tawa mendengar celetukan itu. Dia melihat di arah Lira yang tak menyangka Sean pun ikut meroasting dirinya.
__ADS_1
"Sean, kalau Mami gak besar begini, mami gak ada tenaga buat keluarkan dedek bayinya, Sean harusnya bangga loh sama mami, coba lihat, apa sean bisa sebesar itu? Pasti susah kan? Mami itu udah berusaha jadi besar biar dedeknya bisa lahir dengan selamat dan sehat, dorongannya kuat," ujar Radith yang membuat Sean menganggukkan kepalanya.
"Eum, apa dedek bayi itu keluar karna didorong oleh Mami? Apakah Dedek bayi itu tidak mau keluar sendiri?" Tanya Sean yang kembali membaut Radith memiliki PR, dia memutar otaknya agar bisa memberikan penjelasan yang baik pada anaknya ini, dia tidak ingin Sean kembali bingung.
"Eeemm, iya nak, jadi mama harus dorong bayi itu keluar karna mama kan udah lama banget gendong dia, kalau nanti semakin besar, mama harus semakin sakit dan gendong dia semakin lama, kan kasihan mama. Jadi mama memilih buat mendorong dedek bayi buat keluar biar bisa kenalan sama Sean juga," ujar Radith dengan riang. Lira sendiri terlalu lemas untuk banyak bicara, dia hanys mendengar dan memastikan Radith tidak mengatakan hal yang tak baik di depan Sean.
"Nah, tapi di dalam perut mami itu nyaman nak, sangat nyaman buat dedek bayinya dan bahkan dedek bayinya betak di dalam sana, jadi memang cukup sulit untuk membujuk dedek bayinya agar mau keluar. Kamu lihat kan mami sampai selemas dan sesakit ini," ujar Radith yang diangguki kembali oleh Sean.
"Apakah dulu Sean juga begitu?" Tanya Sean yang diangguki tanpa ragu oleh Radith, kini waktu yang tepat untuk memberi contoh dan mengajarkan pada Sean agar menghormati dan menyayangi Lira.
"Semua dedek bayi yang dari perut, bahkan Sean, Zia, Papa dan mami juga, kita semua pernah begitu pada Ibu kita nak, itu sebabnya kita harus selalu sayang sama Ibu kita nak, Sean juga, sayang selalu sama Mami ya, dulu mami juga begini saat melahirkan Sean, bertaruh nyawa untuk membujuk Sean keluar dari perut mami," ujar Radith yang kemudian terdiam beberapa saat.
"Bahkan kala itu, jauh lebih berat untuk Mami, karna Papa tidak ada di sana. Papa ada di Indonesia dan Mami ada di Australia, Papa gak bisa menemani mami, mami harus melawan sekua rasa sakit, berjuang sendirian, sampai kapanpun, seberapa banyakpun, papa gak bisa gantikan semua itu," ujar Radith yang mengelus kepala Lira dengan penuh kasih sayang.
"Dan sekarang sebagai gantinya, Papa akan selalu ada untuk mami, siap melayani mami apapun, sean bantu Papa ya untuk wujudkan itu, kits buat keluarga ini jadi keluarga yang bahagia, oke nak?" Tanya Radith senang yang diangguki oleh Lira dan Sean
“Sayang, kamu hebat, aku bangga banget sama kamu. Gak bosan aku buat bilang ke kamu, aku bangga sama kamu sayang,” ujar Radith yang sebenarnya membuat Lira tersipu. Akhirnya tubuhnya pun juga terasa ringan meski perutnya masih besar, dia senang karna bisa melahirkan anaknya dalam kondisi sehat dan aman (yah, mengingat Radith memiliki banyak musuh di luar sana, akan sangat sulit untuk mendapat ketenangan dan keamanan di saat seperti itu.
“Dith, aku mau anak kita ini dirahasiakan ya, aku mau udah, biar Sean dan Zia aja yang terekspos, paling gak sampai dia gaak besar, baru deh kita publish. Gak papa kan Dith? Permintaan aku gak aneh kan? Aku Cuma ingin dia tumbuh jadi anak biasa yang gak dalam bahaya setiap saat, aku takut kalau kelahiran dia akan membuat musuh musuh kamu punya kesempatan baru buat menghancurkan kita.” tanya Lira yang diangguki oleh Radith. Dia juga berpikir itu adalah hal yang terbaik yang bisa dia lakukan.
“Aku juga berencana melakukannya, bahkan jika aku bisa, aku tidak akan pernah memberi tahu dunia tentang dia sampai dia dewasa, bahkan jika bisa lagi, aku ingin Sean dan Zia juga begitu, namun sudah terlambat, jadi aku hanya bisa memberikan hal yang optimal untuk menjaga mereka dan merahasiakan identitas Sean Junior,” ujar Radith yang diangguki oleh Lira.
“Mami, apa mami baik baik saja? Apakah Mami sehat? Apakah mami masih kesakitan? Sean akan merasa kasihan pada Mami jika mami kesakitan. Mami You Okay kan?” Tanya Sean yang membuat Lira mengangguk senang, kebahagiaannya langsung bertambah karna dia bisa memiliki anak yang luar biasa seperti Sean. Anak itu sangat khawatir pada kesehatannya, dia merasa terharu akan hal itu.
__ADS_1
“Mami baik baik saja, rasanya sakit sekali, tapi setelah melihat Sean, mami sudah merasa sehat, terima kasih Sean sudah bertanya, Sean sudah bisa membuat Mami jadi sehat lagi, kamu memang anak Mami yang paling top deh,” ujar Lira yang membuat Sean tersipu, namun dia masih menatap khawatir Lira, karna wajah Lira tampak pucat berkeringat, sementara itu Zia yang juga masuk menatap semua orang dalam keheningan, sepertinya dia paham tidak boleh menganggu moment keluarga ini.
“Zia sayang, sini nak sama Mami, mami kangen juga sama Zia. Anak cantik, bantu Mami buat jagain adik kalian ya,” ujar Lira yang membuat Zia berkaca kaca dan langsung berlari ke arah Lira. Dia masih tidak tahu harus mengatakan apa, namun dalam hatinya sangat lega karna Lira tidak mengusirnya. Meski Zia tak mengatakan apa apa atau belum begitu mengerti, dia sudah tahu jika Lira adalah Ibu Sean dan bukan Ibunya.
“Ya, nanti Sean yang menjaga dedek bayinya, Zia yang mengurus, seperti Mami dan Papa,” ujar Sean yang sebenarnya membuat Lira mengerutkan keningnya. Jika seperti dia dan Radith, bukankah itu berbeda dari hubungan saudara? Namun dia segera membuang pikrian buruk itu, dia akan menganggap Sean masih belum mengerti apa yang dia katakan, jadi dia overthinking dengan anak anaknya sendiri atau membuat alur novel ini menjadi bukan rate semua umur.
“Ya, kalian bertugas untuk membantu Mami dalam menjaga adik adik kalian ya, nanti Papa yang bertugas untuk mencari uang dan memberikan kalian mainan yang kalian inginkan, jadi semua bahagia. Ah, apalagi kalian sudah memberikan surat pada Santa klaus bukan? Pasti sebentar lagi santa Klaus membawakan hadiah kalian, yah jika kalian berkelakukan baik, jadi kalian harus baik pada Mami, apa kalian bisa melakukannya?”
“Ya, Sean akan melakukannya, namun bukan karna hadiah dari Santa, Sean hanya ingin Mami menjadi lebih mudah, mami sudah menggendong Sean dulu, dan sekarang juga menggendong dedek bayi, Sean akan menjadi kakak yang baik untuk dedek bayi,” ujar Sean yang membuat Lira terkekeh, dia salut dengan pola berpikir Sean yang sangat dewasa, dia bahkan tak memiliki pikiran seperti itu sebelumnya.
“Tapi, fokus kalian bukan ke dedek bayi ya, kalian tetap anak anak mami, jadi mami yang mengurus kalian, nukan kalian yang mengurus mami. Kalian fokus saja pada cita cita dan sekolah kalian, buat mami dan papa bangga, buat dedek bayi bangga punya kakak seperti kalian, bisa kan?” tanya Lira yang diangguki oleh Sean dan Zia. Tentu mereka bisa melakukan hal yang mudah itu.
“Ah ya, apakah mami mau makan atau minum sesuatu? Papa akan berikan untuk mami,” ujar Sean yang membuat Radith menengok. Lira bahkan terkejut dengan pertanyaan dan pernyataan itu, dia tertawa, lebih tepatnya menertawakan Radith yang juga tidak menyangka dengan hal itu. mereka tertawa bersama setelah beberapa saat tersadar. Radith langsung mengusap kepala Sean dengan gemas.
“Ya benar, apakah mami mau makan atau meminu msesuatu? Biar papa Radith dan abang Sean yang membelikan untuk mami, jadi mami tidak perlu lelah dan kesusahan. Ayo mami, katakan apa yang mami mau, papa akan belikan semua yang mami mau,” ujar Radith yang juga meladeni Sean, Radith membuat Sean juga terkekeh dan ikut mengangguk, dia akan ikut bersama dengan Radith jika memang Lira ingin sesuatu, Lira pun tampak berpikir apa yang dia inginkan.
"Mau nasi padang tapi gak yang pedas pedas, kalau minumnya air mineral aja. Aku gak boleh makan macem macem sih sama dokternya," ujar Lira yang diangguku oleh Radith, Radith langsung mengajak Sean untuk ikut bersamanya. Mereka keluar dari kamar Lira bersama, meninggalkan Lira dan zia hanya berdua.
"Mami, apakah Adik bayi ini juga bisa jadi adik Zia? Apakah Zia boleh memanggilnya adik?" Tanya Zia yang diangguki oleh Lira. Wanita itu tentu saja merasa senang dan malah berharap Zia akan nyaman bersama keluarga ini seperti dia sayang dan nyaman saat bersama Zia. Lira ingin Zia sepenuhnya menjadi anaknya.
"Justru mami malah mau meminta Zia untuk jadi kakaknya Dedek bayi ini, kalau Zia jadi kakaknya dedek bayi ini, pasti dedek ini sangat bahagia dan bangga, karna memiliki kakak yang baik dan hebat, Zia mau kan jadi kakaknya dia?" Tanya Lira dengan lembut.
Zia langsung sumringah dan menganggukkan kepalanya, dia setuju untuk menjadi kakak dari anak Lira, justru malah hal itu yang dia inginkan.
__ADS_1
"Terima kasih Mami," ujar Zia senang sambil memeluk Lira.
"Mami yang terima kasih sama Zia. Terimakasih anaknya Mami," ujar Lira sambil membalas pelukan gadis kecil itu.