
Hai,mohon Maaf setelah ini akan menjadi Kacau, silakan langsung melompat ke Chapter 136
Terima kasih banyakkk atas pengertiannya
--------------------------000000----------------------
Setelah acara selesai, Radith langsung meninggalkan tempat acara tanpa mengajak bicara siapapun karna dia tak mau orang itu meminta maaf atau membuat alasan untuk kesalahannya. Dia akan merasa kasihan dan malah memaafkan orang itu, Radith langsung meminta untuk bertemu dengan Direktur perusahaan dan mereka berjanji untuk bertemu di perusahaan itu sebelum Radith bernar benar pergi dari sana.
“Aku tadi ngelihat wajah Ibu ibu itu dan rasanya kasihan banget dith, dia kayak lemas sambil neglus perutnya, aku jadi ngerasa bersalah gitu udah bikin dia begitu. Tapi dia juga salah sih, kenapa coba nyenggol aku sama kamu, aku jadi kayak bingung mau ngapain,” ujar Lira yang membuat Radith mengangguk, dia tahu Lira memilki hati yang lembut, dia akan memaafkan orang dengan mudah meski orang itu menyakitinya.
“Kalau kita langsung maafkan dia, dia gak akan pernah belajar dari kesalahannya. Jadi, aku bakal cari cara biar dia tetap dihukum dengan manusiawi, aku juga sebenrnya gak mau bawa masalah pribadi ke perusahaan, tapi aku gak bisa biarkan pegawai aku punya karakter yang sebusuk itu apalagi sama aku. Besok aku mau ketemu sama direkturnya buat memastikan sesuatu, setelah itu baru aku kasih tahu rencana aku ke kamu.”
“Kamu mau mindahin dia terus menurunkan pangkatnya kan? Aku setuju kalau memang begitu sih, gak kejam, tapi dia juga belajar,” ujar Lira yang diangguki lagi oleh Radith, tentu saja Lira mengerti isi pikirannya, Lira sudah menjadi bagian dari hidup Radith selama bertahun tahun, Lira tahu kemana Radith akan melangkah hanya dengan menatapnya atau menyimak apa yang Radith katakan.
“Ah, kita jemput Lira sama Sean dulu aja, aku udah kangen sama mereka,” ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Mereka pergi ke hotel tempat Sean dan Zia bermain, memerlukan waktu setengah jam untuk sampai ke sana. Radith menggunakan waktu itu untuk tidur di paha Lira yang masih memakai gaun, membuatnya merasa hangat dan nyaman. Lira sendiri mengelus kepala suaminya dengan lembur agar dia bisa tidur dengan nyenyak.
“Suami rasa anak check,” ujar Lira yang memainkan wajah Radith namun pelan agar lelaki itu tidak terganggu, namun Radith adalah orang yang bisa mendengar atau merasakan sesuatu meski hanya sedikit atau pelan, jadi dia tahu apa yang sedang Lira lakukan. Dia tahu Lira sedang memainkan hidungnya untuk didekatkan pada hidung gadis itu. Eh terbalik, Hidung Lira yang didekatkan ke hidungnya. Radith merasa geli mendapat perlakuan itu. Dia ingin memberikan kasih sayang pada wanita itu juga.
Radith segera membuka mata dan mencium bibir wanita itu, Lira terkejut dan tidak bisa melakukan apa apa. Dia hanay terdiam, namun Radith segera bangun dan mencium Lira lebih lekat lagi, membuat wanita itu terkejut dan meronta. Dia hendak melepaskan Radith, namun lelaki itu menahannya dan sampai napasnya bahkan memburu ingin mengejar sesuatu dari Lira, sesuatu yang sudha dia tahan sekian lamanya.
“Tolong aku,” lirih Radith dengan parau. Lira merasa kasihan padanya dan tangannya otomatis bergerak mengikuti nalurinya. Dia menggerakkan tangannya di atas celana lelaki itu, membuat Radith mengerang tertahan. Dia menutup jendela yang menghubungkan mereka ke supir, dan Lira langsung mengeluarkan adik kecil yang sudah membesar itu. dia memegang dengan tangannya dan mulai mendekatkan kepalanya seperti yang dia lihat di film kala itu.
“Kamu belajar dari mana? Kita gak pernah gini loh?” tanya Radith heran namun juga keenakan. Lira terkekeh dan melihat ke arah jam, ada 15 menit sebelum mereka sampai ke sana, jadi dia akan membantu Radith mengeluarkan semua sebelum 15 menit. Radith anya diam dan membiarkan lira yang bekerja meski dia penasaran darimana Lira belajar, namun dia memilih untuk konsentrasi dulu agar dalam 15 menit mereka sudah selesai dengan urusan ini.
10 menit kemudian, Radith merasakan ada sesuatu yang akan meledak dari dalam tubuhnya, dia mengerang dan secara reflek menahan kepala Lira di sana, membuat gadis itu mau tak mau menerima cairan putih dalam mulutnya. Dia hendak memuntahkannya, namun akhirnya dia menelan sebagian karna takut terserak. Radith berusaha menarik napas meski tersenggal-senggal. Dia merasa beban di tubuhnya sangat berkurang.
__ADS_1
Radith melihat penampilan Lira yang snagat berantakan, dia jadi merasa kasihan dan mengambilkan lira tissue untuk membersihkan wajah dan tubuhnya yang terkena cipratan cairan itu. Radith mencium bibir Lira setelah dia selesai membersihkan wajahnya, Lira tampak jauh lebih berseri dari biasanya, dia baru tahu Lira memiliki sisi seperti ini dalam tubuhnya, tentu saja Radith sangat menyukai hal itu.
“Makasih banyak, kamu udah mau melakukan hal yang menurut aku agak menjijikan gini buat bantu aku. Semoga dedek ini bisa lahir dengan sehat ya, sebagai tanda pengorbanan papanya yang udah nahan nahan selama berbulan bulan. Tapi aku masih penasaran, kamu belajar dari mana sampai bisa begitu? Gak kena gigi sama sekali pula, kayak udah ahlinya.”
“Lima tahun aku gak sama kamu, ya aku mau gak mau main sendiri lah, aku juga udah jadi perempuan beranak satu yang punya hasrat juga. Jadi aku ya lihat video sambil main sendiri. Kamu tenang aja, aku gak pernah sama cowok lain, ini aku murni otodidak dari nonton dan praktek sendiri. Ah, aku malu kalau bahas ini, udah, kamu buruan pakai tuh celana bentar lagi nyampe,” ujar Lira yang membuat Radith terkekeh.
Mereka merapikan penampilan mereka dan Lira juga menyemprotkan parfume ke tubuhnya dan tubuh Radith yang berbau tak enak, bau khas cairan putih itu, tercampur dengan bau keringat, dia tak mau Sean dan Zia menanyakannya dan malah membuat mereka bingung harus menjawab apa. Radith dan Lira sudah berpakaian dengan rapi dan wangi saat mereka sampai di sana untuk membawa Sean dan Zia pulang.
“Ah, ada apa ini? Kenapa kalian ada di sini?” Tanya Lira yang membuat Sean langsung berhambur ke arahnya. Lira bingung dan bertanya pada suster dan suster itu pun menceritakan kejadian yang dialami oleh Sean dan Zia.
“Apa kau menyesal sudah melakukan itu?” tanya Lira pada Sean yang diangguki oleh anak itu.
“Apa di masa depan, kau akan emndengarkan apa yang Mbak Anna katakan tanpa membantah jika itu merupakan hal yang baik?” tanya Lira lagi. Sean menangguk dan mengacungkan jari kelingkingnya untuk berjanji. Lira menggapai kelingking itu dengan kelingkingnya dan mengusap kepala Sean dengan penuh kasih sayang.
“Lima juta harga yang cukup mahal untuk mendidik karakter kamu, tapi bagi mami itu gak masalah selagi kamu terus belajar hal baru, terutama jika kamu tahu, tidak baik melakukan hal itu lagi di masa depan. Mami akan lihat perubahan sikap kamu ke depannya. Sekarang kamu gak usah sedih lagi, Mmai memaafkan kamu,” ujar Lira yang membuat Sean mendongakkan kepalanya menatap ke arah Lira.
“Udah, kalian sudah makan? Kalau belum, ayo semua makan di luar aja sekalian check out, Mbak Anna sama Mbak Beta juga, kalian gak puasa kan? Atau ada alergi makanan gak?” tanya Radith pada kedua suster anak anaknya.
Radith sudah puas bermain dengan anak anaknya, namun dia merasa ada sesuatu yang kurang. Setelah mengingat beberapa saat, dia baru ingat jika dia belum menghubungi Lira, dan lebih buruk lagi, dia lupa jika ponselnya masih di mode pesawat, jadi tidak ada panggilan atau pesan yang masuk ke ponselnya. Dia lekas mematikan mode pesawat itu dan ingin menghubungi Lira.
Setelah ponselnya menyala, dia melihat Lira sudah mengirim banyak pesan. Dia membuka pesan itu satu persatu, isinya ungkapan rindu Lira padanya. Radith tak menyangka Lira akan sebucin itu, hormon Ibu yang baru saja melahirkan anak membuat Lira tidak bisa jauh dari Radith.
Radith membaca satu persatu pesan dengan eajah yang tersenyum. Sampai dia membaca salah satu pesan yang membuat senyum di bibirnya luntur seketika. Dia membawa pesan yang ada di ponselnya dengan serius. Dia langsung menegang setelah melihat apa yang tertulis di sana. Dia bisa membaca semua pesan yang Lira sampaikan, rupanya puluhan pesan itu, hanya sedikit yang pesan rindu, sisanya pesan meminta tolong.
"Bodoh, kenapa aku tidak membaca pesan Lira dari tadi? Astaga. Aku bodoh. Mba Anna, Mba Betta, kalian jaga anak anak dan lanjutkan liburannya. Saya harus kembali ke Indonesia. Mereka akan dikawal dengan pengawal, jadi kalian tidak perlu khawatir, saya harus pulang ke Indonesia saat ini juga," ujar Radith yang membuat Beta dan Anna bingung, begitu juga dengan Zia dan Sean yang tak mengerti kenapa Radith seperti itu.
__ADS_1
"Kalian baik baik dengan Mba Anna dan Mba Betta. Papa harus pulang sekarang, kalian kembali ke rumah dan tinggal di sana untuk sementara waktu ya, nanti papa akan kirim kabar untuk kalian. Kalian jaga anak anak, jangan sampai pergi kemana mana paling tidak sampai situasinya aman," ujar Radith cepat, namun Sean menahan tangan Radith.
"Kalau papa pulang, Sean ikut pulang saja pa, kenapa Sean harus tetap liburan kalau papa pulang ke Indonesia? Apalagi papa panik seperti ini," ujar Sean yang dijawab gelengan kepala oleh Radith. Dia sedang buru buru, namun tentu saja dia tidak mengijinkan Sean ikut dan malah menjadi bahaya untuk mereka semua karna rokus Radith akan terbelah dan itu berbahaya untuk keluarganya.
"Nak, kamu dan papa tidak bisa ada di pesawat yang sama saat ini. Kamu jangan pulang ke Indonesia dulu. Kamu di sini bersama Zia ya, ada rumah yang udah papa siapkan, kamu tinggal sama Zia di sana untuk sementara. Zia kalau nanti tante Jenny datang, papa minta kamu jangan pergi dulu ya, di rumah dulu untuk beberapa waktu, kalian mengerti?" Pesan Radith yang diiyakan oleh anak anaknya.
Lelaki itu langsung memesan pesawat khusus yang akan membawanya ke Indonesia tanpa tiket, yah, meski harga yang dibayar jauh lebih mahal dari tiket sih. Dia dan 10 anak buahnya segera pergi dari tempat itu ke bandara untuk naik pesawat. Pesawat yang hanya dia gunakan jika dalam keadaan darurat. Dia tidak bisa membawa Sean, karna tidak mau anaknya terserey dalam masalah ini.
Radith sangat cemas dan ingin segera sampai ke negaranya. Namub dia tidak bisa menggunakan panggilan, nomor Lira juga terakhir mengirim pesan satu jam lalu, dia tak bisa membalas pesan itu karna jika Lira tertangkap, bisa saja ponselnya diambil oleh mereka dan Radith akan dijebak, karna bagaimanapun Radith tahu, Lira hanyalah umpan.
"Kenapa masalah seperti ini selalu saja terjadi? Kenapa aku bahkan tidak bisa liburan dengan tenang bersama anak anakku?" Tanya Radith yang frustasi. Dia bisa melihat A sampai J (nama anak buah Radith, mereka tidak punya nama dan hanya menyebut diri mereka A sampai J, ingat?) Juga ikut panik dengan apa yang terjadi, terlebih mereka juga harus ikut Radith kemanapun, jadi besar kemungkinan mereka juga akan celaka kali ini.
"Setelah ini, ambilkan laptop saya dan lacak keberadaan liontin Lira. Saya mau melacak benda itu terlebih dahulu, jika sudah ditemukan, langsung ke sana kirim orang, pastikan apakah Lira ada di sana atau itu hanya jebakan. Kalian hanya punya sedikit waktu dan pastikan anak istri saya bisa ditemukan dalam keadaan selamat," ujar Radith yang diangguki oleh mereka. Radith dan Anak buahnya berusaha untuk tenang saat ini karna mereka memerlukan waktu cukup lama untuk sampai ke Indonesia.
Radith membaca lagi pesan yang dikirimkan oleh Lira. Dia merasa jauh lebih frustasi semakin dia membaca pesannya. Apalagi pesan terakhir yang Lira katakan dan dia juga melihat ponselnya yang menyala nyala, tanda pintu ruang rahasia sudah dibuka. Radith merasa kesal sekaligus menyayangkan aksi yang diambil oleh Lira.
"Seharusnya dia ikut masuk ke sana dan bersembunyi, pasti dia tidak akan dalam kesulitan seperti ini. Kenapa dia malah menjadikan dirinya umpan dan meninggalkan anak bayi di sana. Apa dia tidak berpikir anak bayi itu akan kelaparan? Dia sungguh bodoh jika sedang panik," ujar Radith yang merasa tak sabar dengan istrinya.
"A B C D, kalian siapkan mobil cepat agar saya bisa segera sampai ke rumah setelah sampai di bandara. Saya mau cepat sampai di rumah bersama kalian, E F G H, kalian lakukan tugas yang tadi saya sebut dan perintahkan. Sisanya, kalian berjaga di semua tempat yang akan membawa kalian ke luqr pulau, jaga jangan sampai Lira pergi dari pulau Bali.
"Baik pak," sahut semuanya dan langsung sibuk dengan urusan mereka masing masing. Radith juga berpikir dan berdoa semoga anaknya sudah minum susu tadi sehingga tidak akan terlalu lapar sampai dia pulang ke rumahnya. Dia akan merasa sangat bersalah jika terjadi sesuatu pada anak itu.
"Seharusnya gue gak pergi, harusnya gue tetap di Indonesia kalau tahu hal ini bakal terjadi. Ah, enggak, harusnya hal ini gak terjadi, harusnya gue gak ambil proyek itu. Cuma karna proyek besar, gue harus mengancam nyawa keluarga gue lagi, sial, kenapa jadi kayak gini sih?" Tanya Radith pada dirinya sendiri.
"Kalau sampai benar ini semua karna ulah tuh pesaing bisnis, jangan sampai orang itu masih hidup, pastikan dia mati mengenaskan dan bahkan sudah hilang sampai ornag tak tahu lahi tentangnya," ujar Radith dengan wajah yang serius dan kejam.
__ADS_1
"J, kau hubungi Andre, coba cek dimana dia sekarang. Jika dia berada di Bali, pastikan dia bantu kita mencari Lira," ujar Radith yang diangvuki oleh J, orang itu berusaha menghubungi Andre, namun ternyata tidak bisa terhubung.
"Setelah pulang dari liburan, tuan Andre sulit dihubungi, dan bahkan sekarang tidak aktif sama sekali. Sekarang dia bahkan tidak tahu ada dimana," ujar J yang diangguki oleh Radith, namun sesaat kemudian Radith menyadafi sesuatu.