Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 87


__ADS_3

Setelah mengharu biru, Radith sudah merasa lega dan menghentikan semua pencarian, termasuk Andre yang langsung beristirahat di kamar hotel karna lukanya yang kembali terbuka akibat terlalu banyak bergerak. Dia pergi ke rumah sakit, mendapatkan perawatan termasuk menjahit ulang lukanya, lalu memilih untuk beristirahat di hotel dibanding di rumah sakit yang makanannya tak enak, tempat tidurnya pun tak nyaman baginya.


"Kalau lo udah baikan, lo ke Bali lagi aja, lebih nyaman di sana pasti, ada pacar juga kan di sana. Daripada lo di sini cuma sendirian, gak ada yang urus kayak jompo aja," ujar Radith yang dijawab deheman oleh Radith, tanpa disuruh pun dia sudah berencana melakukan itu, dia tidak ingin lama lama di kota yang banyak polusi ini, dia ingin segera pulang ke pulau dan kota tempat tinggalnya dimana keluarga dan kekasihnya juga ada di sana.


"Oh ya, liburannya, lo gue tranfer aja ya, nanti lo urus sendiri sesuai dengan yang lo mau. Gue sama Lira masih mau di Jakarta sampai satu minggu dan yah, gue gak ada waktu buat lo, haha," ujar Radith yang membuat Andre memutar bola matanya, meski dia juga tahu Radith tak mungkin memiliki waktu untuk membelikan tiket dan paket liburan untuk dirinya, jadi uang jauh lebih baik dibanding dia batal liburan karna sibuknya Radith.


"Sama nanti semua yang bantu pencarian, kasih royalti yanh pantas, terus minta asisten buat kasih laporannya ke gue, harus gue pastikan uanh operasional perusahaan tetap aman. Gak lucu juga demi bikin kalian semua liburan, gue malah bangkrut," ujar Radith yang diangguki lagi oleh Andre. Jawaban Andre membuat Radith merasa tak puas, dia merasa jawaban Andre tidak sepenuh hati dan malah terkesan sedang menyepelekan dirinya.


"Lo marah sama gue atau gimana sih? Atau lo merasa kecewa karnq gak gue belikan tiket? Jangan diem aja gitu dong, gue gak suka ya kalau lo menyelepekan gue gini. Walau kita teman juga gue masih atasan lo, walau gue udah santai, tetap aja lo harus hormat ke gue, lo kenapa begitu?" Tanya Radith yang membuat Andre menghela napasnya dengan malas.


"Perut gue sakit Dith, kalau ngomong tambah sakit. Gue dengar semua yang lo bilang kok dan bakal gue lakukan," ujar Andre yang dijawab "ooo" oleh Radith karna dia kembali merasa bersalah, Andre sampai seperti itu karna dirinya, dia yang membuat Andre keluar dari rumah sakit sebelum waktunya dan bahkan membuat lelaki itu sakit lagi.


"Kalau lo butuh ambulance buat ke Bali, gue bakal siapkan ambulance. Gue khawatir kalau lo ada di kamar hotel ini, kalau lo butuh penanganan medis gimana?" Tanya Radith yang tentu membuat Andre menghela napasnya. Dia tak menyangka Radith masih berisik meski dia sudah mengatakan kesakitannya. Padahal Andre tak pernah mengeluh, jika dia sudah mengeluh, itu berarti kondisinya sudah cukup parah bagi dirinya.


"Ah iya, maaf, maaf gue lupa kalau lo sakit, ya udah, lo istirahat aja, nanti gue panggil dokter buat periksa kondisi lo ya. Selamat malam Andre, lo yang terbaik yang gue punya," ujar Radith yang keluar dari kamar itu menuju ke kamar Lira dimana Zia dan Radith sudah ada di sana. Dia ingin bermain dengan Radith dan Zia setelah sekian lama mereka berpisah dan Radith sibuk akan urusannya.


"Eh anak anak papa lagi main, kalian ini mainnya gadget mulu, besok pagi sama Papa kita lari aja yuk biar sehat, habis itu kita main juga ke eemm, terserah deh mau kemana, gimana? Mau gak? Biar gak cuma main Gadget aja," tawar Radith yang membuat Sean merasa tak suka dan memilih untuk bermain Gadget, namun Zia menyukainya.


"Apa Zia mau melakukannya? Jika Zia mau, baiklah, Sean juga akan melakukannya," ujar Sean yang membuat Radith takjub. Dia tidak menyangka Sean akan semudah itu berubah pikiran. Mungkin Sean masih merasa kasihan dengan Zia yang sudah sekian lama hilang karna diculik dan bahkan hidup mengenaskan, dia ingin membuat Zia bahagia.


"Baiklah, kalau begitu besok kita bangun pagi, lari lari bersama dan main ke mana ya. Oh ya sayang, kamu juga ikut ya, biar kita bertiga lari," ujar Radith yang dijawab gelengan kepala oleh Lira. Kondisi bayinya masih belum stabil, dia tak mau kelelahan atau berlari dan beresiko dengan bayinya. Nanti saja jika bayinya sudah kuat dan cukup tumbuh, baru dia akan berolah raga dengan Radith dan anak anak.


"Mami akan punya dedek baru? Bolehkah Zia jadi kakaknya juga? Bolehkah adik ini jadi adik Zia juga?" Tanya Zia sambil mengelus perut Lira. Lira tersenyum lebar sambil mengusap kepala Zia. Dia merasa sedih karna Zia masih menganggapnya orang lain, dan masih menganggap Greselyn yang sudah menjualnya sebagai Ibunya.

__ADS_1


Mungkin terdengar jahat, tapi Lira lega wanita itu tewas, jadi dia bisa merawat Zia dan membesarkan Zia sebagai anak kandungnya, Zia juga akan terbiasa hidup dengannya dan menganggapnya sebagai Ibu kandung, lalu perlahan melupakan Greselyn yang sudah memberikan dia luka fisik dan batin. Zia masih menunggu jawaban Lira dengan sabar, namun dia juga takut jika Lira tidak memperbolehkan.


"Adik yang ada di perut Mami adalah adik dari Sean dan Zia. Kalian berdua harus sayang sama adik ini, kalian gak boleh nakal sama adik ini dan kalian harus tumbuh dewasa agar bisa menjaga adik ini, kalian bisa kan mami andalkan?" Tanya Lira yang tentu langsung diangguki oleh Zia dan Sean. Mereka akan tetap kompak dan menjaga adik mereka dengan baik.


"Eh tapi Ra, kamu ikut aja dong, gak usah lari gak papa deh, duduk aja gitu di taman. Aku sama anak anak yang olah raga, habis itu kita mau ke mall, sama makan bubur ayam juga. Aku udah lama gak makan bubur ayam, jadi kangen," ajak Radith yang memohon, membuat Lira akhirnya luluh dan mengiyakan, mereka akan pergi bersama meski nanti dia tidak ikut berolahraga.


"Oh ya, gak usah seminggu di sini deh Dith, kita balik aja ke Bali, kita kan ijin buat Zia karna pergi ke kampung buat jenguk saudara, aku takut kalau pihak sekolah malah kasih Zia banyak tugas atau malah nanti Zia tinggal kelas, kan kasihan. Besok kita ke sekolah Zia dan minta buat tugas atau ulangannya bisa dia kerjakan."


"Jangan besok juga lah, Lusa atau 3 hari lagi. Aku benar benar capek Ra, kalau balik ke Bali, mau gak mau aku harus kerja dulu, jadi ya gitu deh," ujar Radith yang tentu dimengerti oleh Lira. Jika ada di luar kota atau bahkan luar pulau, Radith tidak mengalami beban tanggung jawab yang sebegitu besarnya. Dia masih bisa sedikit bersantai, namun jika ada di kota yang sama, dia merasa harus melakukan kewajibannya.


"Ya udah, 3 hari lagi kita balik ke Bali, besok kamu kamu mau refreshing dulu sama anak anak, terus lusa kita full istirahat, baru deh pulang. Sean juga biar bisa belajar sama guru private yang udah disiapkan sama Alex, kasihan juga gurunya," ujar Lira yang diangguki oleh Radith. Mereka berdiam sebentar, lalu Radith teringat sesuatu dan langsung mengambil ponselnya, dia mengirim pesan pada Guru Zia yang ada di Bali.


"Kan Sean ada guru private, ya kita sekalian pakai dia buat ngajarin Zia kan? Sekalian Zia bisa belajar dan ngerjain tugasnya yang ketinggalan juga, jadi pas pulang ke Bali, udah berkurang bebannya Zia, gimana? Tinggal kita tambah aja bayarannya, mau kan?" Tanya Radith yang tentu disetujui oleh Lira karna itu hal yang baik. Dia segera memberi tahu guru Private itu untuk memastikannya.


"Iya Pa, Zia mau belajar, Zia udah kangen sama teman teman Zia. Mama Grace bilang cuma ajak Zia pergi sebentar, tapi ternyata lama, dan Mama Grace bilang Om jahat itu teman Mama dan akan membawa mereka jalan jalan, tapi ternyata Om jahat itu culik Zia, dan memaksa Zia untuk mengemis."


"Zia gak tahu mama Grace ada dimana sekarang. Apa mama Grace rindu sama Zia? Mama Grace masih di Bali ya Pa" tanya Zia yang membuat Radith tak tega. Meski semua adalah salah Greselyn, dia tetap tidak bisa memberi tahu Zia jika Mamanya itu sudah meninggal dengan konyol. Dia tidak bisa membuat Zia jadi sedih atau kecewa padanya, dia ingin Zia melupakan Grace dengan segera.


"Zia istirahat dulu, karna Zia kan belum pulih, kalau Zia udah sehat, kita ketemu sama mama Grace, ya?" Tanya Lira yang diangguki oleh Zia. Mereka tidur di dua ranjang yang ada di sana. Lira dan Radith tidur satu ranjang, Zia dan Sean tidur satu ranjang. Mereka tidur dengan nyenyak untuk malam ini karna akhirnya masalah paling besar di hidup mereka sudah terangkat dengan baik.


"Selamat Malam anak anak papa yang paling baik, paling cantik dan tampan, paling bijaksana, paling kuat dan selaku dalam lindungan Tuhan, Papa sayang sama kalian," ujar Radith yang memberikan berkat dan doa untuk anak anaknya, hal yang sudah lama tidak dia lakukan, bahkan pada Sean yang setiap hari masih dia temui.


Harus Radith akui, Sean justru lebih kurang kasih sayang darinya dibanding Zia. Mereka Sama sama tumbuh tanpa Radith, namun saat Zia menghilang, Sean benar benar kehilangan sosok ayah dalam hidupnya untuk kedua kali, yang lebih membuat sakit, Radith hanya memikirkan kondisi Zia, keberadaan Zia tanpa mau bertanya apa yang Sean butuhkan. Radith jarang menunjukkan cintanya pada Sean bahkan untuk mengucapkan selamat malam atau mendoakannya seperti ini.

__ADS_1


"Walau papa masih belum bisa jadi ayah yang baik, Papa akan tetap berusaha membuat kalian berdua bahagia. Papa akan tetap ada di dekat kalian untuk seterusnya. Memberikan cinta yang adil dan setara. Zia, Sean, kalian anak anak Papa yang berharga," ujar Radith yang mengecup dahi kedua anak yang sudah memejamkan matanya itu.


"Sean memang mungkin gak bilang, tapi aku lihat kalau dia juga pengen dikhawatirkan, pengen diperhatikan dan pengen juga dicari saat kamu sibuk sama Zia. Tapi aku berusaha kasih pengertian ke dia Dith, aku kasih dia cinta yang membuat dia masih merasakan cinta itu karna memang fokus kita harus ke Zia."


"Aku harap setelah ini kita semua, ya, kita semua termasuk aku, kamu dan bayi yang ada di perut aku bisa bahagia," ujar Lira yang diangguki oleh Radith, dia juga berharap akan hal yang sama. Meski sulit untuk diraih pun, dia tetap akan mengusahakan yang terbaik untuk keluarganya.


"Yang, kalau lagi hamil gak boleh berhubungan kan ya? Kalau aku lagi pengen banget gimana dong? Masak iya aku harus nunggu 9 bulan?" Tanya Radith yang membuat Lira tercengang. Di tengah obrolan yang serius dan mengharukan, Radith masih sempat membahas hal yang tak perlu seperti itu.


"Kalau emang gak sabar nunggu 9 bulan, ya kamu beli mainan aja, buat dimain sendiri. Aku gak mau anak kita kenapa napa cuma karna kamu gak bisa nahan tuh napsu. Aku gak mau pokoknya mengorbankan anak kita buat hal yang begitu," ujar Lira yang membuat Radith merengut.


"Mahal Ra kalau beli mainan, aku lihat harganya 2 jutaan. Ya kalik cuma buat mainan harga 2 juta, mending sama istriku lah, udah bisa respon, bisa gerak sendiri, lebih nyata pula," ujar Radith yang membuat Lira tak sabar ingin menaboknya, namun dia ingat harus tetap bersikap positif agar anaknya tumbuh jadi anak yang baik dan auranya positif.


"Terserah deh cara kamu gimana, yang penting jangan sampai anak aku yang kena, atau juga jangan sampai kamu jajan di luar, aku gak mau kena penyakit karna kamu sembarangan, atau lebih parah, nanti malah muncul Greselyn Greselyn yang lain, aku gak mau pokoknya," ujar Lira dengan tegas dan Final. Radith mengangguk paham dengan perintah itu.


"Besok aku mau tanys ke dokternya kalau pas antar kamu check up. Masak sih gak boleh ngelakuin? Masak harus nahan 9 bulan, mana betah. Aku seminggu aja gak bisa, harus tetap aku keluarkan dan itupun butuh berjam jam biar tuntas," ujar Radith yang membuat Lira tak tahan dengan obrolan itu.


"Dith, aku lagi hamil jadi gak boleh emosi, kamu jangan pancing emosi aku ya, kalau aku emosi, kamu yang aku makan pertama," ujar Lira yang akhirnya membuat Radith diam. Dia tidak ingin Lira jadi sakit atau janin wanita itu sakit.


"Ya udah, tunggu besok aku tanya ke Bidannya, baru semua jadi jelas," lirih lelaki itu tak mau kalah dan masih memikirkan hal yang sama.


"Radith," ancam Lira singkat.


"Iya sayang iya," lirih Radith yang menurut seperti anak kucing pada induknya.

__ADS_1


__ADS_2