
"Radith ih, kamu ngalain sih parkirnya di lantai 7? BR kan ada di lantai 2, capek banget harus rurun lagi pakai lift," ujar Lira yang membuat Radith menghela napasnya, memang dia sengaja untuk parkir di lantai 7 yang sudah pasti sepi daripada dia harus melihat satu persatu mana parkiran yang kosong, dia malas untuk melakukan itu dan melakukan ini, namun Lira malah mengira dia sengaja mengerjai Lira.
"Sayang, kalau kamu di lantai 7, kan kamu bisa tuh lihat lihat dari lantai 6 ke bawah, siapa tahi kamu tiba tiba mau belanja apa gitu kan? Mumpung atm berjalan kamu lagi banyak uangnya, lagi baik juga nih. Kamu mau minta apa, tinggal gesek aja," ujar Radith yang membuat Lira makin kesal, karna alasan itu tidak masuk akal bagi Lira, apalagi Radith tahu jika gadis itu tak suka belanja di keramaian, lebih baik mereka membeli secara online.
"Ya udah iya, kalau kamu mau ke lantai 2, ayok deh aku gendong kamu ke lantai 2, biar kamu gak usah jalan, biar aku yang gendong nih, kita baik eskalator juga gak masalah. Aku gak papa gendong kamu keliling mall ini juga. Ayo, gimana? Mau?" Tanya Radith yang tentu membuat Lira merasa bersalah. Dia tak mau membuat Radith tersiksa seperti itu.
"Gak usah naik lift deh, mau jalan jalan sekalian. Kebetulan juga aku mau beli sepatu buat Zia sama Sean, atau beli kebutuhan buat bulanan juga. Biasanya kan pembantu yang beli, aku pengen ngerasain beli sendiri biar kita benar benar kayak keluarga gitu Dith. Boleh kan Dith?" Tanya Lira yang tentu diangguki oleh Radith, dia senang jika Lira juga senang karna kebutuhan dan kepuasannya terpenuhi, dia berhasil menjadi suami yang baik bagi Lira.
"Kita pergi ke toko perlengkapan bayi dulu," ujar Lira yang menarik tangan Radith. Lelaki itu sempat bingung, karna Lira mengatakan ingin membeli sepatu dan kebutuhan harian mereka. Tapi kenapa malah pergi ke toko perlengkapan bayi? Ah, entahlah, Radith hanya bertugas sebagai ATM untuk hari ini, jadi dia tidak akan protes atau bertanya kenapa Lira membeli itu.
"Aku dulu gak pernah beli beginian buat Sean secara langsung ke tokonya. Aku pengen beli buat Seanwati, walau aku gak tahu dia perempuan atau laki laki, kita beli yang unisex aja. Aku cuma pengen beli aja," ujar Lira yang diangguki oleh Radith. Meski mereka belum tahu dan memang belum butuh, namun Lira mengidam ingin membelinya, jadi ya dia beli saja. Toh tidak akan dia pamerkan ke orang orang apa yang mereka beli dan siapa uang sedang mereka nantikan.
"Ya udah kamu pilih aja mau yang mana, asal gak lebih dari 10 juta ya, limit aku segitu sih soalnya, daripada suaah juga bayarnya," ujar Radith yang tentu disetujui oleh Lira. Memang apa yang akan dia beli sampai menghabiskan berjuta juta? Dia hanya ingin membeli beberapa perlengkapan yang dulu juga dia belikan secara online untuk Sean. Ah itupun dulu dia memilih harga yang murah.
"Aku mau beli celemek, dot, piring satu set, sama ini dith, kereta dorong. Boleh kan?" Tanya Lira yang kembali diangguki oleh Radith. Lira snagat senang karna diperbolehkan. Wanita itu langsung mengambil apapun yang dia suka dan inginkan, lalu memberikannya ke kasir untuk dibayar. Rupanya benda benda itu bisa mencapai 3 juta dalam sekali belanja. Tentu saja Lira kaget, pantas saja Radith melarangnya untuk lebih dari 10 juta, ternyata memang hal itu mungkin.
"Gak usah kita yang bawa, tuh biar pengawal aja yang bawa biar mereka yang bawa ke mobil, kita beli yang lain," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Mereka memanggil salah satu pengawal yang mengikuti lalu meminta pengawal itu untuk membawa belanjaan mereka ke mobil pengawal itu karna masih ada hal lain yang perlu mereka beli, jadi Radith tak mau mobilnya penuh dengan barang barang.
"Aku bingung, kita mau beli apa lagi Dith?" Tanya Lira yang tentu juga membuat Radith bingung. Tujuan mereka adalah untuk beli es krim, namun Lira malah meminta hal hal yang lain, dia tidak terbiasa pergi tanpa rencana, jadi dia akan bingung apa yang harus dilakukan ataupun dibeli. Lira sudah tahu hal itu, namun dia bertanya barangkali ada sesuatu yang ingin Radith beli.
"Aku gak kepikiran apa apa lagi, ya udah, kita beli es krim," ujar Lira yang menggandeng tangan Radith untuk masuk ke lift agar mereka lekas sampai di lantai 2, karna dia takut terlalu banyak berjalan membuat kakinya jadi sakit dan malah berpengaruh ke kondisi moodnya. Mereka segera pergi ke kedai es krim yang cukup mahal namun enak itu. Lira membeli satu macam, Radith juga membeli satu dan mereka ingin makan di meja yang ada di sana agar bisa makan dengan nyaman.
"Ganteng banget, sayang udah punya pacar." Lira langsung menengok dan mendapati dua orang gadis SMA sedang melihat ke arah Radith dan Lira. Wanita itu tentu saja merasa risih, apakah anak SMA jaman sekarang suka menggoda seseorang yang lebih tua, ah, jauh lebih tua dari mereka?
"Ah, kalau gue kenal atau punya kontaknya, gue pasti pepet sih, lumayan kan, gak pernah gue jadi sugar babynya cowok cakep, yang terakhir yang kasih gue Aipon juga bapak bapak jelek, tua, mana bau lagi," ujar salah satu pada yang lain. Lira makin terkejut mendengar hal itu. Apakah iti hal lumrah bagi mereka sampai bisa menceritakan dengan santai satu sama lain?
__ADS_1
"Yah, iya sih, sekarang mah kebanyakan yang butuh sugar baby tuh bapak bapak tua yang istrinya udah gembrot, gak cakep dan lower. Makanya mereka nyari yang lebih segar, kalau ini mah, gue juga kalah sama ceweknya, jadi ya gak berani juga gue."
Lira bingung harus merasa bangga atau kesal dnegan pembicaraan mereka. Namun sepertinya mereka sudah sangat biasa melakukan hal seperti itu. Menjadi simpanan pria tua yang kaya karna mereka memiliki banyak uang, sehingga anak anak itu bisa memiliki uang tanpa harus bekerja, hanya perlu bersikap manis dan cantik di hadapan pria tua itu.
"Kalau gue sih yang terakhir sama om Gunawan, beuh, dia masih bugar banget cuy, gue aja sampai nyaris pingsan loh ngeladeninnya. Demi apa dia bisa banget ngenakin gue, sampai gue keluar berkali kali, gue sampai lemas tapi dia gak selesai selesai, sampai gak tahu deh gue udah keluar berapa kali baru dia keluar."
"Wih, dapet banyak dong lo udah bisa bikin fuh orang puas? Lumayan lah buat spp," ujar yang lain. Lira dan Radith masih mendengarkan saja, meski mereka tahu apa yang orang orang itu lakukan salah, dia juga tak bisa mengatur hidup mereka, paalgi mereka lakukan secara sadar tanpa paksaan, lebih kecil lagi urusan Lira untuk mencampurinya.
"Kalau spp gue mah udah lunas sampai lulus kalik karna duku tuh pas sama Om Fredi. Kalau ini mah buat foya foya aja. Bininya kerja di Jakarta, dia di Bali, jadi aman banget mah kalau posisi gue, gak kayak lo yang satu pulau, bisa ketahuan, gampang malah," ujar orang itu yang diangguki oleh lawan bicaranya.
"Haha, gitu lah kalau suami istri tinggal jauh jauhan, pasti ada aja yang suka jajan. Lo bayangin aja istrinya gak ketemu setahun dan oke oke aja. Ya kalik dia selama setahun cuma main sendiri, pasti juga punya patner lah."
Lira merasa muak dan langsung mengajak Radith untuk pergi dari sana. Dia tidak mau mendengar lebih jauh, apalagi topik yang mereka bicarakan sangat cocok jika diterapkan dihubungannya dengan Radith yang sering pergi ke luar kota. Apakah lelaki itu juga memiliki sugar baby di luar sana?
"Gak usah mikir yang aneh aneh sayang. Aku Jakarta Bali sehari pulang aja mau banget ngejalanin yang penting ketemu kamu. Aku gak akan punya adek adek an kayak mereka sayang, aku cuma sayang sama kamu loh. Aku kalau gak pulang ya murni karna kerjaan. Lagian punya istri sempurna begini, masak gak bersyukur."
"Kita makan di taman aja yuk, di mobil, sekalian aku pengen banget martabak nih, nanti kita mampir beli martabak juga ya," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana agar tidak terlalu lelah dan bertemu banyak orang yang membuat pikiran mereka merasa terbeban, apalagi gadis seperti anak SMA tadi.
"Udah lama banget kita gak begini ya, ah bahkan kayaknya gak pernah deh Dith. Kita kan gak pernah pacaran? Iya kan? Atau aku yang lupa?" Tanya Lira yang membuat Radith berpikir. Benar juga, mereka memang tak pernah berkencan dengan layak, apalagi setelah Radith menyadari jika dia mencintai Lira, Lira sudah pergi ke Australia.
"Kita emang gak pernah pacaran, tapi setelah ini kita bisa pacaran sepuas hati karna aku tahu, kita gak akan pernah putus. Kita bisa pacaran kemanapun yang kita mau. Kamu mau kemana? Mau ajak anak anak boleh, kita cuma berdua juga boleh," ujar Radith yang membuat Lira tersadar.
"Radith! Anak anak! Ini jam berapaaaaa? Anak anak udah pulang harusnya," pekik Lira yang juga membuat Radith tersadar. Dia langsung melajukan mobilnya menuju sekolah Zia dan Sean yang cukup jauh lokasinya dari tempatnya saat ini. Mereka harus cepat karna Zia dan Sean pasti sudah menunggu lama. Lira panik karna takut anak anaknya tak mau pulang bersama pengawal.
"Aku udah kasih pesan ke anak anak, jangan mau dijemput siapapun kecuali aku sama kamu, bahkan kalau kita kenal orang itu, tetap jangan mau karna orang jahat banyak macamnya. Ya Tuhan, semoga kali ini mereka melanggar apa yang aku larang dan pulang sama.pengawal," ujar Lira yang melihat ke arah jalanan.
__ADS_1
Benar saja, saat sampai ke depan sekolah Sean, anak itu sudah sendirian dan menunggu Lira untuk menjemput. Sean mengenali mobil yang ditumpangi oleh Lira dan langsung masuk ke sana tanpa mengatakan apa apa. Lira tentu merasa bersalah pada anak itu, dia tidak bermaksud melupakan Sean dan Zia.
"Kenapa mami dan papa hanya beli sati es krim? Untuk Sean mama?" Tanya anak itu yang ternyata lebih fokus pada es krim dibanding keterlambatan menjemput ini.
"Setelah jemput Zia, kita beli es krim satu wadah ya, biar puas kita makannya. Oke?" Tanya Lira yang dijawab anggukan oleh Sean. Anak itu kembali tenang seolah tak terjadi apa apa.
Tak lama dan tak begitu jauh dari sekolah Sean. Mereka berhenti di depan sekolah Zia. Anak itu belum keluar dari kelasnya, membuat Lira bertanya tanya apa yang dilakukan anak itu sampai belum pulang meski sudah sangat terlambat.
"Kok Zia belum pulang ya? Padahal udah telat 3 jam jemput loh," ujar Lira pelan.
"3 jam mami? Ini baru jam 12 kok. Zia kan memang belum pulang kalau jam segini," ujar Sean polos yang membuat Lira mengecek ke arah jam yang ada di tangannya.
"Lah, iya, ternyata jam yang mami pakai mati. Astaga, padahal tadi mami sudah panik dan khawatir. Ternyata malah mami yang terlalu awal jemputnya," ujar Lira yang lega karna ternyata Sean pun tidak menunggu lama, pantas saja anak itu hanya mempermasalahkan es krim yang dibawa oleh Lira.
"Padahal nih Se, Papa udah ngebut banget pas mamimu bilang udah telat 3 jam. Papa kan gak bawa jam, ya papa percaya saja sama Mami, tahu gitu kan Papa gak usah buru buru juga," ujar Radith yang sengaja menggoda Lira.
"Yah, bukan salah aku dong. Kenapa kamu gak pakai jam sendiri? Kan aku juga gak tahu jamku mati. Terus juga gak rugi kok, kita gak bikin Sean pulang telat, kalau tadi aku gak panik, emang bisa sampai tepat waktu?" Tanya Lira membela diri.
"Iyaa, emang kamu istri aku, ibu dari anak anak aku yang paling hebat. Kamu bisa memprediksi apa yang akan terjadi sama anak anak. Walau dikira salah juga yang kamu lakukan udah benar," ujar Radith yang membuat Lira tersenyum puas.
"Nah, udah pada keluar tuh. Itu Zia," tunjuk Radith pada Zia dan langsung membuka kaca agar Zia bisa masuk ke mobil mereka dan pergi dari sana untuk menghindari kemacetan.
"Zia mau es krim gak?" Tanya Radith setelah beberapa saat suasana mobil hening.
"Mau pa mau," ujar Zia semangat.
__ADS_1
"Oke, kalau gitu kita beli yang satu tong aja biar bisa dimakan ramai ramai juga," ujar Radith yang membuat mereka semua langsung berbinar.
"Yeaaay!!!" Sorak Zia, Sean bahkan Lira yang kesenangan karna Radith akan membelikan mereka es krim dengan jumlah yang banyak.