Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 148


__ADS_3

Tiga hari berlalu, tidak qda yang spesial terjadi entah dari sisi Radith maupub Lira. Keduanya menjalani kehidupan yang normal dan berusaha bertahan di tengah kerinduan yang melanda. Di tengah kejauhan mereka satu sama lain, masing-masing masih menyampaikan doa agar pasangan mereka bisa selamat dan selalu sehat. Yah, doa yang mereka panjatkan setiap hari tentunya.


Saat ini Radith sedang duduk di ruang sarapan hotel. Dia tidak ingin menggangu Roy atau Nesya hari ini. Tuan Wilkinson sudsh tidak sabar dan ingin masalah ini segera selesai. Dia ingin Radith segera membawa kepala Roy ke hadapannya dan dia akan terbebas dari semua hutang budi sehingga bisa hidup dengan damai dan bebas.


"Tuan, apakah tuan tidak akan menjawab pesan yang disampaikan tuan Wilkinson? Jika tuan tidak segera menjawab pesannya, dia akan datang kemari dan menyelesaikan semua sendiri. Tuan tidak akan terhapus hutang budinya, dan Roy pun tidak akan selamat hidupnya," ujar Angga di tengah sarapan mereka.


"Aku tahu, qku juga sedang berusaha mencari cara agar bisa menjawab dan mengulur waktu yang diberikan tuan Wilkinson. Aku harus memberi alasan yang tepat agar dia percaya dan tidak menyusul. Orang tua itu sangat merepotkan, aku membencinya, entah apa yang membuatku bisa masuk ke dalam lingkaran keluarga aneh sehingga hidupku tak pernah tenang."


"Tuan, apa yang harus saya jawab ke Tuan wilkinson? Saya akan melakukan semua hal yang diperlukan. Ataukah perlu kita pulang saja ke Indonesia dan berkata bahwa Roy sudah tidak ada di sini? Mungkin dia akan percaya dan memberikan kita waktu lagi untuk mencari Roy," ujar Angga yang kembali dijawab gelengan kepala oleh Radith.


"Tidak, jika kita pulang ke Indonesia. Dia akan datang ke tempat ini dan tentu saja tidak akan membiarkan Roy lolos. Lelaki itu sudah pasti akan mati jika tuan Wilkinson sendiri yang bergerak untuk mengoroti tangannya. Aku tidak mau semua bertambah rumit, jadi aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi."


"Berikan aku waktu, aku akan memikirkqn cara yang terbaik untuk semua, sehingga tuan Wilkinson tidak akan menemukan Roy dan semua akan baik baik saja. Aku ingin sarapan dengan tenang, jangan rusak panik dengan obrolan yang melelahkan ini," tuntas Radith yang tidak mau lagi membahas masalah ini, paling tidak untuk saat sekarang ini.


Saat selesai sarapan, Radith kembali ke kamarnya dan begitu dia membuka ponselnya, dia mendapatkan pesan yang mengejutkan. Tuan Wilkinson akan datang ke negara ini besok pagi karena dia tidak segera memberikan kabar. Hal itu tentu saja membuat Radith menjadi panik, dia harus segera menemui Nesya atau semua akan memburuk.

__ADS_1


Baru saja Radith belari, Angga yang tinggal di kamar sebelah bertemu dengannya di depan kamar. Radith belum menceritakan apapun, namun wajah Angga juga panik, sehingga diamalah bingung dan jadi menunggu apa yang hendak dikatakan oleh Angga, tidak mungkin kan Angga sudah tahu?


"Roy dan Nesya ada di bawah dan dia bersiap untuk naik, saya melihatnya. Tidak mungkin dia melakukan reservasi karena rumah mereka ada di sini, kita harus bereskan kamar tuan dan memindahkan barang ke kamar saya dahulu," ujar Angga yang membuat Radith tambah panik, dia tidak pernah ada dalam situasi yang seperti sekarang.


Mereka langsung masuk ke dalam kamar Radith dan membawa semua barang yang berhubungan dengan pekerjaan dan dia mereka segera memindahkannya ke kamar Angga. Setelah selesai, Radith berjalan ke bawah untuk meminta teh dan kopi, jika memang Nesya dan Roy hendak menemuinya, dia bisa mencegah mereka untuk naik dan mencegah mereka terutama Roy mencurigai sesuatu.


Benar saja, Radith menemui Roy di dalam lift, untung saja refleknya cepat dan dia menutup pintu lift, tak lupa memencet angka satu agar Lift segera turun. Radith berpura pura terkejut melihat Roy dan Nesya, dia berusaha bernapas biasa, padahal sebenarnya napasnya terasa sedikit sesak dan engap setelah terburu-buru.


"Eh? Nesya dan Roy? Ah, kalian di sini? Maaf aku tidak menyangka kalian datang kemari. Apa kalian menyewa salah satu kamar untuk melakukqn honeymoon?" Tanya Radith berbasa-basi. Roy menaikkan sebelah alisnya melihat Radith yang sebegitu cepatnya menekan tombol lift padahal ada orang lain di dalam, apakah lelaki itu tidak takut dimarahi tamu lain?


"Ah, gue gak tahu kalau lo ada di dalam sini. Gue mau ke resepsionis buat kopi sama teh karena di atas habis. Maaf kalau kalian mau berhenti di lantai tadi, malah jadi gak enak gue. Kalian beneran nyewa kabar di atas?" Tanya Radith hendak mengalihkan pembicaraan.


"Enggak, gue mau ke kamar Lo, mau ngobrol sama lo. Tapi karena kita ketemu di sini, ngobrol di Lobyy aja, lo mungkin gak nyaman kalau pekerjaan lo dilihat orang lain. Lo masih ada proyek kan? Siapa tahu gitu gue jadi saingan proyek lo," ujar Roy yang masih terkekeh. Radith mengangguk saja, dia tidak akan menawari mereka masuk ke kamarnya.


Meski sudah memindah semua barang ke kamar Angga, dia takut Roy curiga kenapa dia tinggal sendiri dan tidak bersama 3 temannya, dia juga takut masih ada barang yang tertinggal dan Roy akan mengetahui isi kamarnya itu. Dia tidak siap dan tidak msu ketahuan secepat itu.

__ADS_1


"Lo minta gula sama kopi dulu, gue sama Nesya nunggu di lobby," ujar Roy yang langsung berjalan meninggalkan Radith. Lelaki itu langsung berjalan cepat ke arah resepsionis. Dia langsung meminta kopi dan gula, lalu membawanya ke lobby untuk mengobrol dengan Roy. Pasti ada hal penting yang ingin dia bicarakan.


"Oke, gue harus langsung ngomong karena pesawat gue nanti malam, gue belum nyiapin apapun. Gue mau stay ke luar negeri untuk masalah pekerjaan, mungkin satu atau dua bulan. Gue gak bisa Nesya ikut gue ke pesawat, jadi gue harus ninggalin dia di sini," ujar Roy yang membuat Radith mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Gue lihat di lantai yang sama kayak lo ada kamar kosong, gue udah nyewa kamar itu buat satu bulan ke depan, biar Nesya gak tinggal di rumah sendirian. Gue mau minta tolong ke lo buat jagain Nesya ya, gue gak nyaman kalau dia gak aman, dan gue yakin kalau sama lo dia bisa aman. Bisa kan?"


Radith seperti mendapatkan keberuntungan besar saat ini, dia tidak ingin tuan Wilkinson tahu Roy dan dia sudah saling mengenal dan bahkan dekat, namun dia tidak mau memberitahu Roy tentang misinya. Dia memutar otak agar Roy tidak ketahuan, namun malah Roy dengan keperluannya sendiri harus meninggalkan negara ini.


"Oke kalau lo emang harus pergi hari ini, gue bakal jagain Nesya dan lo gak usah khawatir tentang dia," ujar Radith yang diangguki oleh Roy dan Nesya.


"Kamu gak papa kan sama Radith di sini? Aku gak bisa kalau kamu di rumah sendiri. Gak papa kan?" Tanya Roy dengan lembut pada wanita itu.


"Gak papa, di rumah aku gak papa, di sini lebih gak papa lagi. Nanti aku kabarin kamu kalau ada apa-apa, kamu juga kabarin aku ya," ujar Nesya yang dijawab anggukan pelan oleh Roy, lelaki itu mengecup bibir Nesya di depan Radith.


"Kalau gitu kita pulang dulu, kita ambil barang barang kamu buat keperluan satu minggu, nanti kamu sama Radith ambil sendiri aja ya kalau misal ada keperluan lain. Nanti masalah mencuci baju, taruh rumah aja, aku juga udah sewa pembantu," ujar Roy yang diangguki oleh Nesya.

__ADS_1


"Radith kalau gitu kami pulang dulu, makasih lo udah mau bantu gue jagain Nesya," ujar Roy yang dijawab anggukan sambil tersenyum oleh Radith.


__ADS_2