
Radith jongkok di sebuah pusara kecil yang tanahnya masih basah. Dia mengelus nisan berbentuk salib dengan tatapan kosong. Dia tidak menyangka hidupnya akan berakhir seperti ini. Kehilangan orang yang sangat dia cintai, kehilangan buah hatinya bersama Lira. Mereka tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Radith masih belum bisa menerima semuanya.
“Maafkan papa, maaf karena papa tidak bisa menjaga kamu. Maaf karena papa masih tidak bisa jadi papa yang baik buat kamu, papa menyesal, papa menyesal untuk semua yang terjadi, maafkan papa. Kalau papa bisa, papa mau gantikan posisi kamu. Maafkan papa, maafkan papa,” ujar Radith yang menangis tersedu sedu. Lira juga jongkok di sisi lain makam itu, matanya juga kosong.
Lira bahkan tidak sanggup untuk mengatakan apapun. Dia hanya bisa mengelus nisan itu dengan penuh kasih sayang, namun tatapannya tampak sekali dia menyesal. Dia tidak bisa mengatakan apapun saat ini, dia merasa sangat kehilangan, dia tidak menyangka anaknya akan pergi begitu saja.
Kemarin, saat Andre sudah tergeletak tak bernyawa, wajah Zia semakin pucat dan setelah dia mengeluh sakit, dia segera dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak bisa diselamatkan karena racun sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Andre sangat kejam, dia memang sudah berniat untuk menghancurkan keluarga ini, dia bahkan tega menyakiti Zia yang masih sangat kecil.
Andre memberi Zia racun melalui makanan yang Zia makan. Racun itu tidak terdeteksi sampai racun itu benar benar menyebar dan menghancurkan organ dalam orang yang meminumnya dan Andre dengan teganya memberi racun itu pada Zia yang masih kecil dan tidak memiliki dosa terhadapnya, dia bahkan melakukan hal itu di luar perintah tuan Wilkinson, jadi tidak ada yang tahu tentang rencana ini.
“Nak, anak mami yang paling cantik. Kamu yang tenang di sana ya, maaf mami belum bisa jadi mami yang baik untuk kamu. Semoga jika kamu terlahir kembali, kamu akan hidup dengan beruntung dan bahagia. Kamu bisa menjadi siapapun yang kamu mau, termasuk menjadi desainer seperti saat ini. Kamu anak yang baik, kamu anak yang hebat, Sekarang Zia tidur yang tenang ya di sana.”
“Zia udah bisa berkumpul sama mama Zia, sampaikan salam mami ke mama Zia ya, bilang kalau mami sayang sekali sama Zia. Zia anak mami, Zia akan selalu menjadi anak mami, Zia sayang, doakan mami ya nak, doakan mami dan papa agar kami bisa kuat dan terus menjalani hari setelah ini, kami juga akan mendoakan Zia setiap hari,” ujar Lira yang suaranya sudah parau karena menahan tangis. Dia mendongak dan mencegah air matanya turun.
“Aku udah minta Sean untuk datang ke sini, dan aku ada rencana untuk pindah lagi ke Jakarta agar kita lebih mudah untuk melayat Zia. Menurut kamu bagaimana? Jika kita pindah ke sini, kita harus segera menyiapkan kepindahan Sean ke kota ini. Menurut kamu gimana?” tanya Radith pelan dengan suara serak karena dia sudah berteriak sejak pagi tadi.
“Ya, kita harus pindah lagi ke sini, selain untuk menemani Zia sementara waktu di sini sampai hati aku iklas, aku gak mau tinggal di Bali lagi, terlalu banyak kenangan bersama anak anak yang bakal bikin aku makin kepikiran, aku gak mau. Tapi Sean bagaimana? Dia harus pindah di pertengahan semester, apa nanti dia gak kesulitan adaptasi?” tanya Lira pelan karena tenaganya sudah habis.
“kalau masalah itu, aku akan ngobrol ke pihak sekolahnya untuk transfer dia ke yayasan yang sama di kota ini, jadi kemungkinan pelajarannya sama dan malah mereka memakai bahasa Inggris kan? Sean lebih mengerti lagi nanti, nanti aku juga tanya ke Sean, kalau dia mau, ya kita pindah ke Jakarta, tapi kalau dia gak mau, kita harus tunggu dia kenaikan kelas baru pindah,” ujar Radith yang diangguki oleh Lira.
Tak selang berapa lama, Sean berlari ke arah mereka dengan air mata yang sudah membanjiri mata dan pipinya. Lira langsung memeluk Sean dengan erat, tangis yang sudah dia tahan langsung tumpah setelah memeluk Sean. Dia membiarkan Sean untuk menangis beberapa saat sebelum akhirnya dia melepaskan pelukan dan melihat ke arah makam bertuliskan nama Zia, ada nama Galeno di belakang nama gadis kecil itu.
“Zia? Kamu ada di dalam sana? Kenapa kamu ada di sana? Kamu membenci Sean? Apa Sean melakukan hal yang jahat sampai Zia tidak mau bersama Sean lagi? Zia? Zia masih bisa mendengar Sean?” tanya Sean pada gundukan tanah basah itu. Lira sampai sesenggukan mendengar Sean berbicara seperti itu. Sean tahu jika Zia sudah meninggal, dia hanya ingin bicara dengan gadis itu.
“Sean, sekarang Zia sudah tidak sakit lagi, Zia sudah bahagia di atas sana. Mami harap Sean juga bahagia ya nak, walau nanti Sean tidak bersama Zia lagi, Sean bisa mendapat teman lain, Sean harus bahagia agar Zia bisa bahagia ya nak,” lirih Lira yang diangguki oleh Sean, lelaki kecil itu diam untuk waktu yang lama memandang makam yang di dalam sana berisi saudaranya.
“Mami, kenapa Zia bisa meninggal? Tadi pagi Sean masih berangkat bersama Zia. Kenapa dia bisa meninggal sekarang? Dan tidak berada di Bali? Kenapa?” tanya Sean bertubi karena dia masih belum paham kenapa mereka semua ada di sini dan Zia meninggal di sini. Lira tidak bisa memberi tahu Sean, bagaimana dia bisa menceritakan kisah yang kejam itu pada Sean yang masih terlalu kecil?
“Mami tidak bisa cerita sekarang, tapi nanti saat Sean sudah beranjak dewasa, mami akan cerita ke Sean, mami akan beritahu Sean apa yang terjadi, untuk saat ini, Sean bisa mendoakan agar arwah Zia bisa tenang dan dia tidak merasa sakit lagi sekarang,” ujar Lira mengelus kepala Sean pelan. Anak itu mengangguk paham dan tidak bertanya lagi, dia akan bertanya saat dia sudah dewasa nanti.
“Kita pulang ke rumah Alex dulu ya, nanti pengawal bisa tidur di rumah penginapan terdekat. Atau mau ke hotel aja?” tanya Radith yang tidak dijawab oleh Lira. Dia hanya akan menurut dengan semua yang Radith katakan saat ini karena pikirannya masih kacau, dia enggan untuk bicara atau berpikir, dai hanya mengikuti kakinya untuk melangkah dengan lemas dan tatapannya kosong.
“Eum Dith. Boleh gak kalau kalian pergi dulu ke mobil dan aku di sini sebentar, aku mau pamitan sama Kelvin. Aku gak kenal siapa dia dan sampai detik ini pun aku gak tahu dia teman sekolahku yang mana. Tapi dia udah selamatkan nyawa aku, dia sudah kasih tahu dan bantu aku akan banyak hal, aku boleh gak ngomong sebentar sama dia?” tanya Lira yang diangguki oleh Radith.
__ADS_1
“Pakai waktu sebanyak yang kamu mau sayang, aku sama Sean ke mobil dulu, kalau ada apa apa langsung teriak aja, ada pengawal di dekat kamu,” ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Wanita itu pergi ke makam di sebelah makam Zia. Di makam keluarga Galeno ini, Lira meminta Radith untuk menguburkan Kelvin di sini sebagai ucapan terima kasih.
“Hai Vin, dengan tulus gue bilang ke lo, gue minta maaf ya. Gue minta maaf karena lo harus berkorban nyawa demi gue yang bahkan gak bisa balas apa apa ke lo. Makasih banyak untuk semua yang lo lakukan. Lo jaga gue dari jauh, lo kasih tahu gue informasi penting jadi gue bisa lebih hati hati, lo orang baik, gue yakin lo akan berada di surga,” ujar Lira dengan senyum getirnya.
“Seandainya gue punya waktu lebih lama lagi, gue pengen bisa mengenal siapa lo, gue pengen tahu siapa lo di masa lalu gue, gue harap, di kehidupan setelah ini, gue ada kesempatan buat kenal sama orang sebaik lo ya, orang yang setulus lo, makasih banyak ya Vin, semoga semua rasa sakit lo udah hilang dan lo bahagia di sana. Gue pamit ya, doain gue biar gue bisa bahagia setelah ini”
Lira mengelus nisan bertuliskan nama “Kelvin” karena hanya itu yang mereka tahu tentang Kelvin. Dia berdiri dan menyusul suami dan anaknya ke mobil mereka. Mereka memutuskan untuk tidur di hotel agar tidak mengganggu Alex yang kini sudah memiliki istri.
Mereka langsung tidur di hotel setelah sampai karena lelah dan rasa sedih yang mereka rasakan terlalu dalam. Lira berharap esok pagi dia bisa jauh lebih kuat dan mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Semua masa kelam, semoga semua lekas berlalu dan hari yang cerah menyapa mereka di esok pagi.
Nesya sudah tiada, Roy juga sudah tiada. Mereka semua yang dekat dengan Lira sudah pergi. Dia hanya bisa mendoakan mereka bisa hidup bahagia di atas sana, mereka sudah berjuang dengan keras untuk melewati setiap ujian di dunia ini, kini sudah saatnya mereka beristirahat dengan tenang dan berhenti memikirkan hal yang berkaitan dengan dunia ini.
*
*
*
waktu berlalu, luka kan sembuh dan mereka juga melupakan kenangan yang buruk. Sudah 9 tahun sejak kejadian itu, dan kini Sean sudah beranjak remaja. Dia menuruti keinginan Radith untuk menetap di Jakarta dan saat ini dia bersekolah di SMA internasional yang ada di kota itu. Namun semenjak kematian Zia, dia menjadi sangat tertutup dan selalu diam di luar rumah.
Kini semua kekuasaan keluarga Wilkinson diwariskan ke Jordan dan Darrel, mereka berputar arah ke arah yang lebih baik dan bersih, tidak membunuh orang dan tentu saja bisnis yang mereka kerjakan transparan dan bisa dipertanggung jawabkan di mata hukum. Akhirnya semua kembali ke jalan yang benar dan berjalan seperti seharusnya.
“Sean, nanti waktu pulang mampir ke toko kue ya, di dekat sekolah kamu katanya ada toko kue yang enak dan baru buka, mami mau mencobanya. Tapi mami harus menjemput Nathan dari sekolah, kamu mau kan bantu mami untuk beli kuenya? Beli yang jadi menu andalan mereka aja,” pinta Lira pada Sean yang sudah memakai seragamnya.
“Oke, nanti Sean mampir bareng sama Joshua. Sean berangkat dulu,” ujar Sean yang berpamitan pada Lira. Jangan tanya dimana Radith. Lelaki itu semakin gila dalam bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka yang sebenarnya sudah lebih dari cukup. Lelaki itu memang suka bekerja untuk mengalihkan pikirannya. Meski sudah lama, dia masih suka memikirkan tentang Andre dan Zia yang begitu sadisnya.
Sean mengikuti kegiatan sekolah seperti biasa. Dia membuang semua surat yang diberikan padanya, membagikan coklat yang dia dapat pada teman temannya. Dia sama sekali tidak tertarik berurusan dengan masalah percintaan, mengingat orang tuanya mengalami masalah yang serius karena Cinta, dia tidak mau mengalami hal yang sama jadi dia mengabaikan mereka semua.
Setelah pulang sekolah, Sean mengajak sahabatnya, Joshua untuk mampir ke toko kue yang dibilang oleh Lira. Dia bisa menebak toko yang baru buka dari banyaknya karangan bunga yang ada di sana. Dia masuk ke toko itu dan langsung disambut oleh pemiliknya, seorang Ibu yang mungkin seusia Lira. Dia berpakaian rapi dan menyambut Sean dengan hangat.
“Saya ingin memesan menu yang paling laris dan direkomendasikan dari toko ini, apa anda bisa membantu saya?” tanya Sean dengan ramah.
“Tentu saja, silakan bisa lewat sini, nanti anak saya yang bantu ya. Ziaa, sini,” panggil ibu itu yang membuat Sean langsung mencari orang yang bernama Zia itu. Tak selang berapa lama, muncul seorang gadis yang mungkin seusianya, dia memakai pakaian santai dan tersenyum ramah ke arah Sean dan Joshua.
__ADS_1
“Hai, Aku Zia. Kalian mau cari kue yang seperti apa? Aku akan bantu carikan kue seperti yang kalian mau,” ujar gadis itu dengan ramah. Sean mematung melihatnya, dia seperti melihat saudaranya yang sudah lama tiada. Mereka memiliki nama dan sikap ceria yang sama, dia langsung teringat masa kecilnya bersama Zia.
Setelah selesai memesan dan keluar dari sana. Sean masih terdiam.
“Kenapa lo? Suka sama yang jual tadi ya?” tanya Joshua penasaran.
“Gak. Itu gak kayak yang ada di otak lo, ayo balik,” ujar Sean dengan dingin.
Mereka mungkin memiliki nama dan sikap yang sama, namun Zia yang dia kenal sudah meninggal, dan dia tidak mungkin bereinkarnasi secepat itu. Sean memilih untuk melupakan kejadian tadi dan pulang ke rumahnya.
Setelah sampai di rumah, Sean disambut Radith dan Lira yang sudah duduk bersama Nathan di sofa. Sean mengerutkan keningnya dan bergabung dengan mereka.
“Selamat ulang tahun Sean. Semoga kau menjadi yang terbaik dari versimu dan kau bisa meraih apapun yang kau inginkan,” ujar Radith dengan senyum bangganya.
“Apa ini? Kalian tidak menyediakan kue untukku?” tanya Sean menyindir.
“Itu, kuenya, kamu udah bawa,” ujar Lira menimpali.
“Lah? Sean membeli sendiri kue ulang tahun untuk Sean? Wah, kalian orang tua yang sangat baik,” sindir Sean sambil tersenyum lebar.
“itu bukan masalah besar. Sekarang keluarkan kue itu dan ini, ada lilin dari ponsel papa. Kau bisa ucapkan harapan dan meniupnya,” ujar Radith menyalakan lilin virtual di ponselnya.
Sean memejamkan matanya untuk membuat permohonan
“Semoga yang telah lalu meninggalkan hal baik untuk hari yang akan datang, semoga kebahagiaan selalu menyelimuti keluarga ini dan semoga Zia bisa tenang dan bahagia di atas sana.” batin Sean yang kemudian meniup lilin itu.
“Selamat bertambah usia, anak mami yang tampan ini. Semoga kamu bisa jadi anak yang baik, dan berhasil dalam setiap yang kamu lakukan,” ujar Lira dengan senyum bahagia.
“Sean cuma berharap keluarga ini akan tetap utuh seperti ini. Tidak kehilangan lagi dan bahagia untuk waktu yang lama, Sean sayang kalian semua,” ujar Sean terharu sambil memeluk Radith, Lira dan Nathan.
Semoga saja harapan mereka terkabul dan sisa hidup mereka hanya akan diisi kebahagiaan. Semua masa pahit sudah berlalu, dan mereka bisa fokus menatap masa depan yang cerah. Banyak pelajaran berharga yang menuntun mereka menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan mereka tetap bersyukur untuk hal itu.
Hal baik akan terus datang, karena di balik awan yang mendung, ada matahari yang tetap pada tempatnya, akan menghangatkan pada waktunya.
__ADS_1
~Tamat~