Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 38


__ADS_3

Liora membuka matanya perlahan. Hidungnya langsung terasa tersengat karna bau obat yang kuat. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali dan menyadari dirinya tertidur sebuah kamar di rumah sakit.


Wanita itu hendak menggerakkan tubuhnya, namun dia merasa lengannya sangat berat. Saat menengok, dia melihat seorang lelaki tertidur beralaskan tangannya. Dari posisi itu saja Lira sudah tahu siapa pemilik tubuh itu. Dia hendak membangunkan lelaki itu, namun dia urungkan karena merasa tidak tega.


"Mom!!" Suara yang sangat keras itu membuat tubuh yang sedang tertidur langsung terpelonjak kaget. Sontak orang itu memegang kepalanya yang pening, dia tidak terbiasa dikejutkan seperti itu saat tidur. Namun orang itu segera sadar dan melihat ke arah wanita yang juga menatapnya.


"Liora? Lo udah sadar? Mana yang sakit? Ada yang sakit?" Lira mengernyitkan keningnya melihat Radith yang langsung berdiri dan mengecek wajahnya secara teliti. Dia tidak pernah melihat Radith yang seperti itu. Lelaki itu tampak sangat khawatir padanya.


"Lo kenapa bodoh banget sih Ra?" Wajah yang dingin itu langsung kembali saat tahu keadaan Lira baik baik saja. Wanita itu masih terdiam, dia bahkan masih coba untuk menerka apa yang sebenarnya terjadi. Seingatnya mereka masih berada di rumah dan rumah itu dipenuhi dengan Bom. Apa semua hanya mimpi?


"Gue udah bilang ke Lo buat pergi sama Anak Lo. Tapi kenapa Lo malah balik lagi nyusulin Gue? Lo tahu? Gue panik banget waktu Lihat Lo nyaris kebakar karna pingsan di halaman. Kalau gue telat, Anak Lo..." Radith tak tega untuk melanjutkan apa yang ingin dia katakan. Lira langsung menatap ke arah anaknya yang juga menatapnya.


"Are you okay Mom? I'm so afraid about you mom," ujar anak Lira dengan lirih dan memeluk ibunya. Lira memeluk anaknya itu dan menatap lagi ke arah Radith.


"Gue balik karna mau Make sure Lo baik baik aja Dith, tapi sampai sana udah ada ledakan dan Gue pikir Lo masih di dalam. Gue ga ingat apa - apa setelah itu," ujar Lira yang membuat Radith mengubah Ekspresi wajah dingin menjadi hangat.


"Gue gak akan dilenyapkan semudah itu Ra, enggak di saat Gue masih ada tanggung jawab sama Lo, sama Anak Lo. Ah enggak, Anak kita. Gue gak akan biarin kalian sengsara," ujar Radith yang membuat Lira makin terdiam.


"Maaf karna selama ini gue ga bisa bahagiakan kalian, bahkan Gue terkesan lepas tanggung jawab sama kalian. But, sekarang Gue ga mau sesuatu terjadi sama kalian, gue bakal pastiin kalian baik baik aja, aman dan bahagia," ujar Radith sambil mengelus kepala Lira.


"Jadi Gue mohon Ra, kasih Gue kesempatan buat ada lagi di hidup Lo. Kasih gue kesempatan buat nunjukin kalau Gue masih layak jadi satu-satunya orang yang bikin Lo nyaman dan aman. Kasih Gue kesempatan buat milikin Lo lagi," ujar Radith lirih sambil memeluk Lira. Anak Lira tentu bingung melihat hal itu.


"Uncle, kenapa Uncle memeluk mama? Uncle ga boleh ambil mama. Uncle siapa?" tanya Anak Lira yang membuat Radith melepaskan pelukannya dan menatap anak yang tak lebih tinggi dari pinggangnya. Radith berjongkok dan menatap anak itu sambil mendongak.


"Uncle mau jadi teman kamu. Kamu mau ga jadi teman Uncle? Kalau kamu mau, Kita bisa temenan dan Uncle bakal kasih apapun buat kamu. Kamu mau kan?" tanya Radith yang diangguki oleh anak itu. Anak itu mengulurkan kelingkingnya dan meminta Radith untuk mengaitkan kelingking mereka.


"Uncle gak mau kehilangan kalian lagi. Uncle akan jaga Mama kamu dan juga kamu. Uncle janji sama kalian," ujar Radith yang sebenarnya tak dimengerti anak Lira. Meski anak Lira tergolong cerdas, dia masih tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Radith.

__ADS_1


"Mom, Daddy dimana ya? Aku belum melihatnya sejak kemarin. Apa Daddy tidak tahu kalau Mom sakit? Kenapa Daddy belum datang?" Tanya Anak Lira dengan bingung.


"Daddy lagi jauh sama kita. Daddy harus naik pesawat untuk ketemu sama kita. Daripada Daddy ke sini, Kita yang pulang aja yuk buat ketemu sama Daddy, kamu mau kan?" tanya Lira yang dijawab anggukan gembira dari anaknya.


Karna kondisi Lira tak parah, dia diijinkan untuk pulang, dan Radith, lelaki itu sangat repot untuk mengurusnya padahal dia sendiri cukup santai. Dia sudah tahu pada akhirnya dia akan mengalami hal seperti ini jika berhubungan dengan Radith.


Baik Lira maupun Radith, mereka berdua membisu saat di dalam pesawat. Radith dan Lira memikirkan hal yang berbeda, yang membuat mereka gelisah, namun Tak ada yang berani membuka pembicaraan.


Mereka sampai ke Australia, tempat dimana Daniel berada. Selama ini Sean (anak Lira) mengenal Daniel sebagai Daddy-nya, Lira tidak tahu harus bagaimana menjelaskan pada anaknya dan bagaimana mengucapkan perpisahan untuk Daniel.


Bagaimanapun, Daniel sudah menolongnya bertahun tahun ini, bahkan Lira tahu lelaki itu sangat tulus dan juga mencintainya, namun dia tak bisa membohongi, meski dia kecewa, dia tetap mencintai Radith, dia tak bisa melupakan lelaki itu.


"Daniel.."


"Stop, Kamu gak usah bilang apa apa ke aku. Aku ngerti kok, Aku tahu kamu sudah membuat keputusan. Kalau kamu yakin sama keputusanmu, aku tidak akan mencegahmu, semoga kamu bahagia ya," ujar Daniel yang membuat Lira tersenyum tulus dan memeluk lelaki itu.


Daniel tersenyum dalam pelukan Lira. Namun matanya menangkap pandangan tajam yang menyorot ke arahnya. Membuat lelaki itu melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah Radith.


~Bugh


"Pukulan itu untuk Lo yang udah ninggalin Lira, Lo biarin dia fight dan besarin anaknya sendiri."


~Bugh


"Pukulan itu karna Lo udah datang lagi ke kehidupan Lira dan buat semua ini terjadi."


~Bugh

__ADS_1


"Itu buat Lo yang udah ngunciin Gue di kamar sedangkan Lo selametin dia sendiri. Sekaligus buat Lo yang udah biarin Lira dan anak Gue diculik."


~Bugh


Radith sampai terhuyung pusing karna Daniel memukulnya tanpa rasa bercanda. Lelaki itu bahkan membuat pipi Radith membiru dan darah segar mengalir di sudut bibirnya. Lira yang melihatnya juga tak melakukan apa-apa.


"Yang ini buat apa?" tanya Radith saat Daniel hanya terdiam. Daniel berjalan mendekat ke arah Radith dan memandangnya dengan senyum miring namun juga tampak geli melihat Radith tidak berdaya.


"Gak ada, pengen aja. Mumpung Lo ga bisa bales Gue, kapan lagi Gue bisa ngehajar Lo habis habisan?" ujar Daniel yang membuat Radith dan Lira melongo.


Daniel mengulurkan tangannya dan membantu Radith untuk berdiri. Mereka berpelukan ala pria dan berjalan ke arah Lira yang sedari tadi hanya melihat mereka.


"Makasih karna selama ini Lo udah jagain Lira dan Sean. Gue gak akan lupa sama Lo. Kalau Lo butuh sesuatu, Lo bisa ngomong sama Gue, Gue bakal bantu selama hal itu mungkin," ujar Radith yang diangguki oleh Daniel.


"Ini kesempatan terakhir buat Lo. Kalau Lo masih sia siakan Lira, Gue bakal ambil dia dan ga akan pernah gue lepasin lagi buat Lo. Ngerti?" Tanya Daniel dengan wajah serius.


Radith mengangguk paham dan berterima kasih sekali lagi kepada lelaki itu dan menggapai tangan Lira untuk ditautkan ke tangannya.


"Maaf udah bikin hidup Lo susah selama ini. Gue bakal berusaha kasih yang terbaik ke depannya, Gue berusaha bikin kalian berdua hidup enak. Lo bantu Gue untuk semua itu ya? Lo mau kan?" Tanya Radith penuh harap.


Lira menganggukkan kepalanya dan memeluk Radith. Akhirnya rindu yang dia tahan bisa tercurah saat ini, apalagi Lira yakin jika hari esok akan jauh lebih baik. Dia tak sabar untuk menantikannya.


"Gue mohon juga jangan lakuin hal bodoh kayak kemarin. Gue udah pernah kehilangan Lo, Gue gak akan mau kehilangan Lo lagi. Oke?" Lira mengangguk paham sambil mengusap air matanya yang tanpa sadar tumpah.


"Lo bakal bikin gue bahagia kan Dith?" tanya Lira yang diangguki oleh Radith tanpa berpikir.


"Kalau gitu Lo mau kan lakukan apapun biar gue bahagia?" tanya Lira yang langsung membuat wajah Radith berubah. Dia bisa melihat Lira yang menatapnya seperti singa yang mendapat rusa untuk makan siangnya.

__ADS_1


"Lo gak lagi mikir yang aneh - aneh buat balas dendam ke Gue kan Ra?" tanya Radith pelan.


"Hehehe." Jawaban singkat itu membuat Radith makin yakin Lira merencanakan sesuatu untuk dirinya.


__ADS_2