
Lira diam di sepanjang jalan. Dia tidak tahu bagaimana cara mencegah Radith untuk bertemu dengan Nesya. Apakah dia harus jujur? Tapi bagaimana jika yang dibilang Kelvin benar dan malah Radith masuk dalam jebakan itu? Dia tidak bisa membiarkan suaminya celaka hanya karena membantu orang yang bahkan tidak ada hubungannya dengan mereka selama ini.
"Dith, kamu mau ketemu Nesya kapan? Kamu gak bisa ketemu dia gitu aja kan? Dia pasti dijaga banyak pengawal kan?" Tanya Lira yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu masih fokus menyetir,namun telinganya tetap terbuka lebar untuk mendengar semua yang Lira katakan. Lira tampak bingung bahkan sampai menggigit bibirnya sendiri, Radith yang melihat itu tentu saja tidak tenang.
"Kamu mau ngomong apa? Kamu lagi mikir apa? Coba sini bilang sama aku biar aku bisa jelasin atau kasih solusi. Jangan diam aja kayak gini," ujar Radith yang sudah menepi. Dia ada di belakang mobil pengawalnya, jadi dia membiarkan pengawalnya untuk sampai di rumah dahulu baru dia akan menyusul setelah menyelesaikan masalah dengan Lira.
"Aku gak mau kamu curiga atau mengira aku cemburu. Tapi, kamu jangan ketemu dia dulu ya. Biar aku yang ke sana dulu. Kamu jangan salah paham, aku bukan mau ngelabrak dia atau cari ribut, enggak. Aku cuma mau bilang ke dia kalau kamu gak bisa ketemu dia langsung, jadi aku yang ketemu," ujar Lira yang tidak bisa cerita dengan baik, namun Radith malah jadi mendapat ide karena itu.
"Kamu benar mau ke sana? Benar gak papa? Kalau kamu memang mau, aku malah punya rencana, aku bakal kasih tahu dia juga biar dia bersiap, dan rencana ini pasti gak bikin pengawalnya curiga," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Mereka melanjutkan perjalanan agar tidak terlalu jauh dengan pengawal dan malah jadi bahaya untuk mereka sendiri.
Sesampainya di rumah, Radith membuka laptopnya dan mencari cara untuk bisa mengirim pesan tanpa harus takut disadap. Dia tahu jika menghubungi lewat email pun, mereka masih bisa membacanya. Apa yang harus dilakukan agar keluarga Wilkinson tidak tahu jika dia berkomunikasi dengan Nesya selama ini?
"Kamu telepon aja nomor yang tadi. Pasti Nesya udah menyiapkan ponsel sendiri kan, terus dia punya ponsel dan nomor lain yang dia biarkan buat disadap. Coba kamu telepon aja tapi pastikan aman, baru kamu ngomong rencana kamu," ujar Lira yang dituruti oleh Radith. Lelaki itu memanggil nomor yang tadi menghubunginya dan menunggu panggilan tersambung.
"Halo Dith, iya. Lo udah dapat ide kah apa yang harus lo lakuin buat kita bisa ketemu dan bahas masalah suami gue?" Tanya Nesya yang diiyakan oleh Radith. Dia melihat lagi ke arah Lira, meminta persetujuan sekaligus memastikan Lira tidak akan marah dengan keputusannya. Setelah mendapat lampu hijau, barulah dia berani melanjutkan percakapannya.
"Oke, tadi gue udah mikir dan ini bisa jadi ide yang cukup bagus. Kan gak mungkin kalau gue ke sana dan ketemu langsung sama lo, gue bakal minta Lira buat datang ke rumah lo, ceritanya dia mau berbela sungkawa dan sekaligus minta maaf atas nama gue karena udah bunuh suami lo," ujar Radith yang membuat Lira mengangguk setuju dengan ide itu.
"Muke gile lo. Lo mau bini lo labrak gue? Heh kita itu bukan selingkuh atau apa, ngapain bini lo ikut ikutan ke rumah gue dah? An gue jadi ngeri ngebayangin berdua sama dia,nanti dia curiga lo ada apa apa sama gue di Hawaii, gak mau gue Dith, jangan libatkan orang lain ah," keluh Nesya yang kini membuat Lira tertawa tanpa suara.
"Heh bege, ini bini gue juga ada di sebelah gue dan gue pakai speaker ini ngomong kadi dia dengar. Ide ini juga udah di acc sama dia kok. Jadi lo tinggal ikutin arahan gue aja pokoknya, gak usah mikir aneh aneh, Lira itu bukan cewek alay yang cemburuan," ujar Radith yang diangguki lagi oleh Lira.
"Justru aneh kalau dia gak cemburu mah, cowok kayak lo itu patut dicurigai, nempel mulu sama ceciwi, kalau dia gak cemburu, berarti dia punya cowok lain. Hahaha, mampus lo," ujar Nesya yang tak peduli ada Lira di sana karena dia juga berniat hanya untuk bergurau, namun hal itu membuat Lira jadi terdiam.
Radith mengira Lira marah karena ucapan Nesya jadi dia menegur Nesya untuk hati hati dalam berucap. Namun sebenarnya yang membuat Lira terdiam adalah ucapan Nesya yang mengatakan Lira memiliki idaman lain. Apakah memiliki koneksi dengan Kelvin di belakang Radith termasuk dalam val yang disebutkan Nesya? Tidak kan?
__ADS_1
"Ya udah, pokoknya gitu tadi. Tapi lo harus nolak Lira mentah mentah,lo gak bolehin dia buat masuk, terus nanti Lira maksa gitu lah pokoknya, baru lo ijinin dia masuk buat ngomong. Nah, baru deh beberapa hari kemudian dia bakal datang terus dan akhirnya gue bisa datang ke sana. Lo bisa kan?" Tanya Radith memastikan karena di sini ekspresi Nesya sangat menentukan.
"Kemarin gue harus nangis nangis kayak orang gila dan sekarang gue harus marah marah. Kalau bukan buat suami gue, males banget gue begini. Oke, gue ngerti. Kabarin aja kalau mau ke sini, gue bisa siap siap dan siapa tahu gue bisa nambahin biar pengawal di sini pada percaya,once again, makasih ya Dith udah mau bantuin gue."
"Lira, makasih juga lo mau ikut bantuin gue. Semua yang gue bilang tadi bercanda ya, Radith mah gak pernah dekat dekat sama cewek kalau yang gue tahu, malah lo kalau mau takut, sama pengawal dia tuh tidur sekamar, hahahha. Makasih ya sekali lagi, kalian baik baik dah di sana. See you," ujar Nesya yang menutup panggilan begitu saja.
"Ini lho alasan aku takut kalau nelpon dia di depan kamu. Nih anak mulutnya rusak dan pikirannya sembarangan. Dia gak peduli siapa yang diajak omong. Maaf ya sayang kamu malah harus terlibat kayak gini, seharusnya kamu gak perlu terlibat, kalau memang kamu keberatan, kamu ngomong aja ya," ujar Radith dengan lembut.
"Aku mau bantu kamu sayang, aku mau kita sama sama selesaikan masalah ini ya. Aku bakal bantu kamu," ujar Lira yang tersenyum hangat sambil memeluk suaminya. Mereka melanjutkan perjalanan sampai di rumah dengan selamat dan menjalani sisa hari mereka dengan mengobrol dan menyiapkan semua keperluan yang pak Burhan butuhkan.
"Anak anak, besok kalian yang jemput papa ya, kalau papa belum datang kalian jangan mau dijemput sama siapapun. Mami kalian nanti ada perlu, jadi gak bisa jemput kalian," ujar Radith pada anak anaknya. Mereka mengerti dan melanjutkan aktivitas mereka. Sean yang sedang bermain Lego dan Zia yang sedang bermain barbie seolah boneka itu memiliki nyawa dan kehidupan sendiri.
"Pak Burhan, saya mohon maaf karena saya ternyata tidak bisa mengantar bapak sampai ke rumah dengan selamat, jadi nanti bapak diantar sama anak buah saya ya, semua keperluan bapak sudah disiapkan, jika ada hal lain yang dibutuhkan atau ada yang ketinggalan, bapak langsung bilang saja ke mereka, tidak perlu sungkan," ujar Radith sopan.
"Saya jauh lebih bersyukur karena pak Burhan bertemu dengan saya, saya jadi belajar banyak hal dan menemukan hal baru dalam hidup saya. Pelajaran yang pak Burhan berikan tidak diajarkan di sekolah mana pun, saya berterima kasih untuk hal itu. Bapak baik baik ya, karena besok pesawat bapak pagi, mungkin kita tidak sempat bertemu, jadi bapak hati hati di jalan ya."
Mereka mengucapkan perpisahan satu sama lain dan menghabiskan malam itu dengan makan malam bersama dan mengobrol, lalu Lira pamit untuk menemani anak anaknya belajar, jadi Radith yang menemani pak Burhan mengobrol, sampai akhirnya mereka masuk ke kamar masing masing untuk istirahat, terutama pak Burhan yang harus terbang besok pagi.
Keesokan harinya, Radith melihat jam menunjukan pukul 8, pesawat pak Burhan berangkat pukul 6, jadi dia bertemu dan berpamitan, untung saja tadi malam dia sudah mengobrol dan berpamitan pada pria itu. Radith yang mengantuk memilih untuk sedikit melakukan peregangan dan kemudian pergi untuk mandi. Dia menyegarkan tubuhnya di bawah air hangat yang mengucur.
Setelah selesai, dia keluar dari kamarnya dan mendapati anak anaknya sudah siap untik berangkat sekolah. Barulah dia ingat jika seharusnya hari ini dia yang mengantar jemput mereka. Lira hanya menatapnya dengan senyum yang menyindir. Untung saja Radith sudah mandi, jadi dia langsung mengambil kunci mobil dan duduk di sofa seperti biasa. Dia melihat anak anaknya yang tampak heran.
"Apa kalian sudah siap? Papa yang akan mengantar kalian hari ini. Papa pas sekali ya bisa keluar pas kalian siap begini. Mami, kenapa tidak bangunkan papa? Kalau papa telat bangun kan jadi anak anak juga yang gak bisa berangkat sekolah. Mami ini manis sekali seperti gulali," ujar Radith dengan senyum yang lebar. Lira tertawa mendengar celotehan itu. Dia berjalan bersama dengan Sean dan Zia menuju Radith.
"Kalau Papa memang mau istirahat, ya Mami tidak bangunkan. Kan papi udah lelah bekerja, jadi ya mami kasih istirahat yang cukup biar tetap sehat. Betul tidak anak anak?" Tanya Lira yang diiyakan oleh Sean dan Ziam Radith tertawa terbahak mendengar hal itu, dia tahu Lira memang tidak akan membangunkannya.
__ADS_1
"Ya sudah, karena ini papa udah bangun dan udah mandi, ayo kita berangkat. Udah jam segini juga. Untung aja sekolahnya cuma setengah kapasitas dan kalian berdua dapat kloter dua. Jadi papa masih bisa mengantar kalian. Yuk kita berangkat," ajak Radith yang langsung menuntun anak anaknya untuk masuk ke dalam mobil.
"Kamu jadi ke rumah Nesya? Aku kasih kontak dia aja ya biar kamu bisa langsung menghubungi dia. Nanti kalau mau ke sana bisa kabarin dia dulu. Tapi kalau gak hari ini juga gak papa, sebenarnya kan yang butuh ke sana aku buat sampaikan pesan Roy itu, jadi ya kalau kamu gak mau ke sana gak masakah banget yang," ujar Radith yang diangguki oleh Lira.
"Iya nanti kalau aku mau ke sana, aku kabarin kalian deh ya. Dah kamu berangkat sana, nanti anak anak malah telat. Kalau kamu mau nungguin mereka sambil ngafe juga gak papa Dith, karena kan mereka juga jamnya lebih pendek, banyakan kelas di rumahnya," ujar Lira yang tentu saja membuat Radith merengut.
"Kamu gak mau lihat aku di rumah kah? Kok kamu malah usir usir aku begitu sih? Sedih loh aku jadinya," ujar Radith yang membuat Kira memutar bola matanya. Dia malas melihat Radith yang bertingkah berlebihan seperti itu.
"Dah, kamu cepetan anterin anak anak aja sana loh. Gak usah banyak drama, mereka telat beneran itu. Dah sana," ujar Lira yang dituruti oleh Radith. Lelaki itu masuk ke dalam mobil dan pergi dari hadapan Lira. Lira masuk ke dalam rumah dan langsung melihat ponselnya. Dia membaca pesan yang ada di ponsel itu.
"Nesya ada di alamat ini, lo bisa ke sana. Tapi kalau bisa pengawal lo gak usah ikut. Kalau mereka ikut takutnya salah satu dari mereka cepu juga, malah bikin semua ketahuan."
Bunyi pesan itu membuat Lira khawatir. Apakah memang hal yang tepat untuk ikut campur masalah ini.
"Kalau gue gak ikut ikutan, suami gue yang dalam masalah. Kalau gue ikut ikutan, malah bisa aja gue yang bikin masalah baru. Ini mah sama aja gue masuk ke kandang buaya, keluar keluar nembus di kandang Macan, udah mati soalnya," gerutu Lira yang memasukkan ponsel ke dalam tas dan segera mengambil kunci mobil lain.
"Oke Lira, pokoknya lo yakin aja kalau semua yang lo lakuin itu benar. Kita kontak Nesya dulu. Oke, udah siap. Terus tas udah, charger udah, dompet udah, ponsel udah. Oke, kita berangkat sekarang," ujar Lira pada dirinya sendiri dan langsung masuk ke dalam mobil, pergi dari halaman ke gerbang depan.
"Buka gerbangnya, saya mau bertemu orang. Kalian gak usah ikuti saya ya, karena kan bapak ada di sini, jadi pasti aman. Kalian jaga rumah aja takutnya ada maling kayak waktu itu. Kalau bapak tanya bilang aja udah pergi, bapak tahu saya pergi ke mana," ujar Lira pada pengawalnya.
"Baik nyonya, saya akan sampaikan ke tuan. Nyonya hati hati di jalan dan jika terjadi sesuatu langsung hubungi kami, kami akan segera datang," ujar pengawal itu.
Lira menutup kaca jendela dan menghela napas panjang, padahal dia biasanya juga tidak diikuti oleh mereka, namun kali ini berbeda, dia merasa seperti hendak melakukan sesuatu yang salah, untung saja mereka tidak curiga.
"Oke, sekarang waktunya kita jalankan misi tuan Galeno," ucap Lira semangat sambil menekan tuas gas dengan kakinya.
__ADS_1