Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 121


__ADS_3

Segerombolan orang masuk ke dalam helikopter, B sudah bersiap dengan senjata api yang ada di tangannya. Saat dia hendak menarik pelatuk, kakinya langsung lemas sampai terjatuh. Entah kenapa beban dalam hatinya hilang begitu saja, dia bahkan sampai menangis saat melihat siapa yang sampai di depan mereka. Orang itu mendekat, membuat B menunduk untuk menyambutnya.


“Kau tidak seharusnya takut pada musuh, siapapun yang datang dan bagaimanapun kejadiannya, kau harus tegar menghadapinya. Jika bukan aku yang datang, apa kau akan tetap menangis seperti seorang pengecut? Bangun, tuan Radith tidak akan bisa bertahan jika kau seperti ini,” ujar orang itu yang diangguki oleh B.


“A, jika kau tidak datang, mungkin aku akan benar benar mati, terima kasih sudah datang tepat waktu,” ujar B yang membuat A tertawa. Dia dtaang setelah mendapat pesan darurat dari Radith, pesan itu memang terhubung untuk tuan Wilkinson, namun dia masih bisa mengaksesnya karna dialah yang paling dekat dengan Radith diantara pengawal yang lain.


“Aku harus datang mengantarkan semua obat tuan, kau terlalu bodoh dan meninggalkan semua obat itu di mobil bagaimana jika serangan panik tuan kambuh dan malah mengancam kalian semua?” tanya A yang membuat B menghela napas, dia melihat Radith yang masih tertidur. Melihat itu saja A sudah tahu, apa yang dia takutkan ternyata malah sudah terjadi.


“Ya sudah, yang penting kalian semua selamat. Aku sudah membawa banyak bantuan dari tuan Wilkinson. Tuan Muda El juga sudah ada di tempat yang aman. Dimana pengawal yang lain? Kenapa hanya ada kau di sini?” tanya A yang membuat B makin sedih, melihat hal itu tentu saja A merasa kesal, kenapa B tidak memberi jawaban yang pasti?


“Jawab! Aku atasanmu, tidak sopan kau membiarkan aku bicara sendiri. Buka mulutmu, jika tidak lebar, akan aku sobek mulut itu,” ancam A yang membuat B mendongak. Dia langsung sadar akan hal itu, dia langsung berdiri tegak dan menghapus semua kesedihannya. Dia tidak bisa bertingkah lembek di depan A karna A adaalah atasan mereka semua.


“Aku, C, D, E, dan tuan Radith ada di satu helikopter dan F, G, H, I, J ada di Helikopter lain, kami berpisah untuk memastikan kondisi pulau itu aman, namun tak lama kami mendengar suara ledakan dari Radio penghubung dan mereka tidak bisa dihubungi lagi. Kami tidak tahu kondisi mereka, tapi kami terjebak di sini dengan anak buah Andre,” ujar B yang membuat A mengerutkan keningnya, namun dia masih menunggu lelaki itu selesai bicara.


“Anak buah tuan Andre ada di sini, mereka juga mengintai karna tuan Andre ada bersama mereka. Kami terjebak karna kekurangan alat dan suply makanan, bahkan kmai hanya punya satu kapal selam kecil yang hanya bisa dipakai oleh satu orang. Itu sebabnya tuan Radith meminta bantuan, namun setelah itu tuan Radith malah kambuh dan kami semua bingun harus melakukan apalagi.”


“Baiklah, skarang bantuan sudah datang, kau minggir, aku akan memberikan obat untuk tuan Radith akan kondisinya kembali stabil,” ujar A yang diangguki oleh B, mereka bertukar tempat dan A memberikan obat itu pelan pelan ke mulut Radith. Lelaki itu langsung membuka mata dan melotot, dia kaget dan mengira A adalah orang jahat yang hendak meracuninya.


“A? kau kah itu? kau kenapa ada di sini? Dimana anakku? Apa anakku baik baik sja? Kau seharusnya tidak di sini dan menjaga anakku, apa yang kau lakukan?” tanya Radith yang membuat A sedikit menegang karna dia sadar, dia sudah melanggar aturan dengan meninggalkan tugas seenaknya tanpa persetujuan Radith.


“Baby El sudah aman bersama keluarga gue di Bali. Apa lo akan menyembunyikan fakta lo sudah memiliki seorang bayi? Apa lo sebegitu bencinya sama keluarga Wilkinson sampai gak mau cerita semua masalah ini? Lo bisa mati Dith! Walau dulu gue benci sama lo karna Luna, sekarang semua udah beda, lo saudara gue dith, jangan bertindak begitu,” omel seseorang yang membuat Radith mendongak. Dia melihat wajah yang sama sekali tidak asing.


“Kak Darrel. Lo di sini? Jadi Luna ada di Bali? Dan anak gue ada sama dia? Syukurlah, semua pasti aman,” ujar Radith yang membuat Darrel menghela napasnya. Dia ingin memarahi Radith, namun dia sadar semua itu hanya membuang waktu, dia hanya ingin segera mengakhiri ini semua. Dia merasa kasihan pada Radith yang hidupnya tak pernah bisa tenang.


“Sean sama Zia dimana?” tanya Radith pada A. A mengangguk karna Zia dan Sean juga sudah dalam perjalanan pulang, jika mereka tidak bisa pulang cepat, Luna akan mengurus kedua anak itu. kini mereka hanya perlu fokus pada Lira dan Andre yang entah bagaimana keadaannya. Darrel membuka laptopnya, dia langsung melihat ke aarah satelit dan melihat ada apa saja di pulau itu.

__ADS_1


“Ini, tepat di tengah pulau ada sebuah bangunan kecil, aku rasa itu hanay pengecoh dan sebenarnya semua bangunan itu ada di bawah tanah, jadi tidak akan ada satelit atau pesawat yang curiga dengan markas mereka. Kita harus buat mereka ketakutan dan keteteran, jadi mereka akan keluar dari markas itu dan tentu saja ketakutan, barulah kita bisa melakukan semua rencana pada mereka.,” ujar Darrel memberi idenya.


“Gue tahu lo bego sih ya kak, eh gak deh, dulu lo pintar, tapi karna lo gak pernah ikut main beginian, lo jadi kayak orang bego kak. Di sana ada istri gue, ada anak buah gue, kalau lo hancurin pulau itu dan mereka yang jadi korban gimana kak?” tanya Radith frustasi sambil minum obat yang disodorkan oleh A. Darrel baru menyadari hal itu, namun tidak ada cara lain yang bisa mereka lakukan.


“Tuan, jika boleh saya berpendapat, usul pak Darrel sangat bagus, mereka tidak akan membunuh tuan Andre atau nyonya besar Lira, karna mereka membutuhkannya sebagai umpan, yang mereka butuhkan adalah tuan Radith, mereka harus membunuh tuan untuk berhasil, jadi saya rasa, mereka tidak akan membunuh nyonya,” ujar A yang diangguki oleh Darrel.


“Baiklah, mari kita lakukan. Tapi Gue sama sekali tidak punya alat dan bahan untuk melakukannya, Gue tidak bisa melakukan apa apa di sini,” ujar radith pasrah.


“Menurut Lo apa gunanya Gue ada di sini? Gue bawa semua yang diperlukan. Biasanya bang Jordan yang turun, tapi dia sedang ada di Amerika, jadi Gue yang diminta datang. Gue mungkin gak pengalaman, tapi alat alat yang gue bawa pasti bisa berguna,” ujar Darrel bangga.


Radith mendengus geli mendengar hal itu, namun dia juga bersyukur Darrel datang untuk menyelamatkan mereka. Dia jadi punya harapan dan peluang lebih untuk menyelamatkan istrinya.


****


Radith langsung menyusun strategi dibantu oleh Darrel dan A, karna dia hanya percaya pada mereka. B dan yang lain serta anak buah yang lain memilih untuk pergi dan bersiap, menunggu intruksi dari Radith untuk apa yang akan mereka lakukan. Mereka sudah memasang pelindung kepala dan badan, antisipasi akan hal buruk yang akan mengenai mereka.


Lelaki itu sudah pulih sepenuhnya dari sakitnya. Dia langsung bertindak tegas karna mereka tahu, tidak akan banyak waktu tersisa. Mereka harus langsung menyerang ke arah inti dan memastikan keluarganya selamat. Radith harus bergerak cepat dan tepat. Sementara A mengatur bagaimana cara aman untuk mencapai tujuan rencana yang Radith inginkan.


"Sekarang, kita semua harus pergi ke sana, di sana tetap harus saling komunikasi, agar tidak terpisah satu sama lain, aku harap kita semua bisa berkumpul kembali dengan selamat. Kak Darrel, kak Darrel tetap di sini saja, kak Darrel bantu kami dari jauh," ujar Radith dengan serius, dia khawatir Darrel tidak bisa mengatasi semua dan malah jadi blunder untuk mereka semua.


"Aku bisa melakukannya, kau hanya cukup percaya padaku, jika kau tidak bisa percaya padaku, aku rasa semua akan sama saja," ujar Radith sedikit melantur. Namun Darrel menurut saja dengan apa yang dibilang Radith, dia memang cerdas, namun dia tidak berpengalaman dalam memegang senjata, tuan Wilkinson melarangnya karna ingin dia punya hidup normal bersama Luna dan anak anaknya.


"Kau berhati hatilah, kau harus ingat, kau ayah dari 3 orang anak, jika kau tidak berhati hati, anak anak itu akan menjadi yatim dalam waktu dekat," ujar Darrel yang membuat Radith tertawa, nakun segera dia angguki agar mereka bisa pergi dengan cepat.


Radith masuk ke salah satu kapal selam yang ada di sana, dia segera menyalakan Navigator dan bersama A, dia menyelamkan kapal itu. Dia menyalakan oksigen dan melihat map yang ada di sana. kapal selam ini bisa mendeteksi jika ada Ranjau di sana, snagat canggih dan membuat Radith merasa kagum.

__ADS_1


"A, kalau kita bom pulau ini, apa tidak akan ada polisi yang menangkap kita? Bahkan jika kita menyelam secara ilegal, bukankah seharusnya polisi datang pada kita?" Tanya Radith sambil menyetir kapal itu sementara A menyiapkan semua senjata yang akan mereka pakai untuk menyerang pulau itu."


"Yah, di sini, tidak akan ada polisi yang menangkap, karna pemeran utama adalah Anda tuan, jadi apapun yang anda lakukan, tidak akan ada polisi yang menangkap," ujar A santai. Radith tertawa mendengar hal itu, dia kembali fokus pada apa yang dia kerjakan, sementara A sudah selesai, jadi dia bertugas melihat navigasi agar Radith tidak salah berbelok.


"Koordinasi semua tim pelindung untuk memastikan kondisi di sekitar sini bersih dan aman. Jangan sampai tuan Radith terluka." Intruksi A pada bawahannya, termasuk anak buah Andre. Mereka semua berpencar dan menyisir pinggiran pulau itu, setelah memastikan aman dan bersih, Radith naik ke permukaan dan keluar dari dalam kapal itu.


Mereka memasang banyak bom di dekat pantai dan agak tengah dari pulau, bom itu akan meledak jika Darrel yang mengendalikan menyalakan bom itu. Radith merasa senang karna mereka tak menyadari kehadirannya, mereka bisa berjalan ke agak tengah pulau, setelah mendiskusikan hal itu pada Darrel tentunya.


Radith cukup tenang dan semua rencananya berjalan dengan lancar. Sampai dia melihat ada 5 orang yang berlari terseok ke arah mereka. Radith mengenal semua orang itu, ternyata itu adalah F sampai J, mereka semua selamat dari ledakan itu, entah apa yang sudah terjadi, yang jelas dia senang melihat orang orangnya lagi."


"TUAN PERGI DARI SINI, INI JEBAKAN!!!" Teriak G yang membuat Radith menyadari memang sedari tadi ada sesuatu yang janggal. Semua terasa sangat tenang, bahkan tidak ada orang sama sekali. Radith mengira mereka menyangka 5 orang di helikopter itu salah satunya dirinya, dia tidak menyangka ada jebakan seperti ini.


"Terlambat, kalian sudah terkepung. Jika kau nyalakan bom itu, bukan hanya aku, tapi kau juga akan mati, ah, jangan lupakan wanita ****** itu, dia juga akan ikut mati bersama kita," ujar seseorang yang membuat Radith kaget. Dia tidak mengenal ornag itu, namun dia tahu siapa yang ada di belakangnya. Dia sampai melotot dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Andre, apa kau tahu siapa dia? Apa kau mengenalnya?" Tanya orang itu yang langsung diangguki oleh Andre. Anak itu tampak memasang wajah datar, lalu tak lama muncul senyum aneh di bibirnya, dia mendongkan senjata ke arah Radith, membuat semua pengawal menodong senjata ke arahnya.


"Lo tahu satu tembakan sudah cukup untuk membuat anak anak itu jadi yatim. Minta anak buah lo buat turunin senjata mereka kalau gak mau kepala lo berlubang," ujar Andre yang membuat Radith pasrah. Dia memberikan komando pada orang orangnya untuk menurunkan senjata. Mereka hanya berdiri dengan pasrah.


"Bagus, kalian bisa memancing Radith untuk sampai ke tempat ini, kalian akan aku beri bonus lebih untuk hal ini," ujar Andre dengan bangga. Dia memabg sengaja menyusun semua agar Radith bisa terjebak di pulau ini dengan banyak senjata yang akan dirampas darinya, lelaki itu sudah memperhitungkan semua.


"Lo? Lo suruh mereka buat berkhianat sama gue? Lo kalau mau jadi setan, silakan, tapi jangan ajak anak buah gue yang lain njing! Lo gak bisa lakukan itu!" Bentak Radith yang hendak mencakar Andre, namun lelaki itu langsung dilindungi oleh pengawalnya, tak lupa senjata yang masih menodong ke kepala Radith.


"Hmm, karna udah lama gue sama lo kan, tapi gak ada perkembangan, gak ada tanda tanda gue bakal jadi bosnya kan? Sampai kiamat gue bakal jadi anak buah lo, dan setelah itu semua, ada orang yang menawari gue buat jadi Bos di perusahaan batu bara."


"Gue gak harus melakukan pekerjaan kotor kayak gini, gajinya tinggi, gue cuma perlu bawa lo ke sini. Yah, menurut gue lebih masuk budget lah sama apa yang gue dapat," ujar Andre dengan tengil, dia tak menyangka Radith akan terjebak dengan mudah. Pengawal Andre melepas gps yang terpasang di tubuh Radith agar Darrel tak bisa menemukannya.

__ADS_1


"Selamat datang di rumah tuan Radithya David Putra Galeno," ujar Andre pelan namun penuh penekanan.


__ADS_2