Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 82


__ADS_3

Radith pulang ke rumahnya setelah beberapa hari tidur di kantor. Ah, bahkan dia tidak tidur karna banyaknya pekerjaan yang terbengkalai. Dia melihat jadwal yang dikirim sekretarisnya. Besok sampai minggu depan, dia harus pergi ke Jepang untuk sebuah proyek, dia tidak bisa mengirim orang lain untuk mewakilinya, dia merasa tubuhnya sudah remuk dan sakit semua, namun tidak ada yang bisa dia lakukan lagi.


"Ra, aku kangen banget sama kamu, aku lagi capek banget, jatuh banget, ngerasa aku lagi di bawah. Aku gak tahu mau cerita ke siapa lagi kalau bukan ke kamu," ujar Radith yang langsung memeluk Lira begitu sampai di kamarnya. Lira memeluk Radith dan menenangkan pria itu. Dia tahu Radith merasa berat dan putus asa atas semua yang terjadi, dia yang bukan Ibu kandung Zia pun merasakan hal yang sama.


"Kamu punya banyak orang yang dukung kamu, orang orang hebat yang bisa bantu kamu buat temukan Zia. Gak usah terlalu khawatir sayang, kita bakal temukan Zia secepatnya. Tapi yang gak kalah penting, kesehatan kamu, kesehatan fisik dan mental kamu. Jangan terlalu lelah, istirahat, kalau kamu jatuh, baik aku, Sean atau anak buah kamu, semua juga ikutan Jatuh. Jadi kamu harus tetap sehat."


"Makasih Ra, kamu udah jadi penyemangat buat aku. Aku mau mandi dulu, akhirnya aku bisa istirahat di rumah, nyium aroma tubuh kamu yang enak banget ini. Aku sayang sama kamu," ujar Radith yang mencium Lira dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah setengah jam, Radith memanggil Lira dan meminta istrinya untuk mengambilkan handuk. Tanpa rasa aneh atau curiga, Lira mengambilkan handuk itu dan mengulurkannya ke Radith.


Saat tangan Lira terulur, Radith membuka lebar pintu kamar mandi dan menarik Lira masuk ke sana, lalu menutup pintunya. Hanya Tuhan yang tahu apa yang dilakukan Radith kepada Lira saat itu. Hah, Radith sudah menahannya beberapa waktu ini karna banyaknya masalah yang dia hadapi. Dia akan meluapkan semua malam ini dengan Lira, apalagi dia harus terbang ke Jepang lusa.


"Ra, aku lusa ke Jepang, satu minggu. Sebenarnya aku gak mau ke sana, tapi ini proyek penting dan aku gak bisa kehilangan mereka, jadi harus aku yang berangkat ke sana. Aku gak semangat banget, capek banget rasanya semua badanku. Menurutmu, aku harus berangkat ataiu dilepas aja proyeknya dan nyari proyek kecil kecilan?" Tanya Radith yang sudah enggan berpikir lagi. Lira mengeluarkan kotak dari laci yang ada di sebelahnya.


"Aku tahu sih ini bukan waktu yang tepat, tapi aku rasa harus kasih kamu ini. Mungkin aja ini bisa bantu kamu kasih motivasi," ujar Lira yang memberikan kotak itu pada Radith. Lelaki itu membuka kotak yang diberikan Lira dan mengeluarkan beberapa benda di sana. Radith membuka mulutnya lebar lebar saat tahu apa isi dari kotak itu, dia menatap Lira dengan tatapan penuh arti.


"Ini, ini Sean Junior atau Seanwati bakal lahir? Kamu, kamu hamil?" Tanya Radith yang diangguki oleh Lira. Radith langsung menangis dan memelum Lira dengan erat. Berita ini sekolah menjadi pelangi di tengah tengah badai petir yang terus menerus menyambar hidupnya. Dia merasa bersyukur di tengah situasi ini, Lira bahkan masih bisa memberikannya kebahagiaan yang tak bisa dia ungkaplah lagi dengan kata kata, dia hanya bisa menangis dan bersyukur.


"Mungkin kalau kamu lagi pusing, ini bisa jadi tambah panjang daftar pusing kamu, atau sebaliknya, malah bikin kamu semangat. Aku mau kamu jadikan anak ini motivasi buat kamu, kasih tenaga buat kamu yang capek. Aku mau kamu tahu, aku dan anak anak selalu dukung kamu, apapun keputusan kamu, kami akan ada di sini. Kalau kamu mau berangkat ke Jepang, berangkat dengan tenang, pulang dengan selamat. Kalau emang gak mau, ya udah gak papa."


"Aku berangkat deh, buat jagoan kecil Papa Radith, buat tabungan dia juga, tapi kamu hak papa kah kalau aku tinggal seminggu? Aku udah ninggal kamu terus beberapa bulan ini. Aku medasa bersalah banget loh sama kamu Ra, kalau kamu emang gak suka atau gimana, kamu harus bilang ke aku, aku bakal stop dan kasih waktu buat kamu," ujar Radith yang dijawab senyum oleh Lira.


"Ya udah, kalau gitu, setelah pulang dari Jepang, kita kan bakal fokus buat nyari Zia dulu. Nanti kalau Zia ketemu, kita harus pergi liburan ke luar negeri. Aku yang pilih mau kemana aja, oke kan?" Tanya Lira yang diangguki saja oleh Radith. Dia juga senang dan setuju dengan ide itu, sekalian dia bisa mengistirahatkan otaknya dari hiruk piruk pekerjaan.

__ADS_1


"Aku berharap Zia bisa ketemu selama aku di Jepang. Aku gak mau dia lama lama di luar sana, sendirian gak ada yang temenin. Aku takut juga kalau ada sesuatu yang buruk terjadi sama dia, yah semua ini semua cuma ketakutan aku aja, dia pasti gak papa dan lagi dijaga sama orang yang baik," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Mereka mulai memejamkan mata setelah hening, merasa sangat lelah apalagi setelah aktivitas mereka tadi.


Keesokan harinya, Radith melihat ke kamar Sean seperti biasa. Anak itu sudah bangun, Radith menghampirinya dan menanyakan kabar Sean, namun anak itu tak tampak baik, tentu saja Radith menjadi Bingung dan ikut penasaran, apa yang sebenarnya tedjadi pada Sean sampai dia sesedih ini?


"Sean kangen sama Zia Pa, Zia kemana ya? Kok gak pulang pulang pa? Kata mami Zia dibawa sama tante jahat, tante jahat itu kenapa mau bawa Zia Pa? Tante jahat itu bawa Zia kemana?" Tanya Sean yang membuat hati Radith kembali sedih, meski di sisi lain dia juga senang karna Sean merasakan simpati yang besar kepada Zia. Dia sangat bangga kedua anaknya bisa akur seperti ini.


"Papa lagi berusaha cari Zia, Papa gak akan berhenti sampai Zia ketemu, bahkan Papa akan cari ke seluruh Indonesia untuk menemukan Zia. Sean jangan khawatir ya, Lala akan bawa Zia dengan selamat dan nanti tinggal satu rumah lagi sama Kita. Besok Papa mau berangkat ke Jepang untuk kerja, Sean jadi anak yang baik yah buat Mami, jangan buat mami capek, nurut kata mami dan bantu Papa buat jagain Mami," ujar Radith yang membuat Sean bingung sampai menaikkan alisnya.


"Sebentar lagi Mami akan melahirkan adik bayi untuk Sean. Jadi Mami gak boleh capek, gak boleh marah, mami harus selalu happy. Nah, Sean bantu Papa untuk melakukan itu ya, membuat mama bahagia dan gak stres. Nanti setelah pekerjaan Papa selesai dan kita ada waktu, namti kita berempat, eh lima deh sama calon adik Sean, kita jalan jalan ke luar negeri, berlibur. Sean mau kan?" Tanya Radith yang diangguki oleh Sean. Dia merasa senang bisa membantu papanya menjaga mamanya.


"Sean akan jaga mama sampai nanti dedeknya lahir, dan untuk Zia, tolong cepat temukan Zia Pa, kemarin Sean mimpi Zia ada di pinggir jalan sambil menangis, terus ada om om wajahnya jahat menculik Zia, maksa Zia untuk ikut dia, seram sekali pa," ujar Sean yang akhirnya jujur pada Radith, padahal niat awal anak itu hanya ingin menyimpan mimpi untuk dirinya sendiri, dia yakin papanya tidak akan percaya dengan mimpi yang terasa sangat nyata itu.


"Sean, kalau kamu memimpikan sesuatu lagi, kamu langsung bilang ke Mami ya, nanti bantu jelaskan ke Mami tempat yang Sean ingat, bagaimana keadaan sekitar, dan sebagainya. Oke? Kalau nanti Sean ingat mimpinya," ujar Radith yang tentu membuat Sean merasa bingung, dia tidak merasa itu hal yang penting dilakukan. Dia malah merasa mimpi tidak ada kaitannya dengan apapun, dia saja tidak mengira Radith percaya pada mimpinya.


"Papa sudah gak ada clue lagi Zia ada dimana. Papa harus cari jarum du tumpukan jerami. Kalau Sean mimpi dan itu ada di suatu tempat, walau kemungkinan hanya 1 persen pun, papa akan datangi tempat itu untuk memastikan apakah itu benar atau tidak, jadi Sean bisa bantu dengan hal itu," ujar Radith yang dimengerti oleh Sean, anak itu menurut dan berjanji akan melakukan seperti yang Radith lakukan.


Radith kembali ke kamarnya dan melihat Lira sudah sibuk dengan barang barang yang perlu dibawa oleh Radith, padahal lelakivitu tak brgitu merasa butuh membawa barang barang karna dia sudah meminta asistennya untuk menyiapkan dan membawa barang barangnya yang ada di kantor untuk dibawa ke Jepang. Apalagi Lira masih hamil muda, dia tidak bisa membiarkan istrinya kelelahan untuk hal yang tidak perlu.


"Kamu lebih suka barang barang kamu disiapkan sama orang lain daripada aku? Kamu lebih percaya sama asisten kamu? Ya udah, kamu nikah aja sama asisten kamu, aku gak akan pernah mau ngurus kamu lagi, dah sana minta diurus sama asisten kamu aja," ujar Lira yang tiba tiba marah dan memilih untuk menidurkan dirinya lagi di kasur. Radith tentu melongo melihat Lira yang tiba tiba marah.


"Yang, maksud aku tuh gak gitu, aku gak mau kamu capek, aku gak mau kandungan kamu jadi bahaya kalau kamu kelelahan. Udah, itu aja. Lagian kan aku punya asisten pribadi kan ya gunanya buat itu juga, jangan marah dong, bukan berarti aku gak bersyukur kamu ngurus aku, orang tiap hari kamu yang nyiapin baju aku kan? Alau gak kamu siapin aku bingung, ya mana mungkin aku gak butuh kamu buat ngurus aku?"

__ADS_1


"Beneran kamu masih butuh aku? Kalau kamu gini tuh bikin aku gak percaya diri. Tapi bener kan kalau aku masih bisa nyiapin banyak hal buat kamu? Aku takut kalau aku udah gak berguna, kamu bisa cari yang lebih baik dari aku, apalagi aku bisa aja jadi gendut, jelek, nanti kamu, kamu.."


"Aku gak akan pernah lakukan itu. Aku udah janji ke kamu, kamu yang terakhir buat aku. Mau kamu jadi kayak gimana, bagi aku tetap cantik, sempurna, karna cuma kamu yang aku sayang. Bahkan demi biar kamu gak khawatir sama aku, aku sampai bayar asistenku pun laki laki loh, kecuali sekretaris, orang yang dekat sama aku otu laki, karna aku mau menghargai kamu sebagai istri tercinta aku. Jangan mikir macam macam dan tetap cintai aku aja."


"Makasih ya Dith, kamu udah bikin aku jadi perempuan yang snagat beruntung di dunia ini. Aku akan jadi yang terbaik buat kamu, aku gak akan mengecewakan kamu Dith, aku sayang sama kamu. Aku dan anak kita bakal tunggu kamu sampai gak sibuk, anak kita pasti senang dan bangga punya ayah kayak kamu," ujar Lira yang membuat Radith memajukan bibirnya. Sia merasa bersalah setelah Lira mengatakan hal itu.


"Kamu itu jadi bikin aku gak tega buat ninggalin kamu, aku di sana seminggu loh, sedangkan aku udah tahu kalau kamu lagi hamil. Ish, kamu mah kejam Ra, bikin aku merasa kalau aku jadi suami yang jahat buat kamu, padahal kan aku udah berusaha jadi suami dan papa yang baik. Udah ah, setelah ini aku gak akan ambil proyek ke luar negeri. Aku mau ambil proyek di Bali aja."


Radith langsung menyembunyikan wajahnya di pundak Lira. Wanita itu langsung tersenyum melihat Radith yang seperti anak kecil, dia tahu Radith tak akan tega meninggalkan keluarganya apalagi masalah di keluarga ini besar dan belum terselesaikan. Namun lelaki itu tetap memiliki tanggung jawab untuk mengambil proyek demi kelangsungan hidup keluarga ini, meski itu juga akan menyiksanya.


"Ah ya Ra, tadi Sean aneh banget, dia bilang kalau dia mimpiin Zia lagi diculik sama orang aneh gitu pas dia lagi jalan di tempat asing. Aku kok gak bisa anggap itu biasa aja ya Ra? Menurut kamu gimana?" Tanya Radith yang membuat Kira tertarim. Dia menatap Radith penuh arti, membuat Radith menunggu apa yang akan Lira katakan.


"Dia kayak gitu lagi? Wow, aku kira waktu itu tuh kebetulan, tapi kalau sampai dua kali, apa itu masih kebetulan?" Tanya Lira yang tentu tidak dimengerti oleh Radith.


"Dulu, waktu aku di Jakarta. Aku gak pernah berharap bisa balik ke Bali, tapi Sean tiba tiba bilang kalau dia mimpi balik ke Bali dan dia sekolah di Bali. Aku kira ya itu mimpi dan kebetulan aja kejadian, tapi kalau sampai dia mimpi lagi, apa mungkin dia ada anugerah buat tahu?" Tanya Lira yang membuat Radith terdiam, dia juga tidak pernah menemui kasus seperti ini.


"Aku gak tahu, karna kan emang gak pernah ya, tapi kalau memang begitu, kita anggap dia benar aja, jadi kalau dia cerita mimpi yang aneh, kamu simak mimpinya, siapa tahu itu beneran, kita udah bisa waspada, apalagi masalah Zia. Kalau itu benar, kemungkinan ada penjual anak ilegal atau preman yang mempekerjakan pengemis yang culik Zia."


"Aku akan bilang ke Andre buat urus masalah ini. Aku minta tolong kalau ada apa apa atau Sean mimpi lagi masalah ini, kamu bantu ngomong ke Andre biar dia bisa sama timnya cepat ketemu sama Zia," ujar Radith yang diangguki oleh Lira.


"Iya, aku bakal langsung ngomong sama Andre, kamu fokus dulu aja sama kerjaan ini."

__ADS_1


__ADS_2