
"Kita harus segera beritahu Lira tentang Radith? Lelaki itu dalam kondisi kritis karna mengeluarkan banyak darah, bahkan kau bisa melihat ada 2 kantong darah yang sudah di tranfusikan ke tubuhnya," ujar Darrel yang khawatir Radith tidak bisa diselamatkan dan Lira tidak bisa bertemu dengan lelaki itu lagi. Namun Jordan tidak menganggap itu adalah ide yang bagus.
"Jangan, kita harus pastikan dia selamat. Mereka tidak menembak di bagian yang penting, jadi pasti Radith akan selamat. Memberi tahu Lira akan merusak segalanya, terutama kondisi mental Lira. Bayangkan apa yang akan terjadi sama Sean kalau Ibu bapaknya tidak dalam kondisi baik? Mending tunggu dulu aja, gue akan pastikan dia bangun lagi," ujar Jordan dengan wajah yang serius.
"Gue bakal bunuh orang itu. Asli, gue gak akan maafkan dia atas apa yang dia lakukan. Sial. Dimana dia nyimpan semua uangnya? Semua akan sia sia kalau dia tertangkap sama polisi sebelum kita menemukan uangnya," ujar Jordan yang kesal karna mengikuti mereka saja sudah sulit, ini Jordan harus berpikir dimana mereka akan menyimpan uang hasil perdagangan itu. Tidak mungkin langsung mereka habiskan, pasti ada penyimpanan di suatu tempat.
"Gimana kalau ternyata penyimpanannya gak di atas tanah atau bangunan bang? Gimana kalau ternyata penyimpanannya ada di bawah tanah atau bawah laut? Kayak di film avatar aang tuh, ada markas di bawah laut," ujar Darrel yang membuat Jordan merasa gemas. Dia tahu Darrel bergurau di bagian akhirnya, namun di saat seperti ini, tidak bisa dia terima.
"Gak lucu lu kayak gitu, siapa yang mau boros oksigen ngirim ke laut cuma buat nyimpan uang? Yang ada brangkasnya berkarat dan malah jadi makanan ikan. Mereka juga pasti langsung ketemu sama polisi laut kalau begitu," ujar Jordan yang diangguki oleh Darrel. Namun ternyata pernyataan Darrel masih dipikirkan oleh Jordan, seolah dia mendapat ilham dari pernyataan Darrel.
"Bagaimana kalau ternyata Lo benar? Semua uang itu ada di bawah tanah? Kita cari kemanapun juga gak akan ketemu kalau memang tempatnya di bawah tanah, astaga, gue gak kepikiran sama sekali tentang hal itu," ujar Jordan yang langsung meminta anak buahnya mengirim data pengairan dan selokan yang ada di bawah bangunan. Dia ingin segera mengecek saluran itu, siapa tahu memang ada yang bisa dibuat sebagai markas.
"Wait, ini ternyata GPS Radith gak ada di sini, ini ada di daerah Singapura. Apa mereka ada di sana? Kenapa GPS Radith bisa sampai di tempat itu?" Tanya Jordan setelah mengecek laptopnya dan ternyata Radith sudah ada di Singapura. Ah maksudnya GPS lelaki itu karna jelas lelaki itu masih terbujur lemah dalam ruangan. Tidak bisa membuka mata, apalagi berjalan sampai ke Singapura.
Darrel yang mendengar hal itu langsung mengecek kedua sepatu Radith, namun memang tidak ada GPS dan menyadap suara di sana. Mereka tidak terlalu memperhatikan sebelumnya karna Radith yang sedang kristis dan gawat, dia tidak mau memecah fokusnya untuk hal yang tidak perlu begini (ah, sebenarnya perlu sih, tapi tidak begitu penting)
"Bang, coba di cek penyadap suaranya. Kayaknya Radith pindahin itu GPS sama penyadap ke barang mereka. Ini soalnya di sepatu udah gak ada dua barang itu. Siapa tahu dengan itu kita bisa memperoleh banyak Info kan? Kita juga bisa nangkap mereka dengan lebih mudah," ujar Darrel yang diangguku oleh Jordan. Dia segera menyalakan penyadap suara, namun terdengar jauh sehingga Jordan merekamnya dan akan memperbaiki volume suara dari rekaman itu.
Mereka terdiam dan sangat hening agar mereka bisa mendengar apa yang orang orang jahat itu katakan dan rencanakan. Benar saja, mereka memang menyimpan uang itu di bawah tanah karna lelaki itu tahu jika meletakkannya di bank, pasti akan hilang dan orang itu akan mudah untuk ditemukan, mereka sangat profesional dalam bekerja meski bekerjanya lebih banyak mengundang pengaruh buruk dari orang lain.
Jordan akhirnya bosan dan berhenti mendengarkan apa yang meraka katakan, biarlah dia hanya merekam dan orang di timnya yang akan menerjemahkannya karna mereka tidak pergi agak dalam keadaan begini. Mereka segera mengurus pekerjaan masing masing dan akan mengumpulkannya menjadi satu untuk hasil akhir apa yang akan ditempuh.
Tuan Wilkinson sudah tahu dan mulai mengirim orang untuk mengintai dari jauh agar mereka tidak kabur lagi, Paling tidak mereka sudah tahu dimana markas mereka, entah itu markas permanent atau markas sementara. Ini semua berkat Radith yang sampai mempertaruhkan nyawanya hanya demi ini. Mereka tidak bisa menemukannya tanpa Radith.
__ADS_1
"Gila, nih anak pasti bakal jadi kesayangan bokap sih. Kasus sepenting ini bisa dia selesaikan dengan baik. Lo harusnya bersyukur bokap gak ikut campur tentang percintaan Luna, coba kalau ikut campur, pasti bokap bakal milih Radith buat jadi mantunya. Dia jauh lebih berbakat, lebih berani dan lebih cerdas dari Lo, Lo itu cocoknya jadi cowok kantoran, bukan jadi mafia begini," ujar Jordan yang sangat menohok bagi Darrel.
"Yah, semua kan ada porsinya masing masing, kalau Lo bandinginnya begitu sih ya gue kalah, tapi ini kan bicara tentang hatinya Luna. Dia luluh sama Gue karna Radith yang gak bertanggung jawab, dia pernah ninggalin Luna di bawah pohon sendirikan kayak orang gak waras, untung ada gue yang nolong dia waktu itu, coba kalau gak? Kan bahaya."
Darrel tampak sekali kesal karna Jordan merendahkan dirinya di hadapan Radith mengenai Luna. Padahal ini dua hal yang berbeda. Dia memang pebisnis yang cukup handal, tapi untuk menjadi seorang mafia yang memberikan banyak koding, Darrel tidak bisa, walau dia pernah diajari semasa sekolah dulu.
"Well, kalian juga bahkan gak akan pacaran lalau Lo gak paksa Luna buat pacaran sama Lo kan? Pas itu kan Luna juga cinta matinya sama Radith. Haha, tapi Lo gak usah panas gitu lah ekspresinya. Sorry sorry, gue kebawa suasana. Mau bagaimanapun, sesempurna apapun Radith, Luna udah pilih Lo, jadi dia pasti bakal tetap pilih Lo. Walau gue, atau bokap sutuju sama Radith, gak akan ada yang berubah juga."
"Nah, itu Lo juga menyadarinya bang, kenapa Lo harua mancing mancing gue sih ah, gue kan jadi gak ada mood begini, astaga, gue mau keluar dulu bang, takut kalau gue khilaf dan malah ngamuk di sini, kan bahaya," ujar Darrel yang langsung keluar dari ruangan itu tanpa menunggu jawaban Dari Jordan. Jordan sendiri terkekeh karna Darrel marah padanya untuk hal ini.
"Sorry Darrel lo harus mendengar itu dari gue, karna Lo harus belajar bagaimana kerasnya hidup. Gue udah merasakan jatuh bangun dari hidup, tapi kalau Lo gak belajar Dari Radith, Lo tetap akan kehilangan Luna pada akhirnya, jadi lebih baik Lo iri dan belajar dari sekarang," desis Jordan pada Darrel yang sudah pergi cukup jauh.
"Thanks Dith Lo udah bantu banyak banget buat Gue. Gue pastikan Lo mendapat harga yang mahal banget untuk semua ini. Lo memang pantas menjadi bagian dari Wilkinson walau Lo bukan dari keluarga inti juga. Gue akan pastikan hidup Lo sejahtera setelah ini, lo harua hidup kalau lo mau sejahtera, oke? Lo hidup dan buka mata, gue bakal kasih apapun yang Lo pengen dan Lo pengen beri."
Namun di belakang foto Lira, dia melihat ada sebuah foto asing di sana. Dia segera mengambil foto itu dan langsug memelototkan matanya saat melihat foto Luna uang masih mengenakan seragam STM masih di sana. Adiknya sangat cantik dan imut, namun kenapa Radith masih menyimpannya, Luna sudah menikah, meski Jordan mendukung Radith, dia tidak bisa membiarkan anak anak Luna harus melihat ayah dan ibu mereka berkelahi karna permasalahan sepele.
"Wah gila, kalau kayak gini gue gak bisa dukung Lo sih, sorry banget ya, ini 3 foto ini harus gue buang, karna kalau foto Luna aja nsnti ketahuan atau malah Lo ngira Lira udah tahu, jadi semua runyam. Oke? Gue udah ijin sama Lo. Gue hitung sampai 3, kalau Lo gak nyahut berarti oke."
Jordan mulai menghitung di hadapan Radith yang tak sadarkan diri. Lelaki itu menghitung sampai 5, karna Radith tidak merespon, lalu dia merasa memang dan segera pergi dari sana untuk membuang ketiga foto yang mungkin jadi masalah jika nantinya akan di temukan. Jordan membuang foto itu di tempat sampah, lalu kembali masuk ke kamar inap sambil menyusun skenario apa yang akan dia katakan pada Radith saat bangun.
Sementara itu di sebuah kota di pulau Sulawesi, Lira dan Sean sedang bermain di sebuah rumah yang dijaga cukup ketat oleh orang orang yang tidak mereka kenal. Namun Sean ramah pada mereka semua, bahkan membawakan minum juga untuk mereka sehingga Sean cukup nyaman dengan pengawal itu begitu pula sebaliknya. Lira menunda jadwal konselingnya saat ini, dia hanya fokus healing pribadi agar pikirannya selalu positif.
"Mami, Sean tidak melihat uncle-ayah, bahkan Uncle ayah juga gak ikut saat kemarin kita pindah. Apa uncle Ayah akan pergi lagi meninggalkan kita? Apa uncle ayah marah sama mami atau Sean jadi gak mau pulang? Sean kangen sama uncle ayah," ujar Sean dengan imut sambil duduk di paha Lira.
__ADS_1
"Papa kamu gak marah kok, papa cuma lagi kerja. Dan Sean, belajar mulai sekarang panggil Uncle Radith dengan sebutan Papa ya, karna kan Uncle Radith bakal jadi papanya Sean. Kita bakal jadi keluarga yang utuh, yang Sean mimpikan. Yah? Nanti pas Papa pulang, Sean mulai panggil dia Papa ya?" Bujuk Lira yang diangguki oleh Sean meski cukup sulit karna tidak biasa dengan panggilan Papa itu.
"That's my Boy. Sekarang Sean lagi apa? Mau jalan jalan sama Mami? Sama semua uncle di sini juga. Kita baru pertama kali ada di sini, kita bisa main ke pantai, atau membeli baju baju yang bagus. Sean mau?" Tanya Lira agar mereka tidak bosan selama di sini. Mereka akan tinggal untuk waktu yang tidak bisa dipastikan, tergantung dengan lamanya Tuan Wilkinson dan Tim bekerja.
"Eum, kalau pantai, bukannya rumah kita sebelumnya juga sudah banyak pantai? Sean bosan harus melihat pantai lagi, sepertinya semua terlihat sama," ujar Sean seperti orang dewasa. Lira bahkan sampai kaget dengan perubahan itu. Apakah mendadak Sean menjadi anak yang dewasa saat Lira sendiri?
"Ah, kalau di sini beda nak, ada pantai yang pasirnya berwarna pink, terus ada banyak tempat bermain lain, itu juga kalau Sean mau sih, karna Mami kan takut Sean merasa bosan di rumah terus," ujar Lira yang sebenarnya ingin Sean setuju karna dia sangat suntuk di rumah ini. Dia ingin mencari udara segar.
"Mohon maaf nyonya muda. Anda dan Sean tidak boleh pergi terlalu jauh atau mencolok, jadi lebih baik hindari tempat yang ramai agar penjaga juga bisa menjaga dengan baik dan kalian akan selalu sehat dan selamat," ujar Pengawal itu yang membuat Lira cemberut, namun tidak lama karna dia langsung ceria lagi.
"Kalau gitu, bawa kami jalan jalan, kemana saja, naik mobil juga tak apa. Yang penting saya dan Sean bisa melihat sekitar dengan baik. Jadi gak merasa lagi di penjara di tempat ini, gak seru juga kan," keluh Lira pada salah seorang pengawal yang masih muda. Lira terus menggoyang goyangkan badannya demi membujuk pengawal itu.
"Baiklah kami akan membawa kalian untuk pergi, tapi tunggu sebentar karna kaku harus breafing agar tidak terjadi kesalahan dalam penjagaan, silakan nyonya dan tuan muda bersiap dulu," ujar pengawal itu yang membuat Lira senang dan makin semangat untuk pergi bermain.
Lira dan Sean masuk ke kursi tengah dengan Lira yang memangku Sean. Mereka melihat banyak hal di kota ini, bahkan sampai ke pasar dan tempat lain. Tentu saja penjagaannua juga sangat ketat sehingga mereka hanya bisa melewati jalan yang besar. Sampai akhirnya pengawal itu membawa Lira ke pantai yang berpasir Pink muda.
Sean bahagia bisa bermain di sana. Dia segera menggali lubang, membuat istana sendiri dan bermain dengan air, dia merasakan bahagia dengan hal ini karna dia menganggap pasir pink ini sesuatu yang unik, sehingga tidak merasa bosan.
"Mami, next time we need to bring Papa here. This is awesome," ujar Sean yang diangguki oleh Lira dari jauh.
"Oke baik, besok kita ajak papa dan main bareng bareng ya, kita tunggu Papa pulang ya, semoga papa bisa cepat pulang," ujar Lira yang pelan di akhirnya.
"Ya, Sean akan menunggu sampai Papa pulang," ujar Sean dengan semangat dan kembali bermain di sana sementara Lira menyeruput es degan di tangannya dan para pengawal tetap siaga sambil refeshing.
__ADS_1