Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 95


__ADS_3

Radith melupakan tentang orang yang masuk ke dalam rumahnya dan memilih untuk melanjutkan hidupnya seperti biasa. Meski perlataan Lira sebenarnya membuat dia merasa was was juga. Bagaimana jika salah satu dari pengawal benar merupakan pengkhianat dan dia harus bersama dengan pengkhianat itu? Dia harus mengancam hidupnya selama dekat dengan pengawalnya sendiri.


"Ah, oke, gak mungkin pengawal gue ada yang berani macam macam. Mereka udah sama gue selama bertahun tahun, mereka gak akan berkhianat hanya untuk rupiah yang gak seberapa itu. Gue harus yakin, yah paling gak kalau 1 dari mereka berkhianat, masih ada 3 lain yang bakal rela korbanin nyawa buat gue, lo harus tenang Dith, semua akan baik baik aja."


Lelaki itu berkata di depan cermin dan langsung keluar dari kamarnya menghampiri Lira yang sudah menunggu di ruang tamu bersama dengan Sean dan Zia. Mereka ingin menghadiri perjamuan makan yang sudah Radith rencanakan sebelumnya, namun karna Zia dan Sean tidak ikut, Lira harus memastikan kondisi mereka aman dengan menyewa hotel untuk Sean dan Zia bermain di sana.


"Kalau Sean dan Zia ikut, mereka akan tahu wajah Sean dan Zia, nah itu malah bahaya buat mereka kadna kan kita gak tahu siapa di antara pegawai yang memihak ke kita, atau malah perlahan menggerogoti uang perusahaan buat kebutuhan pribadi," ujar Radith saat mereka berdiskusi kemarin. Itulah sebabnya Lira menurut dan bersiap untuk mengartar Sean dan Zia ke hotel itu bersama dengan dua suster yang menjaga mereka.


"Mbak, minta tolong ditemenin ya anak anak, kalau ada apa apa, langsung telpon asisten saya kaalu saya gak angkat, karna takutnya memang gak bisa angkat pas di sana. Jadi pokoknya hubungin aja nomor yang bisa dihubungi. Tapi kalau yang urgent banget ya, kalau gak urgent minta pengawal Sean sama Zia aja. Mereka ada di kamar sebelah."


Lira memberi intruksi untuk apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan agar Zia dan Sean tidak mengotori kamar itu dengan permainan mereka. Sean dan Zia menurut dan akan bermain dengan baik. Di dalam tas mereka sudah ada banyak permainan, tak ketinggalan Ipad milik Sean yang siap menjadi teman mereka. Zia sendiri hanya diam dan melihat Sean mengeluarkan mainanya kadna di tasnya hanya terdapat jajanan dan makanan ringan untuk teman mereka dalam bermain.


Zia dan Sean tertawa sambil makan dan memainkan permainan di atas kasur. Sebenarnya Suster sudah mengingatkan mereka untuk tidak makan di atas kasur, namun mereka tak mau mendengar dan memilih untuk tetap makan dan bermain di kasur.


Sampai akhirnya sesuatu yang tidak ditunggu terjadi. Sean mengambil susu coklat dari tas Zia dan meminumnya, lalu meletakkannya di atas kasur dan tanpa sengaja menyenggolnya sampai susu itu meresap ke dalam kasur dan mengotorinya. Sean dan Zia berpandangan, meminta pertolongan dari Suster mereka, namun suster hanya melihat dengan tatapan panik, bingung harus melakukan apadan bagaimana. Mereka terdiam untuk beberapa saat.


"Ini kondisi darurat bukan sih? Atau bisa ditangani sendiri? Astaga, aku bingung harus gimana," ujar suster Anna pada suster Beta. Suster Beta juga bingung akan hal yang sama sehingga dia tidak bisa memberi jawaban yang sesuai. Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke pihak hotel dan menanyakan solusinya.


"Oh, ini sudah sampai ke dalam, kami akan memeriksa apakah kasurnya rusak atau tidak, apakah anda bisa lolos dari denda atau harus membayar dendanya, kita tunggu sebentar lagi," ujar petugas hotel yang tentu diangguki oleh Anna dan Beta, mereka tak bisa melakukan apa apa. Terutama semua ini karna salah Zia dan Sean, jadi mereka tidak bisa memarahi dan tentu saja uang yang Lira beri lebih dari cukup untuk mengganti kasur yang rusak itu.


"Sesuai dengan ketentuan hotel, mereka harus mengganti biaya ganti rugi karna kasur yang mereka pakai adalah jenis premium dan sangat nyaman, jadi harganya tentu saja lebih mahal.


"Untuk total kerugiannya adalah 5 juta, jadi anda tidak bisa meninggalkan hotel sebelum membayar dendanya. Apakah anda akan mebayar dengan tunai atau debit atau kredit card?" Tanya orang itu yang membuat Anna menghela napasnya, dia tak menyangka akan mengeluarkan uang sebanyak itu, meski itu juga uang Sean, tetap saja rasanya sayang harus dihabiskan hanya untuk membayar denda.


"Kami akan bayar saat hendak check out ya mba, saya cuma susternya, jadi saya tidak berani ambil keputusan. Saya akan tanya orang tua mereka dan persetujuan mereka untjk mengeluarkan uang sebanyak itu. Apa bisa mbak?" Tanya Anna yang tentu diperbolehkan oleh pihak hotel.

__ADS_1


"Lo gak mau protes kenapa semahal itu? Cuma kasur beginian masak ganti rugi habis 5 juta? An gak masuk akal. Lo yakin mau telpon nyonya tuan tanpa mau bantah dulu ke mereka?" Tanya Beta yang dijawab gelengan kepala oleh Anna, dia tidak mau melakukan hal norak seperti itu.


"Pihak hotel pasti tahu yang terbaik dan yang enak buat semua pihak. Masih untung kita tetap boleh menginap dan bayar besok. Lagian mereka bukan mau malak kita, kita udah salah tuh diam aja, jangan menambah malu dengan membantah dan banyak bicara, tinggak bayar juga," ujar Anna yang tentu saja disetujui oleh Beta.


"Sean, kamu gak papa kan? Gak ada yang luka kan? Coba sini mba lihat, oh oke, ternyata jagoan Mami papa emang anak yang kuat ya, harus jadi anak yang kuat pokoknya," ujar Alfa yang memgelus kepala Sean dengan lembut. Mereka melanjutkan bermain meski sekarang berbeda dan tentu mereka tidak bermain di atas kasur seperti tadi.


"Mba, apa tadi Sean harus bayar banyak? Apakah kasurnya tidak bisa diperbaiki?" Tanya Sean di sela sela mereka bermain, rupanya anak itu merasa sangat bersalah sudah melakukan hal itu dan ingin memperbaikinya, namun tentu saja Anna dan Beta tidak menyetujuinya, bagaimanapun Lira daj Radith sudah bisa membayar semua.


"Gini nak, kalau Sean dan Zia mau membantu, kalian menabung saja dari uang saku kalian untuk membayar uang 5 juta ini. Nanti dikasih ke Mami dan Papa ya, uang saku yang kalian kumpulkan. Kalau masalah kasurnya rusak atau tidak, mbak gak tahu, mbak gak paham, yang jelas ya kita diminta untuk membayar 5 juta itu.


"Maafkan Sean ya mba, Sean gak dengar apa kata mba, padahal mami bilang buat nurut sama Mba, malah jadi begini," ujar Sean sedih, cara bicaranya seperti orang dewasa meski nasa suaranya kasih seperti anak kecil. Hal itu tentu membuat Anna merasa terharu sekaligus terhibur.


"Iya nak, gak papa, yang penting kita bertanggung jawab untuk apa yang kita lakukan, jadi ya gak begitu masalah, mengerti kan kalian?" Tanya Anna yang diangguki oleh Sean dan Zia.


Radith dan Lira memang meminta suster itu untuk tidak membela Sean atau Zia jika salah, namun berikan pengertian untuk mereka bertanggung jawab dan tidak menyalahkan mereka. Hal itu akan membuat Sean dan Zia mengerti sendiri jika mereka melakukan suatu kesalahan, mereka akan menyadari dan meminta maaf serta bertanggung jawab untuk itu.


*


*


“Hei, kenapa kalian ada di sini? Gaun siapa yang kalian pakai? Oh astaga, bagaimana bisa tukang kebun dan pembantu ada di acara pesta seperti ini?” tanya orang itu yang membuat Lira terdiam, dia menahan sekuat tenaga untuk tidak mengatakan appaun agar Radith yang membalas untuk mereka. Orang itu tampak masih menunggu Radith unutk bicara, apa yang akan dikatakan oleh lelaki itu? Lira juga penasaran akan hal itu.


“Apakah anda mau saya ambilkan seelas anggur? Atau minuman lain?” tanya Radith yang membuat Lira melongo, mereka sudah dandan seperti ini, mengapa lelaki itu tak lekas membiarkan orang di hadapan mereka masih menganggap mereka bukan siapa siapa di sini? Ah, jika Lira tidak berjanji akan tetap diam dan menikmati pertunjukan, dia akan menyiram orang itu dan meminta orang itu untuk berlutut minta maaf padanya dan pada Radith.


“Ah, mungkin kau diundang untuk membantu di tempat ini? Astaga, atau rumah yang waktu itu rumah pak Radith? Wah, beliau pasti sangat baik hati karna membiarkan kalian memakai baju yang indah meski kalian hanya menjadi pelayan di sini. Baiklah, ceritakan padaku apa yang pak Radith suka dan tak suka, aku akan membuat suamiku mendapat promosi dan jika dia diangkat ke posisi yang lebih baik, aku akan memberikan kalian hadiah sebegai imbalan,” ujar orang itu yang membuat Radith hampir saja tertawa.

__ADS_1


“Rasanya sulit sekali untuk hal itu, karna pak Radith selalu memperhatikan kualitas di atas segalanya, apalagi jika ingin menjilat, saya rasa tak akan berhasil. Jadi, apa yang nyonya minta untuk diminum?” tanya Radith yang sopan. Orang itu tampak tak puas dengan jawaban Radith, namun dia meminta Radith membawakannya segelas soda berwarna merah yang non alkohol padanya dan Radith dengan senang hati melakukan itu.


Saat sedang mengambil minuman, Radith bertemu dengan direktur yang ada di perusahaan itu, Radith mengobrol dengan santai karna orang itu mengenalnya, yah, mungkin hanya orang itu yang mengenalnya di sini. Radith memberi pesan untuk tetap diam sampai acara makan berlangsung, orang itu tak boleh mengenalkan Radith pada tamu di sana sampai nanti dia akan dikenalkan secara resmi. Setelah selesai mengobrol, Radith kembali dengan segelas soda di tangannya.


“Nyonya, soda anda,” ujar Radith yang membuat atasan itu menjadi kaget. Namun dia sudah diminta untuk diam apapun yang terjadi, jadi dia diam saja dan memilih untuk melihat dari jauh. Orang itu tampak mengomel ada Radith, namun tetap menerima soda dan meminumnya, lalu memberikan gelas yang setengah kosong itu pada Lira. Lira terpaksa mengikuti permainan Radith dan menerima gelas itu, lalu meletakkannya di tempat gelas yang sudah kotor.


Akhirnya, saat yang ditunggu tiba. Mereka diminta untuk duduk di tempat yang sudah diberi nama, setiap kursi terdapat nama dan di meja pun ada papan nama serta jabatan mereka di sana. Radith sengaja melakukan hal itu untuk membuat pasangan suami istri sombon itu tahu dan sadar, siapa dirinya di sini. Di meja paling ujung dan utama terdapat tulisan Founder, dimana Radith dan Lira akan duduk di sana.


“Selamat malam semua, terima kasih udah menyempatkan waktu untu hadir di acara makan malam bersama pada malam hari ini. Hari ini kita kedapatan tamu yang sangat penting, sekaligus beliau ini yang mengadakan makan malam bersama di perusahaan. Yah, beliau adalah founder dari perusahaan pusat tempat kita semua mencari nafkah dan mengembangkan usaha ini. Sebentar lagi beliau akan bergabung dengan kita semua, jadi mari kita sambut dengan hangat, pak Radithya dan Ibu Liora selaku istrinya.


Mereka berdiri untuk menyambut founder dari perusaahaan tempat mereka berinduk, Radith dan Lira masuk dengan elegan dan anggun, semua mata menatap mereka kagum karna Lira dan radith masih muda, namun sangat sukses. Tapi ada dua pasang mata yang menatap mereka dengan kaget. Sepertinya tak perlu ditanya lagi siapa mereka, dan kenapa mereka kaget. Radith dan Lira duduk di kursi yang paling tertinggi pangkatnya di sana dan mereka semua ikut duduk setelah Radith dan Lira duduk nyaman.


“Selamat malam, terima kasih sudah menerima undangan saya dengan rendah hati dan meriah seperti ini. Saya harap, perusahaan ini bisa mengembangkan nilai nilai yang baik dan terus berkembang ke arah yang lebih baik pula. Terima kasih untuk semua divisi yang sudah bekerja keras sehingga bisa sampai ke tahap ini, terus jadikan semangat itu untuk mencapai target kita di tahun ini dan tentu menaikkan target kita semua di tahun depan.”


“Malam ini, saya secara khusus berterima kasih oleh Anto Gatra Andriansyah selaku Asisten Manager di perusahaan ini, beliau adalah salah satu alasan saya mengadakan perjamuan makan malam ini, mungkin anda bisa menyiapkan waktu untuk berbincang dengan saya? Jika anda memiliki waktu luang tentunya.”


“Ah, saya selalu memiliki waktu luang jika pak Radith yang meminta, kapanpun pak Radith meminta saya untuk menghadap, saya akan lakukan dengan segera pak,” ujar orang itu yang wajahnya sudah sangat pucat. Ingin Sekali Radith merasa kasihan, namun dia tak bisa karna di hatinya sudah menyimpan amarah karna istrinya sudah direndahkan oleh mereka.


“Baiklah, saya akan mencari waktu untuk bisa berbincang dengan anda. Pak Eric, sepertinya anda bisa membantu saya dalam hal ini ya, haha,” ujar Radith yang diangguki oleh orang itu.


Lira menatap ke arah istrinya yang sudah teridam tak berani bahkan hanya untuk mengangkat kepalanya. Dia sudah menghina Lira dan Radith sampai 3 kali, mungkin suaminya akan dipecat dan dia akan menderita karna sudah berani mengusik keluarga Radith. Lira menatap perut orang itu, perut yang sama besar dengan miliknya. Hal itu membuat lira merasa iba pada bayi yang ada di sana, bayi itu mungkin tidak akan mendapat keluarga yang bahagia jika orang tuanya hidup susah.


Namun rasanya tak adil juga jika orang itu tak mendapat hukuman setelah merendahkan orang lain. Siapapun orangnya, dia tak pantas untuk merendahkan orang, apalagi dia tak mengenal orang itu, sangat aneh dan menyebalkan.


“Aku kasihan kalau lihat wajahnya, tapi aku benci kalau ingat apa yang dia lakukan,” bisik Lira yang membuat Radith terkekeh. dia ingin mencubit pipi gadis itu, namun dia urungkan karna mereka sedang berada di tempat umum.

__ADS_1


“Nanti, aku kasih tahu kamu apa rencana aku,” ujar Radith yang diangguki kembali oleh Lira.


__ADS_2