Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 107


__ADS_3

Radith keluar dari kamar dengan badan yang masih pegal, mungkin karena efek pijat yang belum hilang, namun badannya jauh lebih ringan dari sebelumnya. Dia melihat ke arah Sean dan Lira serta Zia yang masih sibuk menggambar. Radith memutuskan untuk bergabung dengan mereka dan duduk di sebelah Lira. Dia masih belum tahu apa yang tadi sudah Lira lakukan bersama Zia dan Sean.


"Papa, nanti Papa belikan Sean mainan Roket ya, biar Sean bisa belajar buat merakit roket dan nanti dia bisa tahu bentuk roket yang mirip sama aslinya, karena kalau mau ke museum atau yang benar benar mirip, kayaknya harus ke luar negeri kan ya?" Radith masih tak tahu kemana arah pembicaraan Lira. Namun dia melihat ke arah Sean dan menaikkan alisnya.


"Sean mau jadi pembuat roket? Atau Sean mau jadi Astronotnya?" Tanya Radith yang langsung dijawab oleh Sean. Radith mengangguk dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil laptop dan mulai melakukan pencarian mengenai pelatihan menjadi astronot, syarat yang diperlukan dan tentu saja kemana mereka harus menghubungi.


"Syarat usinya 17 tahun, dan harus ke Perancis, jadi kalau kamu beneran mau jadi Astronot, nanti papa belikan buku yang mempelajari itu untuk anak anak biar kamu tidak bosan, kalau Papa belikan roketnya, kamu malah jadi perakit roket, teknisinya, bukan astronotnya. Tapi kalau kamu memang mau, ya papa belikan," ujar Radith yang membuat Sean terdiam. Dia juga ingin memainkan roket itu agar dia tahu seperti apa.


"Sean mau pa, Sean mau beli roketnya itu. Biar Sean tahu bagaimana bentuk roket itu," ujar anak itu yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu mengambil sesuatu di dalam gudang, rupanya sebuah celengan berbentuk pohon natal, Radith memberikan masing masing satu untuk Sean dan Zia.


"Karena kalian sudah sekolah dan sika punya uang saku, kalian harus menyisihkan uang kalian untuk membeli hadiah natal kalian. Apapun yang kalian inginkan, kalian tulis dan kalian letakkan celengan itu di bawah pohon natal, nanti Santa Klaus akan datang dan memberi kalian apapun yang kalian inginkan sesuai dengan tabungan kalian," ujar Radith yang membuat Zia dan Sean bingung.


"Natal masih 2 bulan lagi, jadi kalian masih punya waktu untuk menabung sampai dua bulan kedepan, baik Mami, Papa, Sean atau Zia, kita semua sama sama menabung agar mendapat hadiah dari Santa. Kalian mau kan dapat hadiah? Kalau kalian memang mau, ya kalian harus menyisihkan uang kalian itu," ujar Radith yang diangguki oleh Sean dan Zia. Mereka menerima celengan itu dan Sean memasukkan uang ke dalam celengan itu.


"Nanti saat hampir natal, kalian masukkan surat untuk santa, isinya apa yang kalian inginkan untuk natal tahun ini, nanti Santa Klaus akan kabulkan dan akan berikan apa yang kalian minta, tapi, uang kalian harus cukup, kalau uangnya cuma sedikit, kasihan Santa Klaus gak punya uang buat beli," ujar Radith yang diangguki oleh mereka.


Sean dan Zia saling melihat apa yang mereka miliki. Mereka merasa senang dengan celengan itu. Sean dan Zia langsung meletakkan celengan itu di kamar masing masing agar tidak rusak dan hanya mereka yang tahu isi dari celengan itu. Liea tersenyum saat tahu Radith memiliki ide yang bagus untuk keinginan mereka.


"Biar mereka gak kebiasaan dan mereka tahu, kalau mereka butuh atau mau sesuatu, ya mereka harus menabung untuk mendapatkannya. Kalau kebiasaan kita langsung belikan, mereka gak akan ada usaha dan sampai kapan pun mereka merasa kalau mereka mau sesuatu ya tinggal minta, padahal kan gak gitu konsepnya," ujar Radith yang diangguki oleh Lira.


"Ya, aku juga tahu hal itu, aku senang kamu bisa menemukan ide itu loh. Aku aja gak kepikiran sama sekali karena kamu kan kaya, kamu pasti mampu lah buat ngatasin semua, buat beli semua yang mereka mau. Aku sih yes aja," ujar Lira yang diangguki oleh Radith.


"Kamu tadi ngapain sama anak anak? Kok kayaknya rame dan heboh banget? Tadi juga kamu masuk kamar mau ambil apa? Kok buru buru gitu?" Tanya Radith yang membuat Lira ingat dan langsung memberikan buku milik Zia pada Radith. Lelaki itu melihat buku milik Zia dan langsung kagum.


"Zia yang gambar semua itu, keren banget kan? Aku sampai gak nyangka kalau Zia bisa gambar begini, aku tadi telpon kenalan aku yang juga desainer gitu, nah aku minta dia buat bikin baju dari ini, dan dia bisa, tapi tunggu dia balik dulu dari Sulawesi, kayak ada event gitu dia," ujar Lira yang membuat Radith kagum.


"Aku juga barusan belikan dia buku gambar yang sekalian besar sama alat gambarnya juga, aku pengen lihat aja siapa tahu kalau warnanya lebih lengkap dan alatnya juga lebih lengkap, dia makin semangat dan makin kelihatan bakatnya, ternyata kalau sebagus ini kan aku juga bangga jadinya," ujar Lira yang diangguki lagi oleh Radith. Lelaki itu juga sangat kagum dan bangga melihat anak anaknya sudah memiliki minat di suatu bidang.


"Kalau memang kita bisa mengarahkan, pasti mereka bisa jadi anak anak yang hebat, aku percaya sih mereka bakal jadi anak anak yang hebat. Dan yah, selama aku masih hidup, aku bakal terus sehat, memastikan mereka bisa meraih semua itu. Gak kayak kita yang harus kerja keras buat sampai di posisi ini, merelakan banyak mimpi untuk menghadapi kenyataan, aku gak mau anak kita begitu."

__ADS_1


"Ya, aku yakin karena kamu ayah mereka, mereka pasti bisa dapatkan itu semua. Aku yakin mereka bisa jadi anak yang baik, anak yang sukses, karena papa mereka sangat support dengan mimpi mereka. Yah, walau aku juga bilang ke mereka untuk tetap belajar giat sih, karna kita kan gak bisa cuma mengandalkan bakat mereka untuk lulus dari sekolah."


"Kalau pintar, mereka berdua pintar kok, mami papa nya juga cerdas, jadi gak akan sulit sih, aku harus mulai nyari channel buat masukin mereka ke akademi sesuai kemampuan mereka, kalaupun nanti mereka harus ke luar negeri dari SMP gitu, ya aku kirim aja mereka, malah bagus, nanti kita bisa cuma bertiga sama Seanwati juga, terus Program deh buat bikin Junior lagi, heheeh," ujar Radith yang mulai usil pada Lira.


"Padahal loh topiknya udah bagus banget, pembahasan sudah berat dan bagus, tetep aja otaknya gak bagus, jadi gitu gitu aja, menyebalkan banget. Gak tahu ah, mending main sama anak aku daripada sama kamu, ngeres," ujar Lira yang langsung menyusul Sean dan Zia demi menghindar dari Radith yang membuat moodnya jatuh.


“Hahahaha bercanda loh sayang, iya iya oke serius. Sebenarnya aku malah ada rencana buat masukin mereka kayak ke semacam Kumon gitu, biar mereka bersinar di jalan mereka sendiri, menurut kamu gimana kalau gitu?” tanya Radith yang dijawab gelengan kepala oleh Lira, dia tidak merasa itu ide yang bagus. Dia tidak mau anak anak mereka tertekan.


“Sean ngomong ke aku, dia sukanya sekarang emang roket, tapi dia masih gak tahu ke depannya dia suka apa. Aku mau semua yang jadi hobi mereka, ya sampai saat ini jadi hobi mereka dulu aja, sampai mereka yang minta sendiri ke kita, kalau kita yang paksa, aku takut malah nanti dari akademis atau bakat mereka gak sempurna,” ujar Lira yang masuk akal bagi Radith.


“Ya udah, berarti untuk sekarang, kita support semua itu sebagai hobi mereka aja, nantinya kalau memang mereka mau berkembang lagi, ya udah tinggal aku masukin mereka ke sekolah yang berkaitan. Aku bakal nurut sama kamu untuk masalah pendidikan anak anak, karna biasanya Ibu yang lebih peka sama hal beginian, kalau bapak mah tinggal kasih uangnya aja,” ujar Radith sambil tertawa.


“Ya gak bisa gitu lah, kan anak berdua, yang urus ya berdua dong. Belum tentu juga apa yang aku didik ke mereka udah benar loh Dith, bisa aja aku terlalu keras, atau malah terlalu lembut. Aku mau anak kita tumbuh ya seimbang, ditegaskan juga iya, dilembutin juga iya, biar mereka jadi penyayang, tapi gak kurang ajar sama kita,” usul Lira yang dipikir oleh Radith. Benar juga, selama ini mereka hanya memberikan kelembutan bagi Sean dan Zia.


“Lalu, apakah kamu ada ide lagi kita harus gimana? Aku yang jadi tegasnya gitu kah? Atau aku yang jadi lembutnya, kamu jadi galaknya? Kamu kan galak banget tuh, suka ngomel juga, tatapannya tajam, beuh, aku aja ngeri ngeri sedap, apalagi anak anak, iya kan?” tanya Radith yang membuat Lira berdecak kesal. Suaminya memang sulit untuk diajak bicara serius, padahal dulu Lira sangat takut pada Radith yang tukang ngatur dan galak.


“Sayang, kamu gak kerasa kram atau sakit kah perutnya? Baby Seanwati gak nendang-nendang kah? Aku kok jadi khawatir karena dia terlalu tenang sih? Kalau dia kenapa napa gimana dong? Besok kita ke dokter aja ya, biar pasti juga keadaan seanwati kayak gimana,” ujar Radith yang membuat Lira berbalik badan dan menatap lelaki itu dengan kesal.


“Baru seminggu yang lalu astaga kita check up ke dokter, ngapain check up lagi? Bulan depan aja udah. Baby Seanwati tuh gak akan kenapa napa, dia tahu kalau maminya udah capek, jadi ya dia gak mau nyusahin maminya, walau kaki maminya juga sering pegal dan nih agak bengkak karena gendong dia, makanya dia gak nendang nendang pas tidur, biar maminya bisa istirahat. Anak aku mah pintar dan pengertian."


“Eh eh eh, tunggu dulu, kamu bilang apa? Bengkak? Mana yang bengkak?” tanya Radith yang baru menangkap perkataan Lira. Wanita itu baru sadar dia kelepasan bicara dan malah membuat Radith menegang panik, padahal dia tidak merasa itu hal yang buruk. Dan memang ada beberapa ibu hamil yang kakinya membengkak dan pegal karena beban yang mereka bawa jauh lebih besar. Namun hal itu tidak membahayakan selagi sang Ibu tidak terjatuh atau terluka.


“Kenapa gak bilang ke aku? Kalau bahaya gimana? Kamu bikin aku khawatir tau gak sih, bentar, aku ambil kompres dulu, kalau didiamkan bahaya, nanti kalau kamu malah susah buat jalan gimana? Kan aku juga yang malah jadi khawatir,” omel Radith yang langsung turun dari kasur tanpa mendengar penjelasan Lira. Wanita itu hendak membuka mulut, namun dia urungkan karna Radith keburu keluar dari kamar mereka.


Tak lama berselang. Radith masuk ke kamar dengan handuk dan baskom. Dia juga membawa Alat perebus air portable yang biasanya mereka gunakan saat pergi ke luar kota. Lira tentu saja bertanya tanya apa yang akan dilakukan oleh Radith dengan benda itu. Lira menunggu Radith sampai lelaki itu masuk ke kamar mandi dan keluar lagi dengan air hangat di baskom dan air biasa di alat itu.


“Mau diapain?” tanya Lira yang tidak ditanggapi oleh Radith. Lelaki itu langsung mencolokkan kabel ke stopkontak dan berjalan ke arah baskom. Dia membasahi handuk dengan air hangat dan langsung membekap kaki Lira dengan handuk itu. Lira merasakan nyaman di kakinya. Lira bahkan sampai menghela napas panjang, seolah dia sedang berada di tempat terapi. Radith yang melihat itu tentu saja juga senang, dia bisa memanjakan istrinya yang mulai hamil besar ini.


“Emang hamil itu gak gampang, tapi kalau bisa gak kamu pendam sendiri, ya jangan kamu pendam sendiri. Kamu bisa minta pijat terapi atau gak minta aku buat pijitin kamu, gak masalah, kalau sampai bengkak begini, aku yang sedih, aku yang gak suka. Untung aja kamu keceplosan, kalau enggak? Kan bisa jadi bahaya juga,” lirih Radith yang sedikit memberi pijatan ke kaki Lira.

__ADS_1


“Iya, besok besok kalau aku butuh pijat begini, aku bakal ngomong ke kamu deh. Apalagi kalau ternyata pijatan kamu enak banget begini, kayak aku lagi ada di tempat terapi. Kamu ahli banget loh Dith, kenapa kamu gak buka praktek aja? Lumayan kan buat tambah tambah uang kita, hahaha,” kekeh Lira yang membayangkan suaminya membuka praktek pijat terapi.


“Iya, waktu ke Jepang kan aku di pijat terapi juga, aku perhatikan gimana orangnya pijat aku, teknik tekniknya. Walau aku gak tahu ini benar atau salah, yah, seingatku sih gini, yang penting di kamu gak sakit dan enak aja,” uajr Radith yang terus memijat kaki Lira.


“Jepang? Pijat refleksi? Yang pijat kamu cewek atau cowok?” Tanya Lira dengan nada santai.


“Cewek lah, yakali cowok,” ujar Radith spontan. Lira langsung menatapnya tajam, barulah dia sadar seharusnya dia tidak menceritakan tentang hal ini.


“Cantik gak?”


“Ra..”


“Cantik gak?!”


“Cantik, tapi Ra…”


“Ngapain aja selain pijat?” tanya Lira curiga. Radith langsung mengangkat kedua tangannya melihat tatapan itu.


“Cuma pijat, profesional kok gak yang ples ples, beneran. Gak berani aku bohong ke kamu, kalau bohong, boleh loh besok adik kecil aku hilang.”


“Oke, deal, kalau kamu bohong, besok adik kecil kamu hilang. Kita lihat aja, beneran hilang gak tuh burung,” ujar Lira tajam yang kembali memejamkan matanya.


“Iya sayang. Toh kalau burung aku hilang, kamu juga yang sedih.”


~duugg


“Aiiiihhhhhhhh.” Radith mendesis sambil memegang bagian bawah yang ditendang oleh Lira padahal wanita itu masih memejamkan mata.


“Peringatan aja, gak sedih aku walau itu cidera atau hilang,” ujar Lira dengan galak.

__ADS_1


__ADS_2