
Nesya dan teman-teman Radith sedang bermain voli pantai di sore hari yang masih cerah itu. Karena Radith sudah memutuskan untuk mengikuti apa yang diinginkan Nesya, wanita itu bisa bermain santai dengan Radith dan teman-temannya, karena dia juga bisa membujuk Roy yang melarangnya keluar dengan alasan sudah ada teman yang bisa menjaganya selama Roy tidak ada di sana.
“Udah lama gue gak keluar dari rumah siang-siang atau sore begini. Biasanya suami gue cuma kasih ijin kalau malam saja, itu pun gak boleh jauh-jauh dari rumah, rasanya enak banget,” ujar Nesya yang sudah duduk di sebuah tikar sambil menyedot air kelapa muda yang menyegarkan. Radith menengok sambil menumpukan tangannya ke belakang untuk bersantai.
“Kenapa begitu? Suami lo posesif banget ya? Lucu aja kalau orang kayak dia bisa posesif gitu,” ujar Radith yang merasa geli membayangkan Roy membucin pada seorang wanita sampai sebegitunya. Bukankah dia yang Radith kenal adalah pria kejam yang tidak segan menarik rambut seorang gadis tidak berdosa?
“Parah banget kalau dia mah. Nih, nih kalung emang berlian liontinnya, tapi dalamnya itu alat pelacak. Jadi dia bakal tahu gue dimana, yah tapi gue maklum sih, kan dia gak mau kehilangan cewek cantik kayak gue,” ujar Nesya yang membuat Radith tertawa tanpa sengaja. Dia reflek tertawa mendengar seseorang menyombongkan diri sendiri seperti Nesya pada saat ini.
“Gak percaya ya? Dia emang sebegitu takutnya gue pergi ninggalin dia. Makanya dia jaga gue banget. Gue pernah hampir mati karena kayak mau dicelakai orang dan dia posisi gak tahu gue dimana, jadi ya habis itu dia kasih alat pelacak ini. Emang lo gak gitu ke istri lo? Dia gak pernah diculik gitu ya?” tanya Nesya yang membuat Radith terdiam.
“Iya juga ya, gue juga gitu ke istri gue, gue malah kasih dia gelang gitu. Hahaha, bener deh bener, berarti suami lo gak berlebihan, gak lebay karena gue juga melakukannya,” ujar Radith yang tertawa karena jika dipikir dia juga sangat bucin dan takut kehilangan Lira untuk saat ini, jadi dia melakukan apapun untuk memastikan wanita itu aman.
“Yee, ya gak gitu juga. Terus kalau lo gak melakukan dan orang lain lakukan, jadi berlebihan gitu? Emang lo siapa kok menjadikan diri sebagai kkm orang itu lebay atau enggak? Presiden aja gak berhak begitu,” sewot Nesya yang kembali menyerang Radith. Entah kenapa Radith tidak bisa menang melawan argumennya.
“Lo ya, lo itu satu-satunya perempuan yang gak bisa gue jawab, yah, selain istri gue sih. Gue tahu lo itu wanita yang cerdas, lo berpendidikan dan pikiran lo luas, yang gue gak paham, kenapa lo bisa berakhir dengan menikah sama Roy?” tanya Radith tanpa sadar. Untung saja Nesya tidak tersinggung sama sekali.
“Berarti pikiran yang lo punya belum seluas yang gue punya. Atau yah, lo gak berpendidikan, lo Pilih yang mana?” tanya Nesya dengan nada bergurau.
“Sialan,” sahut Radith cepat.
“Eh tapi serius. Kasih gue jawaban deh, kenapa lo sampai bisa menikah sama Roy? Kenapa lo mau sama dia? Lo tahu kan dia gimana? Cara dia narik rambut lo gitu aja pas malam kita pertama ketemu, itu kasar banget loh, kenapa lo mau sama cowok kayak gitu?” tanya Radith penasaran.
“Dia itu gila, tapi dia gak jahat Dith. Itu yang kalian semua gak tahu dan gak mau tahu. Dia narik rambut Lunetta, terus dia jadi jahat banget gitu? Cuma karena dia narik rambut Lunetta atau rambut gue aja?” tanya Nesya yang tidak dijawab oleh Radith karena dia masih belum mendapat jawaban yang dia ingin dengar.
“berapa tahun sih lo kenal sama dia? Gak ada setahun kan? Terakhir lo ketemu sama dia pun udah jauh banget kan dari tahun-tahun yang lalu? Lo gak tahu apa yang kami lewati selama tahun-tahun itu, jadi gue rasa ya lo gak akan paham kenapa gue bilang dia gak jahat, lo gak paham kenapa dia melakukan hal yang menurut kalian gila,” ujar Nesya yang masih tidak dijawab oleh Radith.
__ADS_1
“yang jelas, gue gak punya alasan buat benci dia, dan ya, gue gak bisa membenci dia dengan semua itu. Gue bisa lihat dia orang yang baik, sayang sama gue, menjaga gue dengan sangat baik, ada waktu buat gue, apalagi yang gue cari dan gue butuhkan? Harta? Percuma mah punya harta tapi gak ada bahagianya,” ujar Nesya lagi.
“Oke berarti lo mau sama dia, lo suka sama dia, dan lo bahkan menikah sama dia karena menurut lo dia baik? Kalau dia orang baik, kenapa dia sampai nyakitin Luna yang berakhir dengan dia berantem sama gue dan dikeluarkan dari sekolah?” tanya Radith penasaran. Dia tidak menyukai Roy karena hal itu, mungkin dia bisa mengerti jika dia tahu alasan lelaki itu melakukan semua.
“Dia benci sekolah itu, dia benci SMK Taruna. Kebetulan juga dia emang punya kenangan masa kecil yang buruk dan otaknya memang trauma. Dia memang gila, gue gak bilang dia gak gila. Kalau menurut yang dia cerita ke gue, dia tahu Luna berpengaruh di sekolah itu, bukan cuma di sekolah, dimana-mana dia berpengaruh kan? Dia melukai Luna biar dia bisa dikeluarin dari sana, dia tertekan di sana.”
“Tapi itu gak bisa dijadikan pembenaran buat semua yang dia lakukan. Dia tetap salah kan nyakitin Lunetta tanpa Lunetta tahu apa salahnya dia?” sahut Radith yang masih tidak bisa melihat hal itu.
“Gue tahu, gue gak bilang dia benar kok. Tapi gue coba lihat dari kacamata dia, dia melakukan segala hal biar bisa bebas dari sekolah itu. Jangan lo berpikir dengan otak lo dan posisi lo buat paham masalah ini, karena gak akan ketemu. Lo coba posisikan lo itu dia, dia yang memang secara mental gak sehat saat itu, lo mengharap apa?”
“oke, anggaplah gue paham nih sama dia. Oke, gue ngerti emang itu cara yang keluar di pikirannya dan menurut dia itu cara satu-satunya dan cara tercepat buat keluar dari sekolah, dengan berurusan sama orang yang berpengaruh, dan dia berhasil. Oke, gue paham sampai sini. Terus, gimana dia bisa ketemu sama lo?” tanya Radith penasaran.
“panjang banget mah ceritanya kalau bisa ketemu sama dia. Intinya gue lagi jalan-jalan ke lombok, gak ada yang tahu masalah ini juga sih, jadi lo gak usah bocor ya. Gue lagi di lombok, dan ada orang mau begal gue, dia bantu gue dan orang itu babak belur sama dia,” ujar Nesya dengan santai.
“Gue udah diabaikan sama keluarga gue untuk waktu yang lama. Dia datang ke hidup gue untuk kasih tahu gue kalau gue gak sendiri. Dia ada buat gue dan dia buktikan hal itu. Alasan apa lagi yang gue butuhkan buat nolak dia? Gak ada, semua yang gue mau dan butuhkan ada di dia. Tapi gue tahu bokap gak akan setuju, tapi yah, gue lebih tahu yang baik buat gue kan?”
“Tapi kalau dia sebaik itu, kenapa dia narik rambut lo sampai sekasar itu? Gue aja bisa lihat lo kesakitan, kalau dia memang baik dan sesayang itu sama lo, kenapa dia melakukan itu?” tanya Radith yang membuat Nesya tertawa namun tawanya terasa hambar. Dia tahu semua orang yang melihatnya dan Roy akan menanyakan hal itu.
“Iya sih itu sakit, hahaha tapi dia gak pernah nyakitin gue kalau gue gak buat kesalahan Dith. Itu cara dia menghukum orang yang dia suka, dia sayang. Well, itu juga yang terjadi sama Lunetta walau dia salah, dia merasa Lunetta itu punya dia, dia suka sama Lunetta dan Lunetta melakukan kesalahan, iya, dia sama lo kan? Nah, makanya dia menghukum Lunetta dengan caranya.”
“Gak masuk akal, itu mah gak waras. Bahaya lah sama cowok kayak gitu, kenapa lo masih mau bertahan sih? Kenapa lo gak ngikutin maunya bokap dengan balik aja ke Indonesia, terus lo nikah sama orang yang waras? Gue yakin kalau lo mau nurut dan minta bokap buat gak bunuh Roy, bokap pasti nurutin kok.”
“Yakin banget lo? Hahaha, gak akan lah. Gue kenal sama bokap gue, dia itu serakah. Dia mau semua yang dia incar dia dapatkan. Dia incar kepala Roy, jadi dia harus dapatkan itu, harta tersembunyi Roy jadi bonus yang harus dia dapatkan, gue tahu lah Dith,” ujar Nesya santai seolah hal itu tidak masalah untuknya.
“Lagian Dith, gue udah bilang berkali-kali, dia memang gila Dith, dia emang gak waras. Tapi menurut gue, selagi gue gak aneh-aneh dan gak melanggar aturan yang dia buat, dia sangat baik, dia memperlakukan gue dengan sangat baik,” ujar Nesya dengan bangga tanpa takut sama sekali karena dia sangat bahagia dengan keluarga kecilnya ini.
__ADS_1
“Jadi, dia narik rambut lo saat malam itu karena lo ketemu sama gue malam-malam gitu? Dia gak suka orang yang dia anggap punya dia dekat sama orang lain? Lah sekarang? Apa dia gak akan ngamuk tahu lo sama gue nyantai berdua di pantai begini?” tanya Radith lagi.
“Enggak, karena dia tahu gue perginya sama lo, gue kan bilang. Kecuali kalau gue gak bilang, waktu malam itu kan gue gak tahu dan gak nyangka bakal ketemu sama lo kan? Nah makanya dia ngira gue ngeluyur sama siapa, kalau dia sudah tahu mah ya biasa aja. Dia gak sekaku itu kok,” ujar Nesya lagi, Radith mengangguk paham mendengar hal itu. Untung saja masalah mereka tidak berlanjut saat malam itu.
“Ah, ada satu lagi yang mau gue tanya. Tapi lo jangan marah atau gimana ya, serius ini gue mau nanya,” ucap Radith yang langsung diangguki oleh Nesya. Dia sudah sangat biasa, jadi dia tidak masalah harus menjawab pertanyaan dari Radith, toh tujuannya agar Radith mengetahui dan mempertimbangan masalah membunuh suaminya.
“Malam itu, kan lo ngerokok dan minum kan? Gue nemu serbuk di dalam rokok itu. Eum, maaf nih sekali lagi. Lo tahu gak itu bubuk apa?” tanya Radith yang diangguki oleh Nesya dengan santai. Radith menunggu apa yang akan dikatakan oleh wanita itu, apakah wanita itu akan mengatakan dia mengonsumsi narkoba dengan santai karena suaminya adalah bandar?
“Itu obat gue. Gue lagi sakit pas itu dan gue gak suka minum obat, jadi gue campur deh di rokok, sebenarnya gak ngaruh sih, malah katanya gak baik, tapi ya mindset gue, gue udah minum obat, jadi ya gue udah sembuh, nyatanya gue juga sembuh, hahaha,” tawa Nesya yang menyadari kekonyolannya namun dia tetap bangga karena sugestinya berhasil.
“Kenapa? Kalau gue boleh tebak, lo pasti ngira itu narkoba ya? Lo pasti ngira gue mengonsumsi narkoba karena Roy jualan itu di sini? Hahaha, gak lah Dith. Lo boleh percaya atau enggak, itu terserah lo. Tapi gue, dan Roy sekalipun, kami bersih dari narkoba. Roy juga jualan aja, dia gak nyoba,” ujar Nesya yang kembali membuat Radith terkejut.
“Gue tahu dan bisa pastikan karena setiap sebulan sekali gue tes urine sama dia dan kami selalu sama-sama negatif dari obat-obatan. Lucu kan? Lo gak pernah kan pasti ngeliat bandar tapi bersih dari barang yang dia jual? Ya itulah Roy, dia butuh duit buat hidup, tapi dia gak mau merusak hidupnya dengan nyobain benda itu,” ujar Nesya lagi.
“Maaf banget, gue syok dan gak percaya sih. Itu beneran? Dia? Gak pernah nyoba tapi jadi bandar? Gila, keren banget. Gimana ceritanya?” tanya Radith yang malah menjadi kagum sekaligus penasaran dengan hidup Roy dan Nesya yang sangat menarik baginya.
“Lucu kan? Tapi beneran, lo boleh percaya dan nggak sih, gue kan gak bisa paksa lo juga ya. Tapi ya itu sih Dith, banyak hal yang lo dan kalian gak tahu, sebenarnya dia gak semenyeramkan itu kok, kalian gak kenal dia aja,” ujar Nesya menutup pembicaraan mereka.
“Makasih karena lo udah minta gue bukan kasih kesempatan buat Roy, gue jadi tahu kalau kalian memang berhak buat dapat kesempatan, dan yah, gue akan mengenal kalian lebih baik lagi, tapi tetap, kalau pada akhirnya gue akan membunuh Roy, gue harap lo terima ya,” ujar Radith mengingatkan kembali agar Nesya tidak sakit hati.
“Kalau memang dia layak untuk dibunuh, gue yang akan bunuh dia duluan kok Dith. Tapi gue makasih karena lo mau buka kesempatan buat berdamai, kalau kata gue sih lo gak akan menyesal,” ujar Nesya tersenyum manis.
“Sudah sore, ayo pulang, malah dikira lo selingkuh sama gue ntar,” ujar Radith yang langsung berdiri dan membantu Nesya untuk berdiri.
Hari ini, Radith mendapat satu lagi informasi menarik yang tentu saja membuatnya makin ragu untuk membunuh Roy karena perkataan tuan Wilkinson
__ADS_1