Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 64


__ADS_3

"Zia, ini rumah baru kamu, dan di sana itu kamar baru kamu, kamu nanti sebelahan sama kamar Sean, jadi kalian bisa belajar dan bermain bersama. Kamu suka gak rumah barunya?" Tanya Radith saat dia memasuki rumah dan memperlihatkan ruangan yang menjadi kamar Zia. Gadis kecil itu menatap ke arah kamar dan melihat ke arah Ibunya.


"Kenapa kita harus berpindah? Teman teman Zia ada di sana, dan bahkan sekolah Zia ada di dekat rumah. Zia akan jauh jika ingin pergi ke sekolah, kenapa kita harus pergi ke rumah ini? Tidak bisakah kita pulang ke rumah kita?" Tanya Zia dengan sedih, namun Grace tidak begitu peduli dengan protes itu, dia berjongkok dan menayap ke arah Zia dengan lembut.


"Kita pindah ke sini untuk hidup yang lebih baik. Sekarang Zia gak perlu bingung kalau Zia gak punya sepatu, Zia juga bisa main sama Sean kan di sini, nanti Zia juga dapat teman teman baru, teman Sean akan menjadi teman Zia juga," ujar Grace menatap ke arah Sean dengan ramah, namun anak itu tak tampak ramah dengan Grace.


"I don't have a friend here. So why don't you go back your home and make a friend there?" Tanya Sean dengan ketus, membuat Radith menengok kaget, begitu juga Lira. Namun sepertinya Zia tidak mengerti apa yang Sean katakan karna dia tampak bingung, untunglah, jika tidak Zia akan merasa sakit hati dengan perkataan Sean yang terbilang sembarangan.


"Sean, Mami gak pernah ajarkan kamu untuk begitu, You want a friend kan? So why don't you be a friend with Zia? Kalian seumuran loh, tahun depan kalian akan bersekolah bersama," ujar Lira dengan ramah, namun Sean masih tidak suka. Dia melihat ke arah Zia dan Grace, hendak mengatakan sesuatu namun Lira segera mengambil tangannya.


"Ayo kita ganti baju dulu, biar Zia dan Mamanya istrihat dulu, kita masuk ke kamar kamu ya sayang," ujar Lira yang langsung menggendong Sean untuk masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Radith yang canggung karna perkataan Sean yang terbilang kasar tadi. Untung saja Zia tidak mrngerti jadi gadis kecil itu tidak sakit hati, namun Grace, tampak sekali wanita itu kesal karna Sean.


"Gak usah terlalu dipikirkan ya, Sean emang gak biasa ada anak cewek seusia dia, dan yah dia gak punya banyak teman, jadi dia sedikit buruk dalam bersosialisasi, jadi ya harap dimaklumi saja, dia anak yang baik, dan pasti akan bersikap baik pada Zia, hanya perlu waktu saja," ujar Radith menggaruk lehernya yang tak gatal karna dia terlalu gugup.


"Well, I wonder sebagaimana baiknya dia, apa dia sangat sangat sangat baik? We will see," ujar Grace yang langsung mengajak Zia untuk melihat kamar Zia dan kamarnya, meninggalkan Radith yang berdiri menatap kepergian mereka dengan perasaan yang tak enak. Sean tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya, pasti ada hal yang membuat Sean menjadi kasar seperti itu.


"Sean, why you did that? Zia anak baik loh, dia juga saudara kamu, jadi kenapa kamu gak bersikap baik ke dia? Mami dan papa tidak pernah mengajari kamu begitu kan?" Tanya Radith yang tampak sedikit marah, namun tidak membuat Sean gentar. Anak itu justru malah menatap ke arah Ibunya mencari perlindungan, namun Ibunya hanya mengedikkan bahunya.


"She is a good girl, I know it Papa. Tapi her mother is a monster, Sean ingat dia masuk ke kamar Sean dan membuat tangan Sean sakit, lalu Sean bangun dan sudah ada di rumah sakit. Pasti dia yang membuat Sean masuk rumah sakit. Kenapa Papa membawa monster itu ke rumah ini? Kenapa tidak di kembalikan saja ke rumah mereka?" Tanya Sean yang membuat Radith terdiam, Lira juga menatap Radith karna dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Yah, Let's forget about her mother, kamu harus jadi anak yang baik sama Zia ya, dia saudara kamu, dia anak papa juga, jadi kamu baik sama dia ya, dia kan juga gak nakal sama kamu," ujar Radith yang akhirnya mengerti kenapa Sean bertindak kasar. Anak itu terlampau cerdas, dia bisa mengingat apa yang orang lakukan padanya, padahal dia dibius dan nyaris tewas karna kandungan itu, namun dia bisa mengingat semua sebelum kejadian.


"I Don't like her mother, never. And she will not be my sister, karna dia bukan anak Mami, mami bilang bakal belikan dedek bayi untuk Sean, kenapa Mami dan Papa malah membawa dedek besar dan bukan dedek bayi untuk Sean?" Tanya anak itu yang membuat Radith dan Lira saling pandang. Mereka harus menjawab apalagi? Mereka sangat bingung menghadapi Sean yang seperti ini.

__ADS_1


"Ya sudah, terserah kamu saja, tapi Papa tidak mau kamu membuat Zia menjadi sedih atau menangis, dia tidak punya teman di sini, jadi lebih baik kamu berteman dengan dia, belajar bersama, jika kalian belajar bersama, pasti akan lebih mudah," ujar Radith yang diangguki oleh Sean. Dia tidak mau berteman dengan gadis kecil itu, tapi jika membantah, dia tahu Radith akan semakin tegas, jadi dia akan mengangguk agar semua lekas selesai.


"Ya udah, sekarang Sean ganti baju, setelah itu kita makan malam bersama, Sean mau makan apa? Nanti tanya ke koki aja ya, Papa udah bawa koki loh di rumah, bisa masak banyak hal untuk Sean, nanti Sean pilih sendiri aja," ujar Radith yang diangguki lagi oleh Sean. Lelaki itu keluar dari kamar anak putranya dan menuju ke kamar anak putrinya.


Radith langsung membuka pintu dan melihat Grace sedang memegang telinga Zia yang sudsh memerah, anak kecil itu tampak menahan sakit. Radith yang merasa tak beres langsung mendekat dan bertanya apa yang sebenarnya Grace lakukan pada Zia. Namun wanita itu meminta Radith untuk mendengarkan penjelasannya.


"Ini cara aku mendidik dia, dia anak aku dan aku tahu bagaimana cara mendidik dia dengan benar, jadi aku minta kamu gak perlu ikut campur untuk masalah ini ya, atau kamu boleh memberikan arahan dengan cara lain, tapi setelah dia nurut sama aku biar dia jadi anak yang baik dan penurut," ujar Grace tanpa dosa. Radith melongo mendengar jawaban itu, dia tidak menyangka ada Ibu kandung sekejam itu.


"Kau tidak perlu menarik telinganya, dia pasti akan mendengar meski kau mengatakannya dengan santai. Kenapa harus memakai kekerasan? Kekerasan itu tidak baik untuk mental anak anak, tolong diingat hal itu," ujar Radith yang malah jadi kesal dengan Grace, namun wanita itu tidak begitu menggubris perkataan Radith karna tetap teguh dalam pendiriannya mendidik anak.


"Kamu tahu yang aku mau itu cuma Zia. Jangan bertingkah dengan dia, atau menyakiti dia, karna aku mudah banget, mudah banget buat nyingkirin kamu dan membuat Zia tetap sama aku, kamu tahu persis aku bisa melakukan itu kalau aku mau, jadi jangan buat aku melakukan itu," ujar Radith di telinga Grace, membuat telinga wanita itu yang kali ini memerah.


"Zia, di dalam lemari sudah ada banyak baju untuk kamu, itu semua baru dan buat kamu, kamu bisa pilih mau pakai baju yang mana dan nanti dibantu mama buat ganti baju ya, setelah itu kita makan bersama, Zia mau makan apa? Nanti pasti dibuatkan," ujar Radith yang kangsung berubah ramah saat bersama Zia, sangat berbeda saat berbicara dengan Grace.


Radith keluar dari kamar Zia dan berjalan ke daour, meminta Chef membuatkan menu untuk anak anak dan menyuruh salah satu asistennya untuk membeli semua bahan yang diminta oleh Chef ke toko terdekat. Radith kembali ke akamr Sean, namun ternyata Sean sudah ada di ruang TV, bersama dengan Lira menonton serial kartun luar negeri.


Tak lama kemudian Zia datang bersama Grace. Zia tampil anggun dengan baju lengan panjang dan rok selutut, manis dan juga imut di saat yang bersamaan. Radith tidak memperhatikan apa yang Grace kenakan, yang jelas itu seperti baju seorang pria yang di tengah malam bernyanyi dan menggoda pria lain untuk di temani, biasanya mereka hanya berdandan menor sambil membawa alat musik sederhana.


Syuhtt, jika kalian mengerti apa yang Radith pikirkan, jangan katakan pada siapapun terutama Grace karna wanita itu akan merasa tersinggung dan malah mempersulit Radith. Lelaki itu sudah malas Ribut dan memilih meminta Lira berdamai dengan Grace dan Sean dengan Zia, mereka akan menjadi keluarga yang bahagia walau sebenarnya tak utuh (ah bukan, justru malah kelebihan).


"Sean mau makan steak Pa, bumbunya Jamur dan cheese saja," ujar Sean membaca menu di hadapannya. Zia mengambil daftar menu di hadapannya. Sean menatap anak itu dengan angkuh dan meremehkan. Sean sangat pandai membaca karna dia memiliki guru privat sendiri dalam belajar, sehingga dia bisa fokus dan nilainya juga baik baik. Tapi Zia? Sean tak yakin anak itu mendapat pendidikan yang cukup (oh astaga, bayangkan anak umur 5 tahun sudah bisa berpikir seperti ini. Bukankah ini ajaib?)


"Zia boleh memesan Ayam bakar? Zia tidak pernah makan ayam bakar sebelumnya. Ini dan minumnya es degan, apa itu es degan? Zia mau es degan," ujar Zia pada Grace yang ada di sampingnya. Sean tampak kaget karna anak itu bisa membaca dan lancar, Sean merasa Zia adalah saingannya dalam mendapatkan Radith, padahal Zia tidak berpikiran begitu.

__ADS_1


Chef mencatat semua pesanan dan bersiap untuk memasak sementara Lira, Radith, Sean, Zia dan Grace sudah dalam posisi canggung karna mereka tidak bisa bicara satu sama lain dengan baik, baik secara topik, selera humor dan bahkan apa yang diminati sudah sangat beda, jadi Radith tidak tahu apakah dia punya kesempatan untuk bertemu.


Butuh waktu setengah Jam untuk chef itu menjadikan makanan di hadapan Sean dan Zia. Mereka makan dengan lahap karna memang rasanya yang enak. Radith tidak mungkin menyewa sembarang chef untuk keluarganya, semua sudah di urusi oleh Radith dan asistennya, mereka tinggal duduk manis menikmati hidup.


"Zia, apa ini enak? Apa Zia mau makan yang lain lagi? Jika Zia mau, Om akan belikan semua yang Zia minta ya," ujar Radith yang kembali lembut, membuat Sean melirik kesal karna Radith tampak sangat akrab, dia juga menatap ke arah Lira, meminta Ibunya itu bertindak, namun Lira bahkan hanya menghela napasnya.


"Dad, you have said before, Kau tidak akan pernah menyakiti Mami lagi, kau serius akan hal itu kan? Sebentar lagi Sean akan masuk ke sekolah umum dan jarang ada waktu untuk Mami, Mami cuma papa kan?" Tanya Sean yang membuat Radith tersenyum gemas dan memeluk Sean dari samping.


"Sampai kapanpun, Papa gak akan pernah gak sayang sama Mami dan Sean, jangan pernah ragukan itu ya sayang. Sean walau udah sekolah juga jangan langsung gak mau ngomong sama Mama, kan kalian cuma berpisah untuk sekolah, bukan untuk bermusuhan. Oke? Sean juga harus take care of Zia ya nanti pas sekolah," ujar Radith yang kembali membuat Sean menggelengkan kepalanya pelan.


"Zia, kau cerdas, aku bisa melihat kau anak yang baik dan pintar. Karna kau adalah anak yang pintar dan bisa membaca dengan mudah. Aku akan menjadi temanmu, aku hanya berteman dengan orang yang pintar. Jadi maaf, mamamu tidak termasuk," Ujar Sean cukup lantang, membuat Grace memelototkan matanya seperseikan detik, lalu dia segera mengubah air mukanya menjadi senyum meaki tampak terpaksa.


"Sean pintar sekali ya, ya sudah, nanti Sean belajar bersama Zia ya, biar Zia juga lebih pintar lagi. Sebentar lagi Papa akan mengurus akta lahir kalian, jadi kalian bisa mendaftar sekolah dan belajar dengan nyaman," ujar Grace yang sebenarnya menyindir Radith untuk segera mengurus akta lahir anak anak ini.


"Ra, kenapa kamu diam aja sih? Kamu ada masalah atau gimana? Atau aku yang udah buat kamu marah? Ayo ngomong dong, aku gak tenang kalau kamu sediam ini," ujar Radith pelan, namun bisa di dengar oleh mereka yang ada di sana.


"Kenapa Lira tidak boleh marah? Ibu ibu kan wajar jika marah," sahut Grace yang menurut Lira bertingkah sok asik di hadapannya.


"Why I need to tell you that?" Tanya Lira dengan gaya tengilnya. Radith langsung meminta Lira untuk diam, wanita itu menurut dan kembali memotong daging untuk Sean.


"Karna kita keluarga kan? Keluarga wajar dong berbagi seperti ini, barangkali ada yang bisa aku bantu juga kan," ujar Grace yang membuat Lira meliriknya dan kembali menatap ke arah Radith.


"Aku gak suka ada orang yang gak diajak ngomong, gak diajak ngobrol tahu tahu nyangkut dan membuat suasana jadi gak asik lagi," ujar Lira yang kehilangan selera makan dan meninggalkan mereka untuk masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Sorry," ujar Radith singkat pada Grace sebelum ikut berdiri dan menyusul istrinya.


__ADS_2