Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 27


__ADS_3

Lira meregangkan tubuhnya dan menghirup udara pedesaan dengan damai. Sudah lama dia memimpikan hidu seperti in, meski hidupnya terasa tak lengkap, entah apa yang dia inginkan, namun dia merasa sesuatu hilang dari dalam hidupnya. Dia bahagia, namun rasa bahagia itu tak membuat senyumnya terasa tulus, dia masih menyimpan beban cukup dalam.


"Mbak, aku berangkat ke sekolah dulu, nanti pulang agak telat," ujar Alex yang diangguki oleh Lira. Lelaki itu langsung pergi dari rumah dan berjalan bersama teman – temannya. Alex sangat bahagia kembali ke kampung halamannya, dia bisa bertemu teman – temannya di sini. Meski mungkin kualitas pendidikannya berbeda, Alex merasa itu bukan hal yang besar.


"Kita tuh harus membuat Sekolah menjadi sesuatu, bukan kita adalah sesuatu karna masuk ke sekolah yang favorit. Yang menentukan sekolah itu bagus atau enggak itu bukan alumni, tapi prestasi selama jadi siswa. Asalkan dasarnya pintar, mau diajar sepeti apapun pasti juga pintar." Itu lah yang menjadi landasan Alex dalam dunia pendidikan.


Lira memutuskan untuk mengurus semua pekerjaan rumah. Dia sedikit bingung karna uang yang mereka punya tinggal sedikit, namun tak mudah mendapat pekerjaan di lingkungan ini. Lira berencana untuk membuka usaha warung kecil – kecilan dengan sisa uang yang dia punya, meski sampai saat ini dia belum merealisasikan semua itu.


"Tahu gitu semua uang yang jadi gaji Gue dari Pak Radith udah Gue uangin dulu. Kenapa Gue harus tinggal di ATM dan ATMnya gak Gue bawa? Itu kan hak Lo Ra, Lo tuh emang sesuatu deh," ujar Lira mengomel sambil menjemur pakaian yang sudah dia cuci. Gadis itu mengelap keringatnya yang menetes setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Oke done, sekarang waktunya santai sambil nonton istri – istri yang terdzolimi sama suaminya," ujar Lira yang langsungmasuk ke rumah dan menyalakan televisi. Seperti biasa, sang istri memiliki suami yang kaya, namun tak bisa menghargai sebuah hubungan. Entah mengapa Lira jadi teringat seseorang setelah melihat sinetron ini.


"Kenapa Gue jadi kangen sama Dia? Gue pasti udah gila. Gak mungkin Gue suka lagi sama dia. Lo tuh harusnya kapok dekat – dekat sama dia. Dia gak pernah bisa menghargai sesuatu karna dia merasa dia bisa melakukan semua, orang kayak gitu gak pantas dapat kesempatan lagi," ujar Lira yang meneguhkan niatnya untuk memutus hubungan dengan lelaki itu.


~ tok tok tok


Lira yang mendengar suara ketukan pintu langsung mengecilkan volume televisi dan menghampiri tamu tersebut. Lira tertegun melihat prang – orang yang tak asing baginya. Mengapa orang – orang itu menammpakkan diri di hadapan Lira? Bukankah selama ini mereka hanya bersembunyi.

__ADS_1


"Tenang saja nona, kami tahu jika Nona sudah menyadari selama ini Nona diikuti, namun kami tetap harus melakukan tugas kami dengan menjaga nona, meski sekarang tuan muda Radith sudah tidak meminta kabar tentang nona lagi," ujar orang itu yang membuat Lira menaikkan selah alisnya. Gadis itu masih belum menangkap arah pembicaraan mereka.


"Maksud kalian gimana? Arah pembicaraan kalian kemana? Kalian mau berhenti mengikuti saya? Gak papa kok, saya di sini aman. Kalian bisa lihat saya bahagia dan orang – orang di sini juga baik. Kalian pulang aja ke kota, dan gak usah bilang ke pak Radith," ujar Lira denagn halus, namun sepertinya bukan itu maksud mereka.


"Sebenarnya kami nekat keluar dari persembunyian kami dan menemui nona adalah untuk meminta bantuan Nona. Kami ingin meminta Nona kembali ke kota dan menyelamatkan perusahaan pak Radith, kami percaya Nona yang bisa mengubah keadaan yang kacau ini," ujar orang itu yang membuat Luna terdiam.


"Saya gak ada ikut campurnya sama masalah perusahaan. Kalian cari orang lain aja, saya gak bisa. Saya gak mau ada urusan lagi sama Radith. Toh Radith juga gak butuh saya, dia kan punya banyak orang dan dia kan tuan yang bekerja sendiri," ujar Lira yang membuat mereka langsung menggelengkan kepaplanya tanpa ragu.


"Nona keliru. Sejak kepergian nona yang tiba – tiba, pak Radith memerintahkan kami untuk datang ke sini, kami tidak bisa membantu pak Radith di sana. Kami baru saja mendapat kabar kondisi perusahaan dan keuangan pak Radith sangat kacau," ujar orang itu dengan wajah yang takut, sepertinya dia sudah tak ada pilihan lain selain memberitahu Lira.


"Lalu? Radith kan hebat, dia bahkan selalu merendahkan aku. dia pasti bisa mengatasinya sendiri. Maaf ya, saya sudah bertekad untuk gak pernah kembali ataupun keluar dari kampung ini. saya hanya memerlukan kedamaian dan saya tidak bisa mendapatkan semua hal itu jika ada di sekitar Pak Radith.


"Saya gak akan bisa mengubah dia. Yang bisa mengubah dia Cuma Luna. Dia kan cinta mati sama Luna. Kalian minta saja sama dia, siapa tahu dia mau menghibur Radith walau sudah sah menjadi istri Darrel. Kalian minta saja ke dia. Maaf ya, aku harus pergi sekarang," ujar Lir ayang hendak menutup pintu, namun ditahan oleh orang – orang itu.


"Jika pak Radith tak menaruh rasa pada Nona, dia tidak akan mengirim kami ke tempat ini. jika pak Radith tak peduli pada Nona, diaa tidak akan terpengaruh da menjadi gila seperti ini." Lira makin ragu, namun dia masih mencoba untuk menolak permintaan mereka.


"Apa dia sungguh mengalami gangguan jiwa? Apakah itu karna stres atau depresi yang berlebihan?" tanya Lira yang diangguki oleh mereka. Mereka sebenarnya tak boleh mengatakan semua hal ini, namun mereka harus menyelamatkan bosnya dan hanya Lira yang bisa melakukan itu, entah darimana mereka mendapat keyakinan seperti itu, namun mereka harus mencoba apapun yang mereka bisa.

__ADS_1


"Pak Radith hidup seakan hanya terobsesi pada Nona Luna selama ini, namun setelah Nona Luna menikah, pak Rasisth seperti terombang – ambing dan hanya mengandalkan Nona Lira untuk bertahan. Kini Nona pergi, dia seakan tak memiliki pegangan dan tujuan, dia makin kehilangan arah dan kami tidak bisa melihat tuan seperti itu lebih lama lagi."


"Kami mohon nona Lira pikirkan tentang hal ini, kami akan datang tiga hari lagi, jika nona memilih untuk ikut, mari kita pergi bersama, namun jika tidak, kami akan berhenti mengikuti nona dan pergi ke kota untuk melindungi apapun yang dimiliki tuan muda semampu kami."


Lira terdiam dan menyaksikan mereka berdua pergi. Gadis itu menutup pintu dan langsung merebahkan dirinya. Dia emmbayangkan Radith yang depresi, dia tahu Radith sangat terpukul dengan menikahnya Luna meski lelaki itu mengatakan semua baik – baik saja. Namun apakah Lira bisa mengubah semuanya? Apakah Lira bisa mengubah rasa yang diiliki Radith untuk Luna?


"Mbak, aku pulang. Mbak, aku bawa ikan nih buat makan malam. Lumayan sayur yang mbak beli kan bisa buat besok. Masak yang neak ya mbak," ujar Alex yang sudah ada di hdapan Lira. Ternyata gadis itu melamun cukup lama, sampai haris duah sore dan adiknya sudah pulang.


"Iya, mbak masak sekarang, kamu bantu angkat jemuran ya, udah sore." Alex mengangguk dan memberikan ikan pada Lira untuk diolah dan dirinya pergi untuk melakukan apa yang Lira suruh.


Saat makan malam, Aex tahu Lira memikirkan banyak hal karna kakaknya itu tak menyentuh makanan sama sekali, padahal rasa masakan yang ada di hadapan mereka ini sangat lexat dan menggugah selera.


"Mbak kalau mau pergi ke kota, pergi aja gak papa. Aku tapi gak ikut ya Mbak, aku mau di sini aja. Tapi mbak harus kirim uang buat aku, aku bakal jaga rumah ini dengan baik mbak," ujar Alex yang melihat Lira. Lira mengangkat kepalanya dan menggelengkan kepalanya.


"Mbak, Aku tahu mbak gak begitu bahagia selama di sini. Mbak gak bisa bohong sama aku karna aku adik mbak sejak lahir. Aku mau mbak bahagia, aku bisa jaga diri kok mbak, emang kota gak cocok buat aku, aku mau mengembangkan kampung ini aja. Mbak kejar apa yang bikin mbak bahagia."


Lira menatap wajah Alex yang tersenyum dan mengangguk padanya. Dia seakan memberi ijin dan semangat untuk Lira, membuat Lira yakin akan keputusannya, dia akan ikut pergi untuk menemui Radith dan menyelamatkan apa yang perlu di selamatkan.

__ADS_1


"Semoga mbak gak terlambat dan semoga keadaan gak seburuk apa yang mereka bilang," lirih Lira sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


__ADS_2