
"Gak, Gak, jangan, jangan, jangan sakiti dia, tolong, tolong jangan sakiti dia. Saya mohon, saya akan melakukan apapun, papa, Nesya mohon, Nesya akan lakukan apapun asal papa tidak menyakiti Roy, Nesya akan menjauhi dia, Nesya akan hidup di rumah ini seumur hidup Nesya dan tidak akan mengecewakan papa. Nesya mohon, jangan sakiti dia, Nesya mohon," ujar Nesya memelas.
"Terlambat, jika kau tidak berbohong dan mengikuti apa yang papa katakan, kalian tidak akan ada di tempat ini dengan kondisi seperti ini. Kau menggali kuburannya sendiri dan aku tidak bisa membantu apa apa," ujar tuan Wilkinson dengan kejamnya. Nesya menggelengkan kepalanya, dia hanya bisa menangis dan tidak mengatakan apa apa lagi, dia terus menangis sampai Roy terdiam begitu saja.
"Saya tidak melakukan apapun yang salah. Saya tidak pernah menyakiti Nesya dan bahkan saya tidak pernah mengganggu keluarga kalian, atas dasar apa anda menangkap saya dan berusaha membunuh saya?" Tanya Roy dengan perasaan yang campur aduk. Dia tidak memahami kenapa tuan Wilkinson setega itu kepadanya.
"Kalian terus mengatakan hal yang sama berulang ulang, saya tidak mau mendengar apapun, saya hanya melakukan apa yang saya anggap benar, dan apa yang saya anggap benar adalah kebenarannya, jadi kalian tidak perlu menggurui saya seperti itu. Dan kau, kau tidak lebih dari manusia sampah, seharusnya kau menyerahkan nyawamu saat aku memintanya, jadi aku tidak perlu melakukan hal ini."
"Danesya Azura Wilkinson, jangan ingat papa sebagai papa yang buruk, karena papa akan melakukan segala hal untuk kamu dan Lunetta, tentu saja Jordan juga. Kalian anak anak papa, papa akan lakukan yang terbaik untuk kalian, jadi kalian jangan membenci papa ya," ujar tuan Wilkinson yang tidak dijawab oleh mereka karena mereka masih berharap tuan Wilkinson tidak melakukan hal itu kepadanya.
"Jika Roy adalah orang jahat, dia bisa saja membunuh Nesya saat tahu papa berusaha membunuh dia, tapi dia memilih kabur untuk keselamatan Nesya. Saat dia bisa terus kabur, dia memilih untuk kembali demi menemui Nesya, dia menuruti apa yang Nesya mau, hidup bersama dengan dia, dia tidak memiliki kekurangan apapun, kenapa Nesya harus benci dengannya?" Tanya Nesya yang sudah mulai berani lagi.
"Kenapa kau terus melawan papa untuk lelaki ini? Apakah dia sangat pantas untuk mendapatkan semua cinta dan perhatian darimu? Apa kau pikir selama ini penilaian papa terhadapnya salah? Papa sudah berusaha jadi yang terbaik untukmu, namun posisi papa mudah saja digantikan oleh lelaki tidak jelas ini?" Tanya tuan Wilkinson dengan nada tak percaya.
"Ya, dia jauh lebih berharga. Dia selalu ada untuk Nesya, saat Nesya butuh pelukan, saat Nesya butuh teman bicara, dia selalu ada untuk Nesya. Apa papa bisa melakukan hal yang sama? Nesya rasa tidak. Papa tidak pernah melakukan hal yang sama untuk Nesya. Papa hanya memberi Nesya uang dengan jumlah besar," ujar Nesya yang sudah muak dengan drama ini.
"Papa harus tahu, tidak semua diukur dengan uang, termasuk rasa bahagia yang Nesya dapatkan. Nesya tidak mengukurnya dengan nominal, yang Nesya tahu, Nesya bahagia, Nesya puas dan bersyukur mendapat Roy di hidup Nesya. Dia memang pernah menyakiti Lunetta, tapi dia tidak pernah sengaja melakukannya," bela Nesya yang mencoba untuk membuka pikiran tuan Wilkinson.
"Apa kau sungguh bahagia? Apa dengan melepaskan Roy membuat kau tidak membenci papa lagi? Apa dia benar memperlakukanmu dengan baik?" Tanya tuan Wilkinson yang diangguki oleh Nesya. Nesya mencoba untuk berkata jujur dan tulus, dia berharap ketulusannya bisa membuka hati tuan Wilkinson untuk melepaskan mereka.
"Jika memang itu yang membuatmu bahagia, papa akan lakukan untuk kali ini, namun jika papa tahu dia melakukan hal yang buruk terutama saat hal itu berdampak untukmu, jangan salahkan papa untuk langsung membunuhnya saat itu juga. Apa kau bisa menjamin kamu akan memperlakukan putriku dengan baik?" Tanya tuan Wilkinson pada Roy. Lelaki itu mengangguk dengan mantap karena dia memang tidak berniat melukai Nesya.
"Tuan, tuan harus membunuh dia, karena dia sudah berjalan di jalan yang salah, dia akan menyeret nona Nesya berada di jalan itu. Dia mencuci otak nona Nesya sampai nona Nesya bisa membohongi tuan, tuan harus memusnahkan dia agar tidak ada orang seperti dia lagi di bumi ini."
Semua menatap ke sumber suara itu. Mata Radith memerah dan emosinya jadi memuncak. Dia ingin berlari dan menampar orang itu, namun badannya diikat dengan sangat kuat sehingga dia tidak bisa menyerang orang itu. Orang itu juga tidak menatap ke arah Radith, matanya melihat ke arah tuan Wilkinson dengan tatapan membujuk.
"Tidak, tujuanku adalah untuk membuat Nesya bahagia. Dia bahagia bersama suaminya, jadi aku akan membiarkan dia hidup tenang. Kau juga, kau tidak perlu melakukan hal itu. Aku akan membiarkan mereka pergi dan hidup dengan damai, aku juga akan hidup dengan damai setelah ini," ujar tuan Wilkinson dengan tenang. Nesya menatap ke arah Roy dan tersenyum.
Tuan Wilkinson meminta anak buahnya untuk melepas ikatan di badan Roy, saat ikatan itu lepas, Roy langsung berlari ke arah Nesya dan memeluknya dengan hangat, dia mencurahkan rasa sayang dan rasa khawatirnya pada wanita itu. Mereka menempelkan kepala dan memandang satu sama lain.
__ADS_1
"Setelah ini, kita akan hidup bahagia dan tenang. Aku yakin kau akan menjadi ayah yang baik untuk anak anakku. Terutama untuk satu anak yang ada di perutku, kau akan menjadi ayah yang baik," ujar Nesya pelan agar papanya tidak mendengar. Roy terkejut dengan berita itu, dia tidak pernah tahu jika Nesya benar benar hamil.
"Kamu beneran hamil? Apa berarti yang kemarin jogging itu kamu gak bercanda? Aku kira kamu memang ngomong ngasal, tapi ternyata itu beneran? Kamu cuma mengalihkan pembicaraan biar aku gak tahu? Kenapa kamu gak bilang? Kenapa kamu gak bilang kalau kamu ha--"
~dorr
Roy Ambruk di pundak Nesya begitu suara tembakan terdengar. Nesya memeluk Roy dan memegang kepalanya, rupanya kepala lelaki itu sudah berdarah. Tangan Nesya bergetar hebat saat melihat darah di tangannya. Mereka semua langsung melihat ke sumber suara. Rupanya di sana ada Andre yang menodongkan pistol ke arah Nesya. Dia yang sudah menembak Roy.
"ANDRE! LO GILA! LO SETAN! KENAPA LO TEMBAK DIA?! ANJ1NG LO! SETAN LO!" Radith mengamuk dan mulai meronta, namun dia masih tidak bisa bergerak karena tali di tubuhnya belum dilepas. Nesya tidak bisa berkata kata, dia masih melihat ke arah tangannya yang merah dan Roy yang sudah tidak bernapas.
"Anj1ng!" Kelvin mengumpat dan berjalan ke arah Andre dengan cepat. Andre melihat itu dan menodongkan pistolnya ke arah Kelvin, namun Kelvin memasang pose seperti petinju, Andre pun melempar senjatanya dan mulai memasang pose yang sama.
Perkelahian panas pun terjadi. Mereka saling pukul dan berusaha menghindar dari pukulan lawan. Kelvin sangat pandai dalam berkelahi, dia bisa menghindari hampir semua pukulan Andre dan dia bisa menyerang ke titik vital milik Andre. Mereka terus berkelahi sementara Nesya dan Lira masih membeku di tempat itu.
Kondisi Kelvin ada di atas angin, Andre bukan lawan yang sebanding dengan kemampuannya, lelaki itu tidak cukup baik dalam berkelahi dengan tangan kosong. Saat Kelvin melayangkan pukulan keras, Andre terjatuh sempoyongan dan Kelvin langsung tersenyum jahat. Dia meninggalkan Andre yang tergeletak karena merasa sudah menang, dia ingin membantu Nesya.
"Pengecut, kau membunuh orang dengan menggunakan senjata. Kau pengecut," ujar tuan Wilkinson pada Andre yang kini sudah tak bernyawa. Tuan Wilkinson kira Andre akan menyerah setelah Kelvin memenangkan pertarungan, namun lelaki itu malah menggunakan cara licik yang menjijikan untuk menang.
Lira sendiri sudah terduduk dan memangku kepala Kelvin di kakinya. Napas Kelvin tampak tersendat. Anak buah tuan Wilkinson langsung berlari mendekat untuk membawa Kelvin ke rumah sakit, namun lelaki itu menolaknya. Dia ingin berbicara dengan Lira.
"Lo ingat gak dulu pas pertama kali ketemu gue bilang kalau gue akan bantuin lo, gue ada di pihak lo karena gue punya tujuan tertentu. Gue mau melindungi seseorang?" Tanya Kelvin dengan tersendat karena rasa sakit di perutnya. Lira mengangguk ingat, dia belum lupa dengan kejadian pertama kali mereka bertemu.
"Orang yang ingin gue lindungi itu Lo. Gue selalu mengawasi lo dari jauh sejak kita masih sekolah. Gue satu sekolah sama lo, Ra. Gue gak pernah melepaskan pandangan dari lo, gue selalu pengen jagain lo," ujar Kelvin yang tersenyum, namun satu tetes air mata mengalir dari mata menuju pipinya.
"Lo orang yang unik banget, dan gue entah kenapa bertekad buat bikin lo bahagia, buat selalu jaga lo dan memastikan lo aman. Itu yang gue lakukan dan itu juga yang jadi alasan gue untuk gabung ke bawahan suami lo itu," jelas Kelvin yang menatap ke arah Radith, lalu kembali menatap ke arah Lira.
"Tapi karena gue merasa gue malah gak bisa mengawasi secara fleksibel karena jadi bawahan Radith, gue memutuskan untuk keluar. Gue kecolongan beberapa kali dan bikin lo nyaris mati, tapi gue berusaha untuk mencegah hal buruk terjadi. Kalau lo tanya alasannya, gue gak tahu, gue cuma mau lo selamat," ujar Kelvin yang semakin pelan.
"Sekarang, semua sudah selesai, biang keroknya udah mati dan lo bisa hidup tenang dan bahagia bareng sama suami lo, gue harap lo selalu aman dan bahagia ya. Tugas gue selesai, gue pamit dulu," ujar kelvin yang sudah kehilangan kesadaran.
__ADS_1
Anak buah tuan Wilkinson langsung membawa Kelvin ke rumah sakit, berharap lelaki itu masih bisa diselamatkan. Lira terduduk dengan lemas, dia tidak menyangka Kelvin benar benar menjaganya seperti itu padahal dia bahkan tidak mengenal siapa Kelvin sebelumnya.
Lira tersadar dari lamunannya saat dia melihat Nesya mengeluarkan sesuatu dari dalam bajunya. Dia satu satunya dari mereka yang tidak diperiksa, ternyata dia menyimpan sebuah pistol di dalam baju itu. Lira tahu apa yang hendak Nesya lakukan, dia langsung berdiri dari tempatnya.
Lira ingin menghampiri Nesya, namun wanita itu meggeleng lemas dan entah kenapa Lira merasa Nesya sudah sangat lelah dan ingin istirahat, jadi Lira tidak mencegahnya dan membiarkan Nesya melakukan sesuai dengan keputusannya.
"Nesya berterimakasih sama papa karena papa sudah mengijinkan Nesya untuk hidup bersama dengan Roy, Nesya sudah tidak punya dendam apa apa lagi sekarang. Tapi suami Nesya meninggal, Nesya merasa lelah, seluruh energi Nesya rontok, Nesya harap papa dan kalian semua bisa memaafkan Nesya dan menghargai keputusan Nesya. Semoga kalian berumur panjang dan bahagia"
~dorrr
Nesya menembak dirinya sendiri dan seketika dia terjatuh. Kepalanya terjatuh di lengan Roy yang juga sudah tidak bernyawa. Mereka memilih untuk menjadi pasangan sehidup semati. Lira dan yang lain tidak bisa melakukan apa apa dengan keputusan Nesya. Mereka hanya bisa berharap Nesya akan bahagia di kehidupan yang selanjutnya.
"Nesya.. dia.. dia lagi hamil. Seharusnya dia berumur panjang, melahirkan anaknya dan merawat anaknya dengan baik. Tapi dia-- dia meninggal begitu saja," lirih Radith saat melihat Nesya yang sudah tidak bergerak lagi.
Tuan Wilkinson menangis keras saat tahu Nesya sudah meninggal. Dia berlari dan memeluk Nesya dengan erat, dia merasa bersalah sudah bertindak sejauh itu untuk mengusik kebahagiaan Nesya dan Roy, padahal mereka tidak memiliki masalah apapun.
"Anakku. Anakku. Seumur hidup kau tidak pernah mendapat kebahagiaan dan bahkan kau harus tewas dengan mengenaskan. Maafkan papa sudah membuatmu seperti ini. Papa bodoh, ceroboh dan egois. Jika papa tidak meminta kalian untuk berpisah, kalian akan hidup dengan bahagia. Maafkan papa, maafkan papa," teriak tuan Wilkinson yang masih memeluk Nesya, tak peduli jasnya berlumuran darah karena anaknya itu.
"Kenapa semua jadi begini? Kenapa, kenapa begitu banyak nyawa yang harus dikorbankan untuk kesalah pahaman ini? Kenapa banyak darah ditumpahkan untuk keegoisan ini? Kenapa?" Lirih Lira yang menatap satu persatu jasad yang berlumuran darah yang ada di sana.
"Tuan Wilkinson, anda akan menanggung semua rasa bersalah karena kematian ini, anda adalah orang yang membunuh mereka semua. Meski tangan anda bersih, anda adalah otak dari semua ini. Anda membunuh Roy melalui Andre, Anda juga membunuh Kelvin, Anda membunuh Andre dan Anda juga membunuh Nesya."
"Sampai mati anda akan dihantui rasa bersalah untuk hal ini," kecam Lira tak takut lagi. Dia berdiri dan melepaskan ikatan tali yang membalut tubuh Radith. Dia mengajak Radith untuk pergi dari sana karena hanya mereka yang masih hidup.
"Zia, kamu melihat banyak hal yang buruk, mami harap kamu bisa mengerti dan tidak mengalami trauma berat," ujar Lira yang menggandeng tangan Zia untuk pergi dari sana. Tangan Zia sangat dingin, Lira langsung tahu ada sesuatu yang salah.
"Mami, perut Zia sakit, kepala Zia pusing," lirih Zia sebelum akhirnya dia ambruk seperti yang lain.
"ZIA!!"
__ADS_1