Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 48


__ADS_3

"Liora, aku mau tanya sesuatu tapi kamu jangan marah atau tersinggung ya, boleh gak?" Tanya Radith saat dia berada di kamar Lira. Lira sedang membaca buku, dia hanya berdehem dan mengijinkan Radith untuk bertanya karnabdia kira lelaki itu tidak akan menanyakan hal yang aneh. Radith tampak Ragu sesaat, namun akhirnya dia bersuara lagi.


"Kamu merasa gak kalau kamu setig mood swing? Kayak tiba tiba marah gitu padahal gak ada masalah atau masalahnya cuma kecil, tapi habis itu baik kayak gak ada apa apa? Aku merasa ada yang aneh sama ini," ujar Radith yang pelan karna takut Lira tersinggung. Namun Lira hanya diam, dia menutup buku dan melihat ke arah Radith.


"Sepertinya iya, aku gak tahu sejak kapan, tapi aku ngerasa kalau lagi bertengkar sama kamu, ah bukan, berdebat sama kamu, aku gak mau kalah, dan aku akan ngerasa sakit kalau kamu ngebantah gitu, jadi aku emosi dan marah. Tapi setelah aku sendiri, aku nyadar gak seharusnya aku marah gitu, tapi aku tetap gak bisa kontrol itu."


Radith mengangguk paham, setidaknya Lira tahu jika apa yang dia lakukan membuat Radith bingung dan itu juga bukan hal yang baik. Namun Lira tampak tidak merasa bersalah sama sekali dengan hal itu. Radith ingin mengatakan sesuatu, namun dia ragu, dia takut Lira akan kembali marah dan hubungan keduanya tidak membaik, Radith berkelut dalam kebimbangannya sendiri.


"Kalau ada yang mau diomongin, ya omongin aja. Aku lagi mode santai dan gak mau marah marah, jadi oke aja, aku juga lagi gak pengen berdebat sama kamu, capek," ujar Lira tanpa mengalihkan pandangannya dari novel yang dia pegang. Radith menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan, menyiapkan mental untuk kembali bertanya karna dia tahu, bukan hal baik membuat Lira marah saat ini.


"Eum, kalau kita pergi ke Psikiater, kamu mau gak? Aku takut kalau mood swing kamu ini gak bagus buat kesehatan kamu, kesehatan fisik dan mental kamu. Sebenernya kalau cuma aku, aku masih gak papa, tapi ini jujur aja, Sean sampai bisa ikut merasa, aku takut kalau mood swing kamu ini bisa melukai Sean suatu hari nanti. Kamu jangan salah paham, aku lakuin ini karna aku peduli sama keluarga kita."


"Emang aku separah itu ya Dith? Aku gak merasa kalau itu hal yang salah, aku gak nyangka kalau itu nyakitin kamu dan Sean. Aku, aku gak tahu kalau mood swing aku udah parah. Kalau memang kita harus ke psikiater karna hal ini, ya aku gak papa, tapi aku takut kalau dikira gila. Aku gak gila," lirih Lira yang membuat Radith memeluknya hangat.


"Gak ada yang bilang kamu gila. Tapi kesehatan mental kita itu penting. Aku takut kalau kamu ternyata ada depresi atau Disorder yang lama lama akan merugikan tubuh kamu. Aku mau kamu bahagia, sehat lahir batin dan hidup dalam waktu yang lama sama aku, kamu gak marah kan aku minta gini ke kamu?" Tanya Radith yang dijawab gelengan kepala oleh wanita itu.


"Ya udah, kita pergi aja ke dokter atau psikiater. Karna aku juga takut kalau ini semakin parah dan gak beres, aku gak mau kita jadi keluarga yang toxic dan berpengaruh dipertumbuhan Sean. Tapi aku gak ada kenalan psikiater, kamu ada kah?" Tanya Lira yang sudah kembali memegang bukunya. Radith mengangukkan kepala dan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Setelah kamu pergi, dua tahun aku harus kerja, bangkit dan pengobatan depresi. Kalau aku gak ingat sama kamu dan apa yang udah aku lakuin ke kamu, aku bakalan bunuh diri saat itu. Tapi puji Tuhan, aku masih dikasih jalan yang lebih baik, aku disembuhkan dan bisa ketemu lagi sama kamu," ujar Radith tersenyum manis, sementara Lira hanya menganggukkan kepalanya.


"Ya udah, kalau gitu kita pakai jasa dia aja, kalau kamu bisa sembuh, aku pasti juga bisa, kan aku gak separah kamu, hahaha," sahut Lira dengan tawa yang renyah. Radith tersenyum tipis dan mengangguk, lalu segera mengirim pesan pada temannya itu agar mereka bisa bertemu di waktu yang sudah mereka rencanakan bersama. Lira merasa takut, namun dia harus melakukannya demi keluarga kecilnya.

__ADS_1


"Sayang, besok minggu kita ketemu sama temen aku ini, dia udah luangin wakunya buat ngobrol sama kita, khususnya kamu, kamu juga kosongin jadwal ya," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Wanita itu kembali fokus pada bukunya dan membiarkan Radith sibuk dengan dunianya sendiri. Mereka sudah sibuk dengan dunia masing masing, dan tidak ingin saling mengganggu.


Radith keluar dari kamar Lira setelah mendapat telpon dari seorang klien, lelaki itu memang sedang merencakan proyek pengembangan usaha elektronik yang dia punya. Mereka akan mulai mencoba berbisnis di cabang lain, terutama properti karna cukup menjanjikan di era sekarang ini. Lira tidak tahu dan tidak mau tahu urusan Radith, toh dia tidak mengerti. Jadi Lira memilih untuk hidup sebagai support system saat Radith lelah, meski kenyataannya mereka sering beradu argumen jika sama sama lelah.


"Emang sampai Sean sadar ya sama kesehatan mentalku ini? Separah apa aku dulu? Astaga Lira, kenapa Lo gak sadar sih udah ngelakuin apa aja? Ya Tuhan, semoga Lira bisa kembali kayak dulu lagi, ah bukan, semoga Lira baik baik aja dan gak ada kelainan apapun, amin," ujar Lira yang sudah tidak minat dengan bukunya dan memilih untuk keluar dari kamar mencsri Radith, dia merasa bosan dan ingin menganggu sedikit lelaki itu.


"Iya Gisel, aku udah nyiapin semua sih, tinggal nanti kita ketemu aja sama bahas ke depannya mau gimana. Kamu kapan pulang ke Indonesia? Gak lah, masak gak ada kamu mau bahas hal penting ini? Ya udah, ntar kalau balik ke Indonesia kabarin aja, aku jemput deh, atau paling gak kita ketemu sebelum bahas hal ini." Lira mendengar apa yang Radith katakan, wanita itu langsung merasa tak nyaman.


"Haha, oke oke, see you, semoga semua lancar sampai hari H dan ke depannya," ujar Radith yang menutup panggilan mereka dan meletakkan ponselnya di sofa. Dia tidak tahu Lira sudah menguping dan merasa panas mendengar Radith berbicara selembut itu dengan wanita lain. Seolah Lira sudah dicampakkan dan Radith memiliki cinta yang lain.


"Jadi begitu ya? Katanya kerja, katanya proyek, tapi semesra itu? Aku dikurung di rumah kayak tahanan narkoba, tapi kamu di luar sana mainan cewek, ini gak adil banget buat aku," ujar Lira yang menatao Radith dengan kecewa. Radith tentu bingung dengan hal ini, dia sudah merasa pusing karna banyaknya hal yang harus dia kerjakan, namun Lira menanyainya dengan hal aneh.


"Mana ada sih laki laki yang mau ngaku kalau selingkuh? Aku tahu kok aku udah gak cantik, udah jadi Ibu anak satu, tapi bukan berarti kamu bisa semudah itu buat gantiin aku sama cewek baru, kalau bukan karna kamu, aku masih bisa jsdi GADIS yang cantik, yang disukai banyak orang. Tapi yah, kalau emang kamu mau sama dia, ya udah, gak papa, mendingan aku yang pergi, aku yang mundur, aku yang tahu diri," ujar Lira yang langsung pergi dari sana.


"Ya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Berilah Radith kesabaran ekstra dalam menghadapi dia. Mungkin ini ujian buat Radith yang kalau di kantor galak dan tidak berperasaan sama orang, sekarang Radith dapat istri yang tidak berperasaan begini, hufftt sabar, sabar," ujar Radith mengelus dadanya dan menyemangati diri sendiri agar bisa sabar menghadapi Lira yang bisa dibilang sedang kambuh.


Lelaki itu menghubungi seseorang untuk datang ke rumahnya. Dia ingin membuat kejutan kecil untuk Lira, dan ingin menunjukkan pada wanita itu bahwa Radith hanya mencintainya, Radith ingin Lira tahu, Lira tidak bisa jika dibandingkan dengan gadis di luar sana. Radith segera pergi untuk membeli perlengkapan yang dia butuhkan. Dia ingin membeli perihasan dan juga Kue yang mewah, namun dia takut seolah sedang membeli Lira, apalagi Lira sedang sensitif.


"Ah, gak tahu lah, niatnya bagus, kalau dia gak termia udah gue karungin aja dah, gue gantung di monas," ujar Radith yang akhirnya membelokkan mobilnya menuju toko perihasan dan membeli kalung liontin yang cantik untuk Lira. Dia ingin gadis itu mengenakan tanda kepemilikan dan dia sadar bahwa Dia adalah milik Radith dan Radith miliknya, akan seperti itu sampai seterusnya, jadi Lira tidak perlu takut atau berpikir yang tidak perlu.


Sesampainya di rumah, Radith segera pergi ke kamar Lira yang ternyata dikunci dari dalam, dia tersenyum puas, biarlah Lira marah dan mengunci diri, dia akan mendekorasi ruang tamu untuk kejutannya. Radith bersama orang yang tadi dia telpon mulai memasang dekorasi yang cantik dan elegan, Sean yang keluar dari kamarnya pun ikut membantu mereka menyelesaikan dekorasi ini. Radith merasa sangat puas dengan hasilnya dan tak lupa mengabadikannya di ponsel.

__ADS_1


Lira tidak keluar kamar sama sekali, Radith mulai khawatir karna Lira belum memakan apapun sejak pagi. Lelaki itu membuat omurice dan milkshake andalannya, dia mengetuk pintu Lira, namun Lira tidak merespon sama sekali. Sudah pengalaman dengan pintu yang rusak, Radith mengambil kunci yang ada di laci dan membukanya.


Lelaki itu melihat Lira yang tidur. Dia mengambil piring dan gelas dan pelan pelan membawanya masuk, Radith ingin memastikan Lira benar benar tidur atau justru pingsan dan terjadi hal yang buruk. Lelaki itu cukup panik saat menepuk pipi Lira namun dia tidak bangun, padahal biasanya Lira cukup peka hanya dengan suara. Untung saja Lira membuka mata setelah Radith menepuknya berulang ulang sehingga membuatnya risih juga pada akhirnya.


"Kamu belum makan dari tadi, ini aku udah bawain makanan, kamu makan dulu ya, aku gak mau kamu sakit, mau aku suapin atau makan sendiri?" Tanya Radith yang diangguki oleh Lira. Wanita itu membuka mulutnya dan meminta Radith untuk menyuapinya. Dia bisa merasakan cinta pada masakan yang dibuat Radith karna sangat lezat. Dia bahkan langsung mengambil alih piring itu dan memakannya sendiri.


"Pelan pelan sayang, gak ada yang mau minta. Kalau nanti kurang dan kamu mau lagi, aku buatin lagi, jadi gak usah buru buru gitu," ujar Radith yang membuat Lira terkekeh. Dia menurut dan mulai menurunkan tempo makannya. Dia menikmati setiap suap makanan itu, apalagi kondisi perut yang kosong membuat semua makanan yang masuk ke mulutnya akan terasa enak.


"Sean mana? Dari tadi dia belum ketemu aku, biasanya dia paling gak suka kalau gak ada aku. Huft, kayaknya dia udah terlalu nyaman sama uncle-ayah dan mulai melupakan bundanya, aduh, jadi sedih" ujar Lira yang membuat Radith mengira Lira akan marah lagi, namun ternyata Lira malah menangis, hal itu membuat Radith tak kalah terkejut, apa yang Radith lakukan sampai membuat Lira menangis?


"Aku, aku cuma ingat aja waktu Sean masih bayi, dia gak bisa jalan dan cuma dekat sama aku. Waktu Sean masih kecil san dia cuma mau digendong sama aku. Astaga, kalau mengingat itu rasanya sedih banget, sedih karna dia harus bertambah besar dan dekat sama orang lain walau itu papanya juga. Kalau nanti dia lama lama gak dekat sama aku gimana?"


"Aku gak akan membuat Sean gak dekat sama kamu. Kamu tahu kalau aku memimpikan keluarga yang utuh. Dulu aku broken home, papa aku gak benar dan mama aku sibuk. Aku tahu rasanya gak enak banget, dan tentu aku gak mau lah menumbalkan anak aku dan membuat anak aku merasakan hal yang gak enak itu? Aku mau Sean benar benar bahagia dan punya keluarga utuh yang sehat," ujar Radith yang sebenarnya sudah berulang kali mengatannya.


"Ah ya, aku punya kejutan buat kamu, ayo kita keluar kalau kamu udah selesai makan." Lira mengangguk dan segera menyelesaikan makannya. Dia melihat apa yang Radith kerjakan dan langsung menangis terharu, padahal dia yang kekanakan di sini, namun Radith malah memberinga kejutan seindah ini, Lira tidak bisa menahan air matanya setelah melihat ini.


"Kamu harus ingat, kamu itu Udah jadi bagian dari keluarga Galeno, Sean juga, dan sampai kapanpun, kamu akan jadi keluarga Galeno. Gak akan ada cewek yang bisa dapatkan hatiku lebih dari kamu. Gak ada yang bisa buat aku ngerasa nyaman senyaman aku pas sama kamu. Jadi kamu gak perlu cemburu, karna sepenuhnya aku udah milik kamu."


Lira menanggukkan kepalanya mendengar hal itu, dia merasa Radith sangat tulus sehingga tidak ada alasan untuk menolak atau mendebat pernyataan lelaki itu.


"Tetap cinta sama aku seperti aku cinta sama kamu ya, Nyonya Liora Galeno."

__ADS_1


__ADS_2