Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 94


__ADS_3

"Kalau kamu mau ketemu tuh orang, boleh gak ajak aku?" Tanya Lira saat mereka sudah sampai di rumah. Radith tentu memperbolehkan hal itu karna dia tahu Lira pasti merasa kesal sudah direndahkan sampai sepertivitu. Dia tidak ingin Lira memendam dendam atau terus memikirkan orang itu karna Radith tidak berencana untuk memecat orang itu, hanya ingin berkenalan agar orang itu tahu jika dia adalah atasannya, bahkan atasan yang jauh lebih tinggi darinya.


"Boleh sayang, kamu boleh lakukan apapun yang kamu mau, asal kamu tetap sayang sama aku sampai kapanpun, hehe. Aku bakalan lakukan apapun deh buat kamu kalau begitu," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Mereka kembali melakukan aktivitas seperti biasa. Radith pergi ke kantornya dan Lira melakukan olah raga kecil agar nanti saat dia melahirkan bisa mudah dan lancar. Lira mencheck out Bola karet besar yang biasa digunakan untuk yoga.


"Ah, rasanya pengen makan lagi. Dek, kamu udah lapar lagi ya nak? Astaga, tadi kamu udah makan 3 mangkok loh, Mami yang setengah, masih laper? Eum, kita beli makan aja yuk di aplikasi online, mama gak bisa masak sekarang, lelah sekali," ujar Lira yang mengelus perutnya. Lira langsung membuka aplikasi online, dia melihat banyak makanan tersedia di sana, membuatnya sedikit bingung ingin memesan apa, namun dia ingin makanan yang manis manis, jadi dia membeli roti bakar, martabak terang bulan, dan roti coklat suatu brand yang cukup terkenal.


"Anak Mami yang pintar, kamu memang pintar memilih menu buat kita ya nak, semua yang kamu pingin enak enak dan mami suka semua. Kita nanti makan semua ya nak buat kamu," ujar Lira yang terkekeh dan menunggu makanannya sampai. Butuh waktu satu jam untuk semua makanan itu sampai ke rumahnya. Dia mengumpulkan semua dan langsung menatap jengah ke makanan makanan itu, lalu mengelus perutnya yang sudah merasa mual hanya dengan melihat makanannya.


"Kamu udah gak mau makan itu lagi ya nak? Tapi kan udah dibeli nak? Apa? Tetap gak mau? Ya udah deh ya, mami kasih ke yang lain dulu aja ya, mami taruh kulkas biar nanti bisa dimakan papamu. Kalau kamu mau makan, kasih tahu mami aja ya," ujar Lira terkekeh dan langsung memasukkan semua makanan yang dia pesan ke dalam kulkas. Dia segera pergi ke kamarnya dan bermain ponsel, menunggu Sean dan Zia untuk kembali ke rumah dengan aman.


Tiba tiba saja Lira teringat dengan orang iseng yang berhasil masuk ke rumahnya. Orang itu bisa masuk melalui pintu rahasia dimana hanya Radith yang mengetahuinya, itu artinya dia sudah mengawasi Radith cukup lama sampai bisa tahu jika lelaki itu punya lintu rahasia di rumah ini. Tapi apa motifnya? Kenapa dia hanya menebar teror tanpa melakukan hal buruk lainnya?


Tidak mau diganggu dengan semua pikiran itu. Lira segera pergi ke pintu belakang, untung saja Radith mendaftarkan sidik jari dan wajahnya, jadi dia bisa membuka pintu itu dengan tangannya. Dia melihat kolam renang yang tak begitu besar, namun cukup jika memang ingin berenang untuk sesekali. Dia melihat sekeliling dan tidak menemukan pintu di sana.


"Apa pintunya ada di seberang? Berarti harus lewat pinggir kolem ini?" Tanya Lira pada dirinya sendiri. Dia memegang perutnya dengan pelan, lalu hendak melangkah ke pinggir kolam renang untuk menuju ke seberang sana. Lira berpegangan erat agar tidaj tergelincir atau jatuh, dia akan membahayakan hidup anaknya jika sampai itu terjadi.


Namun karna salah melangkah, Lira menjadi oleng dan terjatuh, namun tubuhnya sudah dipeluk dari belakang oleh seseorang saat mereka sama sama jatuh dari kolam sehingga dia tidak merasakan benturan yang cukup keras. Radith terus memeluknya sampai mereka berada di pinggir kolam renang.


"Pengawal! Pengawal!" Teriak Radith yang langsung disambut oleh banyak orang yang ada di sana. Mereka langsug berdiri sejajar untuk siap menerima perintah dari Radith.


"Tolong ambilkan handuk, atau selimut yang tebal, nyonya Lira jatuh dari kolam renang. Kamu panggilkan dokter kandungan pribadi Lira, minta dia datang ke rumah dan bilang kalau Lira habis jatuh, jadi dokter bisa memeriksa kondisi Lira dan janinnya," perintah Radith yang dilaksanakan langsung oleh mereka. Lira tampak kedinginan, namun dia lebih takut melihat Radith, dia takut Radith akan marah karna dia sudah lalai dalam menjaga anak mereka.


"Ada yang sakit? Mana yang sakit? Perut kamu? Kram kah? Atau gimana?" Tanya Radith yang membuat Lira langsung terisak. Dia merasa ketegangan dalam tubuhnya sudah meluruh, digantikan dengan rasa bersyukur memiliki suami seperti Radith yang siap setia menjaga nyawanya 24 jam, bahkan di saat kritis begini, Radith datang untuk menyelamatkannya.

__ADS_1


"Maaf, maaf aku udah lalai banget buat jaga tubuh aku dan janin di perut aku. Aku takut banget kalau kamu marah sama aku, aku yang salah, aku, aku cuma penasaran sama pintu rahasia yang kamu bilang," ujar Lira yang membuat Radith menghela napas lalu memeluk istrinya yang menggigil dan ketakutan. Dia menenangkan Lira dan mengatakan jika semua akan baik baik saja.


"Gak masalah sayang, aku khawatir kalau kamu kenapa napa, tapi kalau kamu baik baik saja, itu udah cukup, aku gak akan marah sama kamu. Udah, gak usah nangis lagi ya," lirih Radith menghibur Lira. Wanita itu mengangguk dan sesekali sesenggukan, namun segera diam saat Radith memintanya untuk diam.


Pengawal sudah kembali sambil membawa handuk dan selimut tebal. Radith membawa Lira untuk masuk dan pergi ke ruang tamu, karna takut kamar mereka akan basah jika Lira langsung ke kamar. Dokter yang dipanggil pun juga datang tak lama kemudian, langsung memeriksa tubuh Lira dan kondisi janinnya.


"Kondisinya baik baik saja. Bayi di kandungannya juga kuat, seperti mamanya. Tapi Kamu harus lebih berhati hati lagi, benturan apapun itu, jangan sampai terjadi, karna kita gak tahu kan apa yang akan dirasakan sama dedek bayinya, saya gak perlu memberikan obat apapun, tetap minum vitamin yang sudsh diresepkan saja," ujar dokter yang membuat Lira dan Radith melega.


"Syukurlah semua baik baik saja. Terima kasih banyak dokter, saya sudah panik tadi," ujar Radith yang dijawab senyuman oleh dokter itu.


"Anda adalah suami siaga, saya salut dengan kecakapan anda yang langsung memanggil saya, karna memang itu harus dilakukan, khawatirnya janin akan bermasalah. Tapi syukurlah karna janinnya baik baik saja," ujar dokter yang diangguki oleh mereka. Mereka mengobrol sebentar sebelum akhirnya dokter itu pamit pergi.


"Kalau mau lihat pintu rahasia, nanti aku yang ajak. Kamu mandi dulu gih, nanti sama aku ke sana," ujar Radith dengan lembut yang diangguki oleh Lira.


“Wih, sayangnya aku udah mandi, udah cantik. Ayo, kalau mau lihta, kita dari luar aja, gak usah dari dalam. Kalau dari dalam nanti kecebur lagi kamu. kolam itu kan udah lama gak dikuras, pasti licin juga lantainya,” ujar Radith yang daingguki perlahan oleh Lira. Ah, lelaki itu juga sudah mandi rupanya, dia mandi di kamar mandi milik Sean dan memakai kaosnya yang ada di sana.


Mereka berjalan ke luar rumah dan pergi ke samping rumah, namun belum sempat mereka pergi ke sana. Lira dan Radith mendapati dua orang yang membuat mereka kesal pagi tadi. Mau apa orang itu datang ke rumah mereka? Apakah Radith sudah mengungkap identitas mereka dan orang itu ingin meminta maaf pada Radith dan Lira?


“Oh, kalian bekerja di sini? Wah, pasti majikan kalian baik sekali memperbolehkan kalian memakai mobil mereka walau mobil itu cukup jelek untuk seukuran orang kaya.” Radith dan Lira sontak bertukar pandang. Apakah orang itu terlalu bodoh? Atau karna terlalu sombong? Bisa Bisanya dia menganggap Luna dan Radith sebagai pekerja di rumah mereka sendiri.


“Ah, ya, saya tukang kebun di sini dan istri saya Asisten rumah tangga di sini, ini teman teman kami, security di sini,” ujar Radith memperkenalkan Lira dan pengawalnya dengan tiba tiba, membuat Lira menengok kaget. apakah Radith bercanda? Kenapa dia malah memperkenalkan Lira sebagai pembantu? Padahal mereka bisa saja mengaku jika mereka pemilik rumah saat ini.


“Wah, pasti enak bekerja dengan oranng kaya, kalian bisa menikmati gaji yang besar dan pekerjaan yang sedikit. Jika majikan kalian sedang tidak ada di rumah, kalian jangan keluar begitu dong, kan kasihan yang gaji kalian, gimana sih. Kalian harus punya integritas dan bersikap jujur, walau majikan kalian tidak peduli dan tetap baik, jangan memanfaatkan kebaikan seseorang.”

__ADS_1


Lira hendak membuka mulutnya, namun Radith menahannya dan malah memberikan senyuman untuk orang itu, dan langsung memohon ijin dari orang itu untuk kembali bekerja, orang itu tersenyum bangga dan langsung pergi dari sana setelah memfoto rumah itu. Pengawal Radith hendak mengambil ponsel itu, namun Radith memberi kode mereka untuk tetap diam agar orang itu merasa puas dan segera pergi dari sana.


“Kok kamu biarin aja sih tuh orang pergi? sumpah, pengen banget aku sambelin tuh mulut. Kamu terima aja dibilang pekerja di rumah sendiri? Astaga, rumah dia aku beli juga bisa tuh dapat 10, sombong bange jadi OKB,” ujar Lira dengan kesal. Radith mengelus perut Lira untuk mengingatkan pada wanita itu juga dia masih mengandung dan tak boleh berkata sembarangan.


“Sayang, cara menghadapi orang sombong adalah dengan merendah, dan hancurkan dia di saat yang tepat. menurut aku, sekarang bukan waktu yang tepat. Kenapa? Ya kamu lihat aja baju kita. Aku cuma pakai kaos putih daleman dan kamu juga cuma pakai daster. Kalau kita bilang ke dia kita yang punya rumah ini, pasti dia gak akan percaya dan malah mengira kita gila.”


“Ya tunjukin aja surat tanahnya biar diam dia, aku bete banget jadinya,” keluh Lira yang malah membuat Radith terkekeh. dia tak menyangka Lira akan sekesal itu karna perkataan orang lain. Mungkin karna Lira sedang hamil, hormon dan fisiknya sudah berbeda, dan tentu saja kondisi psikologisnya juga ikut terpengaruh.


“Kamu kalau ngadepin orang kayak gitu, gak dapat serunya. Yang bikin seru tuh begini, kamu dan aku tunjukan ke mereka secara elegan. Tenang aja, aku udah atur buat kita ada jamuan makan bareng sama istri istri petinggi di kantor cabang itu. Jadi nanti aku juga hadir sebagai tamu paling spesial di sana dan kamu bayangin gimana wajah mereka kalau tahu, pasti lucu kan?”


"Kamu ternyata kejam banget ya, seram juga cara kamu mau balas mereka. Tapi aku suka, kita gak perlu berbuat jahat ke mereka secara langsung, tapi mental mereka langsung down waktu tahu kita ternyata jauh di atas mereka. Ah, aku udah gak sabar buat hadir di jamuan itu. Kalau sekarang, Ayo kita ke pintu rahasia dulu."


Radith menurut dan membawa Lira kembali ke luar, kali ini tanpa gangguan dari tetangga komplek mereka yang cukup mengganggu. Lira dan Radith berhenti di sebuah tembok yang sudah ditutupi oleh alang alang. Lira cukup ngeri jika di sana ada ular atau semacamnya.


“Yang tahu tempat ini cuma aku dan pengawal khusus, ya mereka ini yang tahu, nah mereka juga yang pastikan kalau di sini aman dan gak ada ular atau apapun yang bikin kita luka. Nah jadi kalau setelah ini kita digigit ular, serangga atau bahkan semut, aku gak akan ragu buat bunuh mereka sebagai gantinya, jadi kamu tenang aja deh. Ya kan para pengawalku yang baik hati,” ujar radith yang membuat pengawal itu saling berpandangan dengan takut.


Lira sudah tahu jika itu hanya gurauan, yah meski Radith sungguh akan membunuh mereka jika Lira sampai terluka atau terpatuk ular, jadi mereka tetap harus berhati hati dengan ular atau apapun yang kemungkinan ada di sini.Mereka hanya bisa berharap tak ada hewan berbahaya di antara rerungkutan yang ada di sana.


"Nah, yang bisa buka ini cuma kamu sama aku, dan yah, aku gak merekomendasikan ini buat jalan kita pergi, tapi kalau memang darurat, ya kita ke sini," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Wanita itu mencoba menempelkan sidik jarinya dan tembok itu bergetar, lalu otomatis bergeser dan memperlihatkan kondisi dalam rumahnya.


"Harusnya begini, aku masih gak tahu gimana tuh orang bisa masuk ke rumah kita. Padahal masuknya pun susah," ujar Radith keheranan. Lira tampak terdiam, lalu melihat satu persatu ke arah pengawal yang berdiam melihat mereka.


"Kalau bukan kamu, berarti salah satu dari mereka ada yang cepu," tuduh Lira yang membuat mereka saling pandang. Radith menengok ke arah 4 pengawalnya dan baru sadar akan hal itu.

__ADS_1


"Kamu benar, pasti salah satu di antara mereka."


__ADS_2