Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 145


__ADS_3

“Terima kasih anda sudah menemani anak saya untuk turun dari seluncuran, tapi anda tidak memiliki hak untuk menanyakan dimana suami saya, karena itu bukan urusan anda. Permisi,” ujar Lira yang langsung memegang pundak Sean dan berjalan di air yang cukup dangkal itu. Pria itu tersenyum melihat Lira yang sangat ketus.


“Sepertinya kau bahkan tidak tahu dimana suamimu. Aku tahu dimana dia, apa kau tidak penasaran dengan itu?” tanya Pria aneh itu yang membuat Lira terdiam sejenak. Namun dia memilih untuk mengabaikannya dan melanjutkan langkahnya, namun Seakan menahan tangan Lira dan menatap ke arah maminya itu, dia ingin tahu dimana papanya, dia ingin tahu keadaan papa yang sudah lama tidak dia lihat.


“Lihat, anakmu bahkan merindukan ayahnya dan ingin tahu dimana dia. Apa kau bahkan tidak ingin tahu dimana dia dan apa yang sedang dia lakukan?” tanya pria itu lagi. Lira menggelengkan kepala ke arah Sean. Mereka tidak bisa mempercayai orang asing, terutama setelah apa yang mereka alami belakangan ini. Mereka tidak bisa percaya siapapun.


“Papa baik-baik saja, papa sedang bekerja di suatu tempat. Sean tidak boleh percaya dengan orang asing. Kita pergi dari sini, abaikan saja dia, oke?” bujuk Lira yang diangguki oleh Sean. Mereka meninggalkan pria aneh itu dengan Zia yang sudah di pinggir bersama Luna dan Rania.


“Siapa dia dan kenapa lo lama banget ke sini?” tanya Luna penasaran. Namun Lira memberi isyarat tidak ingin mengetahui hal itu, jadi Luna menurut dan ikut diam. Mereka segera pergi dari sana. Mendengar ucapan aneh pria itu membuat Lira tidak memiliki mood untuk melanjutkan kegiatan mereka dan ingin segera pulang.


Setelah sampai, Luna pamit untuk pulang karena memang mereka tidak memiliki rencana untuk menginap. Apalagi Rania masih aktif bersekolah, mereka harus segera kembali ke Jakarta. Lira tidak lupa mengucapkan terima kasih karena paling tidak keluarga mereka tidak segelap sebelumnya. Terlebih setelah tahu anak-anaknya juga menyukai air.


“Kalau ada apa-apa lo harus segera hubungi gue ya. Lo harus tahu kalau gue itu beda sama bokap. Gue bakal bantu lo sebisa gue, jadi lo gak usah sungkan atau takut. Lo teman gue, gue akan selalu lakukan yang terbaik buat lo dan keluarga ini juga,” ujar Luna dengan mata yang tulus, hal itu saja sudah cukup membuat Lira terharu.


“Makasih ya, sekali lagi maaf karena gue ngomong hal yang kasar banget ke lo, makasih lo udah mau peduli sama gue dan keluarga gue. Gue berharap yang terbaik juga buat keluarga lo Lun, makasih ya, hati-hati di jalan, dan kabarin kalau sudah sampai ke Jakarta,” ujar Lira memeluk Luna, dibalas pelukan hangat juga dari wanita itu.


Lira tidak mengantar Luna ke bandara dan mereka berpisah begitu saja. Lira mengajak anak-anaknya untuk masuk ke dalam rumah. Rumah mereka dijaga oleh pengawal khusus agar tidak ada orang jahat yang bisa masuk ke dalam rumah ini seperti tempo hari. Radith juga sudah memperbaiki ruangan rahasia di rumah ini sehingga jika terjadi sesuatu, Lira bisa menggunakan ruangan itu.


“Mami, papa benar akan datang kan Mi? Sean mulai rindu sama papa, kenapa papa sibuk bekerja ya Mi?” tanya Sean menutup bukunya karena dia tidak bisa berkonsentrasi dengan buku di tangannya. Dia tidak akan belajar jika otaknya menolak untuk belajar, karena hal itu akan menjadi percuma.


“Papa sedang mengerjakan tugas papa sebagai kepala keluarga. Papa bekerja untuk kita semua, jadi Sean jangan membuat papa khawatir dan sedih ya. Papa baik-baik saja dan papa akan pulang jika waktunya sudah tiba,” ujar Lira dengan lembut.


“Sementara menunggu papa untuk pulang, Sean dan Zia harus belajar yang giat, membuat prestasi baru untuk dipamerkan ke papa. Jadi nanti ketika papa pulang, kalian bisa pamer ke papa, pasti semua lelah papa akan hilang begitu melihat kalian semua,” sambung Lira yang diangguki oleh Sean dan Zia bebarengan.


“Tapi Sean rindu dengan papa, biasanya papa akan menelpon walau hanya sebentar, namun saat ini papa sama sekali tidak menelpon, Sean khawatir sama papa,” ujar Sean dengan lesu. Namun dia hanya menghela napas dan kembali membuka bukunya. Dia tidak mau membuat mamanya menjadi khawatir karena dia sedih.

__ADS_1


“Sean kira setelah kita pulang ke Indonesia, Sean bisa merasakan punya papa dan bukan papi. Ternyata benar saja Sean punya papa, tapi tidak seperti Sean punya papa, karena papa selalu sibuk. Huftt,” ujar Sean pelan, berharap Lira tidak bisa mendengar, namun tentu saja Lira mendengarnya, dia hanya berpura-pura tidak mendengar.


Zia kembali menggambar setelah selesai belajar, dia masih suka membuat desain baju-baju yang menurutnya bagus. Dia bahkan sudah memiliki banyak sekali desain yang dia kirimkan ke teman Lira untuk dijadikan baju. Di waktu luang dia juga memilih untuk menghias kamarnya sendiri. Apa yang Zia lakukan bahkan jauh lebih baik dari orang yang usianya jauh diatasnya.


Keesokan harinya, Lira hendak mengantar Sean dan Zia. Di lampu merah, ada seorang pria menaiki motor mengetuk pintu mobilnya, dia membuka kata mobilnya dan orang itu melemparkan gulungan kertas kecil di pangkuannya dan pergi begitu saja. Lira tentu saja bingung, Sean dan Zia juga ikut dibuat bingung oleh orang itu.


“Mami, apa itu? Kenapa orang itu melemparkannya ke Mami?” tanya Sean penasaran, namun Lira menggelengkan kepala dan tidak memberitahu Sean karena dia takut hal itu akan membuat Sean dan Zia khawatir.


“Kalian sekolah yang baik aja ya, dengerin kata gurunya dan berikan yang terbaik. Tuhan memberkati,” ujar Lira yang memberikan tanda salib di kepala kedua anaknya. Zia durun terlebih dahulu, baru lalu mereka melanjutkan sedikit perjalanan dan Sean turun di sana. Lira melakukan hal yang sama pada Sean, rutinitas mereka setiap hendak sekolah, Lira akan mendoakan dan memberkati anak-anaknya.


Setelah kedua anaknya turun, dia tidak segera pergi dari sekolah Sean, dia membuka kertas yang dilemparkan oleh pengemudi motor yang mereka temui di lampu merah. Ternyata isinya adalah sebuah pesan.


“Suamimu tidak ada di Indonesia. Dia pergi tanpa memberi kabar seolah mengerjakan tugas, padahal dia menemui wanitanya yang lain, saat ini mereka sedang bahagia di luar negeri.” Lira membaca pesan yang ada di sana dengan perlahan karena tulisan tangan itu cukup berantakan. Dia tentu tidak percaya dengan pesan yang ada di sana begitu saja. Dia yakin itu adalah perbuatan orang iseng yang ingin membuatnya makin khawatir dengan kondisi Radith.


Lira hendak membuang kertas itu, namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Di bagian bawah kertas itu terdapat sebuah alamat, tanggal lengkap dengan jamnya. Sepertinya orang itu ingin menemui Lira. Tentu saja Lira tidak akan termakan jebakan yang lelaki aneh itu siapkan. Lira sudah pernah menghadapi jebakan yang sangat besar, dia tidak akan terkena dengan jebakan sepele ini.


“Gue kenapa sih? Harusnya gue gak percaya gitu aja sama orang aneh ini. Kenapa gue harus kepikiran? Gak, Lira gak, lo gak boleh terpengaruh. Orang itu pasti sengaja, kalaupun lo ke sana, dia cuma bakal memfitnah dan bikin lo kepikiran yang aneh-aneh. Gak Ra, lo gak bodoh, lo gak boleh bodoh,” ujar Lira pada dirinya sendiri dan langsung menancap gas agar dia bisa lekas sampai ke rumahnya.


Wanita itu segera kembali ke rumahnya agar dia bisa melakukan aktivitas lain dan melupakan orang yang aneh itu. Dia meminta orang untuk membersihkan kolam renang di rumahnya dan memanggil tukang untuk membangun kembali bagian di halaman belakang agar kolam renang di rumahnya menyenangkan dan anak-anaknya bisa puas bermain di sini.


“Nyonya, ada tembok yang dipenuhi dengan rumput ini. Apakah saya harus membersihkannya juga?” tanya orang yang Lira minta untuk membantunya. Lira datang ke tempat itu dan melihat rumput yang ada di sana. Lira menyadari ada sesuatu yang dia lupakan tentang kolam renang belakang rumah ini.


”Bagaimana bisa aku melupakan tentang ini. Jangan pak, jangan diapa-apakan bagian sana, biarkan saja,” ujar Lira yang tentu tidak mau apa yang disembunyikan Radith dia bongkar di hadapan orang lain yang tidak mereka kenal. Dia tidak bisa melakukan itu, orang itu juga tampak bingung dengan apa yang Lira katakan. Mengapa dia membiarkan rumput liar tumbuh di lebat di sini?


“Tapi nyonya, rumput seperti ini sangat tidak aman untuk area bermain anak-anak. Di sana bisa saja terdapat ular dan banyak hewan berbahaya lain, apakah nyonya yakin akan tetap membiarkan rumput ini tumbuh subur begitu saja?” tanya Tukang kebun itu. Lira tetap tidak mengijinkan dia untuk menyentuh rumput di sana. Orang itu menyerah dan membiarkan saja, toh itu tidak berpengaruh pada hidupnya. Dia akan menyelesaikan tugasnya dan segera pergi dari sana.

__ADS_1


“Oh, anak-anak pulang satu jam lagi,” ujar Lira melihat jam di tangannya. Dia teringat surat yang ada dilemparkan ke dalam mobilnya. Dia kembali melihat surat yang dia simpan di sakunya. Dia langsung bergegas, meminta pengawal menjaga orang-orang yang sedang bekerja itu dan dia segera melaju untuk menemui lelaki itu.


“Kalau memang dia orang aneh, gue bakal bunuh dia pakai tusuk gigi!” desis Lira yang akhirnya terpengaruh juga. Meski jika lelaki itu berbohong, dia ingin mendengar kebohongannya tentang dimana Radith. Dia sudah cukup frustasi dengan hal ini, dia ingin Radith dalam keadaan baik dan bisa segera pulang untuk misi yang entah apa.


Sesampainya di tempat yang disebutkan, Lira bisa melihat orang yang membantu Sean turun dari seluncuran duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Lira langsung tahu jika orang itu yang mengirimkan surat padanya, dia segera menghampiri lelaki itu dan duduk di hadapan lelaki itu. Cukup nekat sebenarnya, namun karena orang itu tidak takut ataupun kaget, dia yakin tebakannya benar.


“Anda bahkan tidak perlu waktu lama untuk menemukan saya di antara banyaknya orang yang ada di sini. Saya salut dengan anda,” ujar orang itu sambil tersenyum sopan, namun Lira tidak tersenyum sama sekali, dia tidak ingin terlihat akrab dengan lelaki asing ini.


“Cepat katakan apa yang ingin kau katakan agar aku bisa segera pulang, karena anakku akan segera pulang,” ujar Lira yang diangguki oleh lelaki itu. Lelaki itu memesan minuman dan makanan ringan untuk Lira, meski Lira sudah menolak, karena dia tidak akan lama di tempat ini, jadi untuk apa memesan makanan dan minuman untuknya?


“Suamimu tidak ada di Indonesia. Dia ada di suatu negara yang kau tidak boleh mengetahuinya karena itu akan berbahaya untuk suamimu, juga untuk orang yang sedang aku lindungi,” ujar lelaki itu yang kembali membuat Lira mengerutkan keningnya. Dia tidak mengatakan apapun, dia menunggu lelaki itu menyelesaikan ucapannya.


“Kau mengenal pria bernama Roy? Jika kau mengenalnya, aku akan melanjutkannya, jika kau tidak mengenalnya, aku akan berhenti di sini,” tanya lelaki itu, Lira tidak asing dengan nama itu, namun dimana dia mendengar nama itu? Dia memutar otaknya, karena dia harus membuat orang itu terus berbicara.


“Ah, aku ingat. Dia teman Lunetta yang tidak waras. Ya, aku mengingat nama itu. Tapi kenapa?” tanya Lira setelah mengetahui siapa pemilik nama itu. Orang itu mengangguk dan menyerahkan sebuah foto. Foto dimana Radith sedang berada di sebuah pesta di sebuah rumah. Lira melotot melihat foto itu dan hendak merebutnya, namun lelaki itu kembali menarik foto yang dimilikinya.


“Siapa sebenarnya anda? Dimana suami saya? Kenapa dia ada di dalam pesta seperti itu? Apakah dia baik-baik saja? Berikan foto itu, saya harus tahu keadaannya,” ujar Lira dengan sedikit panik, orang itu memberikan isyarat pada Lira untuk diam, dia tidak mau suara Lira memancing perhatian dari orang sekitar.


“Aku akan memberitahu dirimu jika kau bisa diam dan kau berjanji tidak mengatakan kepada siapapun, termasuk dengan semua pengawal yang ada  di rumahmu. Jangan percaya pada mereka dan jangan membiarkan mereka terlalu dekat,” ujar lelaki itu yang kembali membuat Lira bingung, kenapa dengan pengawalnya?


“Apa kau tidak menyadari untuk siapa Radith bekerja, kenapa dia melakukan semua ini dan siapa pengawal itu? Apa kaitan mereka dengan Radith dan orang yang menyuruh Radith? Apa kau bahkan tidak menyadari hal itu?” tanya lelaki itu yang kembali membuat Lira terdiam.


“Dia yang menyuruh Radith untuk pergi dari negara ini, adalah orang yang sama yang memberikan pengawalnya untuk hidup bersamamu. Apa kau masih tidak menyadarinya? Dia ingin tahu tentang apa yang kau lakukan, apakah kau berguna untuk mereka dan apakah mereka bisa menggunakanmu untuk mengancam suamimu.”


“Jika kau masih tidak waspada dan mempercayai mereka, kau dan suamimu, keluarga kecilmu tidak akan pernah hidup dengan aman, nyaman, bahagia dan tentu saja hidup tenang,” ujar lelaki itu yang kembali membuat Lira tersadar akan satu hal yang tidak dia sadari selama ini.

__ADS_1


“Aku akan menuruti apa yang kau katakan karena memang masuk akal. Jadi katakan padaku, dimana suamiku? Bagaimana keadaannya dan kenapa kau memiliki foto ini? Apa kaitannya suamiku dengan Roy?” tanya Lira bertubi.


“Tenang nona muda, apakah Belanja mengejarmu? Kau bisa bersikap tenang. Jemput anakmu, kita bertemu di lain waktu. Aku menuliskan nomor ponselku di kertas itu, hubungi aku jika kau ingin tahu,” ujar lelaki itu yang langsung pergi tanpa mengatakan apapun lagi.


__ADS_2