Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 126


__ADS_3

"Baiklah, kalian harus mengawqsi orang itu dan jangan biarkan dia lolos, culik dia dan ambil ID cardnya, kalian lihat kan hanya ada 3 orang yang menjaganya, jika satu terpancing, hanya sisa dua, tembak saja kepalanya dan kalian akan berhasil membawa itu orang. Lakukan dengan cepat agar tidak ada yang curiga, karna jika dia terlambat datang, pasti akan menimbulkan kecurigaan," ujar Radith yang memberi intruksi pada A yang merupakan ketua tim.


"Ya, kami akan melakukannya sebaik mungkin, tapi apakah tuan harus ikut bersama kami? Saya rasa akan lebih aman jika tuan hanya tinggal di rumah dan membiarkan kami melakukannya? Nyawa tuan akan berada dalam bahaya jika mereka sampai bisa menangkap tuan," ujar A yang membuat Radith menggelengkan kepalanya. Dia merasa kali ini lebih bertanggung jawab dengan tim karna mereka harus melakukan baku tembak dengan orang orang itu.


"Aku hanya akan memberi intruksi dan mengamati, aku tidak akan terluka dan kau tahu itu dengan pasti, ah ya, aku harus mengabari Andre agar bisa mengelola perusahaanku dengan baik jika misal aku tidak bisa lagi melanjutkan ini semua, hah, Andre pasti akan sangat gembira jika tahu aku berpotensi mati," gurau Radith sambil mengambil ponselnya. Dia segera menghubungi Andre.


"Hai, gue lagi ada misi penting yang melibatkan banyak nyawa termasuk nyawa gue sendiri, kalau gue mati, gue mau lo yang kelola semua perusahaan gue dan semua asset itu gue titipkan ke lo, gue minta jaga Sean dan latih dia buat jadi pengusaha yang sukses, baru setelah itu gue bisa tenqng mewarisi perusahaan ke Sean, lo mau kan lakukan itu? Lo kan sahabat gue," ujar Radith dengan mata yang berkaca kaca. Andre mengangguk santai akan hal itu.


"Tenang aja, gue akan jagain Sean, Zia dan tentu saja Lira. Kalau lo mati, gue bisa milikin Lira dan menguasahi semua harta lo kan? Daripada gue cuma dititipin dan mengelola, mending gue jadikan atas nama gue lah, apalagi Lira jadi janda muda, beuhh, pasti bahagia banget dah gue kalau sama dia, yoi gak tuh? Jadi lo kalau mau mati gak papa," ujar Andre tanpa dosa, bahkan A sampai kaget dibuatnya.


"Brengsek lo, iya iya, gue gak akan mati, gue gak akan biarin Lo ngambil istri gue yang paling cantik itu. Oke? Dengar ya, gue gak akan biarin lo melakukan semua niat busuk itu, awas aja lo kalau sampai gue balik, lo bakal gue cincang kayak cacing," ujar Radith tidak jelas yang tentu dijawab Andre dengan mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti kenapa Radith membawa bawa cacing di sini.

__ADS_1


"Ya udah lah, terserah lo aja, yang penting jaga diri, dan gue akan menahan semua. Tapi kalau lo positif mati, yah, apa boleh buat, kasihan kan Lira jadi janda muda, mending sama gue lah," ujar Andre dengan percaya diri. Lelaki itu membuat Radith sedikit senang dan bahkan tertawa, dia tidak menyangka Andre memiliki cara yang sangat unik untuk membuatnya semangat dalam menjalankan misi.


"Ya udah kalau gitu, gue pergi dulu ya, lo doain gue yang baik baik aja ya, gue gak mau bini gue jadi janda atau nikah sama orang kayak lo, oke? Gue pergi dulu," ujar Radith setelah berbasa basi sedikit dengan Andre. Dia kembali memasang wajah yang serius memandang setiap pengikutnya, dia merasakan beban yang luar biasa saat ini, karna dia tidak boleh dan tidak bisa gagal.


"Ayo kita ke sana dan basmi mereka semua," ujar Radith yang diangguki oleh Tim A. Ah, sekadar informasi, tubuh mereka sudah dilindungi oleh anti peluru, namun untuk kepala, mereka tidak bisa melakukannya, jadi mereka harus melindungi kepala apqpun yang terjadi, jika kepala mereka terkena, mereka tamat seketika.


"Semoga saja dugaanku tepat, setelah mengikuti mereka, aku jadi tahu tujuan tujuan mereka. Untung saja mereka memakai topeng, jadi kita bisa membunuh mereka tanpa ada yang curiga. Kalian bersiap, jika mereka sungguh melewqti jalur ini, kitabm harus bertindak cepat, karna bisa saja mereka memanggil bantuan dan kita kalah jumlah," ujar Radith dengan serius. Mereka mengangguk dan segera menempati posisi masing masing. Radith cukup tegang saat ini, namun dia berusaha biasa saja, agar semua berjalan lancar dan dia tidak mendapat serangan panik.


"Bodoh," desis Radith pelan dan seketika itu juga, mereka semua tergelepar tidak bernyawa karna anak buah Radith menembak persis di kepala mereka. Anak buah Radith melemparkan bom yang berisi obat tidur ke dalam kaca mobil yang sudah pecah itu. Mereka sengaja melakukannya agar orang yang masih di dalam mobil segera pingsan, karna mereka tak bisa mendekat, mereka takut orang itu mempunyai senjata tidak terduga dan malah membunuh mereka.


Setelah beberapa saat, Radith dan A keluar dari persemhunyian. Mereka mendapati orang itu sudah pingsan. Dengan cepat A menembak kepalanya agar memastikan orang itu mati. Mereka segera melucuti pakaian orang orang itu dan memakainya untuk menyamar. Radith menjadi pengawal sementara A menjadi bosnya di sini karna A jauh lebih meyakinkan dan berpengalaman untuk hal semacam ini.

__ADS_1


"Kalian cari tahu identitasnya, dan kubur mereka dengan layak. Berikan santunan pada keluarganya jika memang keluarga mereka masih ada. Namun pastikan identitas kalian tidak terbongkar sama sekali, saya akan mengamuk jika identitas kalian terbongkar," ujar Radith pada pengawal yang kelasnya lebih rendah dibanding 10 pengawal intinya (yang saat ini masih 9 orang, karna Radith belum mencari pengganti A)


"Baik tuan, kami akan lakukan sesuai dengan perintah tuan," ujar salah seorang dari mereka dan 6 orang di antara mereka langsung membawa mayat mayat itu ke tempat lain, agar tidak menimbulkan kecurigaan. Radith mengamati sekitar, lalu memakai ID card pengawal dan juga topeng seperti yang dilakukan orang orang itu. Radith memandang A yang tampak gagah dan tampan dengan topengnya.


"Bagus, setelah ini kita pergi ke dalam sana dan pastikan kita mendapatkan informasi yang lengkap, kita harus segera tahu dimana Roy," ujar Radith yang diangguki oleh A.


"Keluarkan mobil," perintah Radith pada jam di tangannya. Tak butuh waktu lama, mobil yang sama persis dengan mobil yang ditumpangi orang orang itu sampai di hadapannya. Dia langsung masuk ke dalam mobil itu dan segera pergi dari sana, tentu setelah menyingkirkan ranjau yang dia buat.


"Bereskan TKP, aku tidak ingin ada satu barang bukti pun yng tertinggal. Termasuk pecahan kaca, atau bahkan hanya tetesan darah, aku mau kalian membersihkan semua. Apa kalian mengerti?" Tanya Radith pada jam tangannya lagi. Setelah memastikan mereka mengerti, Radith mematikan panggilan dan jamnya, lalu tak lupa meninggalkan jam itu di dalam mobil agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Siap A?" Tanya Radith pada A.

__ADS_1


"Ya tuan, berhasil, atau mati sekalian," ujar A pelan yang diangguki oleh Radith. Mereka menghela napas beberapa kali agar tidak gemetar, lalu segera keluar dari dalam mpbil agar tidak menimbulkan kecurigaan.


__ADS_2