
Tuan WIlkinson menatap nanar ke arah jurang. Dia meminta anak buahnya untuk segera mencari Nesya dan Roy, Radith juga ikut turun, namun dia ada di belakang tuan Wilkinson, dia ingin memastikan semua di bawah berjalan dengan lancar karena dia tidak bisa mendapat kabar dari anak buahnya. Radith merasa jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
“Diam, kalian semua diam dulu. Aku mendengar suara,” ujar tuan Wilkinson yang meminta anak buahnya untuk berhenti melangkah. Samar-samar dia mendengar suara wanita menangis dari bawah bawah. Dia langsung berlari ke sumber suara, dia berharap itu adalah suara Danesya, dia ingin segera menemukan putrinya dalam keadaan selamat.
Benar saja, suara itu berasal dari Danesya yang berjalan terseok-seok ke arah jurang sambil menangis. Tuan WIlkinson yang melihat Nesya langsung berlari dan memeluk wanita itu untuk menenangkannya. Nesya makin menangis saat dipeluk oleh tuan WIlkinson. Tuan Wilkinson meminta anak buahnya untuk segera menghampiri arah yang dituju oleh Nesya, kemungkinan Roy ada di sana.
“Kita ke atas dulu, badanmu dingin dan kepalamu terluka. Kita harus mengobati luka itu, ayo, kita naik,” ajak tuan Wilkinson sambil meminta anak buahnya menggendong Nesya secara paksa. Nesya mengerang kesakitan dan juga menolak untuk diajak naik, namun tenaganya seolah sudah habis, dia tidak bisa melawan anak buah papanya yang kekar.
Nesya terduduk di aspal sambil menangis sesenggukan. Tuan Wilkinson hendak membawa Nesya untuk masuk ke dalam mobil, namun Nesya menggelengkan kepalanya berkali-kali dan mengatupkan tangannya sambil berlutut. Radith salut dengan akting Nesya yang luar biasa, namun dia tidak bisa menunjukkan gelagat dia sudah tahu jika semua itu rekayasa.
“Saya mohon, saya tidak pernah meminta apapun selama ini. Saya, saya diam dan menuruti apapun yang anda perintahkan, namun kali ini, saya mohon, saya mohon biarkan saya bertemu dengan suami saya, saya harus memastikan keadaannya, saya mohon, saya, saya harus bertemu dengan suami saya,” isak Nesya semakin kencang setelah selesai mengatakan permintaanya. Tuan Wilkinson tentu tidak tega mendengar hal itu. Beliau meminta Nesya untuk berdiri, namun wanita itu menolak untuk berdiri dan tetap berlutut agar tidak dibawa pergi dari sana. Nesya sengaja melakukan itu karena dia takut tuan WIlkinson akan curiga dengan mayat yang ada di dalam mobil itu, dia harus membuat tuan WIlkinson yakin, mayat itu adalah Roy.
“Kau terluka, kau harus mendapat pengobatan, kau tidak bisa menunggu di sini,” bujuk tuan Wilkinson, namun tentu saja Nesya tidak mau, dia tetap kekeh ingin bertemu dengan suaminya. Tentu saja tuan WIlkinson menjadi tidak tega dan membiarkan Nesya tetap berada di sana.
Radith yang melihat itu segera mengambil inisiatif untuk membawa kotak obat yang ada di dalam mobilnya. Dia mengeluarkan alkohol untuk luka, obat merah dan juga perban. Untung saja luka yang dialami Nesya tidak terlalu buruk, dia sangat khawatir saat menunggu waktu, untung saja sejauh ini semua berjalan seperti yang mereka rencanakan.
“Ini, kau membutuhkan ini. Aku akan mengobati luka yang ada di kepalamu. Tahan sedikit, ini akan sangat sakit,” ujar Radith yang mendekat ke arah Nesya. Wanita itu menatap Radith dengan tajam, dan tak lama, dia langsung menampar pipi Radith dengan sangat keras. Tentu saja Radith sangat terkejut mendapat perlakuan itu. Dia tidak menyangka Nesya akan melakukan hal yang tiba-tiba begitu.
“Pembunuh! Kau pembunuh! Kau yang membunuh suamiku! Kau yang membuat mobil kami masuk ke jurang itu! Mau apa kau? Apa yang kau incar dari suamiku? Kau pembunuh! Pembunuh! Aku akan membunuhmu sebagai gantinya!” teriak Nesya dengan histeris. Radith meletakkan kotak obat dan berdiri ketakutan, Nesya tidak seperti sedang berakting saat ini.
Mata wanita itu sangat merah, tangannya mengepal kuat dan dia bahkan bisa melihat tangannya memutih karena dia menggenggam tangannya terlalu kuat. Nesya hendak menghampiri Radith, namun tubuhnya langsung ditahan oleh tuan Wilkinson. Dia memberi aba-aba pada Radith untuk mundur menjauh agar tidak terluka karena Danesya.
“Maafkan papa, maafkan papa. Kau tenang dulu, maafkan papa. Kau harus tenang, atau papa akan menyuntikkan obat penenang dan kau tidak bisa melihat suamimu,” ancam tuan Wilkinson yang membuat Nesya melemah, namun tangisnya kembali pecah. Melelahkan untuk akting seperti itu, Radith sangat menghargai usaha Nesya untuk meyakinkan tuan WIlkinson bahwa Radith benar mengejarnya dan membuatnya masuk ke dalam jurang.
__ADS_1
“Dia, dia pembunuh. Dia membunuh suamiku. Suamiku. Roy, Roy, Roy kamu harus selamat, kamu tidak boleh dibunuh oleh baj1ngan itu. Aku tidak akan merelakan siapapun membunuhmu, aku akan membalas mereka beribu kali lipat. Tidak, Roy, kau tidak boleh mati,” racau Nesya yang menekuk dan memeluk lututnya sendiri untuk menghilangkan rasa panik dalam dirinya.
“kau, obati luka yang ada di kepala Nesya, itu akan infeksi jika tidak segera ditutup. Radith, dimana anak buahmu yang lain? Kenapa hanya ada kau dan salah satu pengawalmu? Dimana yang lain?” tanya tuan Wilkinson yang akhirnya menyadari jika Radith hanya berdua, padahal lelaki itu memiliki total 10 engawal yang harusnya da di sini untuk mengawal Radith.
“Kami berpisah. Saya dan anak buah saya berpencar untuk menghadang Roy dan mencegah dia untuk sampai ke bandara, karena akan menjadi gawat jika dia berhasil pergi ke luar negeri. Sepertinya mereka juga kehilangan jejak. Saya sudah mengirim sinyal pada mereka untuk datang ke tempat ini, mereka akan sampai sebentar lagi, seharusnya begitu,” ujar Radith yang diangguki oleh tuan WIlkinson.
Mereka semua masih terdiam menunggu anak buah tuan WIlkinson menemukan dan mengangkat tubuh Roy. Setelah 15 menit, akhirnya mereka berhasil membawa tubuh Roy naik ke atas dan meletakkan kantong jenazah di hadapan tuan WIlkinson. Nesya langsung menjerit histeris melihat kantong jenazah itu. Dia langsung berlari mendekat dengan kepala yang sudah memakai perban.
“Rob-- Roy? Kau-- kau ada di dalam sana? Roy, kau? Kau? Kau terluka? Kau?” tanya Nesya yang akhirnya membuka resleting kantong itu dan dia langsung terjengkang melihat mayat yang sudah tidak berbentuk lagi. Tubuhnya hancur dan gosong, dia bahkan sudah tidak bisa melihat wajah orang itu. Nesya merasa sangat jijik, namun dia tahu, dia tidak bisa memperlihatkan itu saat ini.
“Su-- suamiku, suamiku kenapa kamu kayak gini? Aaaaa suamiku!!!” teriak Nesya yang menangis makin histeris. Tuan WIlkinson bahkan sampai takut melihat anaknya sampai seperti itu. Untuk mencegah Nesya yang makin histeris, tuan WIlkinson meminta anak buahnya untuk membawa pergi Nesya ke dalam mobil sementara Roy akan masuk ke salah satu mobil pengawalnya.
“Tidak! Dia suamiku! Lepaskan! Aku harus bersama suamiku! Aku harus menemaninya! Dia kedinginan, dia kepanasan, dia terluka. Aku mohon lepaskan aku! Aku harus bersama suamiku! Lepaskan! LEPASKAN!!” Teriak Nesya yang suaranya sudah sangat serak. Tuan Wilkinson akhirnya memberi isyarat mereka untuk membius Nesya agar tidak semakin bertingkah, apalagi jika itu berbahaya.
“Bawa jenazah Roy ke dalam mobil, cari tempat yang aman untuk dijadikan markas sementara, bawa Nesya ke hotel atau rumah, lalu panggil dokter untuk memeriksanya, dia tidak bisa diperiksa oleh dokter umum. Dan untukmu Radith, kau masuk ke dalam mobilku, aku memiliki banyak pertanyaan yang harus kau jawab,” perintah tuan Wilkinson yang langsung dituruti oleh mereka.
“Angga, kau ikut bersamaku, Beni dan yang lain, kalian kembali ke hotel dan tunggu kabar dariku. Aku harus pergi bersama dengan tuan WIlkinson, dan kalian tidak bisa ikut, jadi kalian pulang saja dan tunggu kabar dariku,” ujar Radith yang kembali diangguki oleh mereka. Sebenarnya mereka sangat khawatir, namun mereka sadar, tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menuruti apa yang diminta tuan WIlkinson.
Radith masuk ke dalam mobil tuan WIlkinson dan duduk di kursi belakang bersama beliau. Radith sangat gugup, namun dia berusaha untuk mengontrolnya agar dia tidak terjebak dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh pria itu. Dia akan menjawabnya dengan tenang dan tegas agar tuan WIlkinson percaya dan tidak curiga atas apa yang dia lakukan.
“Jadi, dimana saja kau? Dan kenapa kau baru memberi kabar setelah mendengar aku akan datang ke negara ini? Apakah kau berniat untuk tetap bisu sampai aku benar-benar datang?” tanya tuan WIlkinson yang dijawab gelengan kepala oleh Radith, untung saja dia sudah menduga pertanyaan itu akan keluar dari mulut tuan WIlkinson, jadi dia sudah menyiapkan jawaban yang pas.
“Menemukan lokasi tinggal Roy sangat sulit, dia sangat licin dan tidak terdeteksi. Kami beruntung bisa tau dia ada di negara ini sehingga kami bisa segera kemari dan memblokir sebisa mungkin mengontrol akses apakah dia akan pergi ke luar negeri,” ujar Radith yang tampak merasa bersalah, dia harus menunjukkan jika dia menyesal karena tidak memberi kabar pada tuan WIlkinson. Pria tua itu masih diam dan menunggu Radith menyelesaikan perkataannya.
__ADS_1
“Kami sudah susah payah untuk menemukan lokasi Roy, kami berusaha sangat keras dan kami sadar, usaha kami tidak cukup karena Roy tidak pernah kami temukan. Jadi kami meminta tuan Wilkinson untuk menunggu kabar, karena kami tidak mau memberikan kabar jika kami masih gagal untuk kesekian kalinya, kami tidak bisa memberikan kabar buruk itu.”
“Kau menjadikan kinerja burukmu sebagai alasan? Kau bisa memberiku kabar terkini dari pencarianmu, kecuali jika selama ini kau tidak melakukan pekerjaanmu dengan baik, jadi kau tidak bisa melaporkan apa-apa, apakah kataku ini benar?” tanya tuan WIlkinson yang datar tanpa senyum di bibirnya, tampak menyeramkan dan sangat mengintimidasi.
“tidak, saya melakukan semua yang saya bisa dan kami harus melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Saya meminta anda untuk sabar menunggu kabar dari kami karena bisa saja dia mengetahui rencana itu dan malah kabur ke luar negeri. Akhirnya beberapa hari ini kami berhasil mengamati dan menemukan lokasi Roy berada.”
Radith berusaha menemukan alibi yang tepat untuk tingkah lakunya, yah, itu sangat menyebalkan mengirim anak buah untuk melakukan sesuatu, namun anak buah itu malah menghilang dan tidak mengirim kabar apapun. Radith menyadari bahwa hal itu adalah kesalahannya, dia tidak ingin tuan Wilkinson menjadikan hal itu sebagai alasan pembatalan pembebasannya.
“Kami sudah menemukan lokasi Roy dan kami sedang mencari cara untuk bisa menangkapnya tanpa menimbulkan kehebohan bari orang sekitar, karena kami menyadari kami bukan di negara asal, keselamatan kami jauh lebih riskan di sini. Setelah beberapa hari, barulah ada moment dimana Roy dan Danesya keluar dari rumah berdua,” ujar Radith yang menatap mata tuan WIlkinson agar beliau tidak curiga.
“Tadi pagi, kami melihat mereka keluar dan hanya berdua. Saya ingin menunggu anda untuk bisa melihat kami menangkap mereka, dan anda juga bisa menangkap Roy hidup-hidup untuk dieksekusi dengan cara yang anda mau, namun ternyata kami ketahuan, Roy mengetahui ada kami di sana dan dia berniat untuk kabur.
“Jadilah kami kejar-kejaran. Kami tidak bisa langsung menembak karena di dalam mobil itu ada nona Danesya. Kami tidak bisa membuat dia terluka parah jika terkena sasaran tembak. Kami kejar-kejaran dan anak buah saya berpencar agar bisa mengepung dia dengan cepat, namun saya melihat mobil Roy kehilangan kendali dan masuk ke dalam jurang tadi.”
“Baru saja saya hendak turun, anda sudah sampai dan jadilah seperti tadi. Saya merasa bersalah karena nona Danesya terluka. Saya tidak bisa menjalankan misi dengan sempurna. Bahkan saya tidak bisa membawa pada anda Roy yang masih bernyawa,” ujar Radith mengakhiri alibinya.
“Aku sangat marah atas kecerobohanmu, namun aku tidak akan menyalahkanmu untuk kali ini karena pada akhirnya kau bisa membunuh pria itu. Aku akan membawa Danesya pulang ke Indonesia,sekaligus membawa mayat Roy ke Indonesia untuk dicek, apakah lelaki itu benar Roy atau hanya orang yang Roy kirim untuk menipuku dan kalian semua.”
“Tapi jika itu bukan Roy, apakah Roy tega meminta orang untuk menyetir mobil bersama istrinya dan menjadikan istrinya umpan agar kita semua tertipu? Bukankah itu terlalu keji?” tanya Radith yang diangguki oleh tuan WIlkinson. Itu sebabnya tuan WIlkinson sangat membenci Roy, karena di kepalanya, Roy adalah manusia keji yang melakukan apapun demi keselamatannya.
“Jika dia manusia, dia akan berpikir lagi sebelum bisa melakukan semua itu. Namun dia hanyalah iblis yang menghasut anakku, dia akan tega melakukan apapun untuk menyelamatkan nyawanya,” ujar tuan WIlkinson yang kembali diangguki oleh Radith. Percakapan mereka selesai di situ dan Radith pulang bersama Angga untuk beristirahat.
“Semoga Danesya tahu apa yang harus dia lakukan dan bagaimana dia bisa membujuk tuan WIlkinson untuk tidak mengecek jenazah itu. Jika ketahuan jenazah itu sudah mati untuk waktu yang lama dan bukan merupakan orang yang menyetir mobil, kita semua akan tamat,” lirih Radith saat sudah berada di mobil bersama Angga.
__ADS_1
“Saya yakin nona Danesya cerdas dan bisa membuat tuan Wilkinson tidak memeriksa jenazah itu,” pungkas Angga memberikan jawabannya.
“Yah, semoga”