Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 44


__ADS_3

Radith membawa satu koper miliknya dan beberapa barang di tas ranselnya. Sebenarnya Radith berencana untuk menetap di Jakarta untuk beberapa waktu karna dia ingin menelusuri semua yang dia lakukan saat kecil, meski semua sudah berubah, termasuk Mama dan Kakak perempuannya yang meninggal karna kecelakaan, bahkan sampai akhir, Kakaknya masih membuat Radith membenci gadis itu.


Kakak Radith mengendara sambil bermain ponsel, dia tidak tahu lampu traffic berwarna merah dan malah terus melaju, dari arah samping muncul truck yang juga berkecepatan tinggi, al hasil mereka ditubruk oleh truck dan tewas. Radith menyesal tidak membawa mamanya untuk hidup enak bersamanya, dia terlalu sibuk dengan urusan Luna, Lira, dan balas dendamnya.


Kenangan pahit itu membuat Radith enggan untuk pergi ke Jakarta, dia memilih menetap di pulau dewata dengan orang orangnya yang ramah dan alamnya yang Indah, meski sesekali dia harus pergi ke Ibu kota karna urusan pekerjaan, namun dia akan kembali lagi ke Bali untuk beristirahat.


Radith masuk ke dalam pesawat dan memakai sabuk pengaman, lalu memasang earphone untuk mendengarkan lagu, meski hanya waktu penerbangan yang singkat, dia ingin menikmati waktu santai tanpa memikirkan apapun. Dia sudah memiliki beban berat di pundaknya, dia ingin dalam satu jam, paling tidak semua beban itu hilang, meski dia harus menanggungnya lagi setelah penerbangan berakhir.


"Kalian dimana? Saya sudah di pintu keluar bandara. Apakah kalian lupa hari ini saya ada penerbangan ke Jakarta?" Tanya Radith pada seseorang yang sudah dia minta untuk menjemputnya. Ternyata orang itu sudah ada di bandara, namun karna bandara itu luas, mereka perlu waktu untuk menemukan satu sama lain.


"Tuan, maaf kami tidak langsung menemukan tuan, silakan masuk ke dalam mobil, ada di sana," ujar orang berkaos hitam dan memakai topi. Radith memang tidak suka pengikutnya menggunakan jas dan pakaian seram, dia lebih suka orang orang itu memakai kaos dan terlihat tampan, biasanya lelaki bisa tambah tampan jika memakai kaos hitam.


"Bagaimana Lira dan Sean? Apa mereka sampai di tempat Alex dengan selamat?" Tanya Radith saat sudah duduk santai dalam mobil, dia mengambil segelas kecil anggur dan meneguknya untuk menghilangkan dahaga, sudah lama dia tidak meminum anggur untuk menghibur dirinya, untung saja bawahannya ini membawakan satu untuknya.


"Ya, kami sudah antar Nyonya dan tuan muda ke temoat tuan muda Alex, tapi kami langsung pergi setelah itu. Saya sudah meminta dua orang untuk menjaga tempat itu agar tidak terjadi sesuatu, Tuan bisa tenang sekarang," ujar orang itu yang diangguki oleh Radith, paling tidak Lira bisa tinggal dengan aman di sana.


Radith berencana pergi ke rumah Alex, namun dia tiba tiba teringat Blenda. Dia memutuskan untuk datang ke makam Blenda sebelum pergi menjemput Lira dan meminta maaf, entah sudah berapa tahun Radith tidak mengunjungi makam ini, dia terlalu sibuk melupakan Luna, dan Blenda adalah bagian dari kenangan bersama Luna.


"Hai Blenda, kamu apa kabar? Udah lama ya, harusnya sih kamu udah menikah kalau masih hidup, pasti enak yah di atas sana? Gak ada yang sakit, gak ada yang pusing cari uang, iya kan? Aku tiba tiba ingat dan kangen banget sama Kamu," ujar Radith yang tak sadar menahan napasnya yang berat.


Radith membersihkan makam itu dan mengusap nisan yang terpasang di sana. Dia menghela napasnya berkali kali, menahan diri agar tidak menangis. Dia sudah lama mengiklaskan adik tak sedarahnya ini, namun melihatnya lagi membuat Radith teringat semua yang sudah mereka lalui bersama, perjuangan Blenda melawan sakit dan sampai gadis itu menyerah.


"Radith?" Lelaki itu langsung menengok begitu dipanggil. Betaa terkejutnya dia melihat sosok yang paling dia hindari muncul di hadapannya, bersama seorang Pria yang berhasil "mengalahkan" dirinya dalam memperebutkan cinta. Kenapa mereka ada di tempat ini? Kenapa di saat dia ada juga di sini? Kenapa takdir sekonyol ini?


"Ah, Luna, Darrel, lama banget gak ketemu ya, kalian apa kabar?" Tanya Radith yang berusaha tenang, namun Darrel bisa melihat Radith yang tampak lesu, bahkan cukup kurus dibandingkan dulu, Radith pasti mengalami banyak hal sulit, apalagi yang Darrel tahu, Radith sempat mendapat masalah dengan Mafia, meski hanya dia yang tahu dan Luna tidak.

__ADS_1


"Lo kemana aja Dith? Lima tahun kan? Lima tahun gue gak pernah ketemu sama Lo. Tiap tahun gue chat ke Lo tapi nomernya gak aktif, Lo kemana aja selama ini?" Tanya Luna yang merasa Radith menghilang karna lelaki itu sama sekali tidak bisa dihubungi, bahkan Lira juga tidak mengatakan dimana Radith.


"Ah, banyak urusan, biasa lah, merintis dari 0 kan. Kalian apa kabar? Gue dengar kalian udah punya anak 3 ya? Keren banget Lo yang dulu cengeng sekarang bisa ngelahirin anak langsung 3, udah jadi cewek kuat," ujar Radith yang sebenarnya tidak ingin canggung, namun membahas masa lalu malah membuat ketiganya menjadi canggung.


"Lo muncul lagi di Jakarta setelah sekian lama, ada masalah kah sama perusahaan pusat? Lo kan stay di Bali selama ini," tanya Darrel yang penasaran. Namun pertanyaan itu malah membuat Luna memandang lelaki itu dengan alis yang berkerut, apa maksud perkataan Darrel?


"Kamu tahu Radith dimana selama ini? Kenapa setiap aku tanya kamu selalu jawab gak pernah tahu? Kamu bohong?" Tanya Luna yang membuat Darrel teringat jika mereka memang menyembunyikan apa yang Radith alami dari Luna, karna Darrel tidak msu rumah tangga mereka terus terbayang bayang dengan kehadiran Radith, apalagi Radith juga berusaha move on dari Luna.


"Ah, gue yang minta dia. Gue udah memutuskan buat menghapus semua tentang Jakarta, jadi sebenarnya gue Stay di Bali dan Di Aussie, karna anak Gue lahir di Aussie, jadi yah, begitu," ujar Radith yang kembali membuat Talia penasaran, dia senang bisa bertemu lagi dengan Radith, meski niat awalnya hanya ingin ziarah ke makam Blenda.


"Anak? Lo udah punya anak? Ah, Sean? Astaga! Anak Lira kan? Lo punya anak sama Lira? Kalian menikah? Kok gue gak tahu sama sekali? Lo tega nikah sama dia gak undang undang Gue?" Tanya Luna yang heboh seperti biasanya. Darrel sampai harus memegang pundak sebagai teguran.


"Luna, gak baik tahu privasi orang begitu. Udah, kasihan Radithnya bingung. Lo mau kemana Dith? Lo berarti datang kan ke acara ulang tahun anak anak gue? Jangan sampai gak datang ya, gue tunggu banget nih," ujar Darrel mengalihkan pembicaraan. Radith mengangguk dan mengiyakan pertanyaan itu, karna memang itu tujuannya datang ke Jakarta.


"Ah iya, terus Lira sama Sean mana? Kok gak ke sini sekalian? Apa takut kalau Lira cemburu sama Blenda ya?" Tanya Luna yang kembali mendapat teguran dari Darrel. Meski sudah punya anak, Luna tak bisa berhenti bersikap seperti ini, terutama saat bersama teman temannya, Darrel harus menjadi rem bagi Luna.


"Ah ya, kalau gitu gue pergi dulu ya, kalian masih mau jenguk Blenda kan? Makasih udah mau jengukin Blenda, apalagi pas gue gak ada di sini, makasih ya, gue bakal sering sering jengukin Blenda," ujar Radith yang kembali membuat Luna excited, namun tidak jadi karna Darrel memegang pundaknya sebagai tanda dia harus diam, tentu saja Luna menuruti apa yang menjado perintah suaminya.


"Lo hati hati ya, jangan lupa acara ulang tahun anak anak gue, jangan dampai telat, yang telat cuci piring pokoknya," ujar Darrel yang bergurau. Radith menganggukkan kepalanya dan pergi dari sana dengan perasaan yang campur aduk. Dia sudah melupakan Luna untuk waktu yang sangat lama, namun melihat Luna lagi membuat usaha Radith selama ini sia sia, ternyata tidak mudah melupakan cinta pertamanya.


"Sadar Radith, dia istri orang, ibu beranak 3 pula, lo udah punya Lira, punya Sean, punya kehidulan yang enak dan tenang, kenapa Lo gak bisa bersyukur aja sih Dith? Gak usah aneh aneh deh Lo, mau ini itu ini itu gak jelas, udah, lupakan Luna, dan calon istri Lo itu Lira, ingat, Lira," ujar Radith yang ngedumel sepanjang jalan karna dia terus memikirkan Luna.


Gadis itu... ah bukan, wanita itu masih sama seperti dulu, yang berubah hanya pria di sampingnya sudah menunjukkan dengan jelas wanita itu dimiliki dan tidak bisa diambil orang, yah, Radith tidak bisa apa apa akan hal itu, dia hanya bisa berharap semua akan bahagia, dia juga akan mencari kebahagiaannya sendiri bersama keluarga kecilnya.


Radith masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi ke rumah Alex. Sudah lama sekali dia tidak menemui Alex, meski dia sudah membiayai semua kebutuhan anak itu, bahkan sampai lulus S2 dan mendapat pekerjaan yang layak. Dia sangat ambisius ingin mengubah kondisi keluarganya dan membuktikan pada Lira saat Lira kembali, meski pada akhirnya Lira sangat terlambat untuk kembali.

__ADS_1


Untung saja Alex belum pindah dari rumah yang sengaja dia jual murah agar Alex mau membelinya, dia tidak bisa memberikan langsung karna pasti Alex menolak, namun sebagai kakak, Radith tentu tidak bisa melihat adik iparnya kesulitan sehingga dia membantu semampunya. Yah, pada kenyataannya Radith sangat mampu untuk melakukan keinginannya, hahaha.


Lelaki itu memasuki halaman rumah Alex dan mendapati pengawalnya menjaga dari jarak cukup jauh. Dia mengangguk sebagai sinyal puas dan masuk ke rumah Alex setelah memencet bel, untung saja lelaki itu langsung membuka pintu dan menatap Radith dengan tatapan aneh, menyusuri Radith dari atas ke bawah, bawah ke atas.


"Apa yang kau lihat? Apa aku melakukan hal aneh? Apa aku melakukan kesalahan? Kenapa tatapanmu begitu aneh?" Tanya Radith yang bingung. Namun Alex hanya menghela napas dan menggelengkan kepalanya, membuat Radith semakin heran, entah apa yang sebenarnya terjadi sampai atmosfir di sini sangat aneh dan asing.


"Kak Lira bilang Kau hanya pria jelek yang jahat dan dia tidak mau bertemu lagi denganmu. Tapi yang ku lihat, kau tidak berubah, hanya wajahmu saja yang bertambah tua. Kau tidak jelek dan tidak tampak seperti orang yang jahat, jadi aku menyadari bahwa kak Lira lah yang salah," ujar Alex yang membuat Radith Tertawa, dia tidak menyangka Alex akan jujur seperti ini.


"Jadi dimana kakakmu? Sepertinya aku harus meluruskan banyak hal, aku memang melakukan kesalahan kemarin dan kakakmu langsung pergi tanpa mau berdamai denganku, rasanya aku harus meminta maaf secara langsung dan membujuknya atau dia tidak akan mau pulang dan malah ingin menetap di sini," ujar Radith sambil berjalan masuk.


"Ah, jika tinggalkan Sean di sini, aku tidak masalah, dia ponakan kecil yang lucu, bahkan baru pertama kali bertemu denganku, dia sangat ramah dan menggemaskan. Tapi jika itu bersama Kak Lira, wah, tidak terima kasih. Kak Lira betah mengomel dari pagi hingga petang, jadi aku tidak akan betah hidup dengannya."


"Mengapa mengomel? Dia tidak pernah mengomel di rumah kami, karna aku akan membuatnya berhenti bicara dengan caraku sendiri, jadi dia memilih untuk tidak banyak mengomel daripada menyesal," ujar Radith yang dijawab putaran bola mata oleh Alex.


"Yah, kau memiliki istri, jadi tidak masalah bahkan jika dia mengomel. Sedangkan aku? Aku seorang bujang, jika rumahku berantakan, bukankah itu wajar? Namun kak Lira mengira aku masih kecil, aku masih SMA dan dia terus mengomel karna tempat yang kotor atau banyak sampah yang berserakan," ujar Alex dengan sedih.


"Percayalah, hal itu yang pasti kau rindukan saat sudah lima tahun tidak bertemu dengan kakakmu, bahkan kau tidak bisa mengetahui kabar darinya. Aku tahu bagaimana rasanya, jadi kau pasti merasakan hal yang sama, apalagi hanya kalian yang tersisa dari garis keturunan kalian," ujar Radith memberi pencerahan pada Alex.


"Yah, itu benar, aku sangat merindukannya. Namun aku kaget, bagaimana bisa dia pergi begitu saja tanpa kabar dan pulang ke Indonesia dengan anak? Apakah kalian sudah menikah dan aku tidak tahu? Apa kalian tidak mengundangku? Itu kejam," protes Alex yang membuat Radith tersenyum, namun kali ini sedikit dipaksakan karna dia teringat lagi masa kelam itu.


"Ceritanya panjang, pokoknya kakak kamu itu ada suatu insiden sama aku, dan yah, dia hamil Sean, tapi dia tidak mau memberitahuku, dia malah pergi ke negara lain dan hidup di sana, lalu tanpa sengaja kami kembali bertemu dan setelah kisah yang sangat melelahkan itu, akhirnya kami bisa bersama lagi."


"Jadi, sebegitu sulitnya Lo ngedapetin gue, kenapa Lo malah jahat sama gue? Setelah jahat, kenapa Lo malah nyusul gue ke sini? Gue gak butuh cowok tua tapi labil kayak lo," ujar Lira yang tiba tiba saja menongol dan sempat membuat Radith dan Alex kaget.


"Lo bisa kalik gak usah kayak kunti yang tiba tiba nongol san nyamber. Sini duduk, kita perlu ngobrol," ujar Radith yang malas ribut dan ingin menyelesaikan ini segera.

__ADS_1


"Oke, Alex mau masak Mie instan dan es teh dulu, siapa tahu kalian mau saling menyiram kuah panas dan mendinginkannya dengan es. Tapi yang perlu diingat, dilarang melempar, merusak, atau memindah barang apapun, oke? Bye," pamit Alex yang tak mau ikut campur dengan masalah keduanya.


__ADS_2