Bossy Bos

Bossy Bos
Chapr 159


__ADS_3

Menjelang pagi, Radith dan Lira sudah bersiap untuk pergi ke Kos pak Burhan, memberesi barang barang dan juga mengurus masalah kepindahannya dari kos itu, saat di perjalanan, ponsel Radith berbunyi, dia melihat siapa yang telepon dan ternyata itu adalah Nesya. Radith menatap ke arah Lira, dan Lira mengangguk, mengijinkan Radith untuk menjawab panggilan itu.


“Gimana Nes?” tanya Radith yang langsung menyalakan pengeras suara agar Lira bisa mendengarkan, meski dalam hati dia masih takut apa yang akan dikatakan oleh Nesya. Bisa saja wanita itu gila dan mengatakan hal yang sebenarnya lelucon, namun dianggap kenyataan oleh Lira, dia akan mendapat masalah jika Nesya melakukan hal itu.


“Lo di mana? Gue udah sampai di Bali dan ini gue udah mau ke rumah. Rumah lo yang mana? Biar nanti gue beli rumah yang dekat sama rumah lo,” ujar Nesya yang tentu membuat Radith makin ketar ketir. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Lira karena wanita itu masih bersikap santai, namun dia yang malah berkeringat dingin seolah tertangkap mendua.


“Ngapain lo beli rumah dekat gue? Gue yang bunuh suami lo, kalau lo beli rumah yang dekat sama rumah gue, nanti bokap lo curiga dan malah bikin semua kacau. Gak usah aneh aneh deh, lo tinggal aja di rumah yang sudah disiapkan, udah, gak usah yang lain lain,” ujar Radith yang malah membuat Lira menengok karena merasa Radith bersikap aneh, namun Radith masih berusaha mengabaikan tatapan Lira karena dia bertingkah aneh.


“Lo tahu kalau suami gue belum meninggal, gila aja lo kalau kita putus kontak gitu aja. Gue harus memastikan suami gue masih hidup dan gue butuh bantuan lo buat itu. Ya masak lo gak mau bantuin gue sih Dith? Lo kan udah bantu gue sejauh ini, seharusnya masih bisa dong bantu gue lagi, iyakan? Bantu gue lah Dith,” ujar Nesya yang membuat Lira makin risih mendengarnya.


“Gue kan gak bilang gue lepas tangan gitu aja. Gue bakal bantu, nanti gue cerita sama lo, tapi gak sekarang dan lo gak harus bersikap bodoh dengan tinggal di dekat rumah gue. Bokap lo bakal curiga, apalagi pasti banyak mata mata dan pengawal bokap lo di sana. Lo jangan bodoh dong,” ujar Radith yang kali ini mendapat elusan tangan dari Lira, Lira tidak mau suaminya jadi kasar kepada perempuan.


“OKE OKE, biasa aja kalik Dith, gue kan juga gak minta lo buat aneh aneh. Ya udah gue percaya lo akan bantu gue sampai akhir. Gue tunggu rencana dan arahan dari lo aja, gue mau liburan dulu di Bali, walau sama aja kayak Hawaii. Dah, makasih lo dah mau bantu gue ya, dan jangan lupa ngabarin,” ujar Nesya yang tidak dijawab oleh Radith, namun lelaki itu langsung mematikan panggilan.


“Gak usah panik atau takut gitu lah Dith, kamu kan tahu aku bukan orang yang cemburuan, apalagi kau tahu kamu orang yang sesibuk itu. Tapi kalau boleh aku tanya, bukannya kamu sudah selesai dan kamu bilang udah gak akan kerja sama tuan WIlkinson lagi? Kenapa kamu masih urusan sama anaknya? Apa itu gak sama aja kamu ada kaitannya juga sama mereka?” tanya Lira dengan bingung.


“Kalau bisa, aku juga mau sayang gak ada urusan lagi sama mereka, termasuk sama Roy, Nesya dan semua orang itu. Tapi aku yang udah bantuin memalsukan kematian Roy, aku yang bikin mereka terpisah, dan aku juga yang menyusun rencana untuk semuanya. Jadi aku harus bertanggung jawab ke mereka buat bantu mereka bertemu dan bersatu tanpa tuan WIlkinson tahu,” ujar Radith dengan lesu.


“Ah, begitu. Jadi kamu masih harus berhubungan sama mereka ya? Kalau boleh jujur, aku gak nyaman kamu sama orang orang itu, bukan karena aku cemburu, tapi aku khawatir sama keselamatan kamu. Gak sekali dua kali kita hampir mati karena mereka Dith, padahal kita gak ada hubungannya sama mereka. Kenapa kita yang harus pusing dan bertaruh nyawa? Padahal mereka duduk manis dan hidup tenang?”


“Kamu benar, kita kayak pion yang dijalankan dan dikorbankan paling awal, sedangkan ratu dan Raja duduk manis di kursi mereka. Tapi kita gak punya pilihan kan Ra? Semua yang aku punya, mobil ini, rumah kita, bahkan kamu. Semua aku punya berkat tuan Wilkinson, jadi sulit banget lepas 100 persen dari mereka. Aku udah berusaha Ra, tapi memang masih perlu waktu lagi, dan aku masih mengusahakan hal itu,” ujar Radith yang diangguki oleh Lira.

__ADS_1


“aku punya firasat gak enak masalah hal ini, tapi aku harap ini cuma firasat aku aja. Aku gak mau memikirkan hal yang bikin aku stres. Semoga semua baik baik saja, berjalan lancar dan kamu bisa menyelesaikan semua masalah ini sampai tuntas dan kita bisa hidup nyaman setelah ini,” ujar Lira yang kembali diangguki oleh Radith.


Mereka sampai di kos pak Burhan dan Radith turun duluan dari mobil lalu langsung menghampiri Pak Burhan yang keluar dari mobil lain. Dia melihat kamar kos itu sangat kumuh, sempit dan bahkan mereka harus memakai kamar mandi bergantian. Radith tidak pernah ada di situasi seperti ini, jadi dia merasa canggung dan risih.


Sementara itu karena ruangan itu sangat sempit, pengap dan kumal, Lira memilih untuk menunggu di luar. Dia tidak ingin berebut udara dengan mereka yang ada di dalam sana. Dia melihat sekitar dan ada seseorang yang menarik perhatiannya. Dia adalah Kelvin, untuk apa lelaki itu ada di tempat ini? Apakah dia mengikuti Lira sampai ke tempat ini? Lelaki itu luar biasa seram jika sampai melakukannya.


Lira segera menghampiri Kelvin selagi Radith masih sibuk dan fokus dengan pak Burhan, akan bahaya jika Radith sampai tahu keberadaan Kelvin, dia dan Kelvin akan mendapat masalah besar.


“Lo ngapain di sini?” tanya Lira dengan panik, Kelvin malah tertawa melihat wajah Lira. Tawa Kelvin cukup keras sehingga Lira harus menutup mulutnya agar Radith tidak mendengar suara pria itu. Lira menggeret Kelvin untuk pergi dari sana dan bersembunyi selagi bicara, untung saja anak buah Radith semua berfokus pada pak Burhan sehingga tidak ada yang melihatnya pergi, dia punya sedikit waktu untuk bicara.


“Tenang dong, gue gak bisa muncul di depan Radith, jadi gue terpaksa ngikutin Lo sampai ke tempat ini buat cari peluang bisa ngomong berdua sama lo. Gue punya kabar yang mungkin suami lo belum tahu. Nesya ada di Bali sekarang dan Roy ada di Korea untuk operasi plastik,” ujar Kelvin yang membuat Lira berdecak.


“Kita tuh gak lagi selingkuh Liora. Kenapa lo bertingkah seolah lo lagi selingkuh sama gue dan kita ketemuan diam diam? Lo jangan panik begitu, kalau lo makin panik, suami lo malah bakal cepat tahu kalau lo ketemu sama cowok di saat dia gak ada bahkan lo bawa tuh cowok masuk ke kamar, beneran meninggal gue kalau sampai dia tahu,” ujar Kelvin sambil terkekeh.


“Nesya yang ke Bali dan Roy yang ke Korea bukan satu satunya yang gue mau kasih tahu, ada hal lain. Tapi ini lo gak boleh kasih tahu suami lo, atau semua malah akan terbongkar, Roy akan terbongkar dan suami lo malah kena hukum berat sama tuan Wilkinson, lo gak mau hal itu terjadi kan?” tanya Kelvin yang diangguki oleh Lira. Mereka bicara beberapa saat dan Lira menengok kaget ke Kelvin.


“Lo pasti bercanda kan? Gak mungkin lah kayak gitu. Gak mungkin. Dia tuh orang yang Radith percaya banget. Gak mungkin dia tega buat berkhianat sama Radith. Lo pasti ngarang kan? Lo mau adu domba Radith sama orang itu, iya kan?” tuduh Lira yang dijawab gelengan kepala oleh Kelvin. Dia sangat serius dengan hal itu namun dia tidak bisa memberi tahu Radith karena semua akan terbongkar.


“Lo gak bisa kasih tahu Radith secara langsung, tapi lo harus bisa mencegah dia buat ketemu sama Nesya, kalau sampai mereka ketemu, harus pakai cara yang kelihatan semua itu natural. Kalau sampai Radith langsung ketemu sama Neysa gitu aja, orang itu pasti tahu dan akan curiga, dia bakal lapor ke tuan Wilkinson dan semua akan terbongkar, gue yakin lo tahu apa yang harus lo lakukan.”


“Lo balik sana, kalau lo terlalu lama di sini Radith malah bakal curiga. Sana buruan balik, lo ingat saja pesan gue, gue gak ada niat jahat sama lo atau keluarga lo dan lo udah lihat itu kan? Apa yang gue bilang sejalan sama kenyataan dan bahkan sama kayak cerita Radith, kalau lo gak percaya sama gue kali ini, semua bisa kena dampaknya, gue harap lo bisa bijak,” ujar Kelvin yang langsung berlari dari sana.

__ADS_1


Lira terdiam beberapa saat, dia bingung harus melakukan apa lagi. Dia tidak bisa memberi tahu Radith karena pasti pria itu akan mengamuk dan malah membuat semua berantakan, namun jika dia membiarkan Radith bertemu dengan Nesya, semua akan menjadi makin gawat. Dia tidak bisa melakukan hal yang gegabah. Dia harus berpikir cepat dan tepat, namun kepalanya tidak mau bekerja sama.


“Sayang, kamu di sini? Aku cari kamu kemana mana, kamu ngapain di sini? Main petak umpet sama siapa?” tanya Radith yang tiba tiba muncul, Lira langsung menoleh ke arah Kelvin pergi dan untung saja pria itu sudah tidak ada di sana. Siapa Kelvin sebenarnya? Kenapa dia bisa tahu Radith akan datang dan tepat sekali dia menghilang dari sana? Lira merinding membayangkan hal yang bukan bukan.


“Ah, aku tadi jalan jalan, terus aku tadi melihat orang, aku ikutin, tapi ternyata gak ada. Aku gak tahu, aku sampai bingung aja ke mana tadi orangnya pergi, tapi karena emang gak ada, mungkin aku aja yang tadi salah lihat, aku mau balik, kamu malah udah di sini,” ujar Lira menggaruk leher belakangnya. Radith memberikan isyarat pada Angga untuk mencari orang yang dimaksud Lira, bisa saja orang itu berniat buruk pada Lira.


“Gak usah, gak usah dikejar atau dicari, aku gak tahu tadi yang aku lihat beneran orang atau enggak. Takutnya aku salah lihat aja, kayak cuma halusinasiku saja. Udah gak penting juga, yang penting aku gak kenapa napa kan, aku baik baik aja, ayo balik, persiapan pindahnya udah kah?” tanya Lira yang langsung menggeret tangan Radith. Lelaki itu tersenyum dan mengusap kepala Lira.


“pak Burhan gak bisa pulang sekarang juga ternyata, karena dia ada masalah sama tetangganya, tetangganya ngaku kalau pak Burhan hutang sama dia, tapi pak Burhan gak ngerasa hutang, itu tadi Beni sama Charlie masih diskusi, aku nyari kamu karena takut kamu kenapa napa,” ujar Radith yang membuat Lira sedikit bingung, kenapa ada masalah seperti ini di saat mereka akan mengajak pak Burhan?


“Oke, berapa uang yang dipinjam oleh pak Burhan? Saya akan bayar,” ujar Beni yang sepertinya sudah jengah dengan keributan itu, pak Burhan masih pada pendiriannya, dia tidak berhutang apa pun kepada siapa pun, jadi dia tidak mau membayar, namun Beni tidak mau ribut, dia akan memberikan uang yang diminta oleh orang itu dan menganggapnya sedekah.


“Dia sudah pinjam uang 20 juta,” ujar orang itu yang kali ini membuat Radith jadi marah. Dia mungkin akan membayarnya jika itu hanya ratusan ribu atau mungkin hanya satu dua juta, dia akan percaya dan langsung memberikan pada orang itu, namun jika sudah puluhan juta, itu tidak masuk akal


“Jika anda menyebutkan nominal dua juta atau mungkin 3 juta, saya akan memberikannya pada Anda, dua kali lipatnya, namun karena anda menyebutkan 20 juta, saya tidak akan memberikan apapun. Anda malah membuatnya jelas jika anda hanya seorang penipu yang ingin mengambil keuntungan dari pak Burhan.”


“Saya tidak menipu, saya tidak berbohong. Dia memang berhutang sebanyak itu padaku!” ujar orang itu yang masih tidak mau mengalah.


“Jika anda memiliki uang sebanyak itu untuk dipinjamkan, anda tidak seharusnya tinggal di tempat ini, tempat seperti ini. Anda pasti sudah mengontrak di tempat yang lebih baik, atau malah memiliki rumah sendiri. Hentikan, jika tidak, saya malah akan melaporkan anda ke kantor polisi dan anda akan di penjara untuk kasus penipuan,” ujar Radith yang membuat orang itu ciut.


“Bereskan semua barang pak Burhan dan pindahkan ke rumahku. Besok pagi kita akan bersiap ke tempat tinggal pak Burhan,” ujar Radith yang langsung pergi dari sana dengan aura yang dingin karena kesal bergesekan dengan penipu seperti orang tadi.

__ADS_1


__ADS_2